Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~173


__ADS_3

"Kamu bertingkah seperti ini seolah sedang cemburu saja ?" ucap Edgar seraya menatap istrinya itu dari dekat.


Dena yang tiba-tiba di dekati suaminya nampak salah tingkah, wajahnya langsung memanas dan jantungnya berdebar-debar tak karuan.


"Si-siapa yang cemburu ?" Dena langsung memalingkan wajahnya, ia tak sanggup jika terus menerus bertatapan dengan laki-laki itu. Bisa-bisa ia khilaf dan malah menciumnya.


"Benarkah tidak cemburu, hm? kalau begitu kenapa kamu mengganggu makan siangku bersama Maya ?" cibir Edgar yang langsung membuat Dena menatapnya kembali, namun dengan tatapan tajam kali ini.


"Oh jadi kamu menyesal, karena tidak jadi makan siang dengan wanita itu? ya udah pergi sana. Lagipula aku melakukan itu juga demi menjaga gosip di luaran sana, ingat kita belum resmi bercerai." ucap Dena berapi-api, ia nampak kesal dengan sikap suaminya yang tidak mempedulikan perasaannya sama sekali.


Sedangkan Edgar nampak gemas melihat kekesalan sang istri, ia ingin melihat sejauh mana wanita itu mempertahankan egonya.


"Tunggu apalagi, pergi sana." lanjut Dena lagi saat sang suami masih enggan beranjak dari hadapannya.


"Kalau aku tidak mau ?" sahut Edgar menatap gemas istrinya itu.


"Lalu maumu apa? minggir aku mau pergi dari sini." perintah Dena seraya mendorong tubuh Edgar, namun apa daya tenaganya tak mampu membuat pria bertubuh kekar itu menjauh.


Edgar mengulas senyumnya dan itu membuatnya terlihat semakin tampan di mata Dena, pantas saja wanita tadi begitu tertarik dengan suaminya.


"Mauku, kamu." sahut Edgar yang membuat Dena langsung tersipu, namun ia tidak akan tergoda sedikitpun.


"Ed, menjauhlah. Kamu pikir aku bisa termakan oleh rayuanmu itu." ucapnya kemudian.


Niat awalnya yang ingin memperbaiki hubungannya dengan laki-laki itu, seketika Dena urungkan mengingat suaminya itu telah dekat dengan wanita lain padahal perceraiannya saja belum di mulai.


"Ed? sejak kapan kamu memanggilku seperti itu sayang ?" Edgar langsung geram, namun ia nampak menahannya. Dari dulu ia senang jika sang istri memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Sejak kamu berhubungan dengan wanita itu, ternyata kamu sama saja seperti Papa dan Ar....hmmptt." Dena menghentikan ucapannya saat bibirnya sudah di bungkam oleh bibir suaminya itu.

__ADS_1


Dena nampak melotot namun ciuman Edgar yang rakus dan menuntut membuatnya tak bisa berkutik, bahkan semakin lama ia mulai terbuai dan membalas ciuman laki-laki itu.


Dengan bibir yang masih bertautan Edgar mengangkat tubuh wanita itu duduk di atas meja hingga membuatnya semakin leluasa menyentuhnya.


Sungguh ia sangat merindukan istrinya dan ia takkan melepaskan wanita itu lagi, sekalian pun Dena memintanya.


Sekali saja ia ingin menjadi egois dan pemaksa, karena nyatanya rasanya sangat sakit jika hidup berjauhan dengan istrinya itu.


Mereka nampak saling berpanggutan, saling berbalas ciuman melampiaskan rindu menggebu yang tak pernah terucap di bibir.


Cinta memang selalu di iringi oleh nafsu, begitu juga dengan mereka seakan lupa sedang berada di mana sekarang.


Dena yang tadinya sangat rapi kini kemejanya nampak berantakan bahkan kancingnya sudah terlepas beberapa biji karena ulah pria yang kini sedang menikmati gundukan indah miliknya.


Namun aktivitas panas mereka langsung terhenti saat seorang wanita cantik tiba-tiba masuk ke dalam ruangan meeting tersebut.


Edgar yang terkejut langsung membawa sang istri yang sedang duduk di atas mejanya itu ke dalam pelukannya.


"Ada apa ?" ucap Edgar dengan nada dingin.


"Maaf mengganggu anda, kami hanya ingin membersihkan tempat ini tapi sepertinya nanti saja. Maaf, kami permisi dulu." ucap wanita tersebut kemudian segera meninggalkan ruangan tersebut bersama dengan para OBnya itu.


"Kamu bikin aku malu saja." Dena langsung mendorong suaminya menjauh.


Edgar yang masih belum terima di ganggu oleh staffnya tersebut nampak mendengus kesal. Namun senyumnya langsung terbit saat melihat beberapa tanda kemerahan di leher serta dada istrinya itu.


Sedangkan Dena segera merapikan pakaiannya kembali. "Kamu tidak seharusnya melakukan ini, ingat sebentar lagi kita akan bercerai." gerutunya kesal.


"Siapa yang bercerai ?" ucap Edgar dengan nada dingin, beberapa menit yang lalu mereka seperti pasangan yang hangat namun kini wanita itu lagi-lagi mengungkit perceraiannya.

__ADS_1


"Tentu saja kita, bukannya itu yang kamu inginkan ?" sahut Dena yang kini sudah terlihat rapi, ia nampak menatap suaminya seakan mengingatkan bagaimana hubungan mereka saat ini.


"Kita tidak akan pernah bercerai." tegas Edgar geram.


"Tapi aku sudah menandatanganinya sesuai maumu dan kamu juga pasti sudah menandatanganinya kan? jadi tunggu apalagi, segera bawa ke pengadilan biar cepat di proses. Lagipula kamu pasti sudah tidak sabar kan untuk bersama dengan wanita itu." jawab Dena kesal.


Edgar yang juga sedang kesal ingin sekali membungkam bibir istrinya yang menurutnya sangat cerewet itu, namun ia harus bisa menahan diri dan segera menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.


Kemudian Edgar nampak menjauh hingga membuat Dena yang sedari tadi di himpitnya di atas meja bisa bernapas lega dan ia segera turun dari meja tersebut.


"Aku belum menandatanganinya." Edgar yang baru mengambil surat cerai dari dalam tasnya langsung menunjukkan pada Dena.


"Dan tidak akan pernah menandatanganinya." lanjutnya lagi kemudian ia merobek kertas tersebut menjadi sobekan-sobekan kecil.


Dena terlihat kesal sekaligus lega, karena suaminya itu tidak akan menceraikannya. Namun saat mengingat kedekatan laki-laki itu dengan Maya ia menjadi kesal sendiri.


"Maumu apa sih, kamu tidak ingin bercerai tapi sengaja menjalin hubungan dengan wanita itu. Kamu mau poligami? aku tidak mau dan tidak akan pernah mau di poligami. Lebih baik aku menjanda seumur hidup jika itu terjadi." ucapnya berapi-api.


Astaga, Edgar jadi merasa gemas sendiri dengan sang istri. Bisa-bisanya wanita itu berspekulasi seperti itu, sepertinya ia benar-benar akan membungkam bibirnya lagi biar diam.


Lalu dengan cepat Edgar memegang pinggang ramping istrinya itu lalu melahap bibirnya dengan rakus, tak peduli wanita itu memberontak sekalipun. Ia akan sedikit memberikan pelajaran agar wanita itu bisa diam dan mendengarkan penjelasannya.


Menghadapi Dena yang selalu bersikap arogan dan ingin menang sendiri, ia tidak bisa menggunakan kata-kata lagi namun ia harus menggunakan tindakan secara langsung.


Dengan sekali hentakan, Edgar langsung membawa sang istri ke dalam gendongannya lalu membawanya masuk ke dalam sebuah pintu rahasia yang terhubung dengan ruangan kerjanya.


Sesampainya di sana, ia membawa istrinya itu masuk ke dalam sebuah kamar yang di dalamnya nampak ranjang berukuran king size.


Setelah itu ia segera merebahkan wanita itu lalu mengungkungnya sebelum kabur.

__ADS_1


"Ka-kamu mau apa ?" Dena terlihat ketakutan saat Edgar menatapnya dengan lekat, apalagi kedua tangannya kini di genggam erat oleh laki-laki itu di sisi kanan dan kirinya.


"Mau apa? tentu saja meminta hakku sebagai suamimu yang sah." sahut Edgar dengan menahan senyumnya saat melihat wajah Dena yang nampak ketakutan.


__ADS_2