
"Jadi apa kamu tidak ingin mengenalkan Papa dengan wanita itu ?" ujar Tuan Anggoro yang langsung membuat Demian mengalihkan pandangannya padanya.
"Papa mau ngapain ?" sahut Demian dengan nada dingin, kemudian ia berbicara pada Ricko.
"Ricko bersiap-siap dulu ya, nanti Ayah antar ke sekolah." ucapnya.
Ricko langsung mengangguk lalu segera bangkit dari pangkuan Demian, kemudian ia berlalu pergi ke kamarnya.
"Tentu saja Papa mau berterima kasih padanya karena sudah melahirkan penerus Anggoro." sahut tuan Anggoro sesaat setelah Ricko meninggalkan tempat tersebut.
"Itu saja ?" Demian menaikkan sebelah alisnya.
"Ayolah Demian sampai kapan kamu akan menyembunyikannya dari Papa, kamu tenang saja kali ini Papa tidak akan menyulitkan mu." bujuk Tuan Anggoro.
"Sepagi ini Papa kemari, apa mama tidak mencari ?" ucap Demian.
Mendengar ucapan Demian, tuan Anggoro nampak menghela napasnya mengingat pertengkarannya dengan sang istri sebelumnya.
Flashback on
"Mau kemana pa, pagi-pagi begini ?" nyonya Anggoro yang baru membuka matanya nampak terkejut ketika melihat suaminya sudah sangat rapi padahal hari masih gelap.
"Tentu saja menemui cucuku siapa lagi." sahut tuan Anggoro yang sedang berdiri di depan cermin.
"Cepat bersiap-siaplah kita akan segera kesana." imbuhnya lagi.
Sepertinya tuan Anggoro sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya setelah semalam anak buahnya memberikan informasi di mana Demian menyembunyikan cucu beserta ibunya.
"Mama tidak mau." ketus nyonya Anggoro yang membuat tuan Anggoro langsung berbalik badan menatap sang istri.
"Apa maksud kamu? apa kamu tidak senang bertemu dengan cucu kita, penerus keluarga kita ?" ucap tuan Anggoro.
"Mama tidak mau punya cucu yang di lahirkan oleh wanita rendahan itu." tolak nyonya Anggoro.
"Ma, apa kamu sadar bicara seperti itu ?" bentak tuan Anggoro.
"Tentu saja Mama sadar, Papa pikir Mama sedang mabuk apa." sewot nyonya Anggoro.
"Aku tidak tahu hatimu terbuat dari apa Ma, tapi Ricko adalah cucu kita entah dia sudah di lahirkan dari rahim siapa dan kamu tidak punya kuasa untuk menolaknya karena selama aku masih hidup akulah yang berhak memutuskan semuanya." hardik tuan Anggoro, setelah itu ia langsung berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut dengan membanting pintu dengan keras.
Semenjak dahulu hubungan tuan Anggoro dan nyonya Anggoro memang kurang harmonis, mereka sama-sama mempunyai sifat keras kepala.
Tuan Anggoro yang terlalu sibuk dengan bisnisnya, ia membiarkan istrinya itu berbuat sesuka hatinya. Entah itu nongkrong-nongkrong tidak penting dengan teman-teman sosialitanya atau berfoya-foya di luar sana dan ia akan pulang jika sedang menginginkannya atau rindu pada sang putra.
Karena jika mereka bersama terlalu lama, maka perbedaan pendapat dan pertengkaran akan selalu mewarnai rumah tangga mereka.
"Selalu saja seperti itu." gerutu nyonya Anggoro seraya melihat kepergian suaminya.
Sepertinya nyonya Anggoro sudah hafal dengan sikap suaminya, dahulu ketika mereka bertengkar maka suaminya itu tidak akan pulang sampai beberapa hari.
Sedangkan nyonya Anggoro yang di sibukkan dengan kegiatan sosialitanya, teramat cuek dengan itu. Toh nanti juga pasti pulang sendiri, pikirnya.
__ADS_1
Flashback off
Melihat raut wajah ayahnya, Demian sudah bisa menebak kalau ibunya tidak akan menyukai hubungannya dengan Ariana. Karena selama ini ibunya tersebut selalu memuja Monica sebagai menantu kesayangannya.
"Apapun yang terjadi aku akan menikahinya Pa, baik kalian suka ataupun tidak." ucap Demian dengan menekankan kata-katanya.
"Jika itu yang terbaik, tentu saja Papa akan mendukungmu asal jangan pernah pisahkan Ricko dengan Papa." sahut tuan Anggoro.
"Jadi Papa setuju ?" tanya Demian memastikan.
"Kamu pikir ?" tanya balik tuan Anggoro sembari menaikkan kedua sudut bibirnya.
"Terima kasih, Pa." Demian langsung bangkit dari duduknya lalu memeluk ayahnya itu, ayah yang selalu ia jadikan panutan dalam berbisnis.
Berkat tangan dingin tuan Anggoro, perusahaan turun temurun dari moyangnya itu berkembang pesat hingga kini Demian yang mewarisinya.
"Jadi, apa boleh Papa mengenalnya ?" ujar Tuan Anggoro setelah Demian mengurai pelukannya.
"Tentu saja, lebih baik Papa tunggu di meja makan dulu aku akan memanggilnya."
Demian bergegas menaiki anak tangga untuk menemui Ariana, ia merasa senang karena ternyata ayahnya juga ikut mendukungnya.
"Sayang." panggil Demian.
Ariana yang sedang berdiri di balkon kamarnya langsung berbalik badan menatapnya.
"Apa yang terjadi ?" ucap Ariana, nampak kecemasan di wajah cantiknya.
"Sayang." ucapnya lagi seraya berjalan mendekati wanitanya itu.
"Katakan mas, ada apa ?" Ariana terlihat cemas ketika melihat wajah suaminya yang nampak tidak baik-baik saja.
"Papa...." Demian menjeda ucapannya.
"Benarkan, mereka pasti tidak menyukaiku." Ariana membuat kesimpulan sendiri.
Wajahnya nampak sedih, ia sudah menduga sampai kapanpun keluarga Demian tidak akan pernah menyukainya.
"Papa ingin bertemu denganmu." ucap Demian dengan wajah datarnya.
"Kalau bertemu hanya untuk menghinaku atau mengambil Ricko dariku, aku tidak mau menemuinya mas." tegas Ariana.
Dirinya memang miskin, tapi ia tidak akan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya.
"Ayo dong, sayang." bujuk Demian dengan lembut.
"Kamu mau memasukkan ku ke kandang singa, mas ?" sahut Ariana, ia mengingat bagaimana galaknya nyonya Anggoro dahulu.
"Astaga sayang justru singa kelaparannya ada di depanmu sekarang." ledek Demian.
"Nggak lucu tahu Mas, pokoknya aku tidak mau keluar." tegas Ariana, kemudian ia berlalu menjauh namun Demian langsung saja menarik pinggangnya lalu memeluknya dengan posesif.
__ADS_1
"Kalau aku memaksa bagaimana ?" ucapnya dengan menahan tawa, rasanya senang sekali menjahili wanitanya itu.
"Mas." teriak Ariana menahan amarah, kedua pipinya nampak kemerahan seperti tomat dan itu membuat Demian semakin gemas.
"Jangan marah-marah terus dong sayang, nanti tak gigit loh." ucap Demian dengan gemas.
"Nggak lucu." sewot Ariana seraya memalingkan wajahnya.
cup
Demian mengecup pipi Ariana yang nampak kemerahan, namun wanita itu dengan cepat langsung menghapus bekas kecupan laki-laki itu.
Demian terkekeh, sungguh menggoda Ariana adalah hal yang paling menyenangkan.
"Aku mencintaimu, sayang." ucap Demian.
Ariana yang sedang membuang muka nampak bergeming
"Sayang, aku mencintaimu." bisik Demian seraya menggigit telinga wanitanya itu.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, tentu saja Ariana langsung terkejut. Bahkan kini darahnya mulai berdesir dan jantungnya sudah bertalu-talu ingin melompat dari tempatnya.
"Mas....Hmmpptt."
Demian langsung membungkam bibir Ariana dengan ciumannya ketika wanita itu akan melayangkan protesnya.
Ciuman yang sangat lembut tentunya hingga membuat keduanya saling terbuai, namun Demian langsung melepaskan panggutannya ketika mengingat ayahnya sedang menunggu di bawah.
Demian terkekeh ketika melihat bibir Ariana sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.
"Papa ingin bertemu dengan calon menantunya ?" ucapnya setelah itu.
"Apa ?"
"Iya, calon menantunya yang cantik dan baik hati ini." sahut Demian seraya mengusap sudut bibir Ariana yang basah.
"Jadi mereka menyukaiku ?" tanya Ariana memastikan.
"Hmm, tapi hanya Papa yang datang kemari." sahut Demian.
"Lalu ibumu ?"
"Sayang dengarkan aku, intinya yang penting kita sekarang sudah mendapatkan restu dari Papa, masalah Mama nanti aku yang akan membujuknya." ujar Demian menenangkan.
Ariana nampak menghela napasnya, kemudian ia mengangguk setuju.
"Baiklah, ayo turun." ucapnya kemudian.
"Senyum dulu dong." pinta Demian seraya menggelitik pinggang wanitanya itu dan tentu saja itu langsung membuat Ariana tidak hanya tersenyum tapi juga tertawa.
Sungguh usil banget nih Demian, hayo siapa yang punya laki kek Demian ngacung. Pasti hari-harinya sangat rame karena di usilin terus 😎😎
__ADS_1