Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~157


__ADS_3

Sementara itu di kediaman King Bryan, mereka yang baru selesai sarapan pagi nampak berbincang di ruang keluarga.


Sepanjang pembicaraan, Sera selalu menjelek-jelekkan Dena dengan menjadikan dirinya layaknya seorang adik yang teraniaya dengan air mata sebagai senjata utamanya untuk menarik simpati kedua orangtuanya Edgar.


"Bik di mana surat kabar pagi ini, dari tadi saya tidak melihatnya ?" tanya King saat ARTnya berjalan melewatinya.


Entah kenapa lama-lama ia merasa muak mendengar pembicaraan Sera mengenai Dena yang belum tentu benar adanya. Kecuali ia melihatnya sendiri.


Meski ia menyukai Sera, tapi jauh di dasar lubuk hatinya ia ingin mempercayai Edgar bahwa pilihan putranya itu tidak salah.


Anak lelakinya yang ia didik dengan penuh kasih sayang itu, tidak mungkin akan salah jalan. Memilih sembarang wanita yang pastinya akan merugikan dirinya sendiri.


"Sebentar tuan, saya lihat di depan dulu. Sepertinya hari ini agak lambat pengirimannya." sahut ART tersebut.


"Cepetan ya Bik, saya juga sudah tidak sabar ingin melihat pemotretan saya kemarin katanya hari ini terbit." timpal Sera.


"Memang kamu ada pemotretan apa, Ser ?" tanya Putri.


"Salah satu produk milik perusahaan Papa, tante." sahut Sera.


"Hebat kamu, bisa ikut membantu mempromosikan perusahaan papamu." puji Putri.


"Terima kasih, tante." sahut Sera senang saat mendapatkan pujian dari Putri.


"Tuan, ini surat kabarnya. Karena di luar sedang hujan deras, jadi agak lambat pengirimannya." ucap ART tersebut seraya menyerahkan surat kabar tersebut pada King.


"Tapi...." ART tersebut nampak menatapnya lalu beralih menatap Sera.


"Tapi apa, Bik ?" tanya King seraya mengambil surat kabar tersebut.


Setelah menerimanya King langsung melihat sampul halaman depannya dan seketika matanya memicing lalu pandangannya beralih menatap istrinya dan Sera bergantian.


"Kenapa, Pa ?" tanya Putri saat melihat raut wajah suaminya yang mendadak geram.


"Katakan, ini benar kamu kan ?" ujar King seraya menunjukkan surat kabar tersebut pada Sera.


Deg!!


Sera langsung melotot saat melihat berita tentang dirinya yang ada dalam surat kabar itu.


"I-ini pasti editan Om, tante." sanggah Sera, wajahnya langsung memucat.


"I-ini ?" Putri yang baru mengambil surat kabar tersebut dari tangan Sera langsung terkejut.


Di sana nampak terdapat beberapa foto Sera dan Arhan yang saling berciuman dan berpelukan, bahkan judul berita tersebut yang menyebutkan jika Sera adalah orang ketiga penyebab perceraian antara Arhan dan Dena.


"Katakan ini bohongkan, Ser ?" lanjutnya lagi meminta penjelasan.


"Tentu saja ini bohong tante, ini pasti editan." sahut Sera membela diri.


"Tidak mungkin saya melakukan itu." imbuhnya lagi sambil terisak.


"Lalu apa ini editan juga ?" geram King seraya mengulurkan ponselnya pada Sera.


"Astaga...." Putri nampak menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri saat melihat video asusila Sera dan juga Arhan yang ternyata juga di muat dalam berita online.


"I-ini pasti editan juga, saya tidak mungkin me...."


Plakk

__ADS_1


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Sera. "Tan-tante ?" rintih Sera saat merasakan panas di pipinya karena tamparan Putri.


"Saya sangat kecewa padamu Ser, ternyata kamu wanita yang sangat picik. Kamu sengaja menjelek-jelekkan kakakmu sendiri hanya untuk menutupi perbuatanmu sendiri kan ?" hardik Putri geram.


"Maafkan Sera, tante. I-ini tidak benar, ini fitnah. Ini pasti kak Dena yang melakukannya untuk memfitnah saya." bela Sera.


"Pergi !!" usir Putri dengan kecewa.


"Tante...."


"Pergi dari rumah saya." teriak Putri lagi kali ini dengan amarah yang memuncak.


"Tapi, tante..."


"Bik, panggil security dan suruh wanita ini pergi dari sini." perintah Putri kemudian ia berlalu pergi dengan kecewa.


"Tante saya mohon, ini tidak benar." Sera mencoba mengejar Putri, namun dua orang security yang baru masuk langsung menghentikannya.


"Lepaskan, sialan." teriak Sera.


"Usir wanita ini dan jangan biarkan dia berkeliaran lagi di rumah ini." perintah King dengan tegas.


Dirinya dan keluarganya akan sangat baik pada siapapun itu, namun jika mereka diam-diam berniat buruk pada keluarganya maka ia tidak akan mengampuninya.


"Baik, tuan." security tersebut langsung membawa Sera keluar dari sana.


"Maafkan Papa, Ed." gumam King seraya mengepalkan tangannya, sepertinya ia harus segera membuat perhitungan dengan keluarga Winata.


Sementara itu Dena yang sudah sampai di Bali nampak sangat senang, hari ini moodnya benar-benar sangat baik.


"Sepertinya anda sangat senang, nyonya ?" ucap Juno dari balik kemudinya, ia nampak menatap nyonya mudanya itu dari balik spion depannya.


"Kamu juga senangkan, Nak ?" imbuhnya lagi menatap Elkan.


"Pa-pa." ucap Elkan.


"Iya, sebentar lagi ketemu Papa." sahut Dena.


"Apa masih lama Jun, perasaan dari tadi nggak sampai-sampai ?" lanjutnya lagi menatap Juno.


"Sebentar lagi nyonya, sepertinya anda sudah tak sabar untuk bertemu dengan tuan." sahut Juno.


Dena yang mendengar ucapan Juno langsung tersipu, wajahnya memerah lalu ia merasakan dadanya berdebar-debar.


"Oh astaga, ada apa denganku." gumamnya.


Sesampainya di sebuah Villa, Elkan nampak tertidur pulas. Bik Mina segera menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.


"Mungkin tuan Edgar agak sorean baru pulang nyonya, kalau anda membutuhkan sesuatu anda bisa menyuruh pelayan di bawah." ucap Juno saat mengantar nyonya mudanya itu masuk ke dalam kamarnya.


"Terima kasih, Jun." sahut Dena dengan mengulas senyumnya.


Juno yang menatap Dena nampak menghela napasnya pelan, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"Kalau begitu saya akan kembali ke kantor, nyonya." ucapnya kemudian.


Setelah itu ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan kamar tersebut.


"Wow ini sangat indah." teriak Dena saat berada di balkon kamarnya.

__ADS_1


Nampak pemandangan alam terhampar luas di depannya. "Dan sangat sejuk tentunya." gumamnya lagi seraya menghirup banyak-banyak udara sembari memejamkan matanya.


Dena terlihat begitu menikmatinya hingga tanpa ia sadari seseorang sudah menyelinap masuk ke dalam kamarnya tersebut, lalu langsung memeluk dirinya dari belakang.


"Sayang ?" pekik Dena terkejut, tanpa melihat pun ia tahu itu Edgar. Karena aroma tubuh laki-laki itu selalu ia ingat.


"Serius banget, memang sedang mikirin apa sih sampai aku datang tidak tahu." ucap Edgar, kemudian ia memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Sungguh ia sangat merindukan wanita itu.


"Nggak mikirin apa-apa, cuma lihat taman bunga mawar itu sangat indah." sahut Dena menunjuk hamparan bunga mawar yang berada tak jauh dari sana.


"Itu taman milik Mama." sahut Edgar.


"Benarkah, jadi Villa ini milik keluargamu ?" tanya Dena penasaran.


"Keluarga kita, sayang." sahut Edgar gemas.


Sedangkan Dena nampak mengulas senyum tipisnya, dirinya menantu yang tak pernah di harapkan bagaimana bisa di sebut keluarga.


"Katanya nanti sore kamu baru pulang ?" tanya Dena kemudian.


"Siapa yang bilang ?" Edgar nampak menaikkan sebelah alisnya.


"Juno."


" Aku bossnya sayang, jadi suka-suka aku mau pulang jam berapa." ucap Edgar yang langsung membuat Dena mencebik, namun Edgar langsung mengecup bibirnya itu.


"Selama aku tinggal kesini, kamu ngapain aja sayang." imbuhnya lagi.


"Di rumah saja." sahut Dena berbohong, mana mungkin ia bilang kalau sudah pergi berbelanja pakaiannya. Karena itu akan menjadi kejutan saat suaminya itu pulang nanti.


Ia juga tidak akan menceritakan telah bertemu Arhan dan ibunya serta ibu tirinya itu, karena menurutnya tidak penting juga ia ceritakan.


"Oh." Edgar nampak kecewa karena Dena berbohong padanya.


"Tidak bertemu siapa gitu ?" lanjutnya lagi.


"Nggak sayang, aku seharian di rumah kok." sahut Dena.


"Oh." Edgar nampak menatap datar istrinya itu, kenapa sulit sekali bagi wanita itu untuk jujur padanya.


"Kamu sudah baca berita online pagi ini belum yang viral itu ?" tanya Dena kemudian.


"Berita online apa? dari kemarin aku sibuk sayang nggak ada waktu untuk itu." sahut Edgar.


"Sibuk banget ya." ucap Dena.


"Sepertinya bukan Edgar yang melakukannya, dia sendiri saja sedang sibuk dengan pekerjaannya." gumam Dena.


"Memang berita apa itu ?" tanya Edgar.


"Bukan apa-apa, nggak penting." sahut Dena.


"Apa kamu sudah makan siang ?" imbuhnya lagi.


"Belum." sahut Edgar.


"Ini hampir sore loh sayang, memang kamu nggak lapar ?" ucap Dena mengingatkan.


"Saat ini aku hanya ingin memakanmu, sayang." sahut Edgar menatap lekat istrinya itu, memeluk pinggang rampingnya dengan posesif seakan tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi darinya.

__ADS_1


__ADS_2