Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~185


__ADS_3

"Sayang please, Sera juga manusia. Kamu tidak bisa memperlakukan dia seperti itu, tidak bisakah kamu memberikannya kesempatan sekali saja untuk bertobat ?" mohon Helena pagi itu saat mereka sedang berada di kamarnya.


Sera yang baru bangun, tak sengaja mendengar obrolan mereka saat melewati kamarnya.


"Kamu tidak pernah tahu bagaimana sifat dia selama ini, bertahun-tahun dia telah menyiksa sahabatku dan juga memperlakukan para pelayan dengan tidak manusiawi." sahut Martin dengan nada tinggi.


Sera yang sedang bersandar di dinding kamar Martin nampak memejamkan matanya lalu menghela napas panjangnya, perbuatannya dulu memang terlalu keji dan ia menyadari itu.


Namun bukannya setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki dirinya?


"Tapi kita punya Tuhan sayang, biar Tuhan yang menghukumnya. Tuhan saja maha pemaaf, masa kita manusia yang berlumur dosa tidak bisa memaafkannya juga." mohon Helena lagi.


Sera yang mendengar perkataan Helena, tiba-tiba matanya mengembun. Kenapa wanita itu begitu baik, apa dia seorang malaikat yang di utus oleh Tuhan?


Sedangkan Martin nampak menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya, lalu mendesah kasar. Ia menyadari telah menyakiti hati kekasihnya itu, karena telah berbicara dengan nada tinggi.


"Maafkan aku, ayo kemarilah !!" perintahnya pada Helena seraya menepuk pahanya.


Dengan mengulas senyum lembutnya, Helena langsung duduk di pangkuan kekasihnya itu.


"Kenapa kamu begitu baik ?" lirih Martin seraya memeluk pinggang ramping wanita itu.


Sedangkan Helena membalasnya dengan mengusap lembut puncak kepalanya.


"Kita tidak akan pernah tahu umur kita sampai kapan, maka dari itu kenapa tidak kita gunakan waktu yang singkat ini untuk berbuat baik dan aku ingin kamu selalu berbuat baik pada siapapun." sahut Helena yang langsung membuat Martin mendongak menatapnya.


"Aku akan berusaha, tolong jangan pernah tinggalkan aku." ucapnya memohon.


"Aku janji hanya kematian yang akan memisahkan kita." sahut Helena dengan mengulas senyumnya lembut, namun itu justru membuat Martin semakin memeluknya erat seakan wanita itu akan meninggalkannya.


Sedangkan Sera yang masih bersandar di dinding kamar Martin, nampak semakin terisak saat mendengar perkataan Helena.


Lalu ia segera mengusap air matanya kemudian berlalu ke kamar mandi, setelah membersihkan dirinya Sera segera menuju dapur untuk memasak.


Beberapa saat kemudian Helena nampak melangkahkan kakinya ke dapur.

__ADS_1


"Hey sedang masak apa ?" tanya Helena yang langsung membuat Sera yang sedang memotong sayur nampak terkejut menatapnya.


"Aku sedang membuat omelet." sahut Sera dengan sedikit mengulas senyumnya, sejak mendengar perbincangan wanita itu dengan Martin tadi ia merasa jika Helena wanita yang baik.


"Mau ku bantu ?" tawar Helena saat melihat Sera nampak kerepotan.


"Ti-tidak perlu." sahut Sera seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Martin, pria itu pasti akan memarahinya jika melihat Helena memasak bahkan saat Helena akan menyapu lantai pun Martin langsung melarangnya.


Begitu berharganya kah wanita itu? diam-diam Sera merasa iri padanya, namun ia mengingatkan pada dirinya sendiri jika ia tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan wanita berhati mulia itu.


"Martin sudah pergi ke kota." ucap Helena saat melihat kekhawatiran di wajah Sera.


"Dan kamu jangan takut lagi pada Martin, meski dia sedikit kejam tapi sebenarnya dia berhati lembut." imbuhnya lagi.


"Benarkah ?" sahut Sera lirih.


"Hm, lagipula ada aku. Aku akan membelamu jika dia berbuat tidak baik padamu." ucap Helena meyakinkan.


"Terima kasih, Helena." sahut Sera saat melihat ketulusan Helena, akhirnya ia menemukan orang baik di tengah hutan seperti ini.


"Wajahmu terlihat pucat, apa kamu sakit ?" imbuhnya lagi seraya menatap Helena yang sedang duduk di meja makan di seberangnya.


"Obat? kamu sakit ?" Sera langsung menghentikan tangannya yang sedang memotong sayur.


"Aku menderita kanker darah stadium akhir." sahut Helena, lagi-lagi tak ada kesedihan di matanya.


"Apa? kenapa kamu tidak berobat ?" Sera nampak terkejut, pantas saja Martin sangat menjaganya.


"Aku sudah berobat, tapi tetap saja aku di vonis tidak bisa bertahan lama. Oleh karena itu, aku ingin menghabiskan sisa waktuku kembali pada alam." sahut Helena dengan mengulas senyum indahnya.


"Maafkan aku, apa kamu baik-baik saja karena terjatuh kemarin ?" Sera jadi merasa bersalah pada wanita itu.


"Aku baik-baik saja, Martin saja terlalu berlebihan." sahut Helena.


"Jadi sekarang kita berteman kan ?" imbuhnya lagi menatap Sera.

__ADS_1


"Tentu saja." Sera nampak terharu, ini untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana ketulusan dari seseorang.


Dan sejak saat itu Sera dan Helena menjadi akrab, Sera banyak sekali belajar kebaikan dari Helena. Meski makin hari tubuh wanita itu semakin rapuh tapi semangatnya selalu membuat Sera semakin ikhlas menjalani hidupnya.


Begitu juga dengan Martin laki-laki itu tidak pernah lagi berbuat kasar padanya, hanya perkataannya saja yang kadang masih terdengar pedas.


"Kamu mau makan ?" tanya Sera sore itu saat Martin baru datang lalu bergegas ke dapur.


"Aku tidak lapar." sahut Martin dingin.


"Di mana Helena ?" imbuhnya lagi.


"Dia baru saja istirahat di kamarnya." sahut Sera.


Tanpa bertanya lagi, Martin segera meninggalkannya sendirian di dapur.


Sedangkan Sera yang menatap punggung pria itu nampak merasakan sesak di dadanya, ia sudah berusaha untuk menekan perasaannya tapi makin hari perasaannya semakin tak terbendung.


"Maafkan aku Helena, maafkan aku."


"Sayang, apa kamu baik-baik saja, kenapa melamun ?" ucap Martin saat baru masuk ke dalam kamarnya dan melihat Helena nampak termenung menatap jendela.


Mendengar perkataan Martin, Helena langsung menoleh ke arahnya. "Kamu sudah pulang? bagaimana pekerjaanmu ?" ucapnya dengan mengulas senyumnya.


"Ijinnya sudah turun, kita akan segera membangun taman rekreasi di sini sesuai impianmu." sahut Martin senang.


"Benarkah? terima kasih sudah mengabulkan impianku." Helena langsung memeluk kekasihnya itu, ia bersyukur akhirnya mimpinya satu persatu telah di kabulkan oleh kekasihnya itu.


"Sayang, bolehkah aku menginginkan satu permintaan lagi? aku janji ini untuk terakhir kalinya." ucapnya lagi setelah mengurai pelukannya.


"Jangankan satu sayang, apapun itu pasti akan ku lakukan." sahut Martin, ia sangat bersyukur mempunyai kekasih seperti Helena.


Wanita itu telah membawa banyak perubahan pada dirinya, dulu ia seorang pria yang tidak baik. Bergelut di dunia malam dan menghabisi nyawa seseorang itu sudah biasa baginya.


Namun sejak tuan Winata bekerja sama dengan investor dari luar negeri, lalu memerintahkannya untuk mengawasi proyeknya. Di sinilah ia bertemu dengan Helena dan mulai menjalin hubungan.

__ADS_1


Meski akhir-akhir ini ia di liputi perasaan bersalah karena telah menghianati wanita itu dengan diam-diam memperkosa Sera berkali-kali hanya karena sebuah dendam masa lalu yang sempat membutakan hatinya.


"Setelah aku tiada mau kah kamu menikah dengan Sera ?" pinta Helena dengan nada memohon, namun Martin langsung menatapnya dengan tajam.


__ADS_2