Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~145


__ADS_3

"Sera, apa yang kamu lakukan di sini ?"


Edgar langsung beranjak dari tidurnya saat melihat Sera sudah berdiri di sisi ranjangnya dengan mengulas senyumnya.


Lalu Edgar duduk bersandar di headboard ranjangnya seraya memijit pelipisnya yang tiba-tiba nyeri.


Sera yang melihat kekasihnya bertelanjang dada, nampak menelan salivanya. Sudah ia duga pria itu pasti mempunyai tubuh yang sempurna, bahkan lebih sempurna dari pada Arhan.


"Maaf aku masuk tanpa permisi, habisnya aku rindu sama kamu sayang. Nanti siang kita juga ada fitting baju kan." sahut Sera yang kini duduk di tepi ranjang tak jauh dari Edgar, matanya menelisik dada bidang Edgar yang nampak keras dan liat.


"Bagaimana kamu bisa masuk ?" tanya Edgar penasaran, perasaan dia tidak pernah memberikan password Apartemennya pada siapa pun.


Dan hanya Dena satu-satunya wanita yang pernah masuk ke dalam Apartemennya bahkan menginap bersamanya.


"Aku hanya asal nebak saja dan ternyata kamu memakai tanggal ulang tahun tante Putri sebagai passwordnya." sahut Sera.


"Lagipula sebentar lagi kita akan menikah sayang, jadi nggak apa-apa kan aku main kesini? tapi setelah menikah, kita cari rumah yang besar saja ya, aku nggak biasa tinggal di tempat sempit seperti ini." lanjut Sera lagi seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar Edgar yang tidak terlalu luas itu.


Mendengar perkataan Sera, Edgar langsung tercengang. Sejak kapan Sera jadi matre seperti ini, apa karena mereka mau menikah hingga wanita itu menampakkan watak aslinya.


"Ya tentu saja, kita akan membeli rumah yang besar." sahut Edgar, ia langsung beranjak dari ranjangnya.


Rasanya tidak nyaman ketika memergoki Sera menatapnya terus menerus.


Saat Edgar hendak masuk ke dalam kamar mandi, Sera tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Sayang, aku merindukanmu." ucap Sera seraya mengusap lembut dada bidang Edgar.


"Ser aku mau mandi." Edgar berusaha melepaskan tangan Sera, bagaimana pun juga ia laki-laki normal. Jadi sebisa mungkin ia menghindari kontak secara langsung dengan seorang wanita.


"Apa kamu tidak mengingkanku, kita kan mau menikah sayang jadi tidak masalah kalau kita melakukannya sekarang kan." bujuk Sera yang kini sudah berada di hadapan Edgar.


Edgar menelan ludahnya dengan kasar, ia baru menyadari bagaimana seksinya penampilan Sera pagi itu. Gundukan aset berharganya nampak menyembul menggodanya.


"Sera apa kamu sadar dengan ucapanmu ?" ucap Edgar kemudian, ia terkejut bagaimana bisa gadis polos seperti Sera tiba-tiba berkata seperti itu.


"Aku sadar sayang, aku hanya heran saja selama ini kamu sedikitpun tidak pernah menyentuhku. Kita seperti bukan pasangan kekasih pada umumnya." keluh Sera mengingat bagaimana Edgar selama ini bersikap kaku dan dingin.


"Aku seperti itu karena aku ingin menjagamu Sera, harusnya kamu bersikap layaknya wanita terhormat bukan justru merendahkan dirimu sendiri seperti itu." tegur Edgar dengan meninggikan suaranya.

__ADS_1


Sera terkesiap mendengarkan teriakan Edgar. "Maaf." ucapnya kemudian.


"Tunggulah di luar aku mau mandi." ucap Edgar, kemudian berlalu ke dalam kamar mandinya.


Sera yang melihat kepergian Edgar nampak mengepalkan tangannya geram.


"Sabar Sera, selangkah lagi dia akan menjadi milikmu." gumamnya dalam hati.


"Aku sudah tidak sabar menjadi nyonya Bryan yang sesungguhnya." ucapnya lagi saat memandang foto Edgar bersama kedua orangtuanya.


Sementara itu siang itu Dena mengajak Elkan dan bik Mina jalan-jalan ke Mall, mereka mengajak Elkan bermain di playground yang ada di Mall tersebut.


"Bik jaga Elkan sebentar ya, saya mau ke toilet dulu." ucap Dena seraya bangkit dari duduk.


Saat berjalan ke arah toilet tanpa sengaja matanya menatap ke arah sebuah butik mewah yang ada di Mall tersebut.


Bukan beberapa pakaian mewah yang di pajang di patung itu yang ia liat, namun sekumpulan pengunjung di sana yang nampak binar kebahagiaan saat melihat sepasang kekasih sedang fitting pakaian.


Sera terlihat sangat senang ketika mencoba gaun pertunangannya, begitu juga dengan orang tuanya maupun kedua orangtua Edgar.


Tiba-tiba Dena merasa sesak, ia bukannya cemburu melihat Edgar bersanding dengan Sera. Namun ia cemburu karena betapa beruntungnya Sera di kelilingi oleh orang-orang yang mencintainya.


Ia bingung dengan perasaannya sendiri yang seakan tidak rela jika Edgar akan menikah dengan Sera.


"Bodoh, perasaan apa ini. Ingat Dena tak ada laki-laki baik dan setia di dunia ini."


Dena menghela napasnya dengan kasar, kemudian ia segera keluar dari toilet setelah merapikan penampilannya.


Namun saat ia akan membuka pintu, tiba-tiba ia melihat Edgar sudah berdiri di hadapannya.


"Pak, pak Edgar ?" ucapnya terkejut.


Flashback on


Siang ini Edgar dan Sera akan melakukan fitting pakaian untuk acara pertunangan mereka, sebenarnya ia sangat malas toh pada akhirnya mereka juga tidak akan pernah menikah.


Namun pagi itu tiba-tiba sera datang ke Apartemennya, ternyata wanita itu cerdik juga karena mampu mengetahui password Apartemennya.


Mungkin setelah ini ia akan menggantinya dengan tanggal lahir Dena saja, mengingat Dena ia jadi merindukan wanita itu dan juga Elkan.

__ADS_1


Wanita itu mampu membuat pikirannya kacau tak karuan, bahkan hanya dengan mengingatnya saja gejolak dalam dirinya hadir kembali.


"Sayang, mereka sudah datang." teriak Sera yang langsung membuyarkan lamunan Edgar tentang Dena.


Edgar mendesah kasar, kemudian ia segera menyelesaikan ritual mandinya. Beruntung walk in closetnya terhubung dengan kamar mandinya, hingga ia tak perlu repot-repot ke kamar dulu.


Beberapa saat kemudian Edgar segera keluar dari kamar mandinya dengan penampilan rapi, sebuah celana jeans dan kemeja yang melekat dengan pas di tubuhnya.


"Kamu sudah ganti pakaian ?"


Sera nampak kecewa padahal sedari tadi ia ingin menikmati tubuh kekasihnya yang atletis itu meski hanya sekedar memandangnya saja.


"Memang siapa yang datang ?" tanya Edgar seraya berlalu melewatinya menuju meja rias yang ada di sana.


Edgar nampak merapikan rambutnya, lalu memakai parfumnya dan itu tak luput dari pengawasan Sera. Wanita itu terlihat menikmati pemandangan di depannya itu.


"Kamu harus segera menjadi milikku." batin Sera dalam hati.


"Ser, siapa yang datang ?" tanya Edgar lagi saat tak ada jawaban dari Sera.


Sera terlihat salah tingkah saat Edgar menatapnya dari pantulan cermin di depannya.


"Itu orangtua kita." sahut Sera yang langsung membuat Edgar terkejut.


"Mau ngapain mereka datang ?" tanya Edgar.


"Tentu saja melihat kita fitting baju, sayang." sahut Sera antusias, sedangkan Edgar hanya bisa menghela napasnya berat.


Sesampainya di sebuah Mall, Edgar dan Sera segera fitting baju untuk pertunangannya. Edgar yang lebih dulu selesai nampak sibuk dengan ponselnya, namun ketika mengedarkan pandangannya keluar butik ia melihat Dena sedang menatapnya dari kejauhan.


Seketika Edgar langsung mengejarnya dan di sinilah ia sekarang berada, berdiri di depan pintu kamar mandi menunggu Dena keluar.


"Pak, pak Edgar ?" ucap Dena terkejut saat baru membuka pintu toilet.


"Kamu sedang ngapain di sini? di mana Elkan ?" tanya Edgar.


"Tentu saja jalan-jalan pak, memang bapak saja yang bisa." ketus Dena, tiba-tiba ia mendadak emosi saat melihat bossnya itu.


"Apa maksud kamu ?" Edgar menaikkan sebelah alisnya tak mengerti saat Dena berkata ketus padanya.

__ADS_1


"Bapak kan lagi jalan-jalan sama kekasihnya bapak, saya juga lagi jalan-jalan nih pak kali aja ada pria tampan yang cocok menjadi papanya Elkan." sahut Dena dengan tersenyum manis, namun itu justru membuat Edgar langsung menatapnya geram.


__ADS_2