Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~45


__ADS_3

"Bagaimana papa bisa tahu tempat ini ?" geram Demian, padahal dia sudah sangat hati-hati dalam bertindak agar Ariana dan Ricko tidak di ketahui oleh siapapun sebelum dirinya resmi bercerai.


"Sepertinya beliau sudah lama mengawasi anda, tuan." sahut Victor.


Demian nampak mengusap wajahnya dengan kasar, dia lupa siapa ayahnya. Laki-laki yang bisa melakukan apapun di luar nalarnya.


"Baiklah, kamu suruh tunggu sebentar." perintah Demian kemudian.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." sahut Victor, setelah itu ia melangkahkan kakinya pergi.


Namun baru beberapa langkah tuannya itu memanggilnya kembali.


"Tunggu Vic." panggil Demian.


"Ya, tuan." Victor berbalik badan lalu menatap Demian.


"Apa papa melihat Ricko ?" tanya Demian.


Victor menatap serius Demian, lantas menganggukkan kepalanya.


Melihat reaksi Victor, Demian nampak mendesah kasar. Ia tidak menyangka sudah sejauh ini ayahnya itu mengetahui hubungannya dengan Ariana.


Mungkin inilah saatnya ia harus menghadapi semuanya, memperjuangkan cintanya seandainya saja orang tuanya tidak menyetujui hubungannya dengan Ariana.


Setelah Victor berlalu pergi, Demian segera masuk ke dalam kamarnya kembali.


Di lihatnya Ariana tidak ada di ranjangnya, lalu ia mendengar bunyi kucuran air di dalam kamar mandinya. Seketika senyumnya nampak terbit di bibirnya.


Lantas ia membuka pintu kamar mandi dengan pelan dan senyumnya semakin lebar ketika pintu tersebut tidak di kunci.


"Dasar ceroboh, bagaimana kalau tiba-tiba saja ada laki-laki lain masuk? tapi itu tidak mungkin terjadi sih, aku pasti sudah mencincangnya duluan."


Demian nampak menggerutu dalam hati, namun matanya langsung melotot ketika melihat Ariana sedang berdiri memunggunginya tanpa sehelai benangpun.


Seketika miliknya di bawah sana langsung menegang, merangsek minta di keluarkan.


Ariana yang sedang mengeringkan tubuhnya tak menyadari jika ada singa kelaparan sedang mengintainya. Namun ketika ia berbalik badan, ia langsung berteriak nyaring.


"Mas, apa yang kamu lakukan di sini ?" pekik Ariana.


Mendengar teriakan Ariana seketika gelendang telinga Demian langsung berdengung, astaga kenapa suara wanitanya ini seperti toak.


Ariana segera menyamber kimono handuk, lalu segera memakainya dan setelah itu ia berlalu pergi melewati Demian yang masih bergeming di tempatnya.


"Dasar mesum." gerutu Ariana.


Sedangkan Demian nampak memegang dadanya. "Jantung masih aman." ucapnya dan setelah itu ia mengejar Ariana yang sudah keluar duluan.

__ADS_1


"Sayang." panggil Demian.


"Apa ?" sungut Ariana.


Demian nampak menelan salivanya, otaknya sepertinya masih tertinggal di dalam kamar mandi. Bayangan Ariana tak berbusana tadi masih menari-nari di otaknya.


"Kamu mau bilang apa ?" tanya Ariana lagi ketika Demian hanya diam menatapnya.


Ehmm


Demian langsung berdehem untuk menetralkan pikiran mesumnya dan setelah itu ia membuka mulutnya.


"Ada papa di bawah." ucapnya kemudian.


"Apa ?" Ariana terkesiap, bayangan nyonya Anggoro yang akan memaki-makinya sudah merasuk pikirannya saat ini.


Melihat Ariana yang tiba-tiba memucat, Demian langsung menarik pinggang wanita itu lalu membawanya ke dalam pelukannya.


"Kamu tenang saja, apapun yang terjadi aku akan selalu melindungi kamu dan Ricko." ucapnya menenangkan sembari mengusap lembut punggung Ariana.


"Tapi bagaimana jika mereka tidak menyukaiku." Ariana mendongakkan kepalanya menatap Demian.


"Kita bisa kawin lari mungkin." celetuk Demian sembari terkekeh.


"Mas, aku serius." cebik Ariana, bagaimana bisa laki-laki itu bercanda di saat seperti ini. Tidak tahu kah dia jika dirinya saat ini sudah sangat khawatir dan ketakutan.


"Habisnya kamu serius banget sayang, mereka suka atau tidak kita akan tetap menikah dan tinggal bersama." tegas Demian.


"Astaga sayang, aku hanya becanda. Lagipula kita bukan remaja lagi yang nekat melakukan itu. Pokoknya kamu tenang saja di sini, biar aku yang akan menghadapi mereka." ujar Demian menenangkan.


"Tapi mas....."


cup


Demian mendaratkan kecupannya di bibir Ariana. "Percaya padaku, oke? sekarang cepatlah ganti pakaian sebelum aku berubah pikiran." ucapnya yang langsung mendapatkan cubitan dari Ariana di pinggangnya.


"Aduh sakit, sayang." Demian memegang pinggangnya yang terasa panas.


"Makanya jangan mesum, buruan sana keluar." cibir Ariana.


"Punya calon istri gini amat ya, untung saja aku cinta." gerutu Demian seraya melangkahkan kakinya keluar.


Setelah kepergian suaminya, Ariana nampak terduduk di kursinya. Sepertinya ia harus menyiapkan mentalnya. Karena apapun bisa saja terjadi, perbedaan kasta antara dirinya dan Demian pasti akan menimbulkan masalah nantinya.


Kadang dia berpikir, seandainya ia bisa memutar waktu. Dia tidak ingin mengenal Demian, kehidupannya yang sebelumnya baik-baik saja seketika menjadi seperti roller coaster.


Sedangkan Demian yang sedang menuruni anak tangga nampak melihat Ayahnya sedang bermain dengan Ricko di ruang keluarga.

__ADS_1


"Ada apa Pa, pagi-pagi sudah kesini ?" tegur Demian, ia nampak menyesap kopinya lalu meletakkannya kembali di meja makan.


"Dasar anak kurang ajar, begini sikap mu pada Papa." hardik tuan Anggoro.


"Ini masih pagi Pa, kalau papa belum sarapan ayo sarapan." sahut Demian.


"Kamu...." Tuan Anggoro yang tadinya sangat geram kini ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Putranya itu sudah banyak berubah, tak biasanya laki-laki yang biasanya serius itu kini lebih suka becanda. Sepertinya putranya itu benar-benar bahagia saat ini.


Tuan Anggoro nampak mengedarkan pandangannya mencari ibu dari cucunya itu, tapi ia tak menemukannya.


"Jadi sampai kapan kamu akan menyembunyikan semua ini dari papa ?" ucapnya kemudian.


"Bukannya papa sudah tahu jadi buat apa aku berit ahu lagi." sahut Demian.


"Yah, kok ayah panggil kakek papa ?" tanya Ricko bingung.


Demian mengulas senyumnya pada Ricko. "Kemarilah, Nak." ucapnya kemudian.


Ricko berjalan mendekati sang ayah. "Nak, beliau ini adalah orangtuanya Ayah. Jadi beliau adalah kakek kamu." ujar Demian pada Ricko.


"Kakek beneran ?" tanya Ricko.


"Masa bohong-bohongan." sahut Demian.


"Jadi kakek adalah kakeknya Ricko ?" tanya Ricko pada tuan Anggoro.


Tuan Anggoro nampak melebarkan senyumnya. "Benar, ayo kemarilah peluk kakekmu ini." ucapnya.


Ricko langsung berlalu ke pangkuan tuan Anggoro, kemudian memeluknya. "Ricko senang punya kakek, apa nanti kakek akan membelikan Ricko es krim lagi seperti waktu itu ?" ucapnya.


"Tentu saja, sebanyak yang kamu mau." sahut tuan Anggoro sembari terkekeh.


Sedangkan Demian nampak memicingkan matanya. "Sejak kapan kalian akrab seperti ini ?" tanyanya curiga.


"Sejak kakek membelikan Ricko es krim." sahut Ricko yang masih berada di pangkuan tuan Anggoro.


Demian nampak menggelengkan kepalanya, sungguh ia sangat kecolongan ternyata ayahnya selangkah lebih maju darinya.


"Apa kamu tidak mau memeluk ayah, Nak ?" mohon Demian, dia tiba-tiba cemburu melihat kedekatan Ricko dengan Ayahnya.


"Kalau Ayah mau membelikan Ricko es krim." sahut Ricko.


"Jangankan es krim Nak, pabriknya pun akan ayah belikan." sahut Demian.


"Ricko tidak mau pabrik ayah, kata ibuk kita harus makan secukupnya agar tidak sakit perut dan mubazir." ucap Ricko seraya pindah ke pangkuan ayahnya.

__ADS_1


Demian nampak menciumi Ricko dengan gemas, selain lucu Ricko juga sering berbicara layaknya orangtua dan itu membuat Demian semakin gemas.


"Jadi apa kamu tidak ingin mengenalkan Papa dengan wanita itu ?" ujar Tuan Anggoro yang langsung membuat Demian mengalihkan pandangannya menatapnya.


__ADS_2