Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~57


__ADS_3

"Tan-tante ?"


Ariana terperanjat ketika melihat nyonya Anggoro sudah berdiri tak jauh darinya, wanita itu nampak mengulas senyumnya saat menatapnya.


Dan tentu saja itu senyum kepalsuan, karena jujur saat ini nyonya Anggoro ingin sekali menjambak rambut Ariana.


Namun ia harus bisa menahan emosi dan bermain cantik tanpa di ketahui oleh suami maupun putranya.


"Lama tidak berjumpa, boleh saya bicara sebentar ?" sapa nyonya Anggoro yang terlihat ramah siang itu.


Ariana menganggukkan kepalanya pelan, kemudian ia mengikuti nyonya Anggoro yang sudah jalan terlebih dahulu.


Mereka nampak duduk di bawah pohon rindang yang biasa Ricko gunakan untuk menunggu ibunya menjemput.


"Bagaimana kabarmu ?" tanya nyonya Anggoro seraya memindai penampilan Ariana dari atas hingga bawah.


Ia akui wanita yang duduk di sebelahnya itu mempunyai wajah yang cantik alami, namun penampilannya yang sederhana dan make up tipisnya menunjukkannya seperti orang kampung menurutnya.


Sungguh Demian tidak akan pantas bersanding dengan wanita itu, lihatlah sandal yang dia pakai pun kampungan tanpa heels yang menghiasi.


Meski semua benda yang melekat di tubuhnya itu barang branded semua dan ia yakin itu hasil dari porotin uang anaknya tapi tetap saja terlihat kampungan menurutnya.


"Saya baik tante." sahut Ariana dengan mengulas senyumnya.


Melihat senyum Ariana, nyonya Anggoro langsung membuang mukanya. Jujur senyum wanita itu sangat teduh dan membuat orang jadi betah memandangnya.


"Apa kalian tinggal bersama ?" tanya nyonya Anggoro.


Ariana nampak mengangguk ragu. "Maaf tante, saya sudah melarang mas Demian tapi dia selalu memaksa untuk tinggal di rumah. Karena dia tidak ingin berpisah dari anaknya." ucapnya.


"Dan tentu saja karena setiap malam kamu sudah melempar tubuh kotormu itu ke atas ranjangnya dan entah berapa banyak laki-laki yang sudah menjamahnya sebelumnya. Dasar Demian bodoh."


Nyonya Anggoro nampak mengumpat dalam hati dan demi ambisinya untuk menyingkirkan wanita itu dari sisi putranya ia harus sedikit bersabar.


"Baiklah saya tidak mempermasalahkan itu, lagipula kamu sudah menjadi pilihan putra saya jadi saya bisa apa. Karena kita akan menjadi keluarga, bukannya lebih baik jika kita harus saling mengenal ?" ujar nyonya Anggoro seraya menatap lekat Ariana.


"Iya tante." angguk Ariana.

__ADS_1


"Demian satu-satunya putra saya dan dia adalah pewaris tunggal dari kerajaan bisnis Anggoro, saya berharap kamu tidak hanya menjadi istrinya tapi juga partner yang selalu berdiri di sampingnya. Bukannya kesuksesan seorang laki-laki karena ada wanita hebat di sampingnya ?" ujar nyonya Anggoro berharap wanita itu sadar diri dengan kemampuannya.


Ariana mengangguk meski saat ini hatinya sedang berkecamuk, dia merasa sangat rendah dan tidak pantas mendampingi Demian yang menurutnya begitu hebat.


Ternyata menjadi istri yang baik saja tidak cukup, karena mau tak mau dia juga harus masuk ke dalam lingkungan Demian yang selama ini tak pernah ia bayangkan.


"Sudah jangan terlalu banyak berpikir, kamu bisa belajar pelan-pelan nanti." ujar nyonya Anggoro ketika melihat Ariana nampak terdiam, ia yakin wanita itu sudah terkena mental karena ucapannya.


Tapi itu memang adalah kenyataan, Demian adalah seorang pengusaha kelas kakap. Siapa pun itu yang menjadi istrinya wajib berbaur dengan lingkungan laki-laki itu termasuk para istri sosialita dari koleganya.


"Terima kasih, tante." sahut Ariana.


"Ini untukmu." nyonya Anggoro mengulurkan sebuah undangan berwarna cokelat keeemasan pada Ariana.


"Itu undangan makan siang para kolega Demian dan para istrinya, nanti jika kamu sudah menjadi istri Demian kamu akan sering melakukan itu dan itu sebuah kewajiban." ucap nyonya Anggoro menjelaskan.


"Tapi tante....." Bagaimana dia bisa datang kalau saat ini statusnya sama Demian saja belum jelas.


"Kamu akan datang sebagai teman saya, saya hanya ingin menunjukkan bagaimana kehidupan seorang istri Demian nantinya agar kamu tidak terkejut dan bisa mempersiapkan diri dari sekarang." sela nyonya Anggoro ketika Ariana ingin menolaknya.


Sebagai orang biasa dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana kehidupan orang-orang kaya dan dia sadar jika menjadi istri Demian mau tak mau dia harus masuk ke dalam lingkungan laki-laki itu.


Mungkin niat calon ibu mertuanya itu baik meski ada raut ketidaksukaan pada dirinya dan Ariana menyetujui ajakan wanita itu agar ia bisa belajar dan tidak akan membuat Demian malu nantinya.


"Dan satu lagi, jangan beritahukan Demian masalah ini. Jika tahu, anak itu pasti akan melarangmu tapi sampai kapan kamu akan bersembunyi di belakang dia sedangkan di luar sana banyak wanita hebat sedang mengantri untuk mencari perhatian Demian jadi tunjukkan jika kamu juga hebat seperti mereka." ujar nyonya Anggoro.


Mendengar perkataan nyonya Anggoro Ariana langsung mengangguk, karena yang di katakan oleh wanita itu memang benar.


Sedangkan nyonya Anggoro nampak tersenyum licik, sangat mudah mempengaruhi wanita polos itu dan semoga saja besok wanita itu akan terbuka matanya dan mengibarkan bendera putih.


Nyonya Anggoro tahu jika dia menggunakan kekerasan atau mengancam wanita itu seperti 8 tahun silam, mungkin tidak akan berhasil. Karena wanita itu sekarang terlihat sangat tegar dan dia pasti akan di lawannya.


Maka satu-satunya jalan adalah menunjukkan siapa dia dan siapa Demian yang sebenarnya, karena sampai kapanpun Pungguk hanya bisa merindukan Bulan tapi takkan bisa memilikinya.


"Ibuk."


Ricko yang melihat ibunya sedang duduk di bawah pohon rindang dengan seseorang yang dia tahu bahwa wanita paruh baya itu adalah neneknya Olive dan itu berarti beliau juga neneknya Ricko langsung berlari ke arah ibunya.

__ADS_1


"Ibu nggak apa-apa ?" tanyanya khawatir, takut neneknya itu melukai ibunya. Sebagai anak laki-laki ia akan berdiri melindungi ibunya.


"Ibu baik-baik saja, Nak. Ayo beri salam pada nenekmu." perintah Ariana.


Ricko nampak menatap tak ramah nyonya Anggoro, ia mengingat kejadian di rumah sakit waktu itu bagaimana neneknya itu sudah membentaknya.


Namun begitu Ricko tetap mengambil tangan nyonya Anggoro lalu menciumnya dengan takzim.


Sedangkan nyonya Anggoro nampak terkesimah dengan kesopanan Ricko bahkan Olive sendiri tidak pernah melakukan itu padanya.


Apalagi wajah Ricko yang mirip Demian ketika masih kecil, tidak ia tidak akan luluh di depan anak itu. Suatu saat jika Demian sudah hidup bahagia dengan Jessica maka ia akan mengambil cucunya itu dari ibunya.


Bagaimana pun juga keturunan Anggoro harus hidup di tempat yang semestinya meski pun tanpa ibunya sekalipun.


Katakan lah dia memang serakah, tapi ia lakukan semua ini demi kehormatan keluarga besarnya.


"Baiklah jadi bagaimana, apa kamu bersedia untuk datang ?" ujar nyonya Anggoro setelah sejenak menatap Ricko.


Ariana nampak menghela napasnya pelan, kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Bagus, kalau begitu saya pergi dulu."


Sekali lagi nyonya Anggoro menatap Ricko, namun harga dirinya yang terlalu tinggi enggan untuk sekedar menyapanya.


Setelah itu ia segera meninggalkan tempat tersebut bersama sang sopir.


"Buk, Ricko tidak suka dengan nenek itu." ucap Ricko sesaat setelah nyonya Anggoro pergi.


"Nggak boleh seperti itu sayang, bagaimana pun juga dia ibunya ayah yang berarti nenek kamu dan kamu harus menghormatinya." nasihat Ariana.


"Hmm, tapi jangan dekat-dekat dengan nenek ya bu. Nenek itu terlihat galak." sahut Ricko.


Sedangkan Ariana nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


Di sisi lain, nyonya Anggoro yang sudah berada di mobilnya ia nampak mengulas senyumnya.


"Anak itu bagaimana bisa mirip sekali dengan Demian, wajahnya sangat menggemaskan. Tunggulah Nak, cepat atau lambat kamu akan tinggal bersama nenek."

__ADS_1


__ADS_2