
Hampir sebulan setelah mereka makan di saung waktu itu, nyonya Anggoro nampak tak segan makan menggunakan tangannya. Meski beliau melakukannya secara diam-diam dari para pelayannya.
Beliau juga sudah menambah koleksinya beberapa sendal jepit dengan merk ternama dan harga yang fantastis tentunya.
Paling tidak meski ia memakai sendal jepit itu tidak akan menurunkan harga dirinya, pikirnya. Ah dasar orang kaya.
Namun dari semua perubahannya itu, sifat angkuhnya masih saja ia pertahankan. Memerintah sana sini pada pelayannya sudah menjadi kebiasaan hidupnya.
Seperti pagi ini, wanita paruh tersebut nampak berteriak-teriak memerintahkan pada pelayannya untuk membuatkan secangkir kopi buat suaminya.
"Bik, buatkan kopi seperti biasa untuk tuan." perintahnya.
Ariana yang baru keluar dari kamarnya hanya bisa memperhatikan ibu mertuanya itu dari lantai atas. Kenapa harus menyuruh orang lain, bukannya suami lebih suka jika itu buatan istri sendiri meski rasanya tak enak. Pikirnya.
Ariana yang akan turun ke bawah, samar-samar mendengar ayah mertuanya berbicara dengan seseorang di ruang kerjanya yang pintunya nampak sedikit terbuka.
"Iya Nak, iya. Papa akan kesana." ucap tuan Anggoro.
Mendengar itu Ariana langsung terpaku, namun ia segera melanjutkan langkahnya ketika tuan Anggoro berlalu keluar dari ruang kerjanya.
"Astaga, siapa yang di hubungi Papa. Bukan Mas Demian pastinya, orang dia sedang mandi. Apa benar dugaanku Papa punya anak dari wanita lain? tidak ini tidak boleh di biarkan, meski Mama seperti itu, paling tidak Mama setia sampai 34 tahun pernikahan mereka."
Kemudian ia menghampiri ibu mertuanya tersebut yang nampak sedang mengoles cat di kukunya.
"Ma ?" panggil Ariana.
"Hmm."
"Papa sudah di buatkan kopi ?" tanya Ariana.
"Tuh bibik sedang membuatnya." sahut nyonya Anggoro.
"Maaf Ma, kenapa tidak Mama sendiri saja yang membuatkannya? Papa pasti lebih suka." saran Ariana yang membuat nyonya Anggoro langsung mengangkat kepalanya menatapnya.
"Apa bedanya saya atau orang lain yang membuat, sama-sama kopi kan ?" ucapnya ketus.
"Tapi Ma...."
"Sudah-sudah jangan menggurui saya pagi-pagi, sudah 34 tahun kami menikah tanpa saya memasak untuknya pun hubungan kami baik-baik saja." sela nyonya Anggoro, berani sekali anak bau kencur mengajarinya.
"Maaf, Ma. Saya pikir suami akan lebih senang jika segala sesuatu istri sendiri yang mengurusnya." sahut Ariana merendah.
"Nggak semua harus seperti itu Ariana, buat apa bayar mahal pelayan kalau kita masih turun tangan juga. Asal kamu tahu, yang di inginkan laki-laki itu hanya kepuasan di ranjang. Untuk itu kamu harus pintar-pintar merawat diri agar tetap cantik dan suami puas, mengerti ?" ujar nyonya Anggoro tetap dengan pendiriannya.
"Baik, Ma." Ariana nampak menghela napasnya, kemudian ia meninggalkan ibu mertuanya tersebut menuju dapur.
"Bik, biar saya yang membuatkan kopi buat Papa dan suami saya." ucap Ariana pada ARTnya tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai membuatnya, lalu Ariana membawanya ke meja makan yang nampak tuan Anggoro sudah berada di sana sembari membaca surat kabar pagi.
"Apa kamu yang membuatnya ?" tanya tuan Anggoro setelah menyesap kopinya.
"Iya, Pa. Sekalian buat untuk mas Demian."
"Pantas berbeda."
"Maaf kalau tidak enak, Pa."
"Tidak, ini sangat enak dan Pas." puji tuan Anggoro lalu menyesap kopinya kembali.
"Demian sangat beruntung mempunyai istri seperti kamu." ujar Tuan Anggoro kemudian.
"Papa juga beruntung kok mempunyai istri seperti Mama yang tetap cantik meski tidak muda lagi dan Mama juga sangat setia sama Papa." sahut Ariana yang langsung membuat ayah mertuanya itu menatapnya.
"Iya kamu benar, saya sangat beruntung." ujarnya kemudian.
"Kalau Papa merasa beruntung kenapa masih selingkuh." batin Ariana.
"Tetaplah menjadi Ariana yang seperti ini Nak, karena sesungguhnya kenyamanan laki-laki itu tergantung istri." lanjut tuan Anggoro lagi dengan kalimat ambigunya.
"Terima kasih, Pa. Kalau begitu saya panggil mas Demian dulu untuk turun sarapan." Ariana segera meninggalkan ayah mertuanya tersebut dan berlalu ke kamarnya.
"Mas ?" ucapnya ketika melihat suaminya itu sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
"Hm."
"Kemarilah, sayang." Demian nampak menyerahkan dasinya pada istrinya itu.
"Mas, boleh tanya sesuatu nggak ?" ucap Ariana sembari memakaikan dasi pada suaminya itu.
"Hm, katakan ?"
"Apa sih penyebab laki-laki beristri tapi masih saja selingkuh ?"
"Kenapa bertanya seperti itu ?" Demian mengangkat sebelah matanya heran.
"Tinggal dijawab aja, mas."
"Mungkin tidak menemukan kenyamanan lagi pada istrinya." sahut Demian kemudian.
"Kalau istrinya sangat cantik bagaimana ?"
"Buat apa cantik kalau tak membuat nyaman."
"Jadi kamu nyaman nggak sama aku ?" Ariana menyipitkan matanya menatap suaminya itu, namun itu justru membuat Demian terkekeh lalu meraih pinggang wanita itu dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kamu itu tidak hanya nyaman sayang, tapi juga nagih." sahut Demian dengan gemas.
"Di kira makanan apa." cebik Ariana.
"Hm, sepertinya lebih enak dari makanan." ucap Demian.
"Modus, yuk ah turun di tungguin Papa di bawah." ajak Ariana kemudian, setelah itu mereka berlalu keluar dari kamarnya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang ?"
Demian nampak memperhatikan istrinya yang terlihat murung pagi ini, lalu di tariknya tangan wanita itu hingga sekarang berada dalam pelukannya.
"Sayang, apa kamu ada masalah ?" tanyanya kemudian.
"Aku baik-baik saja, Mas."
"Beneran ?"
"Iya."
"Percayalah sayang, kamu tempat ternyaman bagiku jadi jangan berpikir macam-macam ya." ucap Demian meyakinkan.
"Terima kasih, Mas." sahut Ariana dengan tersenyum lebar dan setelah itu mereka segera keluar dari kamarnya.
Beberapa waktu setelah itu tak ada hal mencurigakan dari tuan Anggoro, namun Ariana yakin Ayahnya itu sudah menghianati ibu mertuanya.
Ingin rasanya Ariana memberitahu ibunya tersebut atau pun sang suami tapi ia tak mempunyai bukti akurat.
Bahkan ketika ia diam-diam mengikuti ayahnya itu, laki-laki itu hanya bertemu dengan teman-temannya di sebuah restoran atau di lapangan golf.
Serapat itukah beliau menyembunyikan perselingkuhannya?
Dan yang bisa Ariana lakukan saat ini hanya menunggu bom itu meledak dengan sendirinya.
"Biar Mama saja yang memilih pakaian untuk cucu-cucu Mama." ucap nyonya Anggoro ketika berkunjung ke toko perlengkapan bayi sore itu.
"Kita yang mempunyai bayi, tapi mereka yang sibuk belanja." gerutu Demian saat melihat kedua orangtuanya dengan antusias berbelanja keperluan bayi kembarnya, padahal kini usia kandungan Ariana baru menginjak lima bulan.
"Biarkan saja Mas, mungkin mereka senang mempunyai cucu lagi." sahut Ariana meski nampak kecewa pada raut wajahnya, karena selama tinggal bersama mertuanya tersebut kehidupannya selalu di atur.
"Maafkan Mama ya sayang, kamu pasti tidak nyaman. Apa perlu kita kembali ke rumah lama kita ?" ujar Demian.
"Aku baik-baik saja kok." tolak Ariana, ia yakin pasti bisa meluluhkan hati ibunya tersebut.
Begitulah sebuah pernikahan, ujian akan datang dari mana saja. Begitu juga dengan Ariana, di saat ekonominya mapan, mempunyai anak-anak yang sehat dan suaminya yang menyayanginya tapi ujian datang dari mertuanya.
Namun ia yakin jika menghadapinya dengan kesabaran dan keikhlasan maka ia pasti bisa melewatinya, bukannya ketika anak sekolah yang ingin naik kelas harus melewati ujian dahulu? begitu juga dengan kehidupan.
__ADS_1
Dan tak berapa setelah itu nampak seorang anak remaja masuk ke dalam toko tersebut.
"Papa ?" ucapnya seraya menghampiri tuan Anggoro yang langsung membuat laki-laki paruh baya tersebut terperanjat.