Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~122


__ADS_3

"Tuan maukah malam ini kamu tidur denganku, uangku sangat banyak aku pasti akan membayarmu ?" ucap wanita itu yang sepertinya sedang mabuk.


Edgar yang selama ini tidak pernah seintim ini dengan wanita manapun langsung menelan ludahnya dengan kasar.


Ia nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh Bar tersebut, mungkin saja wanita ini membawa seorang teman.


"Nona sepertinya kamu sedang mabuk, di mana rumahmu aku akan mengantarmu ?" ujar Edgar, bukannya menjawab wanita itu justru langsung memanggut bibirnya.


Edgar yang belum seberapa mabuk bahkan masih sadar nampak melotot saat mendapatkan serangan tiba-tiba dari wanita itu.


"Bibirmu manis, tuan." ucap wanita tersebut sembari terkekeh.


"Kamu sedang mabuk, Nona." Edgar ingin menjauhkannya dari pangkuannya tapi wanita itu justru melingkarkan tangannya di lehernya.


Bagaimana pun juga Edgar laki-laki normal di hadapkan dengan wanita cantik dan seksi itu tentu saja membuat hasratnya naik.


Apalagi melihat pakaian wanita itu dengan belahan dada yang terlalu rendah, tiba-tiba setan dalam benaknya ingin melihatnya lebih jauh dari itu.


Namun akal sehatnya masih waras, dia bukanlah seorang player. Apalagi mengingat ia mempunyai seorang kakak perempuan, dengan kewarasan yang tersisa ia berusaha menguasai kesadarannya.


"Tuan, sepertinya anda tidak tertarik denganku. Baiklah aku akan mencari laki-laki lain yang mau ku ajak tidur malam ini." ucap wanita itu dengan nada frustrasi, matanya nampak memancarkan kesedihan yang teramat dalam.


Wanita itu segera beranjak dari pangkuan Edgar, namun di saat ia akan melangkah pergi Edgar langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Nona, ku harap setelah ini kamu tidak akan menyesal." lirih edgar, setelah itu ia segera membawa wanita itu untuk check in di hotel itu juga


Entah apa yang ada di pikiran Edgar saat ini, tiba-tiba dirinya merasa sangat bergairah. Biasanya ia bisa menahannya namun tidak untuk malam ini.


Rasa frustrasinya karena wanita pujaannya telah melahirkan bayi kembar dari laki-laki lain, membuatnya sangat kecewa dan dia butuh tempat pelampiasan.


Beberapa saat kemudian setelah masuk ke dalam kamar hotel, di rebahkannya wanita itu di atas ranjang dan tak menunggu lama ia segera melucuti pakaiannya sendiri dan juga wanita itu.


Katakanlah ini perbuatan tergilanya seumur hidupnya, selain mencintai istri orang lain tentunya. Lagipula dia tidak merasa bersalah toh wanita itu yang menawarkan diri padanya.


Saat menyentuh wanita itu, Edgar hanya mengikuti instingnya karena dirinya juga minim pengalaman selain dari film yang ia tonton dan berlanjut bermain solo biasanya.

__ADS_1


Di usianya yang hampir 29 tahun, hidupnya nampak monoton. Dia bukanlah tipe laki-laki yang mudah jatuh cinta dan sekali jatuh cinta justru dengan milik orang lain.


"Sial, kamu masih virgin ?" umpat Edgar saat berhasil mengoyak kesucian wanita itu.


Sedangkan wanita itu nampak memeluknya dengan erat, mungkin saja sedang menahan rasa sakit yang dia sembunyikan darinya.


"Apa kamu ingin menjebakku hah ?" geram Edgar tak terima, namun tubuhnya yang baru merasakan pertama kali bercinta justru menginginkan lebih dari itu.


"Tuan, ini sangat nanggung jika tidak di lanjutkan. Percayalah saya tidak minta pertanggung jawaban dan setelah ini aku bersumpah akan menghilang dari kehidupanmu." mohon wanita itu bersungguh-sungguh.


Mendengar perkataan wanita itu, Edgar mulai bergerak semakin dalam menembus pertahanan wanita itu.


Sungguh ia tidak bisa berhenti lagi, urusan tanggung jawab biarlah ia pikirkan nanti. Dirinya yang juga sedikit di kuasai oleh alkohol hanya mampu mengikuti hawa nafsunya tanpa ia sadari di sini lah kisah rumitnya akan di mulai.


Keesokan harinya.....


Edgar nampak bangun dengan kepala yang terasa berat dan pening padahal ia semalam tidak terlalu banyak minum.


Saat menyadari dirinya berada di kamar hotel, apalagi dengan kondisi tak berbusana membuatnya langsung terperanjat.


Kasur yang ia tiduri pun terlihat sangat berantakan dan bercak merah di atas seprei yang sudah mengering membuatnya langsung melotot.


Kemudian Edgar berusaha mengingat kejadian semalam. "Sial, bodoh. Kenapa kamu melakukan itu Ed."


Edgar nampak merutuki dirinya sendiri saat mengingat kejadian semalam, bagaimana ia membawa wanita asing itu dari Bar kemudian masuk ke dalam kamar hotel lalu mereka bercinta sepanjang malam.


Edgar mengacak rambutnya dengan frustrasi, saat matanya tak sengaja ke arah nakas ia melihat satu gepok uang mata asing senilai 100 juta rupiah.


"Sial, aku seperti gig*l* yang menjual keperjakaanku sendiri." umpat Edgar dalam hati.


Tiga bulan kemudian....


"Apa Mama yakin kalau kami tinggal pergi ?" ucap Ariana dengan nada keberatan.


"Sayang pergilah, Mama dan Papa akan menjaga Reno dan Rena dengan baik. Lagipula ada Dean dan juga Ricko yang akan ikut bersama kalian, jadi tunggu apalagi pergilah. Kamu tidak ingin mengecewakan mereka kan." sahut nyonya Anggoro seraya menatap wajah bahagia Dean dan Ricko yang akan pergi berlibur ke Jerman.

__ADS_1


"Sayang percayalah mereka akan menjaga bayi-bayi kita dengan baik, lagipula selama tiga bulan ini kamu sudah menjadi ibu yang hebat untuk mereka dan apa salahnya jika kamu rehat sebentar." bujuk Demian.


"Baiklah, semoga stok asiku cukup." sahut Ariana.


"Sangat cukup sayang." bujuk Demian lagi.


"Dan anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda." bisik Demian kemudian yang langsung membuat pipi Ariana langsung merona.


"Apa kamu tidak ingin mengajak Victor dan Nina sekalian ?" ucap Ariana.


"Maunya, tapi sepertinya Nina sedang hamil muda dan mengalami morning sickness hebat." sahut Demian merasa kasihan.


"Baiklah mungkin setelah Nina baikan, mereka juga harus berbulan madu." ucap Ariana.


"Tentu saja, baiklah bocil-bocil apa kalian ready ?" tanya Demian pada Dean dan juga Ricko


"Ready." sahut mereka bersamaan.


"Ma, boleh Dean memeluk Mama ?" pinta Dean sebelum berangkat.


"Dasar manja, sini." sahut Nyonya Anggoro merentangkan tangannya yang langsung di sambut oleh Dean.


Dean sangat bersyukur, di balik keangkuhan wanita paruh baya tersebut. Ternyata tersimpan begitu banyak kasih sayang untuknya dan sampai sekarang ia masih tidak menyangka ternyata Mamanya itu yang sudah diam-diam menyuruh orang untuk mendonorkan darah padanya.


"Terima kasih, Ma. Dean sayang Mama." ucap Dean berkaca-kaca.


Demian yang melihat pemandangan mengharukan itu nampak berdecak. "Jadi berangkat nggak ini ?" ucapnya dengan nada kesal.


"Jadi dong kak." sahut Dean sembari terkekeh.


Setelah itu mereka segera berangkat menuju bandara.


.


Sebelum masuk session selanjutnya kita lihat keuwwuan babang Demian dan Ariana dulu di bab selanjutnya ya dan ada sedikit kejutan juga buat Ricko.

__ADS_1


__ADS_2