Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~199


__ADS_3

"Sayang kamu kok baru pulang, bukannya di telepon tadi aku sudah bilang ada desainer yang akan datang mengukur baju pernikahan kita." rajuk Lusi saat melihat Martin melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansionnya tersebut.


Martin nampak menghela napas panjangnya, seharian ia mencari wanita yang mirip dengan Sera namun harus kehilangan jejaknya dan sekarang ia di hadapkan oleh wanita manja di depannya tersebut.


"Aku sangat lelah Lus, bisakah kita bahas nanti saja. Lebih baik kamu pulang sekarang." ujar Martin menatap jengah wanita di hadapannya itu.


"Kamu mengusirku? apa kamu tidak merindukan ku, hm? beberapa hari ini kamu selalu saja sibuk." Lusi nampak mendekati Martin lalu memeluk pinggangnya, kemudian ia mendaratkan ciumannya di bibir pria itu. Hanya sekilas, karena saat ia akan melum😘tnya Martin langsung menjauhkan wajahnya.


"Aku benar-benar lelah, Lus." sahut Martin seraya menjauhkan tangan Lusi, kemudian ia menghempaskan tubuhnya diatas sofa single yang berada tak jauh darinya.


"Baiklah, lalu kapan kamu punya waktu untuk mengukur pakaian pernikahan kita ?" ucap Lusi memastikan.


"Kita hanya bertunangan Lus, bukan menikah." tukas Martin.


"Tapi kamu sudah berjanji sama kak Helena akan menikahiku." sela Lusi tak terima, ia adalah adik satu-satunya Helena.


"Aku hanya janji akan menjagamu, bukan menikahimu. Lagipula kamu tahu sendirikan siapa wanita yang ku mau." balas Martin.


"Tapi ini sudah 8 tahun berlalu sayang, aku nggak yakin wanita itu masih hidup. Wanita itu pasti sudah mati di makan hewan buas saat mencoba kabur dari rumahmu dulu." bujuk Lusi namun itu justru membuat Martin langsung menatap tajam padanya.


"Pulanglah Lus, kamu tahu sendirikan akibatnya jika aku sedang naik pitam." ucap Martin lirih namun mengandung ancaman.


Lusi nampak mendesah kesal, lalu ia segera mengambil tumpukan pakaiannya. Kemudian menghentakkan kakinya meninggalkan Martin.


"Tunggu, apa itu ?" ucap Martin saat melihat Lusi menenteng tas di tangannya.


"Pakaian dari desainer tadi." sahut Lusi kesal, kemungkinan ia beranjak pergi.


Setelah itu Martin berlalu ke kamarnya, ia melepaskan kemejanya lalu melemparkannya ke sembarang arah.


Kemudian ia mengambil sebotol wiskey lalu menuangkannya kedalam gelas, lalu membawanya menuju balkon kamarnya.


Ia nampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling Mansionnya, ia terlihat bangga dengan pencapaiannya saat ini.


Dulu ia hanya seorang tangan kanan kepercayaan tuan Winata, namun sekarang kekayaannya mungkin sudah setara dengan mantan bossnya itu.


Ia sangat beruntung, perkebunan miliknya dahulu yang ia beli demi mewujudkan impian Helena yang saat itu ingin sekali memiliki taman bermain ternyata di dalamnya tersimpan begitu banyak kekayaan bumi yang melimpah hingga membuatnya kaya raya seperti sekarang.


Di samping itu juga ia menjalankan sebuah bisnis senjata api dan beberapa klub malam yang tersebar di kota tersebut.


Setelah menyesap minumannya hingga tandas, Martin berlalu masuk ke dalam kamarnya kembali. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.


Sekilas bayangan wanita yang mirip dengan Sera saat tertidur di dalam kereta tadi hadir di ingatannya, lalu ia mengambil ponselnya di dalam saku celananya.

__ADS_1


Di bukanya galeri tempat menyimpan foto-foto wanita itu yang ia ambil diam-diam tadi.


"Kalian mempunyai wajah yang begitu mirip, hanya sorot mata kalian yang berbeda." gumam Martin seraya mengamati wajah wanita yang terlihat mirip dengan Sera itu.


..........


"Helena bertahanlah." ucap Martin saat itu, saat Helena tiba-tiba mengalami kritis padahal beberapa hari yang lalu wanita itu sempat menjalani operasi.


"Katakan apa kamu mencintaiku ?" tanya Helena saat itu dengan nafas tersengal.


"Tentu saja aku mencintaimu, sayang." sahut Martin.


"Tapi aku tidak pernah melihat lagi cinta itu di matamu." ucap Helena yang langsung membuat Martin terkesiap.


"Kamu bicara apa sayang, tentu saja aku mencintaimu." tukas Martin meyakinkan.


"Kamu yakin? jujurlah padaku untuk terakhir kalinya." ucap Helena dengan nada memohon.


Martin nampak menghela napasnya dengan berat. "Maafkan aku." ucapnya kemudian.


"Sejak kapan ?" tanya Helena.


"Sayang, kita bisa membahasnya lain kali. Sekarang Istirahatlah aku akan segera memanggil dokter." bujuk Martin, ia segera bangkit dari duduknya namun Helena segera menahan tangannya.


"Maafkan aku sayang, perasaan ini tiba-tiba hadir tanpa bisa ku cegah." Martin akhirnya jujur dengan perasaannya, semakin ia mengingkari semakin dalam rasa cintanya pada Sera.


Helena nampak tersenyum lembut. "Saat aku tiada nanti, menikahlah dengannya. Mungkin saat ini Sera telah mengandung anakmu." ucap Helena.


"Kamu tahu? maafkan aku sayang, aku..." Martin tidak menyangka perbuatannya Malam itu yang sedang menggauli Sera di ketahui oleh kekasihnya.


Sebagai laki-laki normal ia juga membutuhkan kebutuhan biologis, namun sejak Helena di vonis sakit Martin tidak pernah menyentuhnya lagi. Meski kadang Helena masih sering memuaskannya dengan cara lain.


Namun saat menyentuh Sera untuk pertama kalinya, Martin merasakan candu dengan wanita itu. Meski waktu itu ia membencinya tapi tubuhnya selalu menginginkannya.


Dan tanpa ia sadari, perbuatannya itu justru meninggalkan benih-benih cinta di hatinya.


"Aku senang wanita itu Sera bukan orang lain, aku hanya akan mengikhlaskan mu menikah dengan Sera atau Lusi bukan wanita-wanita tidak jelas di luar sana." sela Helena.


"Sayang, bisa jangan bahas itu sekarang. Aku hanya ingin bersamamu, kamu cepat sehat lalu kita menikah." ucap Martin memohon dengan menggenggam tangan Helena.


Helena yang sedang kritis, napasnya nampak semakin berat lalu perlahan ia memejamkan matanya.


"Sayang, ku mohon bertahanlah." teriak Martin panik, kemudian ia segera memanggil dokter saat Helena tak sadarkan diri. Namun pada akhirnya wanita itu tiada.

__ADS_1


Martin mengusap wajahnya dengan kasar saat mengingat detik-detik kekasihnya itu meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Hallo, apa sudah ada kabar mengenai wanita itu ?" ucapnya kemudian saat Mattew sang kaki tangannya menghubunginya.


"Belum tuan, saya hanya ingin memberikan informasi jika lahan yang anda inginkan di pinggiran kota itu tidak berjalan mulus karena orang suruhan saya menginformasikan jika pemilik lahan di sana tidak mau menjual tanahnya." sahut Mattew menjelaskan.


"Saya tidak mau tahu, bagaimana pun caranya kita harus segera memiliki lahan itu." tegas Martin.


"Tapi menurut orang suruhan saya, pemilik lahan tersebut bersikeras tidak akan menjualnya berapa pun harganya."


"Astaga Matt mengatasi begitu saja tidak becus, kenapa tidak kamu sendiri saja yang turun tangan. Lagipula memang dia siapa, pejabat ?" geram Martin.


"Bukan, tuan. Beliau hanya seorang wanita yang menjadikan lahan tersebut sebagai panti asuhan." sahut Mattew.


"Mengatasi satu wanita saja tidak becus, bukannya kamu bisa mengintimidasinya ?" gerutu Martin dengan nada cibiran.


"Baik tuan, saya akan menanganinya sendiri." sahut Mattew kemudian ia menutup panggilannya.


Sementara itu disisi lain, Sera nampak sedang berdebat dengan beberapa orang pria yang akhir-akhir ini selalu datang ke pantinya.


"Sudah saya bilang, saya tidak akan menjual tanah ini. Jadi lebih baik kalian pulang." tandas Sera dengan menaikkan intonasinya.


"Tapi boss kami akan membelinya dengan harga mahal Nona, kalian bisa pergi dari sini dan membangun tempat baru." bujuk seorang Pria bertubuh kekar tersebut.


"Saya tidak akan menjualnya, sebaiknya kalian cepat pergi dari sini sebelum saya melaporkan pada pihak berwajib." tegas Sera, setelah itu ia segera masuk ke dalam dan menutup pintu rumahnya.


Sera terlihat sangat kesal, hampir sebulan ini ia menghadapi beberapa orang yang ingin menawar lahannya yang kini berdiri sebuah panti asuhan tempatnya dan anak-anaknya tinggal.


Sampai kapanpun ia tidak akan menjualnya, karena itu adalah amanat dari mendiang tuan Mauren jika ia tidak boleh menjualnya.


Lahannya memang berada di tempat strategis di pinggiran pantai dengan pohon bakau yang sangat luas. Banyak investor yang menginginkannya untuk di bangun hotel dan tempat wisata, namun tuan Mauren sangat menjaga kelestarian alam hingga sampai kapanpun tidak akan menjual lahannya.


Beberapa hari kemudian nampak beberapa orang yang berbeda datang lagi ke panti asuhan milik Sera.


"Ada apa ?" ucap Sera tak ramah saat melihat 3 pria berbeda dari sebelumnya sedang berdiri di depan pintu rumahnya.


Sera bisa menebak ketiga orang itu pasti juga sedang menginginkan lahannya seperti orang-orang sebelumnya.


Namun sepertinya Sera merasa tidak asing dengan salah satu orang dari mereka, tapi ia lupa pernah bertemu di mana. Sepertinya karena faktor kesibukannya hingga ia sering pikun akhir-akhir ini, pikirnya.


"Wanita ini, bukannya yang sedang di cari oleh boss. Kenapa bisa kebetulan sekali."


Mattew nampak terkejut saat melihat Sera yang kini sedang menatapnya dengan tak ramah.

__ADS_1


__ADS_2