
Pagi itu Edgar nampak mengerjapkan matanya saat alarm di ponselnya berdering nyaring, ia segera mematikanya sebelum sang istri terbangun.
Kemudian di pandanginya wajah sang istri yang masih pulas dalam pelukannya, Edgar nampak mengulas senyumnya mengingat bagaimana semalaman mereka bercinta hingga lelah.
Entah kenapa ia merasa istrinya itu juga begitu menginginkannya semalam, apa itu juga sebagian dari aktingnya? entahlah dan Edgar tidak peduli.
Keadaan mereka yang masih polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka, membuat Edgar harus segera menjauh.
Kalau tidak, ia takut akan menerkam wanita itu lagi dan jika itu terjadi tentunya ia akan ketinggalan pesawat pagi ini. Karena hari ini ia akan melakukan hal besar untuk wanitanya itu.
Setelah beranjak dari ranjangnya Edgar segera berlalu ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya di bawah pacuran shower yang terasa segar pagi itu.
Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian ia segera meninggalkan Villa tersebut menuju bandara bersama dengan Juno.
"Tuan, apa anda yakin ingin melakukan ini ?" lagi-lagi Juno bertanya pada Edgar, berharap atasannya itu memikirkan lagi rencananya.
"Saya bosan mendengar pertanyaanmu itu Jun, kamu melarang pun saya akan tetap melakukannya. Lagipula kita sudah setengah jalan tidak mungkin kalau harus menghentikannya." sahut Edgar seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan milik mertuanya tersebut.
Setelah seorang sekretaris menyuruhnya masuk, ia segera masuk ke dalam ruangan sang pemilik perusahaan yang mungkin sebentar lagi akan berganti nama kepemilikan.
"Selamat pagi, Pa." sapa Edgar saat melangkahkan kakinya ke arah meja tuan Winata yang di ikuti oleh Juno di belakangnya.
Mendengar sapaan dari sang menantu, tuan Winata nampak menatapnya datar. Sebelumnya dia sangat marah pada Edgar, karena telah membatalkan pertunangannya dengan Sera waktu itu.
"Duduklah !!" perintahnya seraya memandang sofa di depan meja kerjanya, kemudian ia bangkit dari kursi kebesarannya lalu melangkahkan kakinya kesana.
"Terima kasih." sahut Edgar, kemudian mengikuti langkah ayah mertuanya itu lalu mendudukkan dirinya di seberang pria paruh baya tersebut.
"Katakan ada apa tiba-tiba mengunjungi kantorku." ujar Tuan Winata to the point.
"Saya hanya ingin memastikan kabar Papa mertua saya." sahut Edgar.
"Saya tidak suka berbasa-basi, meski kamu sudah menjadi suami Dena saya belum sepenuhnya memaafkan mu. Jadi katakan, apa tujuanmu datang kemari ?" tegas tuan Winata.
"Saya ingin membuat kesepakatan dengan Papa." ucap Edgar yang langsung membuat Tuan Winata menatap tajam ke arahnya.
"Apa maksud kamu ?" ucapnya dengan memicingkan matanya.
"Saya tahu perusahaan Papa sedang tidak baik-baik saja karena semua investor telah mencabut investasinya, jadi karena itu saya ingin membantu Papa." sahut Edgar.
Tuan Winata yang tadinya bersikap angkuh, kini perlahan menatap ramah menantunya itu.
__ADS_1
"Benarkah ?" ucapnya memastikan.
"Tentu saja Pa, Papa sedang kesulitan saya tidak mungkin hanya diam saja." sahut Edgar yang langsung membuat Tuan Winata mengulas senyumnya.
Tadinya ia sudah sangat frustrasi mencari seorang investor demi menyelamatkan perusahaannya, karena sejak berita skandal yang di lakukan oleh Sera semua investor berbondong-bondong menarik investasinya.
"Baiklah Nak, terima kasih sudah ikut memikirkan perusahaan Papa. Papa memaafkan mu meski kamu tidak jadi menikahi Sera, toh Dena juga anak Papa." ucapnya senang.
Tentu saja tuan Winata sangat senang karena perusahaannya tidak akan bangkrut, karena jika bangkrut bagaimana kehidupan keluarganya nanti.
Sera dan ibunya sudah terbiasa hidup mewah, mereka pasti akan menderita jika harus mendadak miskin.
"Tapi saya mengajukan syarat, Pa." tegas Edgar.
"Tentu saja, katakan Papa pasti akan mengabulkannya." ucapnya kemudian.
"Saya ingin 70% saham kepemilikan atas nama Dena, istri saya." ucap Edgar yang langsung membuat Tuan Winata menatap tajam ke arahnya.
Brakkk
Tuan Winata langsung menggebrak meja tak terima. "Apa kamu sedang mempermainkan saya, hah ?" bentaknya.
Juno yang berdiri tak jauh dari bossnya itu, sudah siap untuk melindungi atasannya seandainya saja laki-laki paruh baya itu tiba-tiba menyerangnya.
"Keputusan saya sudah final, jika Papa tidak setuju saya tidak akan memaksa. Mungkin saya akan menunggu perusahaan Papa di lelang." sarkas Edgar yang langsung membuat Tuan Winata semakin geram.
"Kurang ajar, jadi kamu berharap perusahaan saya benar-benar bangkrut hah? sepertinya kamu dan Dena memang cocok sama-sama tak tahu diuntung." hardik tuan Winata.
Edgar nampak mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menghajar ayah mertuanya itu saat menghina istrinya. Namun ia masih menghormati laki-laki itu sebagai ayah kandung Dena.
"Baiklah sepertinya Papa menolak niat baik saya, kalau begitu saya permisi." tegas Edgar seraya bangkit dari duduknya.
Setelah itu Edgar segera berlalu pergi dari sana, bicara baik-baik dengan tuan Winata ternyata sangat sulit. Mungkin menggunakan cara licik sedikit menyenangkan, pikirnya.
"Tuan...." ucap Juno saat baru masuk ke dalam mobilnya.
"Hancurkan perusahaan itu." sela Edgar.
"Tapi tuan....."
"Hancurkan sampai dia menyerah." tegas Edgar.
__ADS_1
Juno hanya bisa mengangguk patuh. "Baik tuan, apa kita akan langsung ke Bali ?" ucapnya kemudian.
"Saya ingin pulang ke rumah." sahut Edgar.
"Ke Apartemen, tuan ?" tanya Juno.
"Ke rumah besar." sahut Edgar.
"Baik, tuan." ucap Juno, kemudian mulai mengemudikan mobilnya menuju kediaman King Bryan.
Setelah mengetahui berita skandal tentang Sera dan Arhan, semoga hubungan atasannya itu dengan kedua orangtuanya kembali membaik.
"Maaf, tuan Edgar. Tuan dan nyonya besar sudah berangkat ke Bali tadi pagi." ucap ARTnya saat Edgar baru masuk ke dalam rumahnya.
"Benarkah? baiklah bik terima kasih."
Edgar nampak terkejut, kemudian ia bergegas pergi ke Bandara. Ia tidak mau istrinya itu menghadapi kedua orangtuanya seorang diri.
Sementara itu King yang baru sampai di Villanya, nampak terkejut saat melihat Elkan sedang berlarian di taman Villanya.
"Astaga, kenapa bocah kecil itu berada di sini." ucapnya pada sang istri saat baru turun dari mobilnya.
"Itu bukannya bayi yang mirip dengan Edgar waktu di Mall itu ya, Mas ?" tanya Putri.
"Benar, mungkin keluarganya juga sedang menginap di Villa sekitar sini." sahut King seraya mengedarkan pandangannya ke beberapa Villa yang berdiri tak jauh dari Villanya.
"Kita kesana dulu yuk, Mas. Sudah lama tidak melihatnya, aku kangen sekali." ajak Putri yang langsung di anggukin oleh suaminya.
"Tu-tuan ?" bik Mina nampak terkejut saat melihat kedatangan King dan istrinya.
"Majikan bibik sedang liburan di sini juga ?" tanya King.
"I-iya tuan." sahut bik Mina gugup.
"Pa-pa." teriak Elkan.
Bocah kecil itu langsung berlari ke arah King, namun karena tidak seimbang ia langsung terjatuh dan menangis dengan keras.
King yang ingin menolongnya nampak terkejut, saat tiba-tiba seorang wanita sudah berlari ke arah Elkan.
"Sudah tidak apa-apa, ada Mama di sini." ucap Dena menenangkan.
__ADS_1
"Dena." ucap King dan istrinya bersamaan, mereka nampak terkejut dengan kehadiran wanita itu.