Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~153


__ADS_3

Sore itu Dena nampak mengerjapkan matanya saat merasakan sebuah tangan mungil mengusap-usap pipinya.


"Sayang ?" Dena langsung terbangun saat melihat Elkan tertawa menatapnya.


Ia melihat dirinya sudah memakai kimono tidur, mungkin suaminya yang memakaikannya selepas mereka bercinta tadi siang.


"Astaga jam berapa ini ?" gumamnya lagi, ia merasa tidur sangat lama.


"Pukul 4 sore." sahut Edgar yang langsung membuat Dena terkejut menyadari keberadaan suaminya itu.


Rupanya Edgar sedari tadi duduk di sofa yang ada di kamarnya tersebut.


"Sudah sesore itu kenapa tidak bangunin aku sayang ?" ucap Dena.


"Kamu sangat lelah sayang, bagaimana aku bisa bangunin kamu. Sepertinya beberapa hari ini kamu sangat sibuk." sindir Edgar.


"Tentu saja, aku sibuk jalan-jalan." sahut Dena beralasan.


"Dan aku kelelahan juga karena hukuman darimu tadi, hukuman macam apa itu." lanjutnya lagi dengan mencebikkan bibirnya hingga membuat Edgar tertawa menatapnya.


"Hukuman yang sangat nikmat, sayang." sahut Edgar.


"Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." sungut Dena, sungguh badannya terasa remuk semua.


"Baguslah jika lain kali seperti itu lagi, mungkin hukumannya akan lebih parah." sahut Edgar menatap lekat padanya.


"Tidak ada lain kali." tegas Dena seraya bangkit dari tidurnya.


"Sama Papa dulu ya sayang, Mama mau mandi dulu." ucapnya lagi pada Elkan.


Setelah itu ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya tadi siang.


Ia nampak bersyukur suaminya sedikitpun tak merasa curiga padanya.


"Maafkan aku tidak mematuhi mu, karena aku memang tidak sebaik kamu." gumamnya.


Sedangkan Edgar nampak menghela napasnya dengan kasar saat menatap sang istri yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi tersebut, entah apa yang sedang ia pikirkan tapi raut wajahnya terlihat tidak baik-baik saja.


Keesokan harinya....


Sebenarnya Edgar ingin lebih lama berada di Jerman bersama istrinya dan juga sang putra, namun mereka harus segera kembali mengingat pekerjaannya sangat banyak.


"Kamu nggak apa-apa kan kita cepat pulang? aku janji setelah ada waktu luang kita akan pergi berbulan madu." ucapnya saat mereka baru naik ke dalam pesawat.


"Tentu saja, aku ngerti kok." sahut Dena dengan tersenyum manis.


Lagipula tujuannya ke Jerman sudah tercapai, jadi untuk apa ia terlalu lama berada di sana. Ia merasa lebih asyik melihat kehancuran Sera dan ibunya daripada pergi berbulan madu.


Entahlah sampai saat ini Dena masih bingung mengartikan perasaannya pada sang suami, meski setiap saat mereka selalu berhubungan badan namun hatinya sudah terlanjur tertutup oleh dendam yang teramat besar.


Sesampainya tiba di tanah air keesokan harinya, Edgar langsung kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Pa ?" Edgar nampak terkejut saat melihat sang Ayah sudah duduk di kursi kerjanya pagi itu, ini pertama kalinya ia bertemu ayahnya setelah kejadian di hotel waktu itu.

__ADS_1


"Hm, masuklah." perintah King dengan nada dingin.


"Aku berhasil mendapatkan proyek itu, Pa." ucap Edgar saat baru masuk ke dalam.


"Hm, Papa tahu kalau kamu selalu bisa di andalkan." sahut King.


"Terima kasih, Pa."


"Apa kamu habis dari Jerman ?" tanya King.


"Hm, aku menjemput istri serta anakku yang sedang berlibur di sana." sahut Edgar.


Ia tidak mungkin menceritakan jika Dena membawa putranya pergi diam-diam darinya, karena ayahnya pasti akan semakin memojokkan Dena.


"Berlibur apa kabur ?" sarkas King yang langsung membuat Edgar melotot pada sang ayah, bagaimana ayahnya itu bisa tahu.


"Ck, wanita pembangkang seperti itu masih saja kamu bela. Apa kurangnya Sera hingga kamu tega menyakitinya." lanjutnya lagi dengan nada mengejek.


"Jangan pernah menilai seseorang dari sampulnya Pa, kadang apa yang kita lihat baik belum tentu juga itu baik." balas Edgar.


"Tapi kenyataannya istrimu memang tidak bisa di atur, Papa tidak mau hanya karena ulahnya kamu jadi mengabaikan perusahaan." tegur King.


"Aku tidak pernah mengabaikan perusahaan, Pa. Lagipula aku kesana untuk menjemput istri dan anakku." sahut Edgar membela diri.


"Ck, itu anak Arhan Bagaskara bukan anak kamu." cibir King.


"Dia anakku Pa, anak kandungku." potong Edgar yang langsung membuat King memicing ke arahnya.


"Apa ?" ucapnya tak percaya.


"Apa demi membela wanita itu, kamu rela mengakui anak orang lain menjadi anakmu hah? dasar bodoh." cibir King dengan ejekannya.


"Terserah Papa mau percaya atau tidak." sahut Edgar keukeh, ia tidak peduli ayahnya itu mau percaya atau tidak.


"Kamu ini benar-benar." King yang habis kesabaran langsung pergi meninggalkan ruangan putranya tersebut.


Namun saat ia sedang menunggu lift terbuka, tiba-tiba Dena keluar dari dalam lift tersebut. Pandangan mereka nampak bertemu, King yang terkejut langsung menatap angkuh pada menantunya tersebut.


Sedangkan Dena juga menatapnya, namun kemudian ia menganggukkan sedikit kepalanya dengan sopan.


"Tunggu !!" ujar King saat Dena melewatinya begitu saja.


Dena yang merasa di panggil langsung menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menatap ayah mertuanya itu yang tak kunjung masuk ke dalam lift tersebut.


Dena nampak menganggukkan kepalanya sedikit saat menatap King.


"Jangan berpikir kamu sudah menikah dengan putra saya, lalu kamu bisa mengatur kehidupannya. Edgar tetap putra keluarga Bryan dan bagi kami kamu bukan siapa-siapa, karena sampai kapanpun kami tidak akan pernah merestui pernikahan kalian." tegas King.


Dena yang mendapatkan teguran dari sang ayah mertua, nampak menatap datar laki-laki itu. Sedikit pun ia tak merasa takut maupun terpojok.


Bagi Dena di musuhi semua orang itu sudah biasa, ia bahkan tak peduli penilaian orang terhadapnya. Karena rencana hidupnya saat ini hanya akan fokus pada balas dendamnya, mengambil apa yang sudah menjadi haknya.


"Terima kasih atas peringatannya Pa, tapi status saya sebagai istri sah Edgar Bryan itu adalah nyata adanya bagaimana pun Papa mengelaknya." tegas Dena dengan menatap lekat ayah mertuanya itu.

__ADS_1


"Kamu...." hardik King, berani sekali wanita itu menjawabnya bahkan Sera yang sudah sangat ia sayangi tidak pernah berani membantahnya apalagi menatapnya dengan pandangan menantang yang seperti Dena lakukan.


"Maaf, kalau begitu saya permisi." ucap Dena seraya sedikit menundukkan kepalanya, setelah itu ia segera melangkahkan kakinya menuju kantor Edgar.


"Anak ini." King nampak geram, namun ia juga diam-diam mengapresiasi menantunya itu karena tak takut dengan intimidasinya.


Sesampainya di depan ruangan Edgar, Dena nampak melotot saat melihat siapa yang berada di meja sekretaris.


"Nay, Anggi ?" teriak Dena hingga membuat dua sahabatnya itu mengangkat kepalanya menatap ke arahnya.


"Astaga Dena, eh nyonya Dena." ucap Nay senang.


"Gue salut sama loe, diam-diam sudah mematahkan hati para wanita di kantor ini." cibir Anggi.


"Termasuk loe ?" ejek Dena.


"Sialan." gerutu Anggi.


"Kenapa loe tiba-tiba menikah, loe tidak hamil duluan kan ?" tanya Nay penasaran.


"Sembarangan." sungut Dena.


"Gue tidak menyangka ternyata loe itu mantan istri dari Arhan Bagaskara pria yang tajirnya seperti pak boss." ucap Anggi, sejak skandal pernikahan Edgar dan Dena yang mendadak banyak berita miring yang beredar di media online.


"Dan yang paling tidak ku sangka ternyata mantan kekasihnya pak boss itu adik tiri loe, oh astaga bagaimana bisa keluarga loe kaya raya tapi masih bekerja di sini atau jangan-jangan dari awal loe ingin mengincar pak Edgar ya ?" ujar Nay penasaran.


Namun Dena belum sempat menjawabnya, Edgar tiba-tiba membuka pintu ruangannya.


"Bekerjalah dengan baik dan berterima kasihlah pada istriku, berkat dia kalian bisa berada di meja ini." tegas Edgar seraya menatap tajam Anggi dan Nay.


"Maaf, pak." sahut Anggi dan Nay bersamaan.


Edgar langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam ruangannya.


"Sayang, kamu jangan galak-galak dong sama mereka." protes Dena kesal.


"Aku tidak suka mereka memojokkan mu." sahut Edgar.


"Mereka tidak memojokkan ku sayang, mereka memang seperti itu." sanggah Dena.


"Ck, baiklah. Jadi ada apa istri cantikku ini datang kemari, hm ?" ucap Edgar seraya membawa istrinya itu ke dalam pangkuannya.


"Aku merindukanmu." sahut Dena, ia nampak melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya itu.


"Jangan menggodaku, sayang." balas Edgar.


"Jadi kamu tidak merindukan ku ?" cebik Dena.


"Tentu saja merindukan mu sayang, setiap saat dan setiap waktu." sahut Edgar, kemudian ia langsung meraup bibir istrinya itu dengan rakus.


Bahkan kini Edgar nampak mendudukkan istrinya itu di atas meja kerjanya, lalu kembali melum😘t bibirnya. Sungguh wanita itu selalu membuatnya candu.


Brakkk

__ADS_1


Tiba-tiba pintu di buka dengan kasar dari luar, hingga membuat Edgar serta Dena langsung terkejut.


"Sera ?" ucap Edgar saat melihat mantan kekasihnya itu menatapnya dengan geram.


__ADS_2