
"Ada apa ini ?" ucap Edgar sesaat setelah membuka ruangannya.
Melihat Edgar keluar dari ruangannya, Dena nampak tersenyum sinis. Sudah ia duga laki-laki itu pasti akan melindungi kekasihnya seperti Arhan dahulu bagaimana laki-laki itu melindungi Sera dari dirinya yang memang terlihat seperti iblis.
"Sayang, nggak ada apa-apa kok." sahut Sera dengan mengulas senyumnya saat menatap Edgar.
"Oh ya kebetulan kak Dena ini adalah kakakku, kami beda ibu. Karena kak Dena sudah menikah jadi ia tinggal terpisah dengan kami." sahut Sera menjelaskan sebelum kekasihnya itu bertanya.
"Benarkah? kebetulan sekali." sahut Edgar berpura-pura tidak tahu.
"Baiklah ayo masuk ke ruanganmu, aku kangen banget sama kamu." ajak Sera dengan manja seraya melingkarkan tangannya di lengan Edgar.
"Kak Dena, kita masuk dulu ya. Kami tidak mau mengganggu kesibukanmu." lanjutnya lagi seraya menatap tumpukan berkas di meja Dena yang nampak menggunung.
Dena yang memang malas menanggapi Sera, enggan untuk menjawab. Ia justru kembali sibuk dengan layar komputernya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan kalian." gumam Edgar seraya melangkah masuk ke dalam ruangannya, namun sebelum itu ia sempat melirik ke arah Dena yang nampak tak peduli.
"Aku tidak menyangka kalau kalian bersaudara." ucap Edgar saat mereka baru duduk.
"Begitulah, kak Dena memang jutek sifatnya tapi aku dan ibuku sangat menyayanginya. Tapi sayang sampai sekarang dia belum bisa menerima kehadiranku dan ibuku di rumah, dia selalu memusuhi kami." sahut Sera dengan mimik sedih.
"Apa dari dulu dia bersikap seperti itu ?" selidik Edgar.
"Hm, kak Dena selalu membuat masalah di sekolah. Bahkan dia...." Sera menggantung ucapannya ia nampak terisak.
"Dia kenapa ?" entah kenapa Edgar semakin penasaran dengan kehidupan Dena.
"Karena pergaulan bebasnya, kak Dena pernah terjerat narkoba." sahut Sera dengan terisak.
"Apa ?" Edgar nampak terkejut.
"Maafkan aku tidak seharusnya kamu mengetahui hal ini, aku malu sama kamu dan keluargamu." ucap Sera.
Edgar langsung membawa Sera ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja." ucapnya seraya mengusap punggung kekasihnya itu.
"Setelah kamu tahu ini semua, kamu tetap menyukaiku kan ?" tanya Sera setelah mengurai pelukannya.
Edgar nampak menatap lekat Sera, selama ini ia sudah berusaha untuk mencintai wanita itu tapi nyatanya sampai sekarang ia belum merasakan itu.
__ADS_1
Apalagi sejak kedatangan Dena, justru wanita bar-bar itu yang selalu memenuhi pikirannya.
"Aku tidak peduli bagaimana perasaanmu tapi aku sangat mencintaimu." lanjutnya lagi setelah tak ada tanggapan dari Edgar.
Sera sadar kedekatan di antara mereka berawal dari keisengan kedua orang tua masing-masing, kemudian mereka mencoba untuk saling kenal dan dekat setelah itu memutuskan untuk berpacaran.
Tapi menurut Sera hubungannya dengan Edgar lebih pantas di sebut sebagai pertemanan. Pria itu tidak pernah bersikap layaknya seorang kekasih.
Edgar pria yang sangat dingin dan tidak romantis, laki-laki itu jarang memberikannya kabar kalau bukan dirinya duluan yang menghubungi.
Bahkan selama pacaran mereka tidak pernah bersikap romantis, laki-laki itu sama sekali tidak pernah menciumnya layaknya sepasang kekasih.
Hal paling intim yang mereka lakukan hanya sekedar bergandengan tangan dan berpelukan saja, benar-benar hanya seperti sahabat.
Lain halnya ketika ia bersama dengan Arhan, laki-laki itu sangat romantis bahkan mereka sering melakukan hal-hal di luar batas.
Hanya saja Sera tidak mencintai Arhan, dari dulu apa yang di miliki oleh Dena ia juga harus memilikinya dan salah satunya adalah menjerat Arhan ke dalam pelukannya.
Baginya kehancuran Dena adalah kebahagiaannya.
Namun kali ini Sera benar-benar jatuh hati pada Edgar dan ia akan berusaha membuat laki-laki itu mencintainya.
"Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau kita cari makan siang saja." ucap Edgar mengalihkan perhatian, entah kenapa ia jadi merasa tidak nyaman jika berduaan seperti ini dengan Sera.
"Baiklah, karena tujuanku kesini juga ingin mengajakmu makan siang." sahut Sera dengan mengulas senyumnya.
Setelah itu mereka segera meninggalkan ruangan tersebut, Sera nampak terkejut saat Edgar tiba-tiba menggandeng pinggang rampingnya saat keluar dari ruangannya.
Tentu saja Sera sangat senang, ini termasuk kemajuan dalam hubungannya.
"Kak, kami pergi dulu. Kak Dena jangan lupa makan siang ya." ucap Sera saat melewati meja Dena.
Dena yang melihat sepasang kekasih itu nampak tak peduli, lebih baik ia fokus dengan pekerjaannya.
"Hm." sahutnya tak peduli.
Sedangkan Edgar yang melihat itu nampak geram, wanita itu benar-benar membuatnya emosi saja.
Siang itu Dena malas keluar kantor untuk makan siang, bossnya itu benar-benar memberikannya pekerjaan yang sangat banyak.
__ADS_1
Setelah kepergian Edgar ia terpaksa memesan mie instan pada OB yang ada di kantor tersebut.
"Akhirnya makan juga." perut Dena langsung keroncongan saat melihat sepiring mie goreng dan telur mata sapi terhidang di mejanya.
Saat ia akan menyendoknya, piringnya tiba-tiba melayang.
"Siapa yang menyuruhmu makan sampah." tegur Edgar seraya menjauhkan sepiring mie itu dari meja Dena.
Dena nampak terkejut, perasaan bossnya itu baru pergi beberapa menit yang lalu kenapa sekarang sudah ada di hadapannya. Lalu kemana perginya Sera?
"Apa bapak ingin membunuh saya pelan-pelan ?" protes Dena kesal, ia langsung berdiri untuk merebut piringnya kembali namun Edgar sudah memasukkannya ke dalam tong sampah.
"Oh astaga mieku." Dena menatap nanar Mienya itu, sungguh bossnya itu sangat keterlaluan.
Saat Dena akan melayangkan protes, tiba-tiba Edgar sudah menarik tangannya lalu membawanya masuk ke dalam ruangannya.
"Makanlah, saya tidak mau ada karyawan sakit di kantor ini karena melewatkan makan siangnya." perintah Edgar seraya memberikan paper bag yang ia bawa tadi.
Tentu saja Dena langsung senang, ia tidak akan menolak atau sungkan. Pekerjaannya sangat banyak dan sudah sewajarnya pria itu memberikannya makanan.
"Terima kasi pak, saya akan makan di luar saja." sahut Dena ia langsung melangkahkan kakinya keluar.
"Itu makan siang saya. Kalau kamu mau, duduk di sini dan makan siang bersama saya." tegas Edgar.
"Jadi ini punya bapak, bukan buat saya ?" Dena langsung kecewa, bossnya itu memang tukang pemberi harapan palsu.
"Tapi saya belinya banyak, akan saya bagi kalau kamu mau." sahut Edgar.
Dena yang sudah sangat kelaparan tentu saja tidak menolak, ia langsung membuka paper bag tersebut lalu mengeluarkan isinya.
Nampak dua porsi rice bowl dengan potongan daging di atasnya, membuat perut Dena langsung keroncongan.
Tak menunggu lama ia langsung menyuapkan makanannya tersebut ke dalam mulutnya.
Edgar yang sedang duduk di sebelahnya nampak mengulas senyumnya, sepertinya sekretarisnya itu sangat kelaparan.
"Makanlah yang banyak." ucap Edgar seraya meletakkan beberapa potong daging miliknya ke dalam rice bowl milik Dena.
Edgar mengingat bagaimana tadi harus mencari alasan agar tidak jadi makan siang bersama Sera, entah kenapa tiba-tiba ia merasa kasihan pada Dena.
__ADS_1
Mendengar cerita Sera tentang sifat buruknya Dena, bukannya ia malah membenci Dena, tapi entah kenapa hati kecilnya terdorong untuk mengenal wanita itu lebih jauh.
Ada perasaan yang sulit ia jelaskan, tapi ketika melihat ketidakpedulian wanita itu membuat hatinya sakit dan emosi.