
"Apa-apan ini ?"
Demian langsung melangkahkan kakinya ke meja Ariana dan melayangkan pukulannya pada Edgar.
"Kak Demian, aku bisa jelaskan semuanya." ujar Edgar nampak sudut bibirnya mengalir darah segar karena pukulan laki-laki itu.
"Sudah berapa kali ku peringatkan, jangan pernah dekati wanitaku." hardik Demian, ia melayangkan pukulannya kembali hingga Edgar terjatuh ke lantai.
"Tolong mas hentikan, Edgar tidak bersalah." mohon Ariana pada Demian, kemudian ia membantu Edgar untuk berdiri.
"Jadi kamu membelanya ?" bentak Demian tak percaya.
"Ya, aku membelanya Mas." tegas Ariana yang langsung membuat Demian terbelalak.
"Kamu becanda kan, sayang ?" Demian melembutkan suaranya lalu mencoba meraih tangan Ariana.
Namun wanita itu langsung menepisnya, lalu mendekat ke arah Edgar.
"Apa maksud semua ini ?" Demian nampak menggertakkan giginya, ia tak habis pikir kenapa Ariana justru membela Edgar. Apa benar mereka sedang berselingkuh?
"Lebih baik kita akhiri semuanya, Mas." sahut Ariana kemudian.
"Kamu becanda kan sayang? baiklah aku tahu beberapa hari ini kamu kesepian karena tidak ada aku, lalu Edgar yang menemani mu kan. Baiklah aku tidak masalah sayang, aku memaafkan mu dan tolong kembali lah padaku aku sangat mencintaimu." mohon Demian.
"Tapi aku tidak mencintaimu, mas." tegas Ariana dengan menahan air matanya agar tidak terjatuh.
Ariana sadar perkataannya tersebut pasti akan menghancurkan perasaan Demian, tapi ia sengaja melakukan itu agar laki-laki itu tak mengharapkannya lagi.
"Apa? kamu pasti bohongkan, sayang ?" Demian menatap tak percaya.
"Aku tidak bohong Mas, kenapa selama ini aku tidak pernah mengatakan perasaanku padamu? karena aku masih bimbang dan sekarang aku sudah tahu pada siapa hatiku akan berlabuh." Ariana nampak mengeratkan pegangannya di lengan Edgar dan itu tak luput dari pengawasan Demian.
"Lebih baik mulai saat ini kita akhiri semuanya mas dan mungkin kita lebih cocok menjalin pertemanan saja." lanjut Ariana dengan tegas.
Mendengarkan ucapan Ariana, Demian semakin mengeraskan rahangnya, nampak kilatan amarah bercampur kecewa di matanya.
Niatnya ingin memberikan wanitanya itu kejutan, tapi justru dirinya yang mendapatkan sebuah kejutan.
Sebuah kejutan yang berhasil membuat hatinya hancur berkeping-keping, ia masih tidak menyangka Ariana lebih memilih laki-laki lain daripada dirinya.
"Baiklah jika itu memang keputusanmu." ujar Demian seraya menatap Ariana dan Edgar bergantian dengan sorot tajamnya.
Kemudian dia berbalik badan lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Cafe tersebut.
Laki-laki itu nampak membuang buket bunga yang di bawah tadi beserta kotak perhiasan serta surat cerainya ke dalam tong sampah di depan Cafe itu.
__ADS_1
Setelah Demian meninggalkan Cafe tersebut, Ariana nampak terduduk di kursinya. Air mata yang sedari tadi ia tahan kini tanpa permisi sudah mengalir deras.
"Aku sangat mencintainya Ed, sungguh aku sangat mencintainya." ucapnya sembari terisak.
Ariana nampak menenggelamkan kepalanya di atas meja, meratapi kisah cintanya yang telah hancur. Sungguh dadanya terasa sesak saat ini.
"Tidak seharusnya kamu melakukan ini Rin, aku akan mengejar kak Demian dan menjelaskan semuanya." Edgar bangkit dari duduknya, namun Ariana langsung menahan lengannya.
"Tidak Ed, ini sudah menjadi keputusanku. Karena sampai kapanpun kita memang tidak akan pernah bisa bersama dan Maafkan aku sudah melibatkan mu dalam masalah ini." mohon Ariana penuh penyesalan, karena dirinya Edgar menjadi babak belur seperti sekarang.
"Itu tak masalah Rin, kamu adalah temanku kapan pun aku siap membantumu." sahut Edgar menatap iba Ariana.
"Tunggu di sini sebentar." imbuhnya lagi kemudian ia melangkahkan kakinya ke tempat sampah di mana tadi Demian membuang sesuatu.
Setelah memungutnya dari tempat sampah tersebut, Edgar langsung memberikannya pada Ariana.
"Sepertinya kak Demian tadi ingin melamarmu." Edgar memberikan buket bunga yang di bawa oleh Demian tadi beserta kotak perhiasan dan surat cerainya.
Melihat itu Ariana nampak menitikkan air matanya kembali, ia mengingat beberapa waktu lalu ia sempat mencurigai Demian karena laki-laki itu diam-diam telah memesan perhiasan.
"Maafkan aku, mas. Mungkin ini yang terbaik, aku tidak ingin kamu durhaka pada ibumu."
Di sisi lain Demian nampak memukul stir mobilnya dengan keras, ini seperti mimpi buruk baginya. Kenapa wanita itu tega sekali menghancurkan hatinya di saat dia tengah berjuang untuk hubungannya.
"Ah, sial."
"Kalian berdua harus membayar ini semua."
Demian sangat marah dan kecewa saat ini, ia merasa di tipu oleh Ariana. Bagaimana bisa dalam beberapa hari saja wanita itu bisa berubah.
Apa selama ini memang mereka diam-diam menjalin hubungan di belakangnya? Demian mulai berspekulasi sendiri. Namun karena tidak fokus ia hampir saja menabrak seorang penyeberang jalan dan....
Brakkk
Mobil Demian menabrak pembatas jalan, beruntung ia masih selamat. Hanya saja mobil kesayangannya itu sedikit rusak bagian depannya.
Tak berapa lama beberapa orang yang melintas di sana langsung berkumpul untuk melihat keadaannya.
"Tuan, anda baik-baik saja ?" tanya Victor ketika baru sampai, ia langsung datang ketika di hubungi oleh Demian.
"Hmm." sahut Demian seraya masuk ke dalam mobilnya Victor.
"Di mana nyonya Ariana tuan, apa beliau juga baik-baik saja ?" Victor nampak khawatir karena Ariana tak bersama Demian.
"Jangan pernah membahas wanita sialan itu Vic, berani-beraninya dia menghianatiku dengan si brengsek itu."
__ADS_1
Demian nampak mengepalkan tangannya, sungguh dia sangat membenci Ariana saat ini. Bayangan dia di peluk Edgar dan juga telah membela laki-laki itu membuatnya sangat muak.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, tuan. Sepertinya aku harus menyelidikinya."
Victor nampak menghela napasnya, baru saja dia mempunyai harapan kalau bossnya itu akan meraih kebahagiaannya. Namun masalah selalu saja datang.
Sedangkan Ariana segera kembali ke rumahnya, setelah membantu mengobati luka Edgar.
"Nak, kamu sedang ngapain ?" Ariana menghampiri Ricko yang sedang berada di kamarnya malam itu.
Ia ingin berbicara sama Ricko, ia berharap putranya itu akan mengerti keadaan orangtuanya yang tidak akan mungkin bisa bersama.
"Membuat PR buk, kata Om Victor ayah sudah pulang tapi kok belum kembali ?" sahut Ricko seraya menatap lekat ibunya.
"Nak, bisa ibu bicara sebentar ?" Ariana mendudukkan dirinya di ranjang sang putra.
Ricko yang melihat keseriusan di wajah ibunya, ia langsung bangkit dari duduknya kemudian mendatanginya lalu ia duduk di samping wanita itu.
"Ada apa, buk ?"
Ariana nampak menghela napasnya berat. "Nak, dengarkan ibu sayang. Seandainya ayah tidak tinggal bersama kita Ricko tidak keberatan kan? Ricko masih bisa kok bertemu ayah, kalau ayah tidak sibuk pasti akan mengunjungimu." ujarnya.
"Kenapa Ayah tidak tinggal bersama kita seperti sebelumnya, buk ?" tanya Ricko polos.
"Karena Ayah harus bekerja dan pastinya sangat sibuk, sayang." dusta Ariana.
Ariana tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, ia tidak mau putranya itu membenci keluarga Demian. Bagaimana pun juga mereka mempunyai hubungan darah.
"Ibu bohongkan? apa nenek tidak mengizinkan ayah tinggal di sini? Kenapa nenek tidak menyukai kita buk, apa karena kita orang miskin? nenek jahat." ucap Ricko dengan nada emosi.
"Ssttt, Ricko tidak boleh berkata seperti itu sayang. Bagaimana pun juga beliau adalah nenekmu dan kamu harus menghormatinya." nasihat Ariana.
"Ricko janji, kalau sudah besar nanti Ricko akan bekerja yang rajin biar bisa kaya agar kita tidak di hina lagi." ujar Ricko polos mengingat sejak kecil dirinya selalu di ejek teman-temannya di kampung karena miskin dan sekarang neneknya pun membencinya karena miskin.
"Maafkan ibuk, Nak." Ariana langsung membawa Ricko ke dalam pelukannya.
Tak berapa lama pintu kamar Ricko di buka dari luar dengan sedikit kasar dan itu langsung membuat Ricko dan Ariana terperanjat.
"Ayah."
Ricko langsung berlari ke arah Demian dan langsung memeluknya, sepertinya bocah kecil itu sangat merindukan ayahnya.
"Ricko kangen, yah." ucapnya.
"Ayah juga kangen, sayang." sahut Demian seraya mengusap lembut punggung Ricko.
__ADS_1
Laki-laki itu nampak menatap penuh kebencian pada Ariana yang masih duduk terpaku di atas ranjang Ricko.