
"Tuan, apa anda yakin mau naik lift ini ?" Pak Jeff nampak tercengang saat bossnya itu berjalan ke arah lift khusus karyawan pagi itu.
"Mulai sekarang saya akan menggunakan lift ini." sahut Ricko.
Setelah pintu lift terbuka, beberapa karyawan langsung masuk. Namun saat Ricko juga akan masuk, mereka langsung keluar dan tinggallah Olive sendirian di dalam sana.
"Kenapa keluar, ayo masuklah kalian. Mulai sekarang biasakan naik lift bersama saya." tukas Ricko menatap ke empat karyawan yang tak jadi masuk lift tadi.
"Baik, pak. Terima kasih." Karyawan tersebut segera masuk hingga membuat Ricko melangkah mundur sejajar dengan Olive.
Setelah lift berjalan kembali, Ricko nampak melirik Olive yang terlihat berdiri dengan cuek.
Gadis itu memandang lurus ke depan, seakan tak terganggu akan kehadirannya yang tiba-tiba.
Padahal beberapa karyawan wanita disana terlihat sibuk mencuri pandang dan mencari perhatian padanya.
Merasa di abaikan Ricko langsung menggeser tubuhnya hingga berdekatan dengan gadis itu, lalu diam-diam ia menggenggam sebelah tangannya hingga membuat wanita itu langsung melotot menatapnya.
Saat gadis itu mencoba untuk melepaskannya, Ricko semakin mengeratkan genggamannya.
"Diamlah, kalau tidak ingin semua karyawan di kantor ini melihatnya." bisik Ricko pelan.
Akhirnya Olive menyerah dan membiarkan tangannya di genggam oleh Ricko daripada ia ribut dan ketahuan oleh karyawan lain.
Jika itu terjadi maka akan menjadi gosip seantero kantornya dan di pastikan ia akan dicap buruk oleh semua karyawan di sana karena telah menjadi orang ketiga dalam hubungan bossnya dan kekasihnya.
Beberapa saat kemudian karyawannya tersebut segera keluar setelah sampai di lantai kantornya, begitu juga dengan pak Jeff.
Pria paruh baya itu seakan sedang memberikan kesempatan pada Ricko dan Olive untuk berduaan.
"Tolong lepaskan tangan saya, pak." mohon Olive.
"Jadilah kekasihku." tukas Ricko yang langsung membuat Olive melebarkan matanya, sungguh tidak romantis sekali pria itu.
"Maaf pak, anda bilang apa ?" tanya Olive memperjelas.
"Olivia Jensen, jadilah kekasihku ?" ulang Ricko dengan gaya kakunya, ingin sekali Olive tertawa saat itu juga namun melihat keseriusan pria itu ia langsung mengurungkan niatnya.
"Bagaimana bisa bapak menyuruh saya menjadi kekasih bapak, di saat anda sudah bertunangan dengan wanita lain." sahutnya kemudian.
"Saya akan memutuskan Sarah." sahut Ricko dengan singkat dan tanpa perasaan bersalah.
"Semudah itu? lalu apa setelah kita berhubungan nanti lalu tiba-tiba anda menyukai wanita lain lagi, maka anda juga akan memutuskan saya seperti bapak memutuskan nona Sarah ?" tanya Olive dengan kesal.
"Saya tidak pernah mencintai Sarah." sahut Ricko.
"Kalau tidak mencintainya kenapa bertunangan ?" cibir Olive.
"Kami sudah membuat kesepakatan jika...." Ricko langsung menjeda perkataannya saat tiba-tiba pintu lift terbuka.
"Kalian berduaan ?" Dean nampak mengernyit saat melihat Ricko dan Olive berada di dalam lift yang sama.
__ADS_1
"Tidak, tadi banyak karyawan lainnya." sahut Olive.
"Oh, apa kamu sudah sarapan ?" tanya Dean kemudian setelah masuk, kini lift sudah berjalan kembali menuju lantai teratas gedung tersebut.
Olive menggelengkan kepalanya sembari tersenyum simpul. "Kebiasaan." gerutu Dean kesal.
"Aku akan sarapan roti di pantry nanti." tukas Olive.
Sementara itu Ricko yang menyaksikan betapa akrabnya Dean dan gadis itu, diam-diam nampak mengepalkan tangannya dan setelah lift terbuka ia segera berlalu pergi.
"Ricko, hari ini kamu ada meeting di luar." sergah Dean mengingatkan.
"Aku tahu, kak." sahut Ricko sembari berlalu pergi.
"Apa dia baik padamu ?" tanya Dean kemudian pada Olive.
"Tidak selalu." sahut Olive, mengingat Ricko sering sekali membuatnya lembur.
"Dia memang seperti itu pada setiap perempuan kecuali Sarah, mungkin salah kak Ariana juga yang selalu melarangnya untuk bergaul dengan wanita." tutur Dean sembari berjalan menuju ruangannya.
"Tapi dengan nona Sarah tidak." tukas Olive.
"Ya, hanya dia satu-satunya teman wanitanya." sahut Dean.
"Oh."
"Baiklah, aku masuk ke ruanganku dahulu." tukas Dean setelah berada di depan ruangannya.
Sementara itu Ricko yang sedang berada di ruangannya nampak menghubungi seseorang dan tak berapa lama kemudian orang kepercayaannya itu langsung datang.
"Tuan, apa anda yakin akan melakukan itu ?" tanya pak Jeff ragu, setelah Ricko menghubunginya dan membicarakan rencana gilanya ia bergegas menemui bossnya tersebut.
"Saya sangat menyayangi kak Dean dan dari dulu kami tidak pernah berebut tentang apapun itu, tapi kali ini untuk sekali saja saya ingin egois." sahut Ricko.
"Lalu bagaimana dengan nona Sarah ?" balas pak Jeff.
"Saya yakin dia pasti akan mengerti seperti kesepakatan awal kami." sahut Ricko.
"Baiklah tuan, saya akan melakukan apapun yang anda perintahkan." ucap Pak Jeff, setelah itu ia berpamitan pergi.
Beberapa hari kemudian Dean nampak termenung di kursi kerjanya dan itu tak luput dari pengawasan Ricko yang kebetulan melewati ruangannya.
"Ada masalah, kak ?" tanya Ricko.
"Perusahaan ku di Jerman sedang bermasalah, sepertinya aku harus kembali kesana." sahut Dean.
"Tapi bukannya kamu sudah janji dengan Papa akan membantu mengurus perusahaan di sini ?" sergah Ricko.
"Di sini sudah ada kamu, perusahaan ku di sana lebih membutuhkan ku." tukas Dean.
"Baiklah terserah kamu." sahut Ricko kemudian.
__ADS_1
"Aku dan Olive akan berangkat nanti malam." tukas Dean yang langsung membuat Ricko melotot menatapnya.
"Tidak, dia tidak bisa pergi." teriaknya tiba-tiba.
"Apa ?" Dean mengernyit tak mengerti.
"Ma-maksudku sekretarismu itu tidak bisa begitu saja pergi dan meninggalkan pekerjaan kakak padaku." sergah Ricko.
"Tapi aku sangat membutuhkannya." tukas Dean.
"Sudah terlalu lama aku menghandle pekerjaanmu kak, sekarang aku tidak mau tahu. Kalau tidak, biar Opa saja yang membuat keputusan." tegas Ricko sedikit kesal.
Dean nampak berdecak kesal. "Ck, sialan. Baiklah Olive akan tetap di sini, tapi awas saja kamu mengganggunya." akhirnya ia membuat keputusan meski pun berat.
"Tenang saja aku akan menjaganya." sahut Ricko meyakinkan.
"Dan mencintainya tentunya." imbuhnya dalam hati.
"Baiklah, aku percaya padamu." Dean terlihat sedikit lega meski agak kecewa karena harus meninggalkan Olive.
Keesokan harinya....
"Maaf." Olive nampak menerobos masuk ke dalam lift karena ia hampir terlambat.
"Tumben datang terlambat ?" bisik Pras saat lift sudah mulai berjalan.
"Semalam aku membantu pak Dean bersiap di Apartemennya." sahut Olive.
"Jadi semalam kamu tidur di Apartemen pak Dean ?" tanya Pras.
"Hm." Olive mengangguk.
"Tidur berdua ?" bisik Dean lagi yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.
Sementara itu Ricko yang sedang berdiri di belakang mereka nampak kesal saat mendengar pembicaraan Pras dan Olive.
Setelah sampai di depan ruangannya ia segera memanggil kedua karyawannya tersebut.
"Kalian berdua masuk ke dalam ruangan saya." titahnya kemudian, setelah itu ia berlalu masuk.
"Ada apa dengan pak Ricko ?" tanya Olive pada Pras setelah pintu ruangan bossnya tertutup rapat, Pras yang tidak tahu menahu hanya mengedikkan bahunya.
Beberapa saat kemudian mereka segera masuk ke dalam ruangan tersebut. "Selamat pagi, Pak." ucap mereka.
"Hm." sahut Ricko dari kursi kebesarannya.
"Mulai hari ini, kamu akan menghandal pekerjaan Olive." tegasnya pada Pras yang langsung membuat kedua karyawannya tersebut saling memandang.
"A-apa saya di pecat pak ?" tanya Olive memastikan.
Apa mungkin Ricko marah karena dirinya telah menolak cintanya hingga berujung memecatnya. Karena saat ini Dean yang biasanya membelanya sudah tidak ada di perusahaan ini.
__ADS_1
"Mulai hari ini kamu akan menjadi asisten pribadi saya." tegas Ricko yang langsung membuat Pras dan Olive tercengang mendengarnya.