Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~107


__ADS_3

Victor langsung melepaskan panggutannya saat Nina menggigit bibirnya hingga berdarah.


"Kenapa kamu selalu saja menciumku seakan aku ini wanita murahan yang bisa seenaknya kamu sentuh ?" teriak Nina sambil terisak.


Ia merasa harga dirinya di lecehkan oleh Victor, apa karena dirinya bekerja di Bar maka laki-laki itu bisa seenaknya saja menyentuhnya.


"Maaf, bukan maksudku seperti itu." Victor jadi merasa bersalah, tadinya ia sangat merindukan gadis itu dan tidak tahan kalau tidak menyentuhnya.


"Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi." usir Nina, lalu ia melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam restoran.


"Menikahlah denganku." tegas Victor yang langsung membuat Nina menghentikan langkahnya.


Ia merasa semalam tak bermimpi apa-apa, tapi kenapa hari ini sudah ada dua laki-laki yang mengajaknya menikah.


"Ya Tuhan engkau sedang tidak becanda kan."


Nina menghela napas panjangnya. "Tuan Victor yang terhormat, anda pikir pernikahan adalah sebuah permainan ?" ucapnya kemudian.


"Aku tidak pernah becanda dengan ucapanku." tegas Victor namun itu justru membuat Nina tersenyum sinis menatapnya.


"Pernikahan adalah sebuah komitmen untuk bersama, bukan tiba-tiba datang lalu pergi dengan sesuka hati." ujar Nina bernada sindiran.


"Maafkan aku, beberapa hari ini aku sangat sibuk mengurus pemakaman mantan istrinya tuan Demian dan setelah itu ada sedikit pekerjaan di luar kota. Karena tidak mempunyai nomor ponselmu, aku jadi tidak bisa menghubungimu." sahut Victor menjelaskan.


Nina nampak melihat kejujuran di mata pria itu, tapi bukan berarti dia memaafkannya. Lebih baik ia gunakan kesempatan ini untuk menjauhinya.


Sebelum cinta berkembang semakin dalam dan jatuh sejatuhnya pada pesona pria itu lebih baik Nina menutup hatinya.


Hidupnya sudah penuh dengan beban, ia tidak mau menambahkannya lagi dengan berhubungan dengan Victor yang jelas-jelas pria berbahaya.


Meski tak ia pungkiri jantungnya selalu berdebar setiap berada di depan laki-laki itu.


"Aku tidak bisa, karena aku tidak mencintaimu." tolak Nina kemudian.


"Apa itu karena kamu mencintai laki-laki brengsek itu ?" tanya Victor.


"Bukan urusanmu dan Yudo bukanlah laki-laki brengsek jadi sekarang jangan pernah ganggu aku lagi, aku tidak mau melihatmu." tegas Nina.


Victor terdiam, apa barusan dia sedang di tolak mentah-mentah? tidak, Victor orang yang berambisius. Ia selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dalam hidupnya.


Perasaannya sudah terlalu dalam dan dia tidak bisa mundur lagi, dalam kamus hidupnya prinsipnya hanya ada dua memilikinya atau menghancurkannya.


Jika cara baik-baik tidak bisa meluluhkan hati gadis itu maka ia akan menggunakan cara licik.

__ADS_1


"Baiklah, kalau itu maumu." Victor langsung berbalik badan lalu melangkahkan kakinya pergi tanpa mau repot memohon pada gadis itu.


"Apa? dia main pergi gitu aja. Dasar manusia tidak mempunyai perasaan, tidak bisa apa sedikit merayu." Nina nampak bersungut-sungut.


Harusnya ia senang akhirnya Victor menyerah dan tidak mengganggu hidupnya lagi, tapi kenapa hatinya rasanya sesak melihat kepergian pria itu.


Beberapa hari ini Nina sama sekali tak bersemangat, ternyata hati dan logikanya sama sekali tak sinkron.


Logikanya menginginkan laki-laki itu pergi karena bagaimana pun Nina tidak mau berhubungan dengan pria berbahaya seperti Victor, tapi hatinya justru menginginkan laki-laki itu.


Semakin Nina ingin melupakan sosok Victor, semakin dalam pula perasaannya padanya.


"Kamu sakit Nin ?" tanya seorang bartender saat Nina baru datang malam itu di Bar.


"Nggak." sahut Nina.


"Syukurlah, tapi beberapa hari ini kamu terlihat murung."


"Mungkin kurang istirahat, ini mau di antar di meja berapa ?" tanya Nina saat melihat beberapa gelas racikan minuman berakohol.


"Di meja nomor 3."


"Baiklah." Nina langsung mengambil nampan tersebut, tamunya pasti bukan orang sembarangan karena minuman yang di pesannya salah satu minuman yang sangat mahal.


Deg!!


Nina menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang berada di meja nomor tiga, hatinya langsung memanas dan sakit.


Laki-laki yang beberapa hari ini menghilang dari hidupnya sejak ia tolak, kini muncul kembali bersama seorang wanita yang nampak bergelayut manja di lengan kekarnya.


Wanita cantik itu nampak tak segan mengusap lembut dada bidang Victor dari balik kemejanya yang sudah terlepas kancingnya dua biji.


Nina menguatkan hatinya, perasaan yang dia sangkal justru kini membuatnya terluka.


"Silakan tuan, nona" ucap Nina saat meletakkan dua gelas berisi alkohol racikan dan satu botol Alkohol berlabel dengan harga fantastis.


"Duduklah dan layani kami." perintah Victor dengan nada dingin.


Biasanya Nina akan selalu bersemangat jika ada pelanggan yang menyuruhnya untuk melayani, Namun kali ini ia ingin sekali pergi sejauh mungkin.


"Kenapa masih diam di situ? apa kamu tidak melihat gelas kami sudah kosong ?" hardik wanita teman kencan Victor itu saat melihat Nina hanya diam saja.


Nina mendengus kesal, ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya di Bar ini. Apa secepat itu bagi Victor untuk move on padahal baru beberapa hari lalu laki-laki itu mengajaknya menikah.

__ADS_1


"Dasar playboy sialan." umpat Nina dalam hati seraya membuka botol minuman tersebut.


"Kak Vic, kamu janjikan akan membelikanku tas itu besok? harganya sangat mahal aku tidak mungkin minta papa." rayu wanita itu seraya mengusap lembut lengan Victor.


Sedangkan Victor bergeming, laki-laki itu nampak duduk dengan angkuh seraya memainkan ponselnya.


"Belilah sesukamu Sil dan buatkan tagihan atas namaku." sahut Victor lembut yang langsung membuat gadis yang bernama Sisil itu memeluknya senang.


Sisil adalah putri dari kolega Demian, daridulu gadis itu sudah menyukai Victor tapi Victor hanya menganggapnya sebagai adik.


Nina yang sedang berdiri tak jauh dari mereka nampak kesal menatap wanita tak tahu malu yang bergelayut manja di lengan Victor itu.


Ingin rasanya dia menendang wanita itu ke planet Mars, hatinya rasanya sesak. Ia cemburu melihat Victor bersama wanita lain.


"Ambilah terima kasih sudah melayani kami minum, sekarang pergilah jangan ganggu kami." wanita yang bernama Sisil itu nampak melemparkan beberapa lembar uang ke atas meja.


Sedangkan Victor nampak acuh dan lebih memilih bermain dengan ponselnya.


Nina menghela napas panjangnya, ia tidak merasa harga dirinya terinjak. Memang seperti inilah pekerjaannya, melayani pelanggan minum dan mendapatkan tips sebagai upahnya.


Nina segera memunguti uang tersebut, kemudian ia berlalu pergi dari sana. sedangkan Victor nampak menatap nanar punggung Nina hingga gadis itu menjauh tak terlihat.


"Kak Vic, ayo antar aku pulang." rengek Sisil mulai bosan karena sedari tadi Victor hanya fokus dengan ponselnya.


"Aku sedang ada urusan mendadak Sil, orangku akan mengantarmu sampai rumah." tegas Victor.


"Nggak mau kak, pokoknya aku mau kak Victor yang mengantar." tolak Sisil keukeh.


"Astaga Sil, kamu jangan manja begitu. Kamu tahu sendirikan pekerjaanku seperti apa? Apa mau ku hubungi papamu biar menjemputmu ?" tegas Victor dengan nada ancaman.


"Jangan, baiklah aku pulang sendiri. Love u." Sisil tiba-tiba langsung mengecup pipi Victor, setelah itu ia segera beranjak dari duduknya dan berlalu pergi bersama anak buahnya pria itu.


Sedangkan Victor hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap manja Sisil, baginya gadis itu hanya seorang adik baginya meski ia tahu Sisil sangat menyukainya.


Sementara itu Nina yang sedang berada di belakang nampak terisak, ia tak bisa memungkiri kalau saat ini ia sedang cemburu.


Victor yang diam-diam melihat itu hanya bisa menghela napasnya berat, ia bukanlah Demian yang mungkin dari orok sudah ahli merayu wanita.


Dari kecil Victor sudah di didik keras sebagai pelindung keluarga Anggoro, hidupnya selama ini hanya seputar negoisasi, mengancam dan melenyapkan.


Ia tidak tahu bagaimana caranya meluluhkan hati wanita, apalagi meluluhkan gadis seperti Nina yang ia anggap sangat berbeda.


Merasa tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, Victor memutuskan untuk segera meninggalkan Bar tersebut. Namun sebelum itu ia memerintahkan pada anak buahnya untuk selalu menjaga gadisnya itu.

__ADS_1


__ADS_2