Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~77


__ADS_3

"Benarkah tante Mia merestui kami ?"


Sepertinya Ariana masih ragu, melihat bagaimana ekspresi wanita paruh baya tersebut.


Sepanjang prosesi pernikahannya, Ariana nampak mencuri pandang ke arah nyonya Anggoro dan tak ada raut kebahagiaan di sana.


Tapi Ariana berjanji akan membuat ibu mertuanya itu benar-benar ikhlas merestuinya dan akan menyayanginya.


"Sayang aku sangat lelah, bagaimana kalau kita akhiri saja acara ini." bisik Demian pada Ariana.


"Jangan macam-macam mas, masih ada setengah undangan yang belum kita sapa." sahut Ariana mengingatkan.


"Tapi aku sangat lelah, sayang." keluh Demian.


"Aku tidak yakin kamu benar-benar lelah." cibir Ariana seraya menyipitkan matanya menatap sang suami.


"Ah nggak asyik kamu, sayang." sahut Demian sembari mencubit gemas pipi Ariana, susah sekali modusin wanita yang baru beberapa jam menjadi istrinya itu.


"Mas, sakit tahu." cebik Ariana sambil mengusap pipinya yang terasa panas.


"Duh pengantin baru serasa dunia milik berdua." ledek seseorang yang langsung membuat Demian dan Ariana menoleh ke arahnya.


"Astaga, bro." Demian nampak terkejut ketika melihat kedatangan sahabatnya dari kecil itu.


"Bagaimana kabarmu ?" ucapnya seraya memberikan sebuah pelukan.


"Tentu saja baik, benarkan sayang ?" sahut Gilang seraya menatap Kristal sang istri.


"Tentu saja, selamat ya atas pernikahanmu." ujar Kristal seraya mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah pada Demian dan Ariana.


Namun Gilang buru-buru menggenggam tangan istrinya tersebut, sebelum Demian menyambutnya.


"Sayang, sudah ku bilang kalau sama dia jangan senyum terlalu manis." tegur Gilang pada Kristal.


"Astaga bro, aku sudah berubah kali." protes Demian tak terima.


"Semoga saja, karena aku tidak suka orang lain menyukai milikku." sindir Gilang.


Meski sudah beberapa tahun sudah berlalu tapi sepertinya Gilang masih saja menaruh curiga pada sahabatnya itu bahwa laki-laki itu masih menginginkan istrinya.

__ADS_1


"Apa yang tuan Gilang katakan tadi, menyukai miliknya? apa dulu mas Demian pernah menyukai wanita itu ?"


Ariana nampak memperhatikan Kristal yang begitu cantik malam itu, wanita berparas bule itu masih saja seperti dulu meski kini usianya sudah menginjak kepala tiga.


Demian yang menyadari perubahan pada raut wajah sang istri, ia langsung menggenggam tangan wanita itu.


"Itu semua sudah berlalu bro dan terima kasih berkat kamu aku mendapatkan wanita hebat sepertinya." ujar Demian kemudian ia menatap sang istri dengan penuh cinta.


"Aku juga tidak menyangka, ternyata Tuhan mempunyai skenario lain untuk kalian. Semoga kalian selalu bahagia." sahut Gilang, akhirnya ia senang sahabatnya itu sudah menemukan belahan jiwanya meski dengan jalan yang tak mudah.


Di saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba nyonya Anggoro menghampiri mereka.


"Astaga nak Kristal, kamu di sini juga ?" ucapnya menyapa Kristal.


"Selamat malam tante Mia, bagaimana kabarnya ?" sahut Kristal seraya memberikan pelukan hangat, meski nyonya Anggoro adalah teman dari ibunya tapi Kristal tak begitu mengenalnya. Karena sejak kecil sang ibu jarang sekali mengajaknya bertemu dengan teman-temannya.


"Ada salam dari Mama tante, maaf tidak bisa hadir karena sedang berada di luar negeri bersama Papa." ucapnya lagi.


"Nggak apa-apa, tante sudah tahu. Ngomong-ngomong tante sangat bangga loh padamu, design mu yang terakhir sangat laku di pasaran. Kamu benar-benar wanita yang hebat dan menjadi menantu kebanggaan." puji nyonya Anggoro.


"Laki-laki hebat seperti Gilang memang sangat cocok mendapatkan wanita hebat sepertimu, tidak seperti... ah sudahlah." ucapnya lagi bernada sindiran.


"Ariana juga sangat cantik tante, dia juga wanita hebat. Bertahun-tahun menjadi single parent itu tidak mudah loh, seandainya saya di posisi dia mungkin belum tentu bisa." ujar Kristal, ia menatap bangga pada Ariana.


"Tentu saja istriku sangat hebat, meski dia bukan wanita karir tapi dia wanita terhebat yang pernah ku temui." Demian nampak mencium tangan Ariana yang sedari tadi ia genggam.


Nyonya Anggoro yang melihat itu, hanya bisa mendengus. "Baiklah tante tinggal dulu ya, masih banyak tamu undangan yang belum tante sapa." ujarnya dan setelah itu ia berlalu pergi.


"Sepertinya kami juga harus undur diri, rasanya tidak kuat melihat kebucinan kalian." ledek Gilang.


"Ah sialan, kayak kalian tidak saja." umpat Demian yang langsung membuat Gilang dan Kristal tertawa, setelah itu mereka juga pamit undur diri meninggalkan pesta tersebut.


"Sayang, kamu lihat nggak sih sepertinya tante Mia terpaksa banget menerima Ariana menjadi menantunya." ujar Kristal ketika mereka sudah berada di dalam mobilnya.


"Tapi aku yakin kok Ariana pasti bisa menaklukkan hati tante Mia, sejak awal melihatnya aku sudah yakin wanita itu akan membawa perubahan besar pada Demian. Kamu tahu sendirikan Demian dulu seperti apa." sahut Gilang.


"Benar juga sih, tapi aku nggak suka ternyata masih ada wanita lain yang kamu perhatikan selain aku dan...ah sudahlah." ucap Kristal.


Melihat istrinya yang mulai cemberut, Gilang langsung menepikan mobilnya.

__ADS_1


"Jadi istriku yang cantik ini sedang cemburu, hm ?" ucapnya seraya menatap Kristal.


"Bukan begitu, aku pikir hanya Dinda yang sempat kamu beri perhatian dulu tapi ternyata masih ada Ariana juga." cebik Kristal.


"Astaga sayang, aku tidak pernah memperhatikan Ariana. Hanya saja waktu itu ku pikir wanita itu pasti akan sangat cocok dengan Demian karena sikap mereka yang bertolak belakang." sanggah Gilang.


"Jadi hanya Dinda saja yang kamu perhatikan waktu itu." cibir Kristal, meski sudah bertahun-tahun lamanya tapi masih saja ia suka cemburu dengan wanita mantan suaminya itu. Meski kadang ia merasa sikapnya itu kekanak-kanakan, tapi namanya juga wanita mana bisa melupakannya begitu saja.


Melihat istrinya yang mulai menggemaskan, membuat Gilang tersenyum penuh arti.


"Sepertinya aku harus benar-benar membuatmu melupakan masa lalu sayang." ucapnya, kemudian melajukan mobilnya kembali.


"Kita mau kemana, sayang ?" Kristal melihat jalan yang di lalui bukan jalan menuju kediamannya.


"...."


"Mau ngapain ke hotel ?" teriak Kristal ketika suaminya membelokkan mobilnya masuk ke sebuah hotel bintang lima.


"Tentu saja memberikanmu hukuman agar tidak membahas masa lalu lagi dan melupakannya." sahut Gilang dengan tersenyum nakal.


Kristal nampak menelan ludahnya, ia sangat tahu hukuman apa yang akan di berikan oleh suaminya itu.


Sementara itu Demian yang sudah berada di kamar hotel tempatnya mengadakan resepsi pernikahan tadi, nampak baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di perutnya.


Sepertinya laki-laki itu baru saja selesai membersihkan dirinya, nampak tetesan air masih membasahi tubuhnya.


"Astaga sayang, kenapa masih belum ganti pakaian ?" ucapnya ketika melihat sang istri nampak duduk di pinggir ranjang dengan memakai kimono mandi.


"Maksudmu pakaian seperti saringan teh itu ?" cebik Ariana, sedari tadi ia mencari pakaiannya di kamarnya tersebut namun hanya ada empat lembar pakaian kurang bahan dengan warna yang berbeda yang dia temukan di sana.


Demian yang melihat kekesalan sang istri, nampak menahan tawanya. Dia memang sengaja tidak memberikan wanita itu pakaian layak, karena melihat istrinya itu tak berpakaian itu lebih menyenangkan.


"Baiklah, lupakan saja pakaian yang kamu bilang seperti saringan teh itu. Karena setelah ini kamu juga tidak membutuhkan itu, sayang." sahut Demian seraya berjalan mendekati istrinya itu.


"Menyebalkan." sahut Ariana seraya mencubit perut Demian, namun naas justru handuk yang di pakai oleh laki-laki itu melorot ke bawah dan menampakkan benda pusakanya.


"Aaaargghhh." teriak Ariana panik, meski ini bukan pertama kali ia melihatnya bahkan sebelumnya ia juga pernah merasakannya tapi tetap saja malu.


"Sepertinya kamu sudah tidak tahan ya sayang." ledek Demian menggoda.

__ADS_1


__ADS_2