
"Oh, jadi kamu meninggalkan ku demi wanita ini ?" cibir Dena yang langsung membuat Edgar dan Maya terkejut menatapnya, Edgar segera melepaskan pelukan Maya.
"Sayang, kamu di sini? bukannya aku tadi menyuruhmu untuk menunggu di kantor ?" ucap Edgar, raut wajahnya nampak terkejut saat melihat istrinya yang tiba-tiba sudah berada di depannya itu.
"Kenapa? kaget ya melihatku disini ?" cibir Dena dengan tersenyum sinis.
Edgar yang tidak menginginkan sang istri semakin salah paham, ia segera mendekatinya lalu berusaha menyentuhnya. Namun Dena langsung menepis tangannya.
"Sayang ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Maya tadi memang menghubungiku karena dia sedang dalam bahaya. Kamu lihat dia hampir celaka beruntung aku segera datang." ucap Edgar beralasan.
Maya yang berdiri tak jauh dari mereka nampak terisak, wajah dan tubuhnya penuh dengan lebam.
"Dia kenapa ?" tanya Dena pada akhirnya.
"Dia mendapat kekerasan dari suaminya." sahut Edgar.
"Oh jadi dia calon janda, pantas gatal sama suami orang."
Dena nampak tersenyum sinis, tadinya ia merasa iba tapi mengingat bagaimana wanita itu mendekati Edgar. Ia merasa jika suami Maya memang pantas melakukannya.
"Aku sangat lelah, aku mau pulang." ucap Dena akhirnya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu." sahut Edgar seraya menggenggam tangan Dena dengan erat agar tidak menghindar lagi darinya.
"Lalu bagaimana dengan dia ?" tanya Dena pada suaminya namun pandangannya ke arah Maya.
"Aku akan mengantarnya juga nggak apa-apa kan ?" sahut Edgar meminta persetujuan.
"Memang dia tidak membawa mobil ?" sinis Dena, ia tidak akan beramah tamah pada calon pelakor.
"Tadi dia bersama suaminya sayang, tapi setelah mereka bertengkar suaminya pergi meninggalkannya." sahut Edgar.
Dena nampak menghela napas panjangnya, ia semakin penasaran sebenarnya bagaimana hubungan suaminya itu dengan Maya hingga membuat laki-laki itu begitu iba.
"Baiklah." sahut Dena kemudian.
"Terima kasih Den, tapi kalau kamu keberatan aku bisa kok naik taksi saja." ucap Maya membuka suaranya dengan nada lemah.
"Nggak masalah, apa perlu kami mengantarmu ke rumah sakit juga ?" ucap Dena dengan nada sinis.
"Nggak usah terima kasih." sahut Maya.
Edgar yang melihat istrinya sedang cemburu, ia nampak mengangkat sudut bibirnya.
Ia suka jika istrinya seperti itu, itu berarti wanita itu sudah mulai menyukainya.
__ADS_1
"Baiklah, ayo. Aku akan mengantar Maya ke Apartemennya dulu setelah itu kita akan pulang." ucapnya seraya mengajak istrinya melangkah ke arah mobilnya.
Setelah mobil melaju, Edgar sama sekali tak melepaskan genggaman tangan Dena, bahkan sesekali ia menciumnya.
"Sayang, fokuslah mengemudi aku tidak mau mati." tegur Dena saat Edgar menggenggam tangannya dengan erat.
"Ini juga sedang fokus, sayang." sahut Edgar tanpa melepaskan genggamannya.
Dena nampak melirik Maya dari kaca yang ada didepan, wanita itu nampak menatapnya tak suka. Kentara sekali kalau dia sedang cemburu melihat kemesraannya dengan Edgar.
Saat mobil berhenti di sebuah traffic light, Edgar masih saja menggenggam tangan istrinya itu. Bahkan kini ia mecondongkan tubuhnya ke arah wanita itu.
"Apa masih sakit, hm ?" ucapnya lirih pada Dena, mengingat ia tadi memasuki wanita itu dengan sedikit kasar.
"Kamu pikir ?" ucap Dena dengan nada merajuk.
"Maaf ya aku hilang kendali tadi." sahut Edgar kemudian ia semakin mendekatkan wajahnya dan....
cup
Sebuah kecupan berhasil mendarat di bibir istrinya itu, namun setelah itu ia bukannya melepaskan tapi justru memberikannya sedikit lum*t*n kecil.
Dena yang terbawa suasana langsung membalas ciuman suaminya hingga kini mereka nampak saling memanggut dengan rakus seakan melupakan keberadaan Maya yang sedang duduk di kursi belakangnya.
Mereka segera melepaskan ciumannya saat mendengar beberapa klakson mobil di belakangnya.
Lalu pandangannya tak sengaja ke arah Maya, wanita itu nampak menatapnya tak ramah. Sepertinya wanita itu sedang cemburu, pikir Dena.
"Maaf, aku suka lupa diri saat menyentuhmu." sahut Edgar yang kini sudah mulai melajukan mobilnya.
"Tapi nggak di sini juga sayang, kamu lupa ada sahabatmu di belakang." sindir Dena yang langsung membuat Edgar garuk-garuk kepala, ia baru menyadari ada orang lain di dalam mobilnya.
"Maaf May, aku lupa kalau ada kamu." ucap Edgar kemudian.
"Nggak apa-apa, Ed." sahut Maya.
Dena yang melirik wanita itu dari pantulan kaca di depannya, kentara sekali Maya sedang tidak baik-baik saja atau lebih tepatnya sedang cemburu melihat kemesraannya dengan Edgar.
Dena semakin yakin jika persahabatan mereka waktu kuliah dulu, bukan persahabatan biasa. Nampak sekali wanita itu mengagumi suaminya.
Setelah mangantar Maya ke Apartemennya, Edgar segera membawa istrinya pulang ke unitnya.
"Jadi ini unit mu? pantas betah." ucap Dena saat baru masuk ke dalam Apartemen suaminya yang nampak luas dan mewah.
"Aku akan menunjukkan mu di mana kamar kita." Edgar langsung menarik tangan Dena lalu membawanya ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Astaga ini luas sekali dan lukisan ini ?" Dena langsung memicing saat melihat sebuah lukisan sepasang kekasih yang sedang berciuman terpatri di dinding kamar laki-laki itu dengan ukuran besar.
"Bukannya itu kita ?" imbuhnya lagi setelah mengamati ternyata itu dirinya dan sang suami.
"Hm, bagus kan ?" ucap Edgar dengan mengulas senyumnya.
"Siapa yang melukisnya ?" tanya Dena.
"Tentu saja aku sendiri, sayang." sahut Edgar seraya berjalan mendekati istrinya lalu mengecup bibirnya sekilas.
"Aku ingin melihat dapur, boleh ?" ucap Dena saat suaminya itu enggan melepaskannya.
Ia takut jika Edgar akan meminta jatahnya kembali, mengingat laki-laki itu tadi belum puas dan harus segera pergi saat Maya menghubunginya.
"Baiklah ayo." Edgar langsung mengajak istrinya itu keluar dari kamarnya.
"Di sana akan menjadi kamar Elkan." Edgar menunjuk pintu tertutup di samping kamarnya.
"Itu dapurnya, hanya sebuah mini kitchen. Karena kita tidak perlu memasak di sini, kalau lapar tinggal pesan di bawah." imbuhnya lagi.
Dena nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh Apartemen tersebut dan ia langsung menyukainya. Lalu ia sedikit tersentak saat merasakan ciuman hangat mendarat di tengkuknya.
"Sayang." ucapnya tertahan saat suaminya itu nampak sedikit menghisap kulit lehernya hingga membuat darahnya berdesir.
"Sayang, aku sangat lelah dan masih terasa sakit." ucap Dena saat suaminya mulai melepaskan kancing pakaiannya.
"Sebentar saja, sayang." mohon Edgar dengan pandangan menginginkannya, kemudian ia membawa istrinya itu ke sofa yang ada di sana.
"Di sini ?" tanya Dena tak percaya, apa laki-laki itu benar-benar akan mengajaknya bercinta di ruang tamu tersebut.
"Kenapa tidak, aku akan membuat semua tempat ini menjadi jejak-jejak percintaan kita." sahut Edgar yang kini sudah berhasil membuat istrinya itu polos tanpa sehelai benang.
Dan selanjutnya hanya suara ******* dari keduanya yang memenuhi ruangan tersebut, hingga sampai pada puncaknya Edgar nampak ambruk di atas tubuh istrinya dengan sebelah tangannya sebagai tumpuhannya.
"Kamu senang ?" ucapnya seraya menatap lekat istrinya yang penuh dengan peluh.
"Kamu yang merasa senang." cebik Dena.
"Jadi kamu tidak senang ?" Edgar nampak menaikkan sebelah alisnya tak mengerti, padahal istrinya tadi sangat menikmati percintaannya.
"Bagaimana aku bisa senang, saat banyak sekali pertanyaan yang mengganjal di sini." sahut Dena seraya menunjuk dadanya sendiri.
Ia harus memastikan akan di bawa kemana rumah tangganya itu setelah beberapa waktu lalu Edgar memberikan surat cerai padanya dan ia juga sangat penasaran dengan hubungan suaminya dan Maya saat ini.
Sebagai seorang wanita Dena tahu jika wanita itu sangat tertarik pada suaminya.
__ADS_1
"Baiklah apa yang ingin kamu tanyakan sayang, aku pasti akan menjawabnya." sahut Edgar tak keberatan, ia segera melepaskan penyatuannya lalu berguling ke sisi istrinya.