Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~101


__ADS_3

Victor nampak mondar-mandir di dalam ruangannya, sedari tadi ia sama sekali tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Bayangan Nina yang sedang tersenyum mesra pada laki-laki lain membuat emosinya memuncak.


"Astaga ada apa dengan diriku." gumam Victor seraya meraup wajahnya dengan kasar.


Tidak mungkin ia menyukai gadis itu, kenal baik saja tidak. Bahkan setiap kali bertemu selalu meninggalkan kesan kurang mengenakkan.


"Sialan ini akibatnya jika terlalu kepo pada seorang wanita, dasar pengacau. Lebih baik aku segera melupakan gadis itu yang jelas-jelas sudah punya kekasih." umpatnya dalam hati.


Lalu ia melanjutkan lagi pekerjaannya yang nampak masih menggunung di atas meja kerjanya.


Beberapa saat kemudian perutnya tiba-tiba keroncongan, lalu ia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Pantas tidak bisa konsentrasi, sudah masuk jam makan siang ternyata." gumam Victor.


Setelah itu ia beranjak dari duduknya, lalu menyamber kunci mobilnya di atas mejanya.


"Vic, hari ini kamu tidak ada meeting di luar kan ?" tanya Demian saat melihat Victor baru keluar dari ruangannya.


"Tidak ada, tuan."


"Baguslah, kalau begitu setelah makan siang kamu standby di kantor ya. Saya mau mengantar istriku ke dokter." perintah Demian.


"Baik, tuan. Apa perlu saya antar ?" tawar Victor.


"Tidak perlu, saya hanya ingin pergi berduaan saja sama dia." sahut Demian.


"Pacaran lagi, tuan." ujar Victor dengan nada meledek.


"Iri? makanya cari pacar, percuma punya badan bagus dan kantong tebal tapi tidak laku." cibir Demian, setelah itu berlalu pergi sebelum asistennya itu membalasnya.


"Sial, bagaimana mau punya pacar belum pdkt aja sudah di tolak." umpat Victor dalam hati.


Setelah itu ia segera meninggalkan kantornya tersebut untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.


Beberapa saat kemudian ia nampak memarkirkan mobilnya di sebuah restoran tengah kota tak jauh dari kantornya.


"Ck, kenapa aku justru kemari." gerutu Victor saat matanya menatap restoran yang kemarin siang ia datangi bersama Demian.


Victor ingin mencari restoran lain, tapi ia harus terburu-buru masuk kantor kembali untuk menggantikan Demian yang ia pastikan tidak akan kembali lagi.


Akhirnya dengan terpaksa ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran tersebut, di sana pasti ada gadis yang saat ini sedang malas ia temui, kalau bisa ia tidak ingin bertemu selamanya.


Victor langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi, dilihatnya gadis itu sedang bercengkerama dengan teman prianya tadi pagi. Sepertinya mereka sama-sama karyawan di sana.


Tiba-tiba Victor nampak tersenyum licik, entah apa yang sedang ia rencanakan.


"Pelayan." teriaknya.


Kemudian seorang laki-laki segera datang mendekat ke mejanya.


"Selamat siang tuan, mau pesan apa ?" ucap laki-laki muda tersebut seraya memberikan buku menu.

__ADS_1


"Saya mau gadis itu yang melayani saya." tegas Victor seraya menunjuk Nina yang juga nampak sibuk melayani pelanggan.


"Tapi teman saya sedang sibuk tuan, tuan mau pesan apa biar saya yang melayani." tolak laki-laki muda itu dengan halus.


"Saya tidak mau pesan kalau tidak sama dia." tegas Victor lagi.


"Tapi tuan teman saya....." pemuda itu langsung menjeda ucapannya saat manajer restoran tersebut datang menghampiri.


"Tuan Victor senang sekali bisa bertemu dengan anda, apa ada keluhan dari pelayanan kami ?" sapa manajer tersebut dengan ramah.


"Senang bertemu dengan anda juga pak Jim, bisakah pelayan itu yang melayani saya." sahut Victor seraya menunjuk Nina yang kini nampak berdiri di samping meja kasir.


Manajer tersebut segera memanggil Nina untuk datang. "Iya pak Jim ?" ucap Nina mendekat.


"Layani tuan ini dengan baik, kalau tidak besok tidak perlu datang lagi." perintah manajer tersebut bernada ancaman.


"Kamu...." Nina nampak melotot, namun ia langsung tersenyum nyengir menatap manajernya tersebut.


"yang sopan Nina kalau masih mau bekerja di sini, beliau adalah tuan Victor pemilik gedung pertokoan disini." ujar manajer tersebut, kemudian itu berlalu pergi setelah sebelumnya pamit pada Victor.


Nina nampak menghela napas panjangnya, kenapa harus bertemu manusia pohon ini lagi. Pikirnya.


"Baik tuan, mau pesan apa ?" tanya Nina dengan malas.


"Apa begitu cara melayani seorang pelanggan ?" cibir Victor.


Nina rasanya ingin meremas wajah tampan laki-laki di depannya itu, ups tampan. Nina akui Victor memang sangat tampan ya meski tak setampan suami Ariana sahabatnya itu.


Untung saja ia menolak di jodohkan dengannya, kalau tidak mungkin setiap hari akan makan hati menghadapinya.


"Baik tuan, anda mau pesan apa ?" ulang Nina dengan suara selembut mungkin.


"Ck, kamu mau melayaniku makan atau mau menggodaku ?" cibir Victor lagi, ia nampak menahan senyumnya. Ternyata menyenangkan juga menggoda gadis itu.


Oh astaganaga, ada ya manusia seperti ini. Sebenarnya mimpi apa Nina semalam hingga harus menghadapi laki-laki menyebalkan seperti itu.


Ehmm


Nina berdehem pelan untuk menetralkan pikirannya yang rasanya mau meledak, kalau tidak sedang butuh uang ingin ia menyeret laki-laki itu keluar lalu menghajarnya habis-habisan.


Memang Nina bisa berkelahi? tentu saja bisa, di kampungnya dulu dia juara pencak silat tingkat kecamatan.


Oke kembali lagi pada kenyataan di depan mata, Nina nampak mengulas senyumnya dengan ramah lalu mulai membuka suaranya.


"Tuan, anda mau pesan apa ?" ucapnya dengan ramah, terpaksa tentunya.


"Buatkan saya telur dadar keju." perintah Victor.


"Tuan, ini restoran bukan tempat makan di rumah anda. Di sini tidak ada menu seperti itu, ini silakan pesan yang ada." Nina memberikan buku menu pada Victor.


Namun Victor langsung melempar buku menu tersebut ke atas meja.

__ADS_1


"Jadi kamu menolak pesanan saya? baiklah pak Ji....." Victor memanggil manajer restoran tersebut tapi Nina refleks membungkam mulutnya dengan tangan dia.


"Tolong jangan panggil Pak Jim, saya akan segera membuatkannya untuk anda." ucap Nina dengan tangannya masih berada di mulut Victor.


Deg!!


Victor merasakan jantungnya mendadak berdebar-debar saat merasakan tangan Nina menyentuhnya.


"Sial."


Victor langsung menghempaskan tangan Nina dari mulutnya.


"Kurang ajar sekali kamu." gertak Victor menatap Nina yang nampak ketakutan kali ini.


"Maaf tuan." sahut Nina dengan wajah menunduk.


"Pergilah, cepat buatkan pesanan saya." perintah Victor kemudian.


"Baik, tuan." Nina segera berbalik badan, namun baru beberapa langkah Victor memanggilnya kembali.


"Buatkan dua porsi." perintahnya kemudian.


"Dua, tuan ?" tanya Nina memastikan.


"Hmm."


Setelah itu Nina segera berlalu pergi menuju dapur untuk membuatkan pesanan Victor.


Tak berapa lama kemudian dengan senyum mengembang di bibirnya, Nina nampak membawa sebuah nampan berisi dua porsi telur dadar keju pesanan Victor.


"Silakan, di nikmati tuan." ucap Nina dengan ramah namun itu justru membuat Victor menaikkan sebelah alisnya curiga.


"Duduklah !!" perintahnya kemudian.


"Saya, tuan ?" Nina nampak terkejut.


"Tentu saja, duduklah." sahut Victor dengan mengulas sedikit senyumnya namun itu justru membuat Nina menelan ludahnya.


"Tapi itu tidak sopan, tuan." tolak Nina.


"Duduk !!" perintah Victor tanpa mau di bantah.


"Ba-baik tuan." Nina segera mendudukkan dirinya di hadapan Victor.


"Makan itu semuanya !!" perintah Victor yang langsung membuat Nina melotot menatapnya.


"Mampus, aku."


Tadinya Nina berniat untuk mengerjai Victor, ia dengan sengaja memasukkan banyak sekali garam pada telur dadar tersebut. Berharap laki-laki itu memesan menu yang ada dan tak menyuruhnya memasak lagi.


Seandainya laki-laki itu protes, ia tinggal bilang saja kalau tidak bisa memasak. Padahal di kampungnya dia juara memasak tingkat RT.

__ADS_1


Tapi sepertinya kali ini Nina menggali lubang kuburannya sendiri, sabar Nina. Itu telur pasti asin banget ya, Othor bayanginnya aja udah merinding.


__ADS_2