Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~258


__ADS_3

"Bagaimana hasilnya, apa positif ?" tanya Ricko tak sabar seraya menatap benda pipih panjang yang sedang di pegang oleh sang istri.


"Katakan, sayang ?" ucapnya lagi saat istrinya itu hanya diam saja menatapnya.


"Negatif." sahut Olive tak semangat, padahal ia sudah yakin jika sedang hamil karena merasa terlambat datang bulan.


"Nggak apa-apa sayang, kita bisa mencobanya lagi nanti." bujuk Ricko menenangkan, istrinya pasti sangat kecewa saat ini.


"Terima kasih, apa kamu kecewa ?" tanya Olive kemudian.


"Tidak." Ricko langsung menggeleng.


"Bohong, kamu pasti kecewa." ucap Olive seraya melangkahkan kakinya ke arah ranjangnya lalu menghempaskan tubuhnya di sana.


Ia nampak duduk di pinggiran ranjang sembari termenung, berbagai pikiran negatif sudah berkecamuk di kepalanya.


"Sayang, kita menikah baru dua bulan. Masih banyak waktu untuk kamu hamil." bujuk Ricko.


"Tapi usiaku sebentar lagi 28 tahun, semakin kesana aku pasti akan sulit hamil." keluh Olive.


"Kalau aku tidak hamil kamu pasti akan selingkuh." imbuhnya lagi dengan kesal.


"Astaga, sayang." saking gemasnya Ricko langsung menyentil kening istrinya itu.


"Sakit, Rick." Olive nampak mengusap keningnya yang terasa panas.


"Makanya ini kepala isinya jangan over thinking terus." tegur Ricko seraya menepuk lembut kepala wanita itu.


"Tapi sudah banyak contohnya di luar sana, mereka pada ninggalin istrinya karena tidak bisa memberikannya keturunan." sungut Olive, sepertinya otaknya sudah terkontaminasi oleh beberapa novel online yang ia baca akhir-akhir ini.


Karena suaminya melarangnya untuk kembali bekerja, ia selalu menghabiskan waktunya hanya dengan membaca novel .


"Sayang, itu mereka bukan aku. Kalau pada akhirnya kita tidak di berikan kepercayaan seorang anak, kita masih bisa mengadopsinya." bujuk Ricko lagi.


"Beneran, kamu tidak akan ninggalin aku nanti ?" Olive menatap lekat suaminya.


"Iya sayang, janji." sahut Ricko meyakinkan.


"Baiklah, aku terima tawaranmu untuk bulan madu." tukas Olive yang langsung membuat Ricko terkejut namun kemudian ia tersenyum senang.


"Beneran sayang ?" ucapnya tak percaya, karena sebelumnya istrinya itu susah sekali di ajakin berbulan madu.


"Hm." angguk Olive.


"Baiklah, nanti malam kita berangkat." sahut Ricko antusias.


"Secepat itu ?" Olive nampak tak percaya.


"Tentu saja, aku sudah memesan tiketnya dan aku hanya perlu merubah hari keberangkatannya saja." sahut Ricko kemudian.


"Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu. Kamu juga mau siap-siap kerjakan ?" Olive segera bangkit dari duduknya, namun Ricko langsung menahannya.

__ADS_1


"Tunggu dulu, sayang." ucapnya.


"Apalagi sih Rick, ini sudah hampir jam tujuh. Mommy dan Daddy pasti sudah menunggu sarapan di bawah." keluh Olive.


"Sepertinya aku ingin sarapan kamu saja." sahut Ricko yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.


"Rick, jangan macam-macam deh." kesal Olive.


"Satu macam aja sayang, lagipula semalam aku kepingin tapi kamu sudah tidur." mohon Ricko.


"Siapa suruh pulang larut malam, aku kan bukan Security yang ngeronda nungguin kamu pulang." tegur Olive, mengingat suaminya itu tengah malam baru pulang.


"Maaf ya aku semalam lembur sampai lupa waktu, kamu juga kenapa tidak menghubungiku." Ricko nampak menyesal.


"Aku bukan tipe istri posesif yang sebentar-sebentar menghubungimu, harusnya kamu peka kalau sekarang sudah ada seseorang yang menunggumu di rumah." tegur Olive lagi.


"Iya sayang, maaf ya." bujuk Ricko.


"Hm."


"Jadi boleh satu ronde lagi ?" ucap Ricko kemudian.


"No." tolak Olive yang nampak masih merajuk.


"Menolak suami itu dosa, sayang." lagi-lagi Ricko menggunakan haknya untuk memperdaya sang istri.


"Selalu begitu." cebik Olive kesal.


"Kamu tahu, jika seorang istri menolak ajakan suami di malam hari maka sepanjang malam wanita tersebut akan di kutuk malaikat." tukas Ricko.


"Sama saja sayang, sepanjang hari kamu juga akan di kutuk oleh malaikat." sahut Ricko tak mau kalah.


"Ck, aturan dari mana itu ?" Olive langsung berdecak kesal.


"Ustadlah." sahut Ricko.


"Ustad Ricko maksudnya ?" ucap Olive, setelah itu ia tertawa nyaring meledek sang suami.


Ricko yang mendadak kesal langsung berlalu menjauhi sang istri.


"Rick, kamu kemana ?" tahan Olive.


"Ketemu pak ustad." sahut Ricko.


"Mau ngapain ?" Olive nampak melebarkan matanya.


"Mau bertanya apa hukuman bagi istri yang menolak keinginan suaminya." sahut Ricko dengan wajah yang ia buat seserius mungkin.


"Jangan." Olive langsung memeluk lengan laki-laki itu.


"Kenapa ?" Ricko menautkan kedua alisnya tak mengerti.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, baiklah aku mau ayo." ajak Olive kemudian dengan menarik tangan suaminya tersebut.


"Ayo kemana ?" tanya Ricko dengan menahan senyumannya.


"Katanya tadi mau itu." sahut Olive.


"Itu apa, sayang ?" tanya Ricko, sungguh ia ingin tertawa melihat kepolosan wanita itu.


"Itu, buat dedek bayi." lirih Olive, wajahnya nampak memerah karena menahan malu sekaligus kesal.


Sedangkan Ricko yang mendengar itu langsung tertawa nyaring.


"Kamu mengerjaiku ?" sungut Olive tak terima.


"Nggak sayang, kenapa sih kamu itu polos sekali. Ternyata besar di Jerman tak membuatmu pintar." sahut Ricko yang membuat Olive langsung bersungut-sungut.


"Aku pintar kok, buktinya aku bisa lulus kuliah dengan nilai bagus." protesnya.


"Tapi kamu tidak pintar menyenangkan suami, sayang." sahut Ricko, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.


"Tontonlah, kamu harus belajar menyenangkan suami." ucap Ricko seraya memberikan sebuah kepingan cd pada istrinya tersebut.


"Ini apa ?" Olive memperhatikan benda di tangannya itu yang nampak polos tanpa gambar atau tulisan.


"Tonton saja, tapi nanti setelah kita sarapan." sahut Ricko, kemudian ia mengajak istrinya itu untuk sarapan.


Beberapa saat kemudian setelah suaminya pergi ke kantor, olive segera memutar kaset tersebut di kamarnya.


Namun baru juga di putar, matanya langsung melotot. Lalu ia segera mematikannya kembali.


"Dasar suami mesum." gerutunya.


Kemudian ia segera mengambil kepingin cd tersebut lalu memasukkannya ke dalam tas.


Setelah itu ia segera pergi ke kantor suaminya untuk meminta penjelasan sekaligus membuat perhitungan.


"Bapak ada ?" tanyanya pada sekretaris suaminya itu, setelah ia baru sampai di kantornya.


"Ada, bu. Beliau sedang ada tamu." sahut sekretaris tersebut.


"Laki-laki atau perempuan ?" tanya Olive penasaran.


"Dua-duanya perempuan bu." sahutnya yang langsung membuat Olive melebarkan matanya.


"Dari perusahaan apa mereka ?" tanyanya lagi.


"Multi karya, perusahaan yang ikut tender proyek yang sedang bapak kerjakan." sahut sang sekretaris


Olive yang mendengar itu nampak mendesah kesal, ia tahu wanita macam apa yang di kirim oleh perusahaan itu untuk memuluskan tendernya.


"Baiklah, aku masuk saja." tukas Olive pada akhirnya.

__ADS_1


Kemudian tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, ia segera mendorong pintu ruangan suaminya tersebut dengan kuat.


Semoga saja suaminya tidak akan tergoda dengan kedua wanita suruhan itu, ia jadi menyesal kenapa tidak mengabulkan keinginan laki-laki itu tadi pagi.


__ADS_2