Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~186


__ADS_3

"Setelah aku tiada mau kah kamu menikah dengan Sera ?" pinta Helena dengan nada memohon, namun Martin langsung menatapnya dengan tajam.


"Apa kamu sudah gila, hah. Sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya, paham ?" tegasnya.


"Tapi Sayang....."


"Pikiranmu sudah mulai ngaco sayang, sebaiknya kamu segera beristirahat." sela Martin seraya membawa Helena ke ranjangnya.


"Sayang, please...."


"HELENA, apa kamu tidak mencintaiku hah? bisa-bisanya kamu menyuruhku menikah dengan wanita lain." potong Martin dengan nada tinggi.


"Justru karena aku mencintaimu, aku ingin kamu ada yang merawat saat aku tiada." sanggah Helena.


"Kamu benar-benar keterlaluan, meski di dunia ini hanya ada Sera seorang aku tidak akan sudi menikahinya." tegas Martin menatap tajam kekasihnya itu.


Setelah itu ia segera berlalu keluar dengan membanting keras pintu kamarnya tersebut, mengambil kunci mobilnya kemudian pergi.


Sedangkan Sera yang tak sengaja mendengar pertengkaran mereka langsung berlari ke kamarnya dengan berlinang air mata.


Malam harinya setelah memastikan Helena makan dan minum obat, Sera segera beranjak istirahat namun panggilan Helena membuatnya urung masuk kamarnya.


"Ya Helena ada apa, kenapa kamu belum tidur ?" tanya Sera terkejut saat mendapati Helena keluar kamar.


"Bisakah jangan tidur dulu, tolong tunggu Martin sebentar." pinta Helena.


"Tapi ini sudah larut malam, pasti dia tidak pulang. Sekarang kamu istirahat ya." bujuk Sera.


"Dia pasti pulang, tolong tungguin sebentar ya." mohon Helena lagi.


Sera nampak mendesah pelan. "Baiklah, akan ku tunggu tapi sekarang kamu istirahat ya ini sudah hampir tengah malam." ucapnya yang langsung membuat Helena tersenyum padanya.


"Terima kasih." sahut Helena, setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Hampir dua jam Sera menunggu Martin datang, tapi laki-laki itu tak kunjung datang akhirnya ia memutuskan masuk kamarnya.


Namun baru juga membuka pintu kamarnya, terdengar gedoran dari luar dengan keras.


"Astaga, apa dia mau merobohkan rumah ini." gerutu Sera sembari melangkahkan kakinya menuju pintu.


Ketika membuka pintu tersebut, ia nampak terkejut saat mendapati Martin sedang dalam keadaan mabuk parah.


Laki-laki itu terlihat sempoyongan dengan bau alkohol menguar di mana-mana.

__ADS_1


"Kamu mabuk ?" tanyanya namun Martin hanya menatapnya datar dengan mata memerah.


"Ayo, masuklah dan segera bersihkan dirimu." Sera segera membuka pintu dengan lebar agar Martin segera masuk, namun baru juga melangkahkan kakinya ia sudah terjatuh.


Melihat itu, Sera segera membantunya berdiri lalu memapahnya masuk.


"Helena, aku mencintaimu sayang." racau Martin seraya mendorong Sera ke dinding lalu menghimpit tubuh wanita itu.


"Aku Sera, Martin. Bukan Helena." Sera mencoba menyadarkan Martin saat pria itu semakin menghimpitnya.


"Aku sangat mencintaimu Helena, kenapa kamu lakukan ini padaku." teriak Martin tak sadar.


Sera yang merasa dalam bahaya ia langsung memberontak sekuat tenaga, hingga terbebas dari dekapan Martin.


"Helena, kamu jangan pergi. Aku mencintaimu." teriak Martin saat Sera terbebas kemudian berlari ke kamarnya, namun Martin langsung mengejarnya lalu mendorong pintu kamar Sera dengan kuat sebelum wanita itu berhasil menutupnya.


"Martin aku Sera, bukan Helena." teriak Sera saat Martin berhasil masuk kamarnya.


"Kamu Helena sayang, bukan wanita sialan itu." keukeh Martin seraya mendorong Sera hingga jatuh ke atas ranjangnya lalu ia segera menindihnya.


"Aku mohon, jangan lakukan ini." teriak Sera saat Martin mencoba melucuti pakaiannya.


"Helena, tolong. Helena ku mohon tolong aku." teriak Sera sekeras mungkin namun wanita itu tak kunjung datang.


"Martin, kasihan Helena. Ku mohon jangan lakukan ini. Sadar Martin, aku Sera bukan Helena." mohon Sera saat Martin masih berusaha melucuti pakaiannya.


Setelah wanita di bawah kungkungannya itu nampak polos, Martin segera melucuti pakaiannya sendiri.


Sera nampak memberontak namun badan Martin yang besar dan bertenaga tak membuatnya bisa berkutik.


Martin nampak menguasai tubuh polos Sera, ia mencumbu wanita itu dengan sangat lembut. Tak peduli Sera memberontak, justru itu membuat api gairahnya semakin berkobar.


Sera yang sudah kehabisan tenaga untuk melawan, bahkan suaranya hampir habis karena berteriak meminta tolong Helena. Kini ia hanya bisa pasrah saat Martin memaksa memasukinya.


"Maafkan aku Helena, maafkan aku."


Sera nampak menangis saat menyadari telah menghianati Helena, namun sekuat apapun hatinya menolak tapi tubuhnya justru merespon kehadiran milik Martin di dalam tubuhnya.


Laki-laki itu melakukannya dengan sangat lembut seakan dirinya adalah Helena, di setiap sentuhan dan hentakan Martin pada tubuhnya membuat Sera merasakan begitu nikmat dan dicintai.


Sera akhirnya terbawa suasana, ia juga mencintai Martin. Meski ini salah, tapi boleh kah ia egois ingin memiliki pria itu meski hanya satu malam saja.


Sera nampak membalas setiap sentuhan Martin dan itu membuat laki-laki itu semakin bergairah untuk menyentuhnya.

__ADS_1


"Kamu begitu nikmat, sayang." racau Martin di tengah hentakannya.


"Helena, aku mencintaimu." imbuhnya lagi yang langsung membuat hati Sera mencelos dan sesak, meski laki-laki itu begitu menikmati tubuhnya namun di otaknya ada Helena seorang.


Beberapa saat kemudian saat tubuh Sera menegang karena akan sampai pada puncaknya, tiba-tiba Martin menghentaknya dengan keras dan dalam hingga membuat keduanya nampak mendesah panjang karena mencapai kenikmatan bersamaan.


Martin nampak ambruk diatas tubuh Sera dengan peluh keringat membasahi tubuhnya.


Sementara itu Helena yang sedang bersandar di dinding kamar Sera nampak mengusap air matanya, meski nampak kesedihan di wajahnya tapi terlihat bibirnya mengulas senyumnya.


"Maafkan aku Sera dan semoga setelah ini ada sesuatu yang dapat mengikat hubungan kalian." gumamnya.


Helena memang sengaja menyuruh Sera untuk menunggu kedatangan Martin, ia tahu jika Martin sedang emosi laki-laki itu pasti akan mencari alkohol sebagai pelampiasan.


Dan saat Sera berteriak meminta tolong pun, Helena mendengarnya tapi ia membiarkannya karena itu memang adalah rencananya.


Ia hanya ingin saat ia tiada nanti, Martin bisa bersama dengan Sera dan ia juga tahu jika Sera diam-diam menyukai kekasihnya itu. Ia yakin Sera sudah berubah lebih baik dan sangat layak untuk di cintai.


Keesokan paginya.....


Sera nampak mengerjapkan matanya, saat merasakan beban berat di perutnya dan Ia langsung tersenyum saat menatap wajah lelap Martin di sampingnya.


Namun senyum itu langsung menyurut saat ia menyadari kesalahannya, kemudian ia segera memunguti pakaiannya yang nampak robek akibat ulah Martin semalam.


Setelah itu ia segera berlalu pergi meninggalkan kamarnya tersebut.


Beruntung hari masih sangat pagi, Helena pasti belum bangun. Ia harus segera melakukan sesuatu agar wanita itu tidak mengetahui perbuatannya dan Martin semalam.


"Maafkan aku Helena."


Setelah berganti pakaian, Sera nampak merebahkan dirinya di sofa ruang tamu. Ia tidak ingin Helena curiga, karena itu tidak akan baik buat kesehatan wanita itu.


"Ser, bangun ini sudah siang? kenapa kamu tidur di sini ?" ujar Helena yang langsung membuat Sera mengerjap kaget.


"He-Helena ?" ucap Sera terkejut saat melihat Helena.


"Kenapa kamu tidur di sini ?" tanya Helena lagi.


"A-aku...."


"Martin semalam mabuk, pasti dia menyabotase kamarmu ya." potong Helena sembari terkekeh.


"Hah, i-iya. Makanya aku tidur di sini" sahut Sera lalu ia menatap Martin yang nampak duduk tak jauh dari sana dengan cuek, seakan semalam tidak terjadi apa-apa antara mereka.

__ADS_1


Padahal biasanya setiap laki-laki itu selesai menggaulinya pasti akan memberikannya obat kontrasepsi darurat.


Namun semalam Martin melakukannya secara tak sadar, semoga saja apa yang dia takutkan selanjutnya tidak akan terjadi dan ia akan melupakan kejadian semalam dan berhenti mengharapkan laki-laki itu.


__ADS_2