
"Apa kamu pergi karena merasa jijik padaku ?" lirih Olive, air matanya yang tadi mengembun kini langsung saja jatuh tanpa bisa ia tahan.
Ia menatap nanar kamar mandi yang nampak kosong, entah di mana sang suami sekarang berada.
Benarkah laki-laki itu pergi meninggalkannya ?
Namun tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. "Sudah bangun, hm ?" ucap Ricko kemudian.
Olive yang terkejut langsung berbalik badan menatap suaminya tersebut, sejak kapan pria itu ada di belakangnya.
Apa karena terlalu fokus dengan prasangkanya, hingga membuatnya tak mendengar pintu kamarnya di buka.
"Rick, kamu dari mana? kamu tidak meninggalkan ku seperti dulu kan ?" ucapnya kemudian.
"Kamu ngomong apa sih sayang? aku di sini, selamanya kita akan bersama." tukas Ricko meyakinkan dengan memegang lembut kedua lengan wanita itu.
"Saat aku bangun, kamu sudah tidak ada. Aku pikir kamu pergi lagi seperti waktu itu." sahut Olive dengan mata masih berkaca-kaca.
"Kenapa kamu berpikiran begitu, apa kamu tidak mempercayaiku hm ?" Ricko menatap lekat manik istrinya.
"Aku pikir kamu jijik....." Olive belum menyelesaikan perkataannya tapi Ricko sudah memotongnya.
"Sssttt, jangan pernah katakan itu lagi. Tadi aku pergi sebentar karena ada urusan, karena tidurmu sangat nyenyak jadi aku tidak tega membangunkan mu. Lagipula kamu menyimpan nomor kontakku kan, kenapa tidak langsung menghubungiku ?" potong Ricko.
"A-aku..."
"Sayang ku mohon, mulai sekarang jauhkan segala pikiran negatifmu. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan mu." sela Ricko meyakinkan.
"Janji ?" mohon Olive dengan mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji sayang." sahut Ricko dengan menautkan jari kelingkingnya.
"Baiklah, kalau begitu aku mau mandi." ucap Olive dengan perasaan lega.
"Mau ku bantu ?" tawar Ricko.
"Bantu apa ?" Olive langsung membulatkan matanya.
"Bantu mandi." sahut Ricko dengan wajah mesumnya.
"Dasar mesum." cebik Olive, kemudian ia segera berlalu ke kamar mandi lalu menutup pintunya dengan rapat.
Beberapa hari kemudian....
"Rick bangun, sudah siang kita akan terlambat ke kantor nanti." Olive yang baru bangun langsung mengguncang lengan suaminya tersebut.
"Masih ngantuk, sayang." gerutu Ricko yang nampak enggan membuka mata.
"Sudah jam tujuh." ucap Olive lagi, ia nampak melilitkan selimut sebatas dadanya untuk menutupi tubuh polosnya setelah percintaan mereka semalam.
"Bentar lagi." sahut Ricko yang masih malas untuk bangun.
__ADS_1
"Makanya kalau malam itu tidur cepat, biar pagi merasa segar." tegur Olive sembari beranjak dari ranjangnya, namun Ricko yang tak rela istrinya itu meninggalkannya ia langsung menarik tangannya hingga membuat wanita itu kembali terjatuh di sisihnya.
"Kamu terlalu nikmat sayang, jadi sayang kalau di tinggal tidur begitu saja." sahut Ricko dengan memeluk erat wanita itu.
"Tapi ini sudah siang, Rick." bujuk Olive lagi.
"Sebentar lagi sayang, sepertinya aku butuh satu ronde lagi buat penyemangat." sahut Ricko yang langsung membuat Olive menatapnya kesal.
"Kamu becandakan ?" ucapnya tak percaya, semalam hingga dini hari ia baru tidur gara-gara melayani suaminya itu.
"Serius." sahut Ricko seraya bangkit dari tidurnya lalu langsung mengungkung istrinya tersebut.
"Rick..." protes Olive namun bibirnya langsung di bungkam dengan bibir suaminya itu.
Dan selanjutnya mereka nampak saling mendesah setelah melakukan penyatuannya.
Beberapa saat kemudian, Olive yang baru keluar dari kamar mandi nampak mengerucutkan bibirnya saat melihat jam menunjukkan pukul sembilan pagi.
Harusnya dia sudah sampai di kantornya satu jam yang lalu, tapi sekarang bahkan ia belum bersiap-siap dan tubuhnya rasanya sangat lelah.
"Aku sudah terlambat masuk kerja gara-gara kamu." cebiknya sembari menghempaskan tubuhnya di pinggir ranjang.
Sedangkan Ricko yang sedang menyisir rambutnya nampak tersenyum puas saat bisa memperdaya istrinya tersebut.
"Sepertinya kita butuh bulan madu, sayang." sahutnya mengalihkan pembicaraan sang istri.
"No." tegas Olive, di rumah saja tubuhnya rasanya remuk semua apalagi berbulan madu. Bisa-bisa ia akan di kurung 24 jam oleh pria itu, membayangkan saja sudah mengerikan.
"Kenapa sayang, kamu tidak ingin jalan-jalan ?" tanya Ricko kemudian.
"Tentu saja sayang, memang apa yang kamu pikirkan ?" tukas Ricko dengan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Ti-tidak." Olive langsung membuang mukanya, kenapa pikirannya sekarang jadi mesum begini.
"Bagaimana ?" tanya Ricko memastikan.
"Kita pikirkan nanti saja, bukannya kantor sedang sibuk? pekerjaan ku juga pasti sudah numpuk karena libur beberapa hari ini." tolak Olive.
"Kamu bilang apa sayang, bekerja ?" tanya Ricko.
"Tentu saja." sahut Olive.
"Tidak, sejak kita menikah aku sudah memutuskan kamu tidak boleh bekerja lagi." tegas Ricko yang langsung membuat Olive bersungut-sungut.
"Mana bisa begitu Rick, aku pasti akan bosan di rumah. Lagipula sia-sia aku bekerja keras agar bisa kuliah tapi ujung-ujungnya tinggal di rumah." protes Olive.
Ricko nampak menghela napas panjangnya, ia lupa sedari kecil istrinya itu mempunyai sifat keras kepala.
"Sayang dengerin aku, tujuan orang bekerja untuk apa ?" tanya Ricko dengan lembut.
"Mencari pengalaman." sahut Olive.
__ADS_1
"Selain itu yang paling utama ?" tanya Ricko lagi.
"Mendapatkan gaji tentu saja." sahut Olive.
"Nah, apa setelah menjadi seorang istri dari Ricko Anggoro kamu masih membutuhkan gaji lagi? sedangkan suamimu ini bisa memberikanmu berkali-kali lipat dari gajimu sekarang." tegas Ricko dengan menatap lekat sang istri.
"Tapi...."
"Aku tidak suka penolakan, sayang. Lagipula setelah kejadian waktu itu aku tidak akan membiarkan mu kemana-mana tanpa aku, mengerti ?" tegas Ricko tak ingin di bantah.
"Rick...."
"Melawan suami itu dosa." sela Ricko lagi yang langsung membuat Olive menutup mulutnya rapat.
"Baiklah." sahutnya kemudian dengan pasrah.
"Good wife, ayo sarapan." ajak Ricko seraya melingkarkan lengannya di pundak wanita itu.
"Sebentar, boleh aku bertanya ?"
"Hm ?"
"Bagaimana dengan dia ?" tanya Olive memberanikan diri.
"Dia ?" Ricko menautkan alisnya tak mengerti.
"Ali." sahut Olive, akhirnya setelah hampir satu minggu ia memberanikan diri bertanya tentang laki-laki itu.
"Jangan khawatir, dia sudah menerima hukuman sesuai dengan perbuatannya." sahut Ricko dengan tegas.
"Oh, baiklah. Aku hanya kasihan pada ibu dan adiknya." tukas Olive kemudian.
"Baiklah, ayo sarapan." imbuhnya lagi seraya melangkahkan kakinya mendahului suami tersebut.
Sedangkan Ricko yang mengikuti di belakangnya nampak mengulas senyumnya. "Hatimu sungguh mulia, sayang." gumamnya.
Sementara itu di sebuah gerbong kereta api nampak seorang laki-laki sedang menatap kosong ke arah jendela.
"Terima kasih dan maafkan kekhilafanku." gumamnya.
Kemudian ia menatap dua wanita kesayangannya yang sedang terlelap tidur di kursi depannya.
"Maafkan aku yang hampir saja merenggut kebahagiaan kalian." gumamnya lagi menatap ibu dan adik perempuannya.
Ali sangat bersyukur, karena Ricko tidak menjebloskannya ke dalam penjara setelah berusaha memperkosa Olive.
Meski kini ia harus mengikuti kemauan sahabat sekaligus bossnya itu untuk meninggalkan kotanya dan memulai hidup baru di kota lain.
Satu bulan kemudian....
"Bagaimana hasilnya sayang, kamu sudah hampir 15 menit berada didalam ?" ucap Ricko pagi itu, ia nampak berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Olive membuka pintu dan suaminya itu langsung menyerbunya.
"Bagaimana hasilnya, apa positif ?" tanya Ricko tak sabar seraya menatap benda pipih panjang yang sedang di pegang oleh sang istri.