
Ariana terlihat sudah berkeringat dingin ketika merasakan cekalan pada tangannya, kemudian ia segera berbalik badan lalu tersenyum nyengir saat menatap sang suami yang sudah berada di depannya.
"Ah sialan Nina." umpat Ariana dalam hati.
Harusnya dia tidak akan ketahuan kalau saja mantan tetangga kosnya dulu tak memanggil namanya, belum lagi perutnya yang semakin membesar membuatnya kesulitan untuk berlari menghindar.
"Sayang, apa yang kamu lakukan disini ?" tanya Demian penasaran.
"A-aku tadi sedang makan siang dan nggak sengaja melihat kamu. Aku pikir kamu sedang sibuk jadi aku memilih meja lain, maaf." sahut Ariana dengan menggigit bibir bawahnya berharap suaminya percaya.
Namun bukannya menanggapinya, Demian justru membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, jangan berpikir macam-macam ya." ucap Demian yang membuat Ariana langsung mendongakkan kepalanya menatapnya.
"Kami hanya membahas masalah pekerjaan, tidak ada yang lain. Dinda itu sahabatku waktu aku kuliah dulu, kebetulan perusahaan kita sedang mengadakan kerja sama dengan perusahaan dia dan suaminya. Karena suaminya sedang berada di luar negeri, jadi dia yang mengurus semuanya." lanjut Demian lagi menjelaskan berharap sang istri tidak salah paham.
"Kali aja penyakit lamamu kambuh, Mas." gumam Ariana.
"Apa kamu bilang, sayang ?" tanya Demian ketika istrinya itu bergumam.
"Nggak ada kok." sahut Ariana dengan tersenyum nyengir.
"Tapi aku mendengarnya, sayang." ujar Demian gemas.
Ariana ingin melepaskan diri dari suaminya, namun itu justru membuat Demian merasa semakin gemas melihatnya.
cup
Sebuah kecupan berhasil mendarat di bibir Ariana yang langsung membuat wanita itu melotot menatapnya, namun kemudian ia memalingkan wajah kemerahannya karena tersipu.
"Ayo masuk." ajak Demian, namun Ariana merasa enggan.
"Nggak mau, aku malu bagaimana nanti temanmu itu menuduhku diam-diam menguntit kalian." sahut Ariana namun ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, keceplosan deh.
Demian nampak tertawa nyaring melihat wajah memerah sang istri, sungguh istrinya itu sangat polos.
"Kamu tidak berbakat jadi detektif, sayang." ledek Demian, namun bukannya marah Ariana juga ikut tersenyum nyengir.
Ia senang akhirnya melihat suaminya itu bisa tertawa lepas seperti biasanya, beberapa hari ini laki-laki itu nampak dingin dan enggan berbicara saat di rumah.
__ADS_1
"Maaf, tadinya aku ingin mengantarkan makan siang untukmu tapi sekretarismu bilang kamu sedang berada di sini."
"Jadi kamu kesini dan menguping pembicaraan kami begitu ?" tanya Demian yang langsung membuat istrinya itu mengangguk.
"Aku tidak mungkin mengulang masa lalu sayang, suamimu ini murni sedang bekerja demi kamu dan anak-anak kita. Aku tidak akan macam-macam di luar sana dan kamu harus percaya itu ya, karena pekerjaan ku tidak selalu berhubungan dengan laki-laki. Kadang kala banyak perusahaan yang menggunakan jasa karyawan wanita juga, tapi percayalah suamimu ini bekerja secara profesional dan akan tetap setiap sama kamu." lanjut Demian lagi.
"Baiklah, aku percaya suamiku."
"Kalau begitu masuk ya, aku akan mengenalkan mu pada Dinda." bujuk Demian.
"Tapi...." Ariana nampak ragu.
"Tidak akan ada yang berani menegurmu sayang, kalau sampai itu terjadi aku akan membatalkan kerja samanya." bujuk Demian lagi.
"Jangan, nanti aku dan anak-anak kita makan apa dong."
"Suamimu ini kaya tujuh turunan sayang, jadi kamu jangan khawatir." sahut Demian sembari terkekeh.
"Kumat deh sombongnya." cebik Ariana namun itu justru membuat Demian semakin terkekeh, lalu mencuri lagi sebuah kecupan di bibir istrinya dan kali ini ia sedikit melum😘tnya.
"Mas." protes Ariana.
"Beneran ?" ucapnya.
"Hm, ayo." kemudian Demian mengajak istrinya tersebut masuk kembali ke dalam restaurant tersebut.
Nampak Dinda masih duduk di sana di temani oleh Victor, Ariana jadi merasa bersalah karena sudah mencurigai suaminya.
Ngomong-ngomong sejak kapan ada Victor di sana? mungkin laki-laki itu lewat pintu lain. Karena restoran tersebut terdapat banyak pintu.
"Kena kamu Nina, lihat saja akan ku kerjai kamu." gumam Ariana seraya menatap Victor dengan pandangan penuh arti.
"Din, kenalin ini istriku." ucap Demian ketika kembali ke mejanya tadi.
"Hallo, aku Dinda." Dinda nampak berdiri lalu mengulurkan tangannya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Ariana." Balas Ariana, kemudian mereka sama-sama duduk.
"Maaf kemarin tidak sempat datang ke pernikahan kalian, karena waktu itu aku baru saja melahirkan." ucap Dinda kemudian.
__ADS_1
"Dan masalah tadi jangan terlalu sungkan, wajar kok kalau kamu menaruh curiga pada suamimu mengingat bagaimana brengseknya dia dulu." lanjut Dinda lagi ketika melihat Ariana nampak tak enak hati padanya.
"Astaga Dinda jangan buka-buka kartu dong, aku sudah bertobat asal kamu tahu itu." tegur Demian kesal.
"Iya aku tahu sekarang kamu berubah jadi suami yang bucin." ledek Dinda.
"Biarin bucin sama istri sendiri juga, daripada kamu sampai sekarang masih saja bucin sama Gilang." cibir Demian balik.
"Itu sudah berlalu kali, lagipula aku sudah mempunyai anak dan suami yang sangat menyayangiku. Masa lalu baiknya kita kubur dalam-dalam." sahut Dinda.
Mengingat bagaimana ia sempat terpuruk hingga beberapa tahun setelah berpisah dari Gilang, kemudian ia bertemu dengan suaminya sekarang yang seorang warga negara Asing.
"Oh ya sepertinya aku harus pergi." ucap Dinda lagi seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Secepat itu ?" tanya Ariana padahal dia belum banyak bicara pada perempuan yang terlihat ramah itu.
"Asal kamu tahu Ariana, aku sudah dari pagi meeting dengan suamimu yang menyebalkan itu dan sekarang waktunya aku memberi asi pada bayiku dan 2 jam lagi aku harus menjemput suamiku di bandara." sahut Dinda.
"Kapan-kapan kita bisa mengobrol lagi kok dan jangan capek-capek ya karena aku kehilangan salah satu bayiku saat aku melahirkan karena waktu itu aku terlalu lelah." lanjutnya lagi.
"Terima kasih, Din. Senang bertemu denganmu sepertinya selanjutnya kita bisa menjadi teman." ucap Ariana.
"Tentu saja." sahut Dinda dengan mengulas senyumnya, setelah itu ia pamit undur diri.
"Baiklah sayang, tadi katanya kamu membawa makan siang untukku mana ?" tanya Demian kemudian.
"Sudah ku berikan pada satpam di kantor." sahut Ariana.
"Astaga sayang, aku sudah lama sekali tidak merasakan masakan mu dan sekarang bisa-bisanya kamu memasak untuk laki-laki lain." rajuk Demian.
"Habisnya ku pikir kamu sudah makan siang, daripada mubazir jadi ku berikan saja pada security." sahut Ariana.
"Menyebalkan kamu sayang, sepertinya karena sudah lama tidak mendapatkan hukuman dariku kamu semakin ngelunjak. Hm ?" Demian nampak gemas seraya menarik istrinya itu ke dalam pelukannya lalu menciumi pipi chubbynya dengan gemas.
Victor yang melihat kemesraan atasannya tersebut, nampak mendesah kasar. Namun matanya langsung membulat ketika melihat seorang gadis berseragam waitress berjalan ke arahnya.
"Mbak Ariana." ucap gadis tersebut yang langsung membuat Demian dan Ariana menatapnya.
Nampak senyum jahil terbit di bibir Ariana saat melihat Nina, tetangga kosnya dulu yang sudah ia anggap seperti adik sendiri.
__ADS_1