Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~151


__ADS_3

Hari ini Edgar terpaksa meninggalkan wanita yang baru beberapa hari menjadi istrinya itu pergi ke Singapura untuk melakukan perjalanan bisnisnya.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan aku tinggal." ucapnya pada Dena yang pagi itu sedang membantunya berkemas.


"Nggak apa-apa, kan kamu kerja keras seperti ini untuk kami juga." sahut Dena.


"Terima kasih." sahut Edgar menatap istrinya itu.


Sungguh Edgar sangat bahagia saat ini, di pikirannya hanya ada Elkan dan Dena semata. Ia jadi mempunyai tujuan hidup yaitu membahagiakan mereka berdua dan mungkin sebentar lagi akan ada Edgar junior lagi yang akan tumbuh di rahim istrinya itu.


Mengingat sejak mereka menikah setiap saat ia selalu menanamkan benihnya di rahim wanita itu.


"Ini ambillah, pinnya tanggal pernikahan kita." Edgar mengulurkan sebuah Black card pada Dena.


"Kamu bisa berbelanja sesukamu, ke salon maupun jalan-jalan bersama Elkan. Apapun itu asal kalian bahagia, sayang." lanjutnya lagi.


"Bagaimana kalau aku menghabiskan isinya ?" seloroh Dena dengan maksud tersembunyi tentunya.


"itu no limit, sayang. Kamu bisa menggunakan untuk apapun itu." sahut Edgar.


"Membeli rumah ?" ucap Dena sembari tersenyum nyengir.


"Memang kamu mau membeli rumah seperti apa lagi, sayang? apa rumah ini kurang besar, hm ?" ucap Edgar gemas seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya itu.


"Rumah ini sudah sangat besar." sahut Dena terkekeh.


"Kamu bisa berbelanja apapun yang kamu mau, sayang." ucap Edgar seraya mencubit gemas hidung Dena.


"Apapun? termasuk jalan-jalan ?" pancing Dena.


"Apapun itu asal kamu bahagia." sahut Edgar tanpa rasa curiga.


"Baiklah, terima kasih." sahut Dena, kemudian ia mengecup bibir suaminya.


Namun saat ia ingin menjauhkan bibirnya, laki-laki itu justru menekan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya.


Edgar begitu candu dengan tubuh wanita itu, setiap saat ia selalu menginginkannya.


"Sayang, kamu akan terlambat nanti." protes Dena saat suaminya enggan melepaskan dirinya.

__ADS_1


"Baiklah, kamu sungguh menyebalkan." kesal Edgar yang langsung membuat Dena terkekeh menatapnya.


"Kamu harus bekerja keras, sayang." ucap Dena.


"Tentu saja aku akan bekerja keras sayang, aku akan menjadi orang paling kaya di dunia ini dan setelah itu aku tidak ingin bekerja lagi. Karena kerjaanku hanya akan mengungkung mu seharian di ranjang." sarkas Edgar yang langsung membuat Dena terkekeh.


"Baiklah, ku tunggu hari itu tiba." sahutnya.


"Tentu saja kamu harus bekerja keras sayang, karena aku membutuhkan banyak uang darimu untuk membalas perbuatan mereka." lanjut Dena dalam hati.


"Semoga saja setelah aku pulang akan ada kabar baik." ucap Edgar seraya mengusap lembut perut Dena.


Dena hanya tersenyum tipis melihat tingkah suaminya, ia tahu laki-laki itu sangat menginginkan seorang anak lagi darinya. Namun Dena tidak bisa mengabulkannya, karena jika dirinya hamil maka akan menghambat balas dendamnya.


Dan sejak malam pertamanya itu, Dena diam-diam sudah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Semoga suaminya tidak curiga akan hal itu.


"Sayang, pesawatmu sebentar lagi berangkat loh." ucap Dena mengingatkan.


"Baiklah, ayo." Edgar mengajak istrinya itu keluar kamarnya lalu masuk ke dalam kamar Elkan yang nampak masih tertidur pulas pagi itu.


Setelah kepergian suaminya, Dena segera menjalankan rencananya. Beberapa hari lalu diam-diam ia sudah mengurus paspor putranya serta pengasuhnya.


Besok ia akan membawa Elkan dan pengasuhnya pergi ke Jerman, meski suaminya menyuruh orang untuk mengawasinya tapi Dena selalu mempunyai cara untuk bisa lolos dari para bodyguard tersebut.


Ia harus ke Jerman, mengumpulkan bukti perselingkuhan Arhan dan juga Sera. Walau sudah hampir 3 tahun berlalu, tapi ia yakin bukti itu masih ada.


Meski sekarang hidupnya bahagia bersama Edgar, tapi ia tidak rela jika Sera dan ibunya masih bisa bebas menikmati harta ayahnya yang seharusnya menjadi haknya.


Sedangkan Edgar yang baru dua hari berada di Singapura langsung terkejut saat mengetahui istrinya itu diam-diam berangkat ke Jerman.


Ia kecewa karena istrinya pergi tanpa ijin dulu padanya, namun saat wanita itu mengajak Elkan dan pengasuhnya ikut serta ia sedikit lega.


Mungkin istrinya itu ingin pergi liburan pikirnya, tapi pergi tanpa seijinnya itu tak dapat ia maafkan.


Edgar begitu mencintai Dena, namun rasa cintanya kadang masih belum cukup untuk mengerti sepenuhnya wanita itu.


Di matanya Dena seperti mempunyai dua kepribadian, kadang-kadang wanita itu begitu lembut dan hangat namun di lain kesempatan Dena nampak sangat dingin.


Ia sudah berusaha untuk mengajak wanita itu pergi ke ahli psikiater, tapi wanita itu selalu menolaknya dengan alasan dirinya baik-baik saja.

__ADS_1


Edgar tahu Dena mempunyai rasa trauma yang begitu dalam, tapi balas dendam bukanlah hal tepat untuk di lakukan.


Untuk itu ia berusaha membahagiakan wanita itu setiap hari, ia pikir jika Dena bahagia maka rasa traumanya perlahan akan hilang dengan sendirinya.


"Pesankan aku tiket ke Jerman sekarang, Jun." perintah Edgar tak sabar.


"Tapi tuan, dua hari ini kita ada meeting penting. Kalau tuan tak menghadirinya langsung, mungkin kita akan gagal mendapatkan proyek besar itu." bujuk Juno.


"Ah sial, bahkan ponselnya tak bisa ku hubungi." Edgar ingin sekali membanting ponselnya saat tak bisa menghubungi istrinya itu.


"Tenanglah tuan, orang-orang saya sudah berangkat kesana untuk mencari nyonya Dena." ucap Juno meyakinkan.


"Ck, orang-orangmu itu benar-benar tidak becus bekerja. Bagaimana bisa mereka tidak mengetahui Dena pergi." geram Edgar.


"Cari tahu apa Arhan juga pergi ke Jerman, saya tidak mau mereka sampai bertemu." ucapnya lagi.


"Tuan Arhan sedang sibuk mengurus proyeknya di Bali, tuan." sahut Juno.


"Syukurlah, ku lihat laki-laki itu begitu menginginkan istriku dan saya tidak akan mengizinkan dia mendekati Dena barang sedikitpun." geram Edgar.


"Anda tenang saja, tuan. Saya selalu mengawasi tuan Arhan dan sejak pernikahan anda, beliau tidak ada tanda-tanda mencari keberadaan nyonya Dena." sahut Juno.


"Jadi anda tenang saja, mungkin nyonya Dena dan putra anda hanya pergi liburan saja." ucap Juno lagi meyakinkan.


"Baiklah, aku butuh informasi secepatnya di mana istriku itu berada." tegas Edgar, ia nampak meraup wajahnya dengan kasar.


"Kamu membuatku sangat khawatir, sayang. Aku pasti akan menghukummu nanti."


Dua hari kemudian setelah menyelesaikan pekerjaannya, Edgar segera pergi menyusul istri dan anaknya itu ke Jerman.


Orang-orang suruhan Juno sudah mengetahui keberadaan mereka, Dena nampak menginap di sebuah hotel di mana beberapa tahun silam mereka pernah menghabiskan malam panjangnya.


Dari informasi mereka juga istrinya itu hanya menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan dengan sang Putra dan Edgar sangat lega mengetahui hal itu.


"Sayang." panggil Edgar saat mendekati sang istri yang nampak sedang berjemur di pinggir kolam renang di hotelnya tempat menginap.


"Sa-sayang ?" Dena langsung memucat saat melihat suaminya sudah berada di hadapannya.


"A-aku bisa menjelaskan semuanya, sayang." ucapnya lagi dengan gugup.

__ADS_1


__ADS_2