
"Ada apa denganmu Ricko ?" Sarah nampak mengambil gelas alkohol yang hendak di minum oleh sahabatnya itu.
"Kamu, ngapain di sini ?" Ricko nampak kesal, kemudian ia merebut kembali gelasnya lalu meneguknya hingga tandas.
"Tentu saja menjagamu dari para wanita-wanita haus belaian itu." sahut Sarah seraya mengedarkan pandangannya menjelajahi setiap sudut bar di tengah kota tersebut.
"Mereka tidak akan berani mendekat." tukas Ricko sembari menuangkan minumannya lagi ke dalam gelasnya, namun lagi-lagi Sarah merebutnya kembali.
"Kamu kenapa sih, Rick? apa ada masalah ?" tanya Sarah kemudian.
Sedangkan Ricko nampak mengusap wajahnya dengan kasar. "Mama ingin menjodohkan ku." sahutnya kemudian.
"Apa, dengan siapa ?" Sarah nampak terkejut.
"Anak temannya."
"Terus ?"
"Tentu saja aku menolaknya, kenal juga tidak." sahut Ricko.
"Terus ?"
"Mama bilang akan membatalkan perjodohan itu jika aku membawa seorang wanita sebagai calon istriku." sahut Ricko lagi.
"Lalu kamu sudah menemukannya ?" tanya Olive.
"Itu yang bikin aku pusing, selama ini aku tidak pernah jatuh cinta pada seorang gadis." sahut Ricko.
"Aku mau tanya, jika di dunia ini hanya ada dua wanita. Aku dan gadis yang mau di jodohkan denganmu, kamu akan pilih siapa menjadi istrimu ?" tanya Sarah.
"Mungkin kamu." sahut Ricko.
"Kenapa ?"
"Karena kita sudah saling mengenal lama." sahut Ricko.
"Ya sudah kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba saja untuk menjalin hubungan." tukas Sarah yang langsung membuat Ricko melebarkan matanya.
"Itu mana mungkin, aku tidak mencintaimu." tolaknya.
"Tapi aku mencintaimu, Rick." sela Sarah.
"Apa? Sar, bukannya sudah ku bilang hubungan kita hanya murni sahabat."
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa menahan perasaan ini. Tolong beri aku kesempatan Rick, aku yakin aku bisa membuatmu mencintaiku. Lagipula kamu juga tidak inginkan di jodohkan? jadi kenapa kita tidak mencobanya dulu. Aku janji jika suatu saat kamu menemukan wanita yang kamu cintai, aku akan melepaskanmu." ujar Sarah memberi saran.
Ricko nampak berpikir sejenak. "Baiklah." sahutnya menyetujui.
Ricko yang mengingat bagaimana awal hubungannya dengan Sarah di mulai, nampak menghela napas panjangnya. Ia tidak mengira akan menjadi serumit ini.
"Maafkan, aku." ucapnya seraya mengusap lembut punggung Sarah yang sedang terisak dalam pelukannya.
__ADS_1
Di saat bersamaan dengan itu Olive nampak masuk ke dalam ruangannya, setelah terlebih dahulu mengetuk pintunya.
"Olive ?" Ricko langsung terkejut saat melihat gadis itu.
"Maaf pak, saya hanya ingin mengingatkan kalau 15 menit lagi meeting akan di mulai." ucap Olive menatap atasannya tersebut.
"Kalau begitu saya permisi." imbuhnya lagi kemudian ia berlalu keluar dari ruangan tersebut.
"Maafkan aku." Ricko nampak bersalah karena membiarkan Olive melihatnya berpelukan dengan Sarah.
Sementara itu Olive yang baru keluar dari ruangan Ricko, langsung berlalu ke toilet.
"Kenapa sakit sekali melihat mereka seperti itu." gumamnya, nampak butiran kristal mengalir membasahi pipinya.
"Aku mohon Rick, beri aku satu kesempatan aku yakin bisa membuatmu mencintaiku. Lagipula wanita yang kamu cintai seperti apa? apa dia baik? apa dia cantik ?" mohon Sarah setelah Ricko mengurai pelukannya.
"Sarah, ku mohon mengertilah." tukas Ricko.
"Aku tidak mau, jika kamu berani meninggalkan ku. Akan ku pastikan kamu akan segera menemukan mayatku." ancam Sarah, setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan ruangan Ricko.
"Sar-Sarah kamu jangan gila." teriak Ricko, kemudian ia mengacak rambutnya dengan kasar saat melihat kepergiannya.
Ia menyesal kenapa dulu menerima tawaran Sarah, kini ia merasa terjebak oleh wanita itu. Namun bagaimana pun juga ia sangat menyayangi sahabatnya tersebut.
Seandainya ia tidak pernah bertemu dengan Olive dan mencintai gadis itu, mungkin ia akan berusaha mencintai Sarah.
Meski Sarah gadis yang manja dan sedikit angkuh tapi sebenarnya wanita itu sangat baik.
"Olive, mengenai tadi....."
"Maaf, pak. Meeting segera di mulai, sebaiknya bapak langsung ke ruang meeting sekarang karena sudah di tunggu di sana." sela Olive memotong pembicaraan seraya beranjak dari duduknya dengan membawa tumpukan berkas.
Sedangkan Ricko nampak menghela napasnya dengan kesal, namun ia harus bersikap profesional.
"Baiklah." sahutnya, kemudian berlalu pergi dan di ikuti oleh Olive di belakangnya.
Sesampainya di tempat meeting, nampak Demian sang ayah sudah berada di sana. Pria paruh baya itu meski sudah menyatakan pensiun namun masih suka mengikuti meeting bulanan perusahaannya.
Ricko yang sedang duduk bersebelahan dengan Olive nampak memulai meetingnya pagi itu, laki-laki itu selalu profesional jika menyangkut tentang pekerjaannya.
Dan Olive yang melihat itu merasa bangga dengan pria itu, di usianya yang masih muda Ricko sudah sangat sukses memimpin perusahaannya menggantikan sang ayah.
Setelah memberikan presentasi pencapaian perusahaannya pada bulan ini, Ricko kembali duduk di kursinya.
Kemudian dia mengambil tangan Olive lalu menggenggamnya di bawah meja, sedangkan Olive yang merasakan tangannya di genggam oleh seseorang langsung terkejut.
Kemudian ia menatap Ricko dan pria itu balik menatapnya dengan senyuman lembutnya.
Sedangkan Olive yang masih mengingat kejadian di dalam kantor Ricko tadi, ia berusaha melepaskan tangannya namun laki-laki itu semakin mengeratkan genggamannya.
"Diamlah sayang, kalau tidak seluruh karyawan di sini akan mengetahui hubungan kita terutama Papa dan mungkin selanjutnya kita akan di nikahkan." bisik Ricko pelan yang langsung membuat Olive mendadak pucat.
__ADS_1
"Sayang ?" mendengar kata sayang dari Ricko, hatinya langsung menghangat. Ia merasakan perutnya seperti penuh dengan kupu-kupu beterbangan.
"Astaga Olive, jangan bodoh. Bagaimana pun juga dia sudah mempunyai kekasih."
Olive mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu larut ke dalam rayuan atasannya tersebut.
Kemudian ia beralih menatap Demian yang sedang berbicara saat itu.
"Papa, aku sangat merindukanmu." gumamnya menatap Demian.
Ia sangat merindukan ayahnya itu, ingin sekali ia memeluknya namun ia tidak mempunyai keberanian.
Setelah meeting selesai, Olive segera kembali ke meja kerjanya sendiri. Karena Ricko masih sibuk berdiskusi dengan sang ayah di ruang meeting tersebut.
"Ikut saya." perintah Ricko kemudian, saat pria itu baru datang.
"Mau kemana, pak? bukankah sudah tidak ada meeting lagi." tukas Olive.
"Saya lapar." sahut Ricko.
"Apa mau saya pesankan makanan ?" tawar Olive.
"Saya ingin makan masakan mu di rumah." sahut Ricko.
"Tapi, pak..."
"Saya tidak suka penolakan, Olive." tukas Ricko,,kemudian berlalu pergi.
Olive yang melihat itu mau tidak mau ia langsung mengikuti bossnya tersebut.
"Tolong buatkan saya makanan." perintah Ricko sesampainya di Apartemennya.
"Tapi saya tidak bisa memasak pak." tolak Olive beralasan.
"Belajarlah, karena mulai sekarang jika tidak banyak kerjaan di kantor saya akan makan siang di Apartemen." tegas Ricko yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.
"Pak, bukannya kita bisa pesan di luar dan pasti makanannya akan lebih enak." bujuk Olive.
"Cepat masaklah, apapun itu pasti akan ku makan." perintah Ricko dengan keukeh.
"Pak, beneran saya tidak bisa memasak." bujuk Olive lagi.
"Saya tidak suka di bantah, Olive." tegas Ricko.
"Beneran pak, bagaimana kalau nanti keasinan atau kemanisan." keukeh Olive.
"Olive ?" Ricko mulai kesal.
"Bagaimana kalau saya panggilkan nona Sarah saja biar memasak buat bapak ?" tawar Olive yang langsung membuat Ricko hilang kesabaran.
Laki-laki itu nampak berjalan mendekati Olive lalu tiba-tiba membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya.
__ADS_1