
"Apa kalian tidur terpisah ?" tanya Ricko saat masuk kembali ke dalam kamar Olive.
"Apa ?" Olive nampak tak mengerti.
"Apa kamu dan kak Dean tidur terpisah ?" tanya Ricko lagi yang langsung membuat Olive menelan ludahnya.
"Astaga kenapa aku tidak memikirkan hal itu."
Olive langsung merutuki kelalaiannya, ia harus segera mencari alasan.
"Kami tidur bersama kok, tapi Dila lebih betah di kamar ini. Jadi kami tidur bersama saat akan melakukan itu saja." dusta Olive sembari menggigit bibir bawahnya, semoga saja Ricko percaya dengan alasannya.
"Itu apa ?" Ricko nampak menaikkan sebelah alisnya pura-pura tak mengerti, padahal ingin sekali ia tertawa. Sungguh mantan istrinya itu sangat polos.
"Iya itu." sahut Olive sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu ?" tanya Ricko lagi, ia benar-benar ingin tertawa sekarang.
"Hubungan suami istri." tukas Olive kemudian, wajahnya nampak memerah karena malu.
"Benarkah ?" Sepertinya Ricko masih ingin menggoda mantan istrinya itu atau bisa jadi mereka masih berstatus suami istri dan ia sedang menunggu orang suruhannya untuk mencari informasi.
Ia memang telah menyakitinya begitu dalam, tapi selama dua tahun ini ia juga selalu mentransfer uang nafkah untuk wanita itu.
"Tentu saja, bukannya kami suami istri tentu saja kami melakukan itu." sahut Olive meyakinkan.
"Apa kak Dean seperkasa aku dulu ?" tanya Ricko dengan tak tahu malu yang langsung membuat Olive membulatkan matanya.
"Apaan sih, hubungan kita sudah masa lalu. Jadi jangan di bahas lagi, lagipula bukannya kamu sudah mencampakkan ku." sungut Olive dengan kesal.
Mendengar perkataan mantan istrinya itu, Ricko nampak menghela napas panjangnya. Ia juga menyesali semua perbuatannya.
"Maafkan aku, waktu itu...." ucapnya namun terjeda karena Olive sudah memotongnya.
"Aku bilang jangan di bahas lagi." potong Olive.
"Sekarang tidurlah." imbuhnya lagi, kemudian ia berlalu keluar.
"Tunggu, kamu mau kemana ?" cegah Ricko dengan mencekal pergelangan tangan Olive.
"Tidur di kamar suamiku." sahut Olive, kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras.
Ricko yang melihat kepergiannya nampak menatapnya dengan nanar.
"Maafkan aku."gumamnya.
Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa, ia harus segera mencari cara untuk menaklukkan hati wanita itu lagi.
Tak berapa lama kemudian, terdengar ponselnya berdering.
__ADS_1
"Ya hallo, ada informasi apa ?" sahutnya kemudian.
"Benarkah, apa udah valid ?" imbuhnya lagi saat seseorang di ujung telepon tersebut memberikannya sebuah informasi.
"Baiklah, segera kirim ke emailku." perintahnya kemudian, setelah itu ia memutuskan panggilan.
Lalu ia membuka email yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.
"Jadi Olive masih sah menjadi istriku ?" Ricko nampak sangat bahagia mengetahui kenyataan yang sebenarnya, jika selama ini ibunya tidak pernah memerintahkan kuasa hukumnya untuk mengurus perceraiannya.
"Terima kasih, Mom."
Beberapa saat kemudian Ricko yang tidak bisa memejamkan matanya, langsung bangkit dari tidurnya lalu melangkahkan kakinya keluar kamar.
Ia nampak berdiri di depan kamar Dean, kemudian ia segera memasukkan kunci yang sedari tadi ia pegang.
Setelah pintu terbuka ia melangkah masuk, lalu di lihatnya istrinya itu sedang tertidur pulas di atas sofa.
"Aku harus bagaimana agar kamu memaafkan ku." gumamnya menatap wanita itu.
Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Dean yang di penuhi foto pernikahan pria itu dengan istrinya.
"Nilai mu merah dalam berbohong, sayang." ucapnya, kemudian ia berdehem nyaring saat Olive nampak mengerjapkan matanya karena silau lampu yang baru ia hidupkan.
"Ka-kamu apa yang kamu lakukan di kamarku ?" teriak Olive saat melihat Ricko sedang duduk di sofa seberangnya.
"Kamar kamu ?" Ricko nampak menaikkan sebelah alisnya pura-pura tak mengerti.
"Wow, apa kak Dean mempunyai dua istri ?" cibir Ricko sembari menatap foto pernikahan Dean dan Diana.
Sedangkan Olive yang mengikuti pandangan Ricko langsung menelan ludahnya.
"Ketahuan deh." gumamnya.
"Kamu tidak pandai berbohong sayang, ayo kembali tidur di kamarmu. Tidak baik tidur di kamar pasangan lain sedangkan kita mempunyai kamar sendiri." tukas Ricko sembari beranjak dari duduknya kemudian ia langsung mengangkat tubuh Olive hingga membuat wanita itu terkejut lalu meronta.
"Kamu apa-apaan sih, lepaskan aku." teriaknya sambil meronta dengan memukuli dada bidang Ricko.
Sedangkan Ricko tetap saja membawanya keluar dari kamar tersebut.
"Lepaskan aku." teriak Olive.
"Diamlah sayang, kamu mau semua penghuni di rumah ini panik mendengar teriakanmu." tukas Ricko.
"Kamu..." Olivia menatap kesal Ricko.
"Diam atau ku cium." potong Ricko dengan nada tegas hingga membuat Olive langsung menutup mulutnya rapat.
Setelah sampai di kamarnya, Ricko langsung meletakkan tubuh Olive di atas ranjangnya.
__ADS_1
Sebelum wanita itu beranjak pergi, ia langsung mengungkung tubuhnya.
"Lepaskan." teriak Olive saat kedua tangannya di kunci oleh pria itu di atas kepalanya.
"Katakan kenapa kamu membohongiku ?" ucap Ricko dengan menatap intens istrinya itu.
"Bukan urusanmu." sahut Olive dengan membuang mukanya.
"Aku memang bersalah karena meninggalkan mu waktu itu, tapi aku melakukan itu juga karena mempunyai sebuah alasan." ucap Ricko kemudian, namun Olive masih enggan menatapnya.
"Dan alasan mu itu sangat menyakitiku, aku seperti barang yang bisa kamu oper sana oper sini." lirih Olive, nampak sudut matanya menggenang lalu jatuh membasahi pipinya.
Lantas Ricko meraih dagunya dengan lembut lalu membawanya ke hadapannya, hingga kini mereka nampak bersitatap.
"Aku minta maaf sayang, aku memang salah tapi tidak bisakah kamu memberikan sedikit maafmu ?" mohon Ricko dengan nada mengiba.
"Aku sudah memaafkan mu." sahut Olive yang langsung membuat Ricko nampak senang.
"Tapi kita tidak bisa seperti dulu lagi." imbuhnya lagi.
"Tapi sayang..."
"Kamu tahu, mencintai itu mudah tapi mempertahankannya yang sulit. Karena cinta yang tidak di jaga dengan baik, bisa saja akan berpaling pada yang lain." sela Olive dengan nada sindiran yang membuat Ricko langsung mengepalkan tangannya.
"Apa sudah ada pria yang kamu sukai? siapa pria itu? apa dia salah satu karyawan di kantor ?" tanyanya dengan nada geram, apalagi saat mengingat istrinya itu menjadi primadona di kantornya.
"Bukan urusanmu." sahut Olive seraya memalingkan wajahnya.
Ricko yang cemburu langsung bangkit lalu mengambil ponselnya di atas nakas.
"Tentu saja itu menjadi urusanku, karena kamu adalah istriku." ucapnya seraya menunjukkan bukti pernikahan mereka di ponselnya.
"Apa...." Olive nampak tercengang, ia segera beranjak lalu mengambil ponsel milik Ricko tersebut.
"Bukannya waktu itu kamu sudah mengurus perceraian ?" ucapnya kemudian.
"Aku tidak pernah melakukan itu." tegas Ricko.
"Ya sudah kalau begitu mari kita bercerai." ajak Olive yang langsung membuat Ricko melotot menatapnya.
"Apa ?"
"Kita bercerai sesuai keinginan mu dua tahun yang lalu kan ?" sahut Olive dengan enteng, padahal dalam hati ia juga khawatir jika Ricko akan mengabulkan keinginannya tersebut.
Bagaimana pun juga ia sangat mencintai Ricko begitu juga sebaliknya, ia tahu Ricko begitu tersiksa berpisah darinya.
Namun ia hanya ingin memberikan pelajaran pada laki-laki itu agar lain kali bisa menjaga dan mempertahankan miliknya.
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi." sahut Ricko lalu mendorong tubuh Olive hingga membuat wanita itu jatuh ke atas kasur lalu ia segera mengungkungnya.
__ADS_1
"Rick, lepaskan. Apa yang kamu lakukan." Olive nampak mendorong kepala Ricko yang kini berada di ceruk lehernya, kemudian laki-laki itu nampak menatapnya dengan pandangan berhasrat.
"Kita tidak akan bercerai sayang dan ku pastikan sebentar lagi kamu akan mengandung anakku." tegas Ricko, lalu mencium bibir istrinya itu dengan sedikit kasar.