
"Sayang kamu di mana? aku ke kantormu tapi kata security kamu sudah pulang dari sore, aku ke Apartemenmu tapi sepertinya kamu nggak ada di sana. Aku sekarang lagi di rumahmu, kamu kesini ya aku sama tante Putri masak makanan kesukaan mu loh." ucap Sera dari ujung telepon.
Edgar nampak melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul 8 malam ternyata. Pantas saja cacing di perutnya sudah meronta-ronta.
"Aku sedang sibuk Ser, maaf ya nggak bisa datang." jawab Edgar pada akhirnya.
"Baiklah kalau begitu, kamu jangan telat makan malam ya. Bye sayang aku mencintaimu." sahut Sera dengan nada sedih.
Biasanya Edgar akan langsung luluh jika Sera sudah memohon seperti itu, tapi entah kenapa kali ini hilang rasa simpatinya pada wanita itu.
Meski Edgar tidak pernah melihat secara langsung bagaimana perbuatan Sera, tapi mendengar ucapan Arhan waktu itu yang memperingatinya agar Sera tidak menyakiti Dena, Edgar jari meragukan kelembutan Sera selama ini.
Apalagi mengingat bagaimana sikap Dena dan rasa traumanya wanita itu, pasti ada hubungannya dengan Sera dan ibunya.
Belum lagi penyelidikan yang dilakukan oleh Juno, mengindikasikan perbuatan mereka selama ini. Edgar hampir tidak percaya mengingat bagaimana kebaikan dan kelembutan Sera dan ibunya.
Beruntung Edgar belum sepenuhnya jatuh hati pada Sera hingga mata hatinya masih bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya.
Tentu saja jika itu benar adanya, Edgar harus memberikan perhitungan pada mereka semua atas perbuatannya selama ini.
Edgar yang akan kembali ke kamarnya, urung ia lakukan saat mengingat Dena sedang menyusui bayinya.
"Bagaimana mungkin wanita itu menyusui anakku tapi masih saja mengkonsumsi alkohol dan rokok. Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Awas saja kalau masih melakukannya lagi, aku pasti akan menghukumnya."
Kemudian Edgar berlalu ke dapur, lalu ia membuka lemari pendingin yang ada di sana. Ia melihat banyak sekali sayur dan buah-buahan di dalamnya, sepertinya Dena masih memikirkan kesehatannya dan juga putranya dan Edgar bersyukur akan hal itu.
Karena tidak ada makanan matang yang bisa dia makan, akhirnya Edgar memutuskan untuk pesan makanan online. Mungkin Dena juga belum makan, bukannya wanita menyusui harus makan banyak.
30 menit kemudian setelah makanan pesanannya datang, Edgar langsung berlalu ke kamar dena. Wanita itu pasti kelaparan setelah menyusui anaknya.
Namun saat ia masuk ke dalam kamar Dena, ia nampak menelan salivanya ketika melihat pemandangan yang menggoda imannya.
Bagaimana tidak, Dena nampak tertidur dan membiarkan salah satu aset berharganya itu terbuka bebas di depan mulut Elkan.
Sedangkan Elkan sepertinya sudah sangat kenyang, bocah kecil itu nampak tertidur pulas dengan mulut terbuka.
Edgar yang ingin membangunkan Dena, urung ia lakukan. Justru matanya tertuju pada pabrik susu milik Elkan yang terlihat besar dan menggoda.
"Astaga cobaan apa ini, Tuhan."
__ADS_1
Ingin Edgar pura-pura tak melihatnya tapi sudah di depan mata sayang kalau di lewatkan, namun ketika ia melihatnya terus menerus ia jadi ingin menyentuhnya.
"Sabar Edgar, setelah wanita itu jadi milikmu kamu bebas melakukan apapun itu bahkan menghabiskannya."
Baru kali ini Edgar mempunyai keinginan yang sangat besar untuk menyentuh seorang wanita. Bahkan ketika bersama Sera, Edgar masih bisa menahannya. Padahal Sera sering sekali menggodanya dengan berpakaian seksi di depannya.
"Ah, sial."
Edgar buru-buru keluar dari kamar Dena, sebelum ia berpikiran gila untuk menerkam wanita itu.
Bayangan peristiwa dua tahun yang lalu seketika menari-nari di kepalanya bagaikan kaset rusak.
Benar orang bilang yang pertama itu memang tidak bisa di lupakan, Edgar masih mengingat jelas bagaimana waktu itu ia menyentuh Dena untuk pertama kalinya.
Mengambil kesuciannya dan memuaskan dahaganya akan seorang wanita yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Akhirnya Edgar memutuskan untuk pulang ke Apartemennya, sepertinya mandi air dingin atau bermain solo bisa mengurangi gejolak gairahnya yang tiba-tiba hadir.
Keesokan harinya.....
Dena nampak mengerjapkan matanya saat jari mungil Elkan menusuk-nusuk matanya yang terpejam.
"Selamat pagi sayang, kamu sudah bangun dari tadi ya. Hm ?" Dena terlihat gemas pada putranya itu, ia mencium pipi gembulnya berkali-kali.
"Papa ?" ulang Dena seraya menatap Elkan.
"Pa-pa." ucap Elkan lagi seraya mencari keberadaan Edgar.
Dena yang baru sadar semalam ada Edgar di Apartemennya, ia langsung beranjak bangun. Melihat penampilannya yang berantakan ia nampak mendesah kasar.
"Semoga saja pak Edgar tidak melihatku seperti ini."
Dena nampak mengancingkan pakaiannya yang terbuka, karena Elkan semalaman menyusunya. Bocah kecil itu seperti tak ada kenyangnya, karena sedikitpun tak membiarkan pakaian ibunya tertutup.
Dengan menggendong putranya, Dena keluar dari kamarnya. Ia nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh Apartemennya tapi tak melihat keberadaan pria itu.
Namun ketika ia menuju dapur, ia melihat bungkusan makanan di atas meja makan.
"Aku pulang dulu, jika merasa lapar makanlah. Makan yang banyak jangan takut gemuk."
__ADS_1
Dena membaca tulisan tangan Edgar yang berada di samping bungkus makanan tersebut, seketika Dena mengulas senyumnya.
Baru kali ini ada seseorang yang memperhatikannya, namun senyumnya langsung menyurut saat mengingat bagaimana semalam Edgar meninggalkannya saat mendapat telepon dari Sera.
"Pasti dia sedang berduaan dengan Sera."
Tak mau ambil pusing, Dena segera membuka makanan tersebut lalu memanasinya di microwave. Sambil menunggu ia mulai memandikan bayinya.
"Pa-pa." panggil Elkan, bocah kecil itu sedari tadi mencari ayahnya terus Dena sampai pusing di buatnya.
Rasanya Dena ingin membawa pergi anaknya sejauh mungkin, tapi mengingat ancaman Edgar ia jadi bimbang.
Edgar sangat berkuasa, pria itu pasti dengan mudah menemukannya. Lagipula dia mau pergi kemana sedangkan tabungannya menipis hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar gaji bik Mina.
"Nanti papa datang ya sayang, Elkan main dulu sama mama ya." bujuk Dena.
"Pa-pa." panggil Elkan lagi.
Tak berapa lama terdengar bel Apartemennya berbunyi, seketika ada kelegaan di hati Dena.
"Itu pasti papa." ucap Dena, tanpa sadar ia mengulas senyumnya seakan mengharapkan kehadiran Edgar saat ini.
"Pa-pa." teriak Elkan senang.
Dena segera menggendong Elkan lalu melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Bik Mina ?" Dena terlihat kaget karena bik Mina yang kemarin sore ijin pulang ke rumahnya tiba-tiba kini sudah berada di depan pintu Apartemennya.
Dalam hati kecilnya Dena merasa kecewa karena yang datang bukan Edgar.
"Kenapa aku harus memikirkan dia sih, ingat Dena dia milik Sera." batin Dena merutuki dirinya sendiri.
"Maaf Bu mengganggu pagi-pagi, karena anak bibik mendadak keluar kota jadi bibik lebih baik kembali sekarang. Karena di rumah bibik juga kesepian." ujar Bik Mina.
"Ya nggak apa-apa bik, saya senang malahan." sahut Dena.
"Pa-pa." teriak Elkan yang nampak ngambek karena ternyata bukan Edgar yang datang.
"Sepertinya papa masih sibuk sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Mall saja sama bibik." bujuk Dena.
__ADS_1
Sementara itu Edgar yang masih tertidur di Apartemennya nampak terkejut saat merasakan usapan lembut di pipinya.
"Sera, apa yang kamu lakukan di sini ?" ucapnya seraya beranjak dari tidurnya saat melihat Sera sudah berdiri di sisi ranjangnya dengan mengulas senyumnya.