Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~215


__ADS_3

Siang itu Martin nampak datang ke sekolahnya Merry, sudah dua hari ini sejak pertunangannya dengan Lusi ia selalu mendatangi sekolah putrinya tersebut.


"Dad, apa Daddy tidak mau bertemu bunda ?" tanya Merry saat baru keluar dari sekolahnya bersama dengan kakaknya yang lain.


"Daddy ada pekerjaan di luar negeri, Nak. Setelah kembali, Daddy janji kita akan tinggal bersama-sama." sahut Martin.


"Beneran kita akan tinggal bersama-sama, Dad ?" Eric, bocah setahun lebih tua dari Merry itu nampak antusias.


"Iya, sayang." sahut Martin seraya mengacak lembut rambut Eric, makin lama Martin merasa makin menyayangi kelima bocah laki-laki itu.


"Tapi sepertinya bunda sangat merindukan Daddy." ucap Merry lagi, ia sering melihat ibunya melamun saat bekerja.


"Daddy tahu, Daddy juga sangat merindukan bunda kalian. Oh ya apa kalian mau makan es krim sebelum pulang ?" tawar Martin pada anak-anaknya tersebut.


"Mau, Daddy." sahut Merry dan kakak-kakaknya.


Setelah mengajak mereka makan es krim dan memastikan pulang sampai rumah dengan selamat. Siang itu Martin segera berangkat ke Indonesia, ia ingin menemui satu-satunya wali dari Sera.


Tentunya dengan segala konsekuensi yang akan dia terima, mengingat kesalahannya 8 tahun silam karena telah menghianati tuan besarnya tersebut.


"Berani kamu muncul di hadapan saya." hardik tuan Winata saat Martin datang ke kediamannya malam itu.


Setelah sampai di Indonesia, tanpa beristirahat ia langsung datang menemui tuan besarnya tersebut.


"Saya mohon ampun, tuan." sahut Martin seraya menundukkan kepalanya.


Meski lama tak bertemu, Martin tetap menganggap tuan Winata sebagai tuan besarnya. Pria itu sangat berjasa dalam hidupnya karena sudah membuatnya seperti sekarang ini.


"Apa kamu yakin saya akan mengampunimu, hah ?" bentak tuan Winata, usia yang tak lagi muda tak membuat wibawanya berkurang sedikit pun.


Pria baru baya itu tetap tegas seperti dahulu terakhir Martin bertemu 8 tahun silam.


"Saya memang tidak pantas mendapatkan ampunan, tuan. Tapi tolong ampuni Sera dan putri saya." mohon Martin kemudian.


"Apa maksud kamu ?" tuan Winata nampak memicing.


Setelah itu Martin mulai bercerita dari awal hingga akhir, berharap tuan besarnya itu memberikan dirinya dan Sera maaf dan kesempatan.


Bug!!


Sebuah pukulan berhasil mendarat di rahang kanan Martin dengan keras hingga membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang.


"Itu hukuman karena kamu telah menghianati kepercayaan saya." ucap tuan Winata.


"Pa." teriak Dena ingin menghentikan sang ayah, namun tuan Winata langsung mengangkat tangannya agar putrinya itu tetap duduk di kursinya.


Bug!!

__ADS_1


Sebuah pukulan lagi tepat mengenai rahang sebelah kiri Martin hingga kedua sudutnya kini mengalir darah segar.


"Itu hukuman karena kamu telah membuat Sera hamil." ucap tuan Winata lagi.


Martin sama sekali tak membalas, ia menyadari kesalahannya dan membiarkan tuan besarnya itu melampiaskan amarahnya.


Bug!!


Bug!!


Kali ini tuan Winata nampak beberapa kali memukul dan menendang bagian tubuhnya hingga kini Martin tak berdaya di lantai.


"Papa, sudah." Dena yang tidak tega melihat Martin babak belur langsung melerai ayahnya tersebut dengan menggunakan tubuhnya sebagai penghalang.


Tuan Winata nampak mendengus kesal, sudah lama sekali ia tidak berolah raga tapi putrinya itu malah mengganggunya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Apa kamu baik-baik saja ?" tanya Dena khawatir saat melihat Martin terlihat mengenaskan.


"Ayo duduklah, aku akan mengambilkan obat untukmu." Dena membantu Martin berdiri lalu membawanya duduk di sofa tak jauh dari sang ayah duduk.


"Terima kasih, Dena. Kamu tak perlu membelaku." ucap Martin saat Dena mulai mengobati wajahnya yang lebam.


"Tentu saja aku akan membelamu, kamu melakukan ini semua demi diriku dan aku senang jika Sera ternyata baik-baik saja." sahut Dena.


"Kami ingin menikah, tapi aku tidak bisa melakukannya jika tak mendapatkan restu dari tuan besar." ucap Martin pada Dena yang langsung membuat Tuan Winata berdecih kesal.


"Apa seperti itu caramu meminta restu ?" cibir tuan Winata.


"Entahlah, akan Papa pikirkan." ucap tuan Winata seraya bangkit dari duduknya, kemudian ia berlalu pergi.


Martin yang melihat kepergiannya nampak kecewa, namun ia pasti akan membujuknya lagi nanti.


"Baiklah, menikahlah tapi setelah itu bawa Sera dan cucuku pulang kemari." ucap tuan Winata menghentikan langkahnya namun tanpa berbalik badan.


"Ah tidak-tidak, saya yang akan menjemput sendiri anak tak tahu terima kasih itu." imbuhnya lagi kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Martin dan Dena terlihat senang dengan keputusan tuan Winata tersebut.


"Aku tahu tuan besar tidak akan setega itu." lirih Martin yang kini nampak terharu.


"Terima kasih." ucap Dena menatap Martin.


"Kamu benar-benar seperti kakakku." imbuhnya lagi.


"Tidak, aku adik iparmu sekarang." seloroh Martin sembari meringis menahan sakit di wajahnya saat Dena mengobatinya.


"Tuan Martin kok diam saja, aku bertanya kenapa wajah dan tubuhmu lebam semua ?" tanya Sera saat melihat Martin baru melepas kemejanya, kini mereka sudah berada di kamarnya setelah acara pesta pernikahannya selesai.

__ADS_1


Martin yang sedang mengingat kejadian beberapa hari lalu saat meminta restu pada tuan Winata nampak terkejut saat sang istri membuyarkan lamunannya.


"Tidak, tidak apa-apa. Bukan hal yang penting." sahut Martin dengan mengulas senyumnya.


"Tidak penting bagaimana? tubuhmu harus di obati." Sera nampak geram menghadapi suaminya itu.


"Tidak apa-apa sayang, tidur yuk." Martin nampak menarik istrinya itu dan membawanya ke tempat tidur.


"Apa Papa yang melakukannya ?" tanya Sera kemudian.


"Sudah sayang jangan di bahas lagi, aku baik-baik saja. Lebih baik kita segera melakukan malam pertama, aku sudah lama menahannya dan ku pastikan kamu tak bisa menolaknya." Bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Martin justru sibuk melepaskan pakaian wanita itu.


"Tuan Martin, jawab dulu pertanyaan ku. Lagipula kamu sudah melakukannya beberapa waktu lalu, jadi apa bedanya." protes Sera seraya menahan tangan suaminya itu saat akan melepaskan pengait bra yang ia pakai.


"Kamu panggil aku apa, sayang? aku suamimu sekarang. Panggil yang benar, mengerti." ucap Martin dengan menatap lekat istrinya itu.


Sera yang melihat itu nampak menelan ludahnya, meski sekarang pria itu sudah menjadi suaminya tapi Sera benar-benar belum mengenal karakternya.


"Mas, aku akan memanggilmu Mas." ucapnya kemudian.


"Begitu lebih baik." ucap Martin dengan mengulas senyum tipisnya, kemudian ia langsung *****@* bibir tipis itu dengan rakus seakan tiada hari esok.


"Mas, Mas tunggu sebentar." Sera nampak menjauhkan wajah Martin, ada sesuatu yang ingin ia bicarakan pada laki-laki itu.


"Apalagi sayang ?" Martin terlihat gemas, kenapa istrinya itu tiba-tiba bersikap seperti perawan yang malu-malu karena akan di unboxing sih.


"Ada yang ingin ku katakan padamu, penting." mohon Sera dengan serius.


"Besok saja ya sayang, malam ini tidak ada yang lebih penting dari ini." ucap Martin, lalu ia memanggut bibir istrinya lagi.


Bahkan kini tangannya sudah merayap kemana-mana hingga membuat Sera mendes@h dalam ciumannya.


Namun saat tangannya merayap ke milik istrinya di bawah sana, Martin nampak memicing.


"Kamu sedang dapat tamu bulanan, sayang ?" ucapnya dengan nada kecewa.


"Hm, itu yang mau ku katakan." sahut Sera dengan menahan senyumnya.


"Jadi kamu nggak hamil ?" tanya Martin dengan polos.


"Apa maksudnya mas? jadi mas menginginkan aku hamil di luar pernikahan lagi gitu ?" protes Sera dengan kesal.


"Bukan begitu sayang." Martin mencoba membela diri.


"Sudah ah malas kalau begitu." Sera langsung beranjak dari tidurnya kemudian berlalu ke kamar mandi.


"Sayang jangan pergi, kamu harus tanggung jawab ini." Martin terlihat kesal, ia sudah siap tapi tidak ada musuhnya.

__ADS_1


"Au ah gelap." sahut Sera lalu menutup pintu kamar mandinya.


"Gagal deh, sabar ya Martin junior satu minggu lagi kita buat bunda tidak bisa jalan." gerutu Martin kemudian.


__ADS_2