Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~168


__ADS_3

"Ju-Juno, di mana suamiku ?" ucapnya saat ia hanya melihat Juno seorang diri.


"Selamat sore nyonya." sapa Juno dengan mengulas senyumnya.


"Hm, di mana suamiku ?" tanya Dena lagi.


"Tuan tadi siang sudah berangkat ke Singapura, mungkin sementara waktu beliau akan tinggal di sana untuk mengawasi proyek yang sedang kami kerjakan saat ini." sahut Juno.


"A-apa ?" Dena nampak tak percaya, begitu sibuknya kah suaminya hingga tak sempat mengabarinya. Bahkan laki-laki itu sudah berencana tinggal di sana tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya.


"Beliau menitipkan ini untuk anda." Juno menyerahkan dua buah dokumen pada Dena.


"Ini apa ?" tanya Dena tak mengerti, namun ia tetap menerima dokumen tersebut.


"Tuan bilang, anda sudah boleh kembali ke rumah. Saya yang akan mengurus perjalanan anda." ucap Juno.


"Benarkah? terima kasih." Dena menatap datar Juno, kemudian ia mengambil dokumen tersebut.


Dena nampak terkejut saat melihat surat-surat penting perusahaan dan juga beberapa harta ayahnya yang sudah di balik nama atas dirinya.


"Ba-bagaimana ini bisa terjadi ?" ucapnya tak percaya.


"Tuan Edgar yang sudah melakukan semuanya untuk anda." sahut Juno.


"Benarkah ?" Dena nampak masih belum percaya, kemudian ia membuka lagi dokumen lainnya.


"Dear, istri kesayanganku. Aku bisa membayangkan wajahmu saat ini pasti sedang berbunga-bunga, karena tujuanmu sudah tercapai. Maaf sudah lancang membantumu diam-diam, dari awal sebenarnya aku tidak menyetujui kamu membalas dendam karena itu hanya akan membuat hatimu semakin keras.


Namun sebagai suami aku juga tidak bisa diam saja, untuk itu biarlah aku yang melakukannya. Karena kesakitanmu juga akan menjadi kesakitanku, jadi ku mohon setelah ini hiduplah dengan baik meski tanpa ada aku di sisimu.


Aku memaafkanmu meski niatmu menikah dengan ku bukan karena cinta, karena sesungguhnya cinta itu tidak hanya saling menerima tapi juga saling memberi. Jadi mulai hari ini aku melepaskan mu sebelum kamu memintanya dan kamu adalah wanita bebas sekarang.


Meski ke depannya tujuan hidup kita sudah berbeda, tapi kita bisa menjadi partner yang baik bagi putra kita. Kita bisa membesarkan Elkan bersama-sama dengan limpahan kasih sayang.

__ADS_1


*J*adi maafkan aku jika selama menjadi suamimu aku banyak kurangnya, tapi percayalah sampai kapanpun hanya kamu satu-satunya wanita yang ku cintai."


Dena nampak menggigit bibirnya, tubuhnya bergetar saat membaca tulisan tangan suaminya itu. Namun ia harus menahan air matanya agar tidak terjatuh di hadapan Juno.


Kemudian ia membuka sebuah dokumennya lagi dan ia duga itu adalah surat cerai dari suaminya.


"Nyonya, anda baik-baik saja ?" Juno terlihat khawatir saat melihat Dena nampak menatap dingin dokumen di tangannya itu.


"Tentu saja aku baik-baik saja." Dena nampak memaksakan senyumnya meski kentara sekali ia sedang terluka.


"Nyonya...."


"Aku ingin sendiri, masalah kepulanganku sepertinya aku masih ingin tinggal di sini. Kalau aku sudah ingin pulang, aku bisa pulang sendiri." ucap Dena.


Setelah itu ia melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam rumahnya.


Juno nampak menatap tubuh Dena yang semakin menjauh, sungguh ia tidak bisa membaca pikiran wanita itu.


Lalu jika memang dia mencintai suaminya harusnya wanita itu sedih saat ini, namun Dena justru menunjukkan sikap datarnya dan terkesan dingin.


Sesampainya di kamarnya Dena tak kuasa menahan air matanya lagi, tubuhnya nampak luruh ke lantai.


"Kamu bilang mencintaiku tapi kenapa justru meninggalkan ku? kenapa kamu tidak bertanya padaku dulu bagaimana perasaan ku saat ini? aku mencintaimu Edgar, aku sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau melihat cinta di mataku ?"


"Aku tidak memerlukan ini semua, aku hanya menginginkan mu, disini disisiku. Sepertinya kata cinta yang kamu ucapkan hanya bohong belaka, kamu menginginkan ini kan baiklah mulai hari ini kita berpisah."


Dena nampak mengambil dokumen yang berisi surat cerai tersebut, lalu segera menandatanganinya. Meski di sana belum ada tanda tangan suaminya.


Setelah itu ia terlihat menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya sembari terisak.


Sementara itu, di kediamannya tuan Winata nampak bertengkar hebat dengan anak dan istrinya.


"Sera memang bukan anakmu, selama ini aku sengaja membohongimu karena kamu lebih memilih menikah dengan wanita itu daripada aku." ujar nyonya Sita saat suaminya itu meminta penjelasan.

__ADS_1


Ia mengingat dahulu saat mereka masih pacaran tuan Winata tiba-tiba meninggalkannya tanpa kabar, namun beberapa tahun kemudian ia mendengar laki-laki itu hidup kaya raya bersama istrinya.


Saat itu nyonya Sita yang sedang hamil muda dengan kekasih barunya, ia segera membuat rencana jahat untuk menjerat tuan Winata kembali ke pelukannya.


"Kamu benar-benar licik, ternyata selama ini aku termakan oleh bujuk rayumu. Jadi benar selama ini kamu sudah menyiksa Dena, hah ?" hardik tuan Winata.


"Kalau benar memang kenapa? aku sangat membenci Dena, melihatnya hanya membuatku mengingat wanita itu. Wanita yang sudah membuatmu meninggalkan ku." teriak nyonya Sita.


"Dia tidak pernah bersalah, ibumu yang bersalah. Aku meninggalkan mu karena ibumu sudah menginjak-injak harga diriku sebagai laki-laki dan ibunya Dena lah yang sudah membuatku bangkit hingga berhasil sampai sekarang." jawab tuan Winata.


"Tetap saja dia wanita brengsek dan aku senang sudah membuatnya masuk ke dalam neraka duluan." ujar nyonya Sita dengan lantang, kemudian dia tertawa puas.


"Kamu, ternyata selama ini aku sudah memelihara harimau dalam rumahku sendiri." Tuan Winata nampak memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri dan beberapa saat kemudian ia terjatuh tak sadarkan diri.


Beberapa hari kemudian....


Dena sudah mengambil keputusan untuk segera pulang, ia adalah pemilik perusahaan Winata saat ini dan ia akan segera mengambil alih kepemimpinan perusahaan tersebut.


Apalagi mengingat berita yang beredar, ayahnya itu tiba-tiba sedang sakit keras entah apa yang telah terjadi dengan laki-laki paruh baya itu.


"Maaf nona Sera, kami tidak bisa mengeluarkan dana sebesar itu tanpa persetujuan dari tuan Winata. Apalagi mengingat perusahaan ini dalam masa pemulihan setelah hampir pailit." tolak direktur keuangan saat Sera mengajukan pencairan dana.


"Kamu lupa ya saya Putri pemilik perusahaan ini dan saat ini saya yang menggantikan Papa, jadi tanpa persetujuan Papa atau tidak saya berhak atas keuangan perusahaan." tegas Sera dengan geram.


Sejak skandalnya dengan Arhan mencuat ke publik, ia langsung di keluarkan dari agensinya dan saat ini ia memerlukan banyak uang untuk biaya hidupnya yang glamor.


"Maaf nona, saya tidak bisa." tolak dirut tersebut.


"Baiklah jika itu keinginan mu, maka mulai hari ini kamu saya pecat dari kantor ini." perintah Sera dengan tersenyum sinis.


"Tapi Nona....." dirut tersebut nampak memucat, namun ia langsung menjeda perkataannya saat tiba-tiba pintu ruangan di buka dengan kasar.


"Tidak ada yang di pecat di sini." tegas Dena yang langsung membuat Sera menatapnya geram.

__ADS_1


__ADS_2