
"Pelan-pelan Ma, kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering sekali tersedak." tegur tuan Anggoro seraya mengulurkan segelas air putih pada istrinya itu.
Nyonya Anggoro langsung mengambilnya lalu meminumnya hingga tandas.
"Jadi apa yang menjadi alasanmu kenapa waktu itu justru pergi meninggalkan kota ini, Nak ?" lanjut tuan Anggoro lagi seraya menatap Ariana.
Sedangkan Ariana nampak melirik nyonya Anggoro yang terlihat sudah memucat, ia yakin ibu mertuanya itu sedang cemas memikirkan perbuatannya dulu jika sampai ketahuan suaminya maupun putra semata wayangnya itu.
"Saya hanya sadar diri Pa, kalau saya tidak pantas buat mas Demian." sahut Ariana pada akhirnya dan itu langsung membuat nyonya Anggoro bernapas lega.
Ariana tidak mungkin berkata jujur, karena ayahnya maupun suaminya pasti akan murka jika mengetahui jika ia dulu di usir oleh ibu mertuanya itu dan semoga saja ibunya itu menyadari sedikit kebaikannya.
"Astaga sayang, kenapa kamu berpikiran begitu. Dari dulu Papa tidak pernah membeda-bedakan siapa pun." ujar Tuan Anggoro.
"Terima kasih, Pa." Ariana mengulas senyumnya menatap ayah mertuanya itu, sungguh ia sangat beruntung mempunyai Ayah seperti beliau.
"Maafkan aku." Demian langsung menggenggam tangan Ariana, laki-laki itu selalu di hantui perasaan bersalah jika mengingat sudah menelantarkan istri dan anaknya.
"Dan maafkan Daddy ya sayang." ucapnya lagi pada Ricko.
"Bukannya sebelumnya kita pernah membahasnya Dad dan Ricko sudah memaafkan Daddy." sahut Ricko.
"Terima kasih, sayang." Demian sangat bersyukur mempunyai istri serta anak yang begitu baik dan pengertian.
Ehmmm
Nyonya Anggoro nampak berdehem pelan. "Bisakah kita lanjutkan sarapannya, nanti kalian akan terlambat." ujarnya kemudian.
"Ma, bolehkan Ariana makan menggunakan tangan saja ?" mohon Ariana yang langsung membuat Demian bereaksi.
"Kenapa harus izin dahulu sayang, makanlah senyamanmu yang penting kamu banyak makan dan tidak kekurangan gizi." ujar Demian, namun Ariana tetap bergeming menunggu persetujuan ibu mertuanya tersebut.
Nyonya Anggoro menghela napas beratnya, ini kedua kalinya ia melanggar prinsipnya sendiri. Pertama ia merestui pernikahan Demian dengan Ariana yang notabennya orang biasa.
Lalu sekarang yang kedua ia mengizinkan salah satu anggota keluarganya makan tak sesuai dengan aturan yang telah di buat turun temurun di keluarganya.
"Terserah kamu saja." ucapnya kemudian, meski dengan berat hati.
"Terima kasih, Ma." sahut Ariana bersemangat, ia langsung mengambil beberapa lauk lalu meletakkannya di atas piringnya.
"Sepertinya biji-biji kacangku akan segera tumbuh besar." Demian nampak terkekeh melihat Ariana yang begitu lahap makan, seakan melupakan kalau beberapa saat yang lalu wanita itu muntah-muntah hingga lemas.
"Dasar kampungan." batin nyonya Anggoro yang melihat menantunya itu dengan ekspresi jijik.
__ADS_1
Setelah mengantar suaminya sampai depan rumah, Ariana langsung masuk kembali ke dalam kamarnya.
Ia sangat senang karena sejak kehamilannya ibu mertuanya itu menghentikan segala pembelajarannya dan menyuruhnya untuk istirahat total. Mengingat ia sedang hamil anak kembar dan harus bedrest sampai kandungannya kuat.
Beberapa hari kemudian....
"Mas, aku ingin makan nasi goreng." rengek Ariana malam itu ketika sang suami baru selesai membersihkan dirinya.
"Itu makanan tidak sehat sayang, tapi satu kali saja ya. Ya sudah kamu siap-siap dahulu, kita akan membelinya di luar." Demian nampak tak tega menolak keinginan istrinya tersebut.
"Bukan beli Mas, tapi buat sendiri." ucap Ariana.
"Baiklah, kamu tunggu disini ya aku akan menyuruh koki membuatkannya." ucap Demian, kemudian ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamarnya.
"Aku tidak mau buatan koki." ucap Ariana yang langsung membuat Demian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapnya.
"Jangan bilang kamu menyuruhku masak sayang, aku tidak bisa." ucapnya dengan nada memohon.
Ariana menggelengkan kepalanya. "Aku ingin nasi goreng buatan Mama." ucapnya memelas.
"Astaga sayang, Mama mana bisa memasak. Bahkan mungkin menyalakan kompor saja tidak bisa." ujar Demian, mengingat seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan masakan sang Ibu.
"Tapi aku ingin banget nasi goreng buatan Mama." sepertinya Ariana benar-benar menginginkan masakan ibu mertuanya itu.
"Baiklah ayo turun, aku akan membujuk Mama buat masak." ajaknya kemudian.
"Beneran ?" Ariana nampak antusias, ia langsung bangkit dari duduknya lalu mengecup bibir suaminya.
"Sayang, kamu jangan memancingku." ucap Demian ketika istrinya itu sengaja menggodanya.
"Aku hanya senang, Mas."
"Tapi kamu sudah menggodaku sayang, asal kamu tahu sudah lebih dari satu minggu ini aku berusaha menahannya." keluh Demian.
Ariana nampak kasihan melihat suaminya, biasanya laki-laki itu menginginkannya setiap waktu tapi sejak ia hamil Demian sama sekali tak menyentuhnya.
"Setelah makan malam, kalau kamu ingin kita bisa kok melakukannya." ucap Ariana pada akhirnya, karena yang dia tahu laki-laki tidak boleh terlalu lama menahan hasratnya karena itu juga akan berdampak buruk pada kesehatan tubuh maupun mentalnya.
"Beneran sayang ?" seperti menemukan oase di tengah padang pasir, Demian langsung bersemangat.
"Asal kamu melakukannya dengan pelan." sahut Ariana.
"Tentu saja, sepelan yang kamu mau." ujar Demian antusias, ia langsung memeluk istrinya dengan erat dan mendaratkan ciumannya bertubi-tubi.
__ADS_1
Saking semangatnya Demian seakan lupa tujuannya tadi, kini ia justru asyik mencumbu istrinya yang sedang duduk di atas sofa tersebut.
Begitu juga dengan Ariana, ia nampak terbawa suasana dan terlihat menikmati ciuman Demian di bibirnya.
Mereka seakan saling melepaskan rindu berat setelah menahannya demi dua jabang bayi didalam perutnya.
Mendapatkan ciuman balasan dari sang istri, Demian semakin dalam mencium bibir wanita itu. Mereka nampak saling melum😘t dan mencecap satu sama lainnya.
Seperti sebuah candu, mereka seakan enggan melepaskan tautan lidahnya dan terus menikmati pertukaran salivanya.
Hingga beberapa saat kemudian Demian langsung melepaskan panggutannya ketika istrinya itu kehabisan napas.
Lalu ia menurunkan bibirnya pada leher jenjang wanita itu dan menghirup dalam-dalam wanginya yang selalu membuatnya rindu untuk segera pulang.
Di kecupnya kecil-kecil leher istrinya itu hingga membuat wanita itu mendesah tertahan. Namun itu justru membuat Demian semakin berhasrat untuk memberi beberapa jejak kepemilikan disana.
Demian rasanya sudah tak sabar dan secepatnya ingin memasuki wanita kesayangannya itu. Namun suara memelas Ariana langsung membuatnya mengubur sementara keinginannya itu.
"Mas, bayi-bayi kacangmu lapar." keluh Ariana ketika suaminya seakan enggan melepaskannya.
Demian nampak mendesah pelan, sebisa mungkin ia menekan gairahnya yang sudah berada di puncak.
"Baiklah, ayo turun. Aku akan membujuk Mama untuk memasak nasi goreng spesial untukmu." ajak Demian kemudian.
Setelah itu mereka segera menghampiri Ibunya yang nampak sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Ayahnya serta Ricko yang terlihat sedang bermain.
"Ma, istriku ingin makan nasi goreng ?" ujar Demian yang kini mendudukkan dirinya di samping sang ibu.
"Tapi itu makanan tidak sehat, kamu harus kurangi makanan berminyak dan perbanyak sayuran dan juga protein." tegas nyonya Anggoro seraya menatap Ariana yang kini duduk di seberangnya.
"Hanya sekali Ma, sepertinya Ariana sedang ngidam." mohon Demian.
"Biarkan saja Ma, tidak sering juga kan ?" kali ini tuan Anggoro yang menimpali.
Nyonya Anggoro nampak mendesah pelan.
"Baiklah, hanya satu kali." tegasnya, kemudian ia memanggil kokinya yang nampak sedang sibuk mempersiapkan makan malamnya di dapur yang berada tak jauh dari sana.
"Ma, tapi Ariana tidak mau nasi goreng buatan koki." ujar Demian.
"Tapi buat sendiri lebih sehat daripada beli di luar." sahut nyonya Anggoro masih dengan sikap tegasnya.
"Tapi, Ariana maunya nasi goreng buatan Mama." ucap Demian ragu-ragu dan sesuai perkiraannya ibunya itu langsung melotot menatapnya.
__ADS_1
"APA ?"