Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~159


__ADS_3

"Tuan, apa anda yakin akan melakukan ini ?" ujar Juno malam itu, meski hampir tengah malam mereka nampak masih sibuk di dalam kantornya.


"Tentu saja, ini satu-satunya jalan memberikan keadilan pada istriku. Sudah cukup dia mengalah dan saatnya wanita itu mendapatkan haknya." sahut Edgar.


"Setelah nyonya Dena mendapatkan segalanya, apa anda tidak takut pada akhirnya beliau akan meninggalkan anda ?" tanya Juno.


"Aku hanya menginginkan kebahagiaannya Jun, jika Dena bahagia maka putraku pasti juga akan bahagia." sahut Edgar tulus.


"Dan pada akhirnya anda akan tetap sendirian ?" cibir Juno gemas.


Entah bossnya itu terlalu baik atau bodoh, padahal sudah tahu hanya di manfaatkan oleh istrinya namun masih tetap saja membantu wanita itu.


"Kamu tidak pernah jatuh cinta, Jun. Jika kamu benar-benar mencintai seseorang, maka kamu pasti akan ikhlas asal dia bahagia." ujar Edgar, namun sepertinya Juno tidak sependapat.


"Bukannya mencintai itu juga harus memiliki tuan dan saya mempunyai ide jika tuan menginginkan agar nyonya Dena tetap berada disisi anda." ujar Juno yang langsung membuat Edgar menatap padanya.


"Apa ?" ucapnya kemudian.


"Tentu saja membuat nyonya Dena mengandung anak anda lagi." sahut Juno.


"Dia saja menggunakan obat pencegah kehamilan, bagaimana bisa hamil." decak Edgar.


"Tuan bisa diam-diam menukar obat itu dengan obat penyubur kandungan, dengan begitu tak lama kemudian nyonya Dena pasti akan hamil lagi." ucap Juno memberikan saran.


Mendengar ide asistennya itu Edgar nampak menghela napasnya kasar.


"Lupakan ide konyolmu itu Jun, saya tidak akan memaksa Dena untuk tinggal bersama saya tanpa ada perasaan cinta. Biarlah dia bahagia dengan pilihannya." ucap Edgar.


"Tapi, tuan...."


"Kamu tahu, tingkat tertinggi dalam mencintai adalah mengikhlaskan. Jika kamu memaksa seseorang yang tidak mencintaimu tetap bersamamu itu namanya bukan cinta tapi obsesi dan itu termasuk toxic." sela Edgar menegaskan.


"Baik, tuan. Saya mengerti." sahut Juno pada akhirnya.


Setelah melewati tengah malam mereka baru meninggalkan kantor cabangnya tersebut.


Sesampainya di Villa tempatnya menginap, Edgar nampak terkejut saat melihat istrinya tertidur di sofa ruang tamu.


"Bik, kenapa istri saya tidur di sini ?" lirih Edgar saat ARTnya itu membuka pintu.


"Sepertinya beliau sedang menunggu anda, tuan." sahut ART tersebut.


Seketika Edgar nampak mengulas senyumnya, hatinya langsung menghangat. Benarkah istrinya itu menunggunya, hal yang tidak pernah wanita itu lakukan sebelumnya.


Setelah itu ia mengangkat tubuh wanita itu lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya, kemudian merebahkannya di atas ranjangnya dengan pelan.


Saat Edgar akan menyelimutinya, Dena nampak membuka matanya. Kemudian ia segera bangun lalu bersandar di headboard ranjangnya.

__ADS_1


"Kamu baru pulang ?" tanyanya, Dena memperhatikan penampilan suaminya yang nampak berantakan.


Kemejanya sedikit kusut lalu dua kancingnya nampak terbuka, seketika pikiran Dena melayang kemana-mana. Benarkah suaminya itu baru selesai lembur atau dari mengunjungi tempat hiburan.


Mengingat Bali adalah tempat wisata pasti banyak hiburan meski tengah malam begini.


Edgar mengulas senyumnya. "Banyak kerjaan di kantor." sahutnya seakan mengerti pikiran istrinya itu.


"Tidurlah lagi, aku akan mandi dulu." lanjutnya lagi seraya berlalu ke kamar mandi.


"Apa hubungannya banyak kerjaan dengan pakaian kusut ?" gerutu Dena, ia tadi masih sangat mengantuk tapi sekarang sudah merasa segar karena pikirannya yang kemana-mana.


"Kok belum tidur, sayang ?" ucap Edgar saat baru keluar dari dalam kamar mandinya.


Dena yang melihat suaminya hanya memakai handuk langsung memalingkan wajahnya, meski sudah sering merasakannya tapi tetap saja membuatnya salah tingkah.


"Iya, ini mau tidur." sahut Dena seraya merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjangnya, kemudian menarik selimut lalu menutupi hingga ke atas kepalanya.


"Kamu mau tidur atau mau bersembunyi, sayang ?" ledek Edgar seraya berjalan mendekat.


"Tidur, cepat ganti pakaianmu lalu tidur." sahut Dena dari balik selimutnya.


Edgar yang merasa gemas langsung menarik selimut istrinya itu, hingga membuat wanita itu terpekik.


"Sayang, apa-apaan sih ?' protesnya kesal.


Dena nampak mencebikkan bibirnya, sebenarnya dia kesal dengan suaminya itu. Menyuruhnya jauh-jauh datang ke Bali tapi ujung-ujungnya di abaikan, bahkan laki-laki itu sengaja pulang tengah malam seperti ini.


"Jangan manyun sayang nanti ku gigit loh." ucap Edgar dengan gemas, ia nampak membungkukkan badannya. Mengurung istrinya dengan meletakkan kedua tangannya di sisi kiri dan kanan wanita itu.


Dena yang menatap tubuh polos suaminya dari jarak sedekat ini, jantungnya mulai berdebar-debar lagi.


"Sayang, cepat ganti baju." mohon Dena, kemudian ia nampak memalingkan wajahnya. Sungguh jantungnya tidak aman saat ini, semoga saja laki-laki itu tak mendengarnya.


"Kenapa harus ganti baju, kalau setelah ini di lepas lagi." lirih Edgar yang langsung membuat Dena tersipu.


Apa suaminya itu menginginkannya? bukannya tadi siang mereka sudah melakukannya, tapi dari dalam lubuk hatinya Dena merasa senang karena apa yang ia pikirkan ternyata salah.


Ia pikir tadi suaminya pulang dalam keadaan berantakan, karena habis bermain-main dengan perempuan di luar sana. Ternyata tidak, karena saat ini laki-laki itu menginginkannya lagi.


"Lagi ?" lirihnya memastikan.


"Hm, lagi dan lagi." sahut Edgar seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


"Kamu tidak keberatan kan ?" lanjutnya lagi dengan suara beratnya, ia menatap wanita itu dengan penuh cinta.


Sebenarnya ia tidak ingin menyentuh istrinya itu setelah mengetahui motif wanita itu menikah dengannya, tapi setiap dekat dengannya ia tidak bisa menahan hasratnya.

__ADS_1


Edgar teramat mencintai istrinya, ia ingin membuat kenangan indah bersama wanita itu. Kenangan yang mungkin akan selalu ia ingat saat wanita itu sudah tak ada lagi di sampingnya.


Dena menganggukkan kepalanya, jujur ia juga menginginkan suaminya itu. Sentuhan laki-laki itu selalu membuatnya merasakan di cintai dan ia ingin merasakan itu lagi di cintai sepenuh hati, meski saat ini ia berusaha untuk tetap menutup hatinya.


Ia takut terluka lagi, penghianatan yang di lakukan ayahnya dan juga mantan suaminya membuatnya trauma dan tak mempercayai apa itu cinta.


Sementara itu setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri, Edgar langsung mendekatkan wajahnya lalu mencium wanita itu dengan lembut.


Tangannya nampak meraih tali kimononya lalu menariknya hingga memperlihatkan sepasang aset milik istrinya itu.


Kemudian Edgar menyentuhnya dengan lembut meremasnya lalu memainkan puncaknya hingga membuat sang istri mendesah tertahan dalam ciumannya.


Setelah itu Edgar menurunkan ciuman, mengecup leher jenjang wanita itu lalu sedikit menghisapnya hingga meninggalkan beberapa bekas kemerahan di sana.


Edgar semakin menurunkan ciumannya, ia ingin menikmati setiap jengkal tubuhnya istrinya itu. Ia ingin wanita itu merasakan bagaimana ia begitu mencintainya dan memujanya.


"Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu." lirih Edgar saat baru melakukan penyatuannya.


Dengan perlahan ia menggerakkan tubuhnya, pandangannya lekat ke arah sang istri yang juga sedang menatapnya.


Ia berharap wanita itu membalas perasaan cintanya, namun yang ia dapatkan hanya tatapan datar darinya. Apa sedikitpun tak ada cinta di hati istrinya itu untuknya.


Namun Edgar tidak kecewa, biarlah ia sendiri yang mencintai dan ia akan menikmati setiap kebersamaan yang tersisa dengan wanita itu.


Sedangkan Dena yang sedang berada dalam kuasa suaminya, merasakan jantungnya berdegup tak karuan. Setiap hentakan yang di berikan oleh laki-laki itu terasa nikmat hingga relung hatinya.


Benarkah ia juga mencintai laki-laki itu? ingin sekali ia membalas kata cintanya, namun bibirnya seakan keluh. Rasa sakit karena di hianati kini kembali merasuki hati dan pikirannya dan ia tak ingin itu terulang kembali baik itu dengan Edgar atau laki-laki lain.


Dan malam itu mereka nampak berkali-kali melakukan penyatuannya, meski kata cinta tak pernah terucap di bibir namun tanpa mereka sadari perasaan mereka sudah melebur menjadi satu dan mungkin akan sulit di pisahkan meski raga mereka saling melangkah berjauhan.


Keesokan harinya....


Brakkkk


Tuan Winata nampak menggebrak meja kerjanya saat mendapatkan informasi pagi itu kalau saham perusahaannya turun drastis.


Jika sampai berlanjut perusahaan yang ia bangun berpuluh tahun yang lalu itu, bisa gulung tikar hanya dalam sekejap dan jalan satu-satunya ia harus segera mendapatkan investor.


"Tuan, ada seseorang ingin bertemu dengan anda." ucap sekretarisnya tuan Winata saat baru masuk ke dalam ruangannya.


"Siapa ?" tanyanya.


"Tuan Edgar Bryan." sahut sekretaris tersebut yang langsung membuat Tuan Winata nampak terkejut.


"Mau apa dia kemari ?" gumamnya.


"Baiklah suruh masuk." perintahnya kemudian.

__ADS_1


__ADS_2