Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~238


__ADS_3

"Menikahlah denganku." ucap Ricko seraya memeluk Olive dari belakang.


"Apa ?" Olive nampak terkejut, kemudian ia melepaskan pelukan Ricko.


Lalu ia berbalik badan menghadap laki-laki itu yang nampak sangat berantakan.


"Bapak baik-baik saja ?" tanyanya khawatir.


"Menikahlah denganku ?" ucap Ricko lagi.


"Becanda bapak tidak lucu tahu, apa bapak sudah makan ?" balas Olive mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa setiap kali saya mengajakmu menikah, kamu selalu tidak peduli ?" tanya Ricko dengan serius.


"Karena anda sudah bertunangan, pak." sahut Olive.


"Bagaimana kalau saya membatalkan pertunangan saya ?" tanya Ricko yang langsung membuat Olive melebarkan matanya.


"Sepertinya bapak belum makan malam makanya sedikit ngawur, bagaimana kalau saya traktir makan di Cafe depan itu." tawar Olive mengingat Ricko tadi siang tidak menghabiskan makan siangnya.


Ricko yang melihat sebuah Cafe tak jauh darinya itu langsung mengangguk.


"Baiklah." sahutnya.


Kemudian mereka melangkahkan kakinya menuju Cafe tersebut, setelah memesan makanan dan menghabiskannya Ricko nampak memesan lagi minuman berakohol.


"Bapak mau mabuk ?" tanya Olive dengan pandangan memicing.


"Tidak." sahut Ricko singkat lalu mulai menyesap minumannya dan itu tak luput dari pengawasan Olive.


"Boleh saya minta ?" ucapnya, sepertinya ia juga ingin minum malam ini mengingat akhir-akhir ini ia banyak sekali masalah yang berhubungan dengan pria itu.


"Kamu bisa minum ?" tanya balik Ricko.


"Anda lupa saya besar di mana ?" sahut Olive sembari terkekeh.


"Ya tentu saja tapi alkohol tidak baik buat kamu." balas Ricko.


"Terus baik buat bapak gitu ?" Olive nampak tersenyum sinis.


"Baiklah hanya sedikit dan ini terakhir kalinya saya melihat kamu minum ini." Ricko nampak menuangkan minuman tersebut ke dalam gelas lalu memberikannya pada Olive.


"Terima kasih." sahut Olive lalu meneguknya hingga tandas, namun itu membuat Ricko melotot menatapnya.


"Kenapa bapak kaget seperti itu? di negara saya saat musim dingin mau tak mau saya harus mengkonsumsi itu agar tetap hidup." imbuhnya lagi dengan nada serius meski ia sedang becanda.


"Kamu tidak mabuk ?" tanya Ricko heran, karena gadis itu telah menghabiskan segelas minumannya dengan sekali teguk.


"Tidak, justru sepertinya bapak yang mabuk." sahut Olive bernada mengejek.


"Itu tidak mungkin." Ricko langsung meneguk lagi minumannya, ia seperti tertantang karena ejekan Olive.


"Sepertinya segelas lagi tidak akan membuat saya mabuk." Olive langsung mengambil botol minuman tersebut lalu menuangkannya lagi pada gelasnya.


"Tidak, kamu tidak boleh minum lagi." Ricko langsung merebut botol minuman tersebut.

__ADS_1


"Satu kali saja pak saya mohon." bujuk Olive dengan wajah memelas.


Ricko yang melihat itu nampak tidak tega, kemudian ia memberikan minumannya lagi. Namun selanjutnya tanpa mereka sadari nampak beberapa botol telah tandas mereka minum.


"Astaga, ini terakhir kalinya kamu melakukan ini." gerutu Ricko saat melihat Olive yang telah mabuk, gadis itu nampak tak sadarkan diri di kursinya.


Ricko yang setengah mabuk langsung menghubungi pak Jeff melalui ponselnya dan tak berapa lama kemudian pria paruh baya itu datang.


"Tuan, anda baik-baik saja ?" tanyanya dengan khawatir.


"Tolong antar kami pulang." pinta Ricko.


"Anda terlalu banyak minum." gerutu pak Jeff.


"Bukan saya, tapi dia." tukas Ricko sembari menatap Olive yang sudah tak berdaya.


"Baiklah, saya akan membantu nona Olive." Pak Jeff akan membantu Olive untuk bangun, namun ia langsung mengurungkannya saat Ricko melarangnya.


"Biar saya saja." ucap Ricko, kemudian ia mengangkat Olive lalu membawanya masuk ke dalam mobil.


Setelah itu pak Jeff segera melajukan mobilnya menuju Apartemen atasannya itu yang berjarak kurang dari lima ratus meter itu.


Sesampainya di Apartemennya, Ricko langsung membawa Olive menuju ranjangnya namun gadis itu tiba-tiba muntah hingga mengotori pakaiannya sendiri.


"Astaga, harusnya aku tadi melarangmu minum." gerutu Ricko sembari merebahkan Olive ke atas ranjangnya.


Kemudian ia terpaksa melepaskan pakaiannya satu persatu lalu mengelap tubuhnya hingga bersih, meski ia harus menahan gejolak tubuhnya saat melihat tubuh polos gadis itu.


Setelah itu Ricko segera membersihkan dirinya sendiri di dalam kamar mandi sekaligus meredakan hasratnya yang tiba-tiba hadir.


Pagi itu Ricko nampak membuka matanya saat merasakan seseorang memeluknya dengan erat.


Padahal semalam ia meletakkan dua buah guling di tengah kasurnya sebagai pembatas antara dirinya dan Olive.


Meski ia mencintai Olive tapi ia tidak mau mengambil kesempatan untuk menidurinya di saat gadis itu tak berdaya.


Namun sekarang guling-guling tersebut sudah terlempar ke lantai, entah siapa yang melakukannya semalam.


Kemudian dengan ragu Ricko nampak mengusap lembut lengan Olive yang sedang melingkar di pinggangnya.


"Maafkan aku, sepertinya aku akan membawamu lebih jauh masuk ke dalam hidupku meski itu akan menyakitimu tapi aku janji aku akan selalu melindungimu." gumamnya kemudian.


Sementara itu Olive nampak mengeratkan pelukannya saat udara dingin terasa menusuk kulitnya.


Namun saat merasakan kulitnya menyentuh sesuatu yang terasa asing, ia langsung membuka matanya.


"Aaaarrgghhh, apa yang bapak lakukan di kamar saya ?" teriaknya dengan nyaring saat melihat Ricko tidur di sisihnya.


Ricko yang terkejut langsung membuka matanya, meski sedari tadi ia tidak tidur.


"Apa? bukannya ini kamar saya? lalu kenapa kamu memeluk saya ?" tanya balik Ricko dengan wajah sama terkejutnya dengan gadis itu.


"Jadi apa yang sudah kita lakukan semalam ?" teriak Olive sembari menjauhkan tubuhnya lalu ia membuka selimutnya dan melihat tubuhnya yang tak berbusana.


"Aaarrgghh apa ini, apa bapak sudah memperkosa saya ?" tuduhnya menatap Ricko.

__ADS_1


"Jangan sembarangan, bukannya kamu yang sudah memperkosa saya." tuduh balik Ricko, meski ia terpaksa mengatakan itu.


"Hah masa ?" Olive nampak tercengang, sungguh ia tidak ingat apa-apa, kecuali terakhir minum bersama bossnya itu di sebuah Cafe tak jauh dari Apartemennya tersebut.


"Anda jangan menuduh sembarangan, mana mungkin saya perkosa anda ?" protes Olive meski ia tidak yakin dengan ucapannya sendiri.


"Mungkin saja buktinya kamu peluk-peluk saya tadi dan oh astaga sepertinya kamu sudah mengambil keperjakaan saya." tuduh Ricko dengan wajah sedihnya, meski dalam hati ia ingin tertawa.


"Dan ini ?" Ricko nampak melihat dadanya yang terdapat bekas lipstik, sepertinya terkena saat Olive memeluknya semalam.


"Masa aku seganas itu." gumam Olive tak percaya.


"Itu tidak mungkin pak." Olive mulai frustrasi.


"Tidak mungkin apanya, bahkan dua tahun lalu kamu juga telah mencuri ciuman pertama saya jadi bisa saja kamu melakukannya lagi semalam." sela Ricko yang langsung membuat Olive semakin frustrasi.


"Bagaimana ini." gumamnya.


"Kamu harus bertanggung jawab." tegas Ricko kemudian.


"A-apa ?" teriak Olive.


"Kamu harus menikahi saya." tegas Ricko lagi.


"Apa itu tidak kebalik pak, harusnya laki-laki yang menikahi wanita." tukas Olive.


"Terserah, tapi intinya kita harus segera menikah." tegas Ricko.


"Tapi pak..."


"Ayo, kita harus segera memberitahu orangtua ku agar kita di nikahkan." ucap Ricko seraya menarik tangan Olive.


"Jangan, pak." sahut Olive sembari menahan tangan Ricko.


"Jadi kamu tidak mau bertanggung jawab ?" ucap Ricko.


"Bagaimana kalau untuk sementara waktu kita menikah secara rahasia dulu." mohon Olive.


"Tidak, mana bisa seperti itu." tolak Ricko.


"Bapak ingin membuat malu saya dengan mengatakan pada semua orang jika saya telah memperkosa bapak ?" ucap Olive bersungut-sungut.


Ricko nampak berpikir sejenak. "Baiklah, untuk sementara waktu kita menikah secara rahasia dulu." sahutnya pada akhirnya.


"Lalu bagaimana dengan nona Sarah? saya merasa seperti seorang pelakor." Olive merutuki dirinya sendiri.


"Pertunanganku dengan Sarah hanya sebuah kesepakatan, setelah ini saya akan mengakhiri semuanya." bujuk Ricko.


Lalu ia mulai menceritakan kebenarannya pada Olive tentang hubungannya dengan Sarah.


Setelah mendengar semua penjelasan Ricko, Olive nampak lega. Namun tetap saja ia merasa bersalah karena telah hadir di tengah hubungan mereka.


Beberapa saat kemudian Olive nampak membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi.


"Bukannya sesuai yang ku baca di situs kalau habis berhubungan itu rasanya sakit? kenapa ini tidak ada rasanya." gumamnya sembari membersihkan dirinya.

__ADS_1


"Jangan-jangan dia membodohiku, tapi aku tadi sudah memeluknya dan mencium tubuhnya juga. Arrrgghh bagaimana ini." Olive terlihat frustrasi.


__ADS_2