Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~184


__ADS_3

Siang itu Dena nampak makan bersama sang suami di sebuah restoran dekat kantornya, meski mereka kini sama-sama sibuk bekerja di perusahaan masing-masing tapi mereka selalu menyempatkan waktu untuk bersama.


Sebenarnya Edgar ingin melarang sang istri bekerja, namun ia masih belum menemukan cara agar wanita itu mau menuruti kemauannya.


Meski sedang hamil besar, Dena masih giat bekerja setiap hari dengan dalih jika kesehatan sang ayah belum pulih seutuhnya.


"Sayang, bisa tidak jangan memegang ponsel saat sedang makan." tegur Edgar saat dirinya tak di hiraukan oleh sang istri, karena wanita itu nampak asyik dengan ponselnya.


"Sebentar sayang, aku lagi berbalas chat dengan Nina dan mbak Ariana di grup." sahut Dena.


Sejak pertemuan mereka di pesta waktu itu, hubungan ketiga wanita itu kini semakin akrab. Selain intens bertemu, mereka juga telah membuat sebuah grup chat.


Edgar yang merasa kesal, ia nampak tersenyum jahil. Entah apa yang sedang ia rencanakan, namun ia harus melakukan sesuatu agar istrinya itu berhenti bermain ponsel.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu ?" tanya seorang waitress saat Edgar memanggilnya.


Laki-laki itu sengaja memanggil waitress dengan dandanan yang paling menor dan terlihat centil agar misinya berhasil.


Dena yang mendengar suara seorang wanita mendayu-dayu, ia langsung mengangkat kepalanya untuk melihatnya.


"Dessert di sini yang paling enak apa ya, mbak ?" tanya Edgar pada waitress tersebut, namun sepertinya wanita itu nampak kagum menatapnya hingga membuatnya tak fokus saat Edgar bertanya.


"Mbak ?" panggil Edgar saat wanita itu tak kunjung menjawab.


"Eh iya tuan, maaf tadi tuan bilang apa ?" tanya waitress tersebut salah tingkah.


Dena nampak membulatkan matanya saat melihat gelagat waitress tersebut, lagipula sejak kapan suaminya itu menyukai dessert dan Edgar tentu saja langsung tertawa dalam hati saat istrinya itu mulai bereaksi.


"Tadi saya bertanya dessert apa yang paling enak di sini ?" ulang Edgar yang langsung membuat waitress tersebut tersenyum salah tingkah.


"Sialan nih waitress, bukannya minta maaf malah senyum-senyum menggoda begitu." gumam Dena.


"Custard dan pudding, tuan." sahut waitress tersebut sembari tersenyum menggoda.


"Jadi apa tuan mau pesan ?" ucapnya lagi dengan suara manjanya yang membuat Dena berasa ingin muntah.


"Tidak ada dessert-dessert-an, sekarang kamu pergi dari sini." sela Dena pada akhirnya.


"Tapi nyonya, bukannya tuan....."


"Suamiku tidak suka dessert dan cepat pergi dari sini atau akan ku beli restoran ini dan kamu akan saya pecat." ancam Dena dengan tegas.


Mendengar ancaman Dena, waitress tersebut langsung pergi dengan wajah ketakutan.


Sedangkan Edgar yang menyaksikan itu nampak tertawa dalam hati, sungguh istrinya itu sangat galak jika sedang cemburu.


"Kamu sengaja ya melakukan itu ?" ucap Dena pada sang suami.


"Melakukan apa sayang, aku tiba-tiba hanya kepingin dessert saja mungkin ini bawaan bayi." sahut Edgar beralasan, karena selama Dena mengandung justru dirinya yang sering mengidam.

__ADS_1


Melihat kesungguhan suaminya, Dena nampak menghela napasnya, kemudian ia menyimpan ponselnya kembali di dalam tas dan itu tak luput dari perhatian Edgar.


"Apa kamu mau ku pesankan Dessert ?" tawar Dena kemudian.


"Sepertinya tidak lagi sayang, aku kepingin yang lain saja." sahut Edgar.


"Apa ?" sahut Dena menatap lekat sang suami, laki-laki itu memang sangat tampan pantas saja banyak wanita yang mengaguminya. Ia jadi merasa bersalah karena tadi sudah mengabaikannya.


"Kamu." sahut Edgar dengan tatapan menggodanya dan kalau sudah seperti itu Dena tak bisa menolaknya. Karena jika menolak pun laki-laki itu selalu mempunyai cara lain.


"Hm." Dena nampak menganggukkan kepalanya dan itu langsung membuat Edgar tersenyum puas.


.......


Sementara itu, Sera nampak jatuh tersungkur ke lantai dan terlihat darah segar mengalir dari sudut bibirnya saat sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi mulusnya.


"Apa kamu sengaja ingin membunuh kekasihku, hah ?" hardik Martin pada Sera.


Pagi itu saat Sera sedang mengepel lantai, ia tiba-tiba terkejut saat mendengar suara seseorang terpekik karena jatuh.


"Aku tidak tahu kalau ada Helena, aku pikir kalian masih tidur." bela Sera, ia sengaja mengepel lantai pagi-pagi saat semua orang masih tidur namun ia tidak tahu jika tiba-tiba Helena keluar dari kamarnya.


"Masih berani menjawab, hah ?" bentak Martin murka, setelah itu ia menyeret wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.


Martin nampak mengambil air satu ember lalu dengan tak berperasaan ia menyiramnya pada Sera hingga membuat sekujur tubuh wanita itu basah kuyup.


Sera yang kini luruh ke lantai nampak terisak. "Mama tolong aku." lirihnya, ia nampak menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya.


Sore harinya, Martin nampak baru keluar dari kamarnya. Namun matanya tak sengaja melihat ke arah kamar mandi hingga ingatannya tertuju pada Sera.


"Astaga, aku melupakan wanita itu." gumamnya seraya mengambil sebuah kunci dari dalam nakas.


Saat ia membuka pintu tersebut ia melihat Sera nampak terbaring di sana, lalu ia mencoba membangunkan wanita itu dengan menggunakan kakinya namun tak kunjung bangun juga.


"Ser, Sera." kali ini ia menggunakan tangannya untuk menggoyang bahu wanita itu.


"Astaga, sepertinya dia demam."


Martin segera mengangkat tubuh Sera lalu membawanya ke dalam kamar wanita itu, karena pakaiannya basah dengan terpaksa ia membantu mengganti pakaiannya.


Saat melihat wanita itu polos tanpa sedikitpun benang menutupi tubuhnya, Martin nampak menelan ludahnya.


"Sialan." gerutunya, ia segera memakaikan pakaiannya sebelum ia berniat menerkamnya.


Setelah itu Martin mengambil air hangat lalu mengompresnya, bagaimana pun juga ia tidak akan membiarkan Sera mati dengan mudah.


Kemudian ia bergegas ke dapur untuk membuatkannya bubur, karena wanita itu pasti belum makan seharian hingga jatuh pingsan.


"Kamu sudah bangun, cepat makanlah !!" perintah Martin saat melihat Sera membuka matanya.

__ADS_1


Sera nampak menatap semangkuk bubur di atas nakas namun ia enggan untuk mengambilnya, sungguh badannya terlalu lemas.


"Aku tidak akan membiarkan mu mati semudah itu, jadi cepatlah makan !! Martin yang tak sabar langsung mengambil mangkuk tersebut lalu menyuapkannya pada Sera.


"Aaakh." ucap Martin, bibirnya ikut terbuka seakan memberi isyarat agar Sera mengikuti.


Sera yang merasa lucu saat melihat reaksi Martin, ia nampak tersenyum dalam hati. Meski Martin sangat kejam dan bermulut pedas tapi ia tahu pria itu peduli padanya.


Kemudian ia segera membuka mulutnya, menerima sesuap demi sesuap makanan yang di berikan oleh laki-laki itu.


"Sayang, ternyata kamu di sini." ucap Helena bernada manja saat masuk ke dalam kamar Sera yang memang tidak tertutup.


"Kemarilah !!" sahut Martin dengan mengulas senyumnya menatap Helena.


Sera yang melihat itu tiba-tiba hatinya mencelos, karena ketika memandang dirinya Martin selalu menampakkan kebenciannya. Namun berbeda saat menatap Helena, laki-laki itu menatapnya dengan penuh kelembutan dan cinta.


"Dia sedang demam." ucap Martin lagi saat Helena memandang Sera dengan tatapan datarnya.


"Benarkah? sini biar aku yang suapi dia." Helena nampak mengulurkan tangannya meminta mangkuk yang Martin pegang.


"Baiklah." Martin langsung bangkit dari duduknya lalu membiarkan Helena duduk di sana untuk melanjutkan menyuapi Sera.


"Aku tunggu di luar." ucapnya lagi, namun sebelum pergi ia nampak mengecup puncak kepala sang kekasih dengan lembut dan itu tak luput dari penglihatan Sera.


"Ayo makanlah !!" ucap Helena seraya mengangkat sendok di depan mulut Sera.


Sejak wanita itu datang, ini pertama kalinya ia berbicara dengan wanita itu. Suaranya sangat lembut, pantas saja Martin sangat mencintainya.


"Terima kasih." sahut Sera.


"Apa itu sakit ?" tanya Helena seraya menatap sudut bibir Sera yang terlihat memar akibat tamparan Martin tadi pagi.


Sera langsung menggelengkan kepalanya pelan, terlalu banyak siksaan Martin padanya sebelumnya jadi membuatnya seakan kebal.


"Aku minta maaf ya, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi." ucap Helena.


Sera hanya menganggukkan kepalanya membalas ucapan Helena.


Setelah selesai menyuapi Sera dan memberikannya obat, Helena segera berlalu keluar dari kamar tersebut.


"Istirahatlah." ucapnya seraya menutup pintu.


Selepas kepergian Helena, Sera nampak memejamkan matanya dan di saat yang bersamaan terlihat butiran bening turun dari sudut matanya.


Entah apa yang sedang dia pikirkan, namun dadanya terasa sesak saat ini. Apalagi saat mendengar gurau canda dari sepasang kekasih di luar sana, tangis Sera semakin deras.


Benarkah ia telah jatuh hati pada Martin? seorang pria yang hanya bisa memberikannya kesakitan. Bukannya ia harus membenci laki-laki itu, karena telah membuat hidupnya menderita seperti sekarang.


Namun kadang hati tak pernah tahu pada siapa akan menjatuhkan pilihannya dan benar kata pepatah cinta datang karena terbiasa dan semenjak ia menyerahkan hidupnya pada Martin, hanya laki-laki itu yang menjadi tumpuhan hidupnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2