Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~167


__ADS_3

"Apa Papa sangat yakin, kalau Sera itu anak kandung Papa ?" tanya Edgar kemudian.


"Apa maksud kamu ?" geram tuan Winata.


"Bagaimana kalau sebenarnya Sera bukan anak kandung Papa ?" tanya Edgar lagi.


"Omong kosong, tentu saja dia anakku." hardik tuan Winata tak terima, dia begitu menyayangi Sera karena putrinya itu sosok wanita penurut dan tidak pernah melawannya. Meski akhir-akhir ini ia sempat kecewa karena Sera telah benar-benar mempermalukan keluarganya.


"Tapi bagaimana kalau dia bukan anak kandung Papa ?" keukeh Edgar seraya memberikan amplop putih hasil tes DNA mereka.


"Apa ini ?" tanya tuan Winata seraya menunjuk amplop tersebut.


"Di buka saja, Pa !!" ucap Edgar.


Karena penasaran saat melihat kop sebuah rumah sakit, tuan Winata langsung membukanya lalu membacanya.


Tiba-tiba wajahnya langsung memucat. "I-ini mustahil, Sera adalah putri kandungku." hardiknya tak terima.


"Ini pasti rekayasa kan ?" imbuhnya lagi.


"Pa, ini sangat valid bahkan saya sudah memeriksa di tiga rumah sakit berbeda. Kalau Papa ragu Papa bisa melakukan tes sendiri." Edgar nampak mengeluarkan dua amplop berwarna putih lagi lalu memberikannya pada ayah mertuanya tersebut.


"Ba-bagaimana kamu bisa melakukan ini ?" suara tuan Winata nampak bergetar saat melihat kedua amplop hasil tes DNA itu.


"Ini tidak mungkin, benar-benar mustahil." Tuan Winata menjatuhkan kertas-kertas tersebut, kemudian tangannya mengepal erat.


"Maafkan saya Pa, saya hanya ingin menuntut keadilan buat istri saya yang sudah lama tidak dia dapatkan." ucap Edgar yang langsung membuat Tuan Winata menatapnya bingung.


"Keadilan apa yang kamu maksud, saya selalu adil pada Dena maupun Sera. Hanya saja semenjak kecil Dena selalu membangkang." sela tuan Winata.


"Apa sebelum Papa menikah lagi, apa Dena seorang anak pembangkang ?" tanya Edgar penasaran.


"Dulu dia sangat penurut namun semenjak ibunya meninggal dia tidak bisa di atur." sahut tuan Winata.


"Kenapa Papa tidak mencari tahu perubahan sikap Dena waktu itu ?"


"Karena saya sibuk dengan perusahaan, lagipula sudah ada Sita yang mengurusnya dengan baik." sahut tuan Winata.


"Mengurusnya dengan baik jika di depan Papa? apa Papa tidak tahu bagaimana sikap tante Sita di belakang Papa ?" cercah Edgar.


"Saya tidak tahu, tapi saya yakin Sita sangat baik sama Dena." sahut Tuan Winata.


Edgar nampak menghela napas panjangnya, setelah itu ia memerintahkan Juno untuk memperlihatkan beberapa Video yang sudah ia kumpulkan.


"Apa ini ?" tuan Winata nampak mengerutkan dahinya saat Juno menyodorkan ipadnya.

__ADS_1


"Papa lihat saja dulu." ucap Edgar.


Tuan Winata langsung memicing saat melihat video pertama yang di putar oleh Juno.


Di sana Dena terlihat sedang tertidur dengan posisi miring, kemudian seorang dokter perempuan nampak menyingkap pakaiannya hingga memperlihatkan punggung wanita itu.


Tuan Winata yang melihat itu langsung terkejut, wajahnya terlihat bergidik ngeri saat melihat bekas-bekas luka di tubuh Dena.


"Si-siapa yang melakukan itu ?" hardiknya, meski ia tidak terlalu akur dengan Dena tapi ia tidak rela jika ada orang lain yang melukai putrinya tersebut.


"Tante Sita yang melakukannya." sahut Edgar.


"Itu tidak mungkin." rasanya tidak percaya jika istri tercintanya tega melakukan itu semua terhadap anaknya.


"Saya sudah melakukan visum pa dan menunjukkan jika bekas luka-luka itu di derita oleh Dena belasan tahu silam." Edgar menunjukkan hasil visum tersebut pada tuan Winata hingga membuat laki-laki paruh baya itu nampak semakin frustrasi.


Kemudian Juno memutar kembali beberapa potongan video cctv saat Dena mengiggau dalam tidurnya. Wanita itu terlihat ketakutan saat ibu tirinya mulai menyiksanya.


Tuan Winata terlihat sangat geram, ia tak menyangka istrinya bisa setega itu terhadap putrinya. Hingga membuat anaknya itu mengalami trauma berkepanjangan.


"Maafkan Papa, Nak. Maafkan Papa." Tuan Winata tak kuasa menahan air matanya seakan ia juga ikut merasakan kesakitan yang Dena rasakan selama ini.


"Maafkan aku sayang, aku sudah menyia-nyiakannya amanatmu." imbuhnya lagi seraya menundukkan kepalanya lalu meremas rambutnya dengan kasar.


Tuan Winata terlihat sangat menyesal, tubuhnya nampak bergetar karena menahan isak tangisnya.


"Di mana putriku sekarang ?" tanya tuan Winata setelahnya.


"Maksud Papa, Dena ?" tanya balik Edgar.


"Tentu saja, bukannya putriku hanya satu dan Sera serta ibunya harus menerima hukuman yang setimpal karena telah menipuku selama ini." geram tuan Winata.


"Dena tinggal di Bali pa, di Villa keluarga kami." sahut Edgar.


"Dena pasti sangat membenci Papa." ucap tuan Winata seraya beranjak dari duduknya kemudian ia mengambil sebuah dokumen dari atas mejanya.


Setelah membacanya sekilas kemudian ia nampak membubuhkan tanda tangannya.


"Berikan pada Dena, mulai hari ini perusahaan ini seratus persen menjadi miliknya. Begitu juga dengan seluruh hartaku." ucapnya kemudian seraya menyerahkan dokumen tersebut pada Edgar.


"Apa Papa yakin ?" tanya Edgar memastikan.


"Sangat yakin." sahut Tuan Winata.


"Terima kasih, Pa. Dena memang pantas mendapatkannya." Edgar nampak lega, akhirnya perjuangannya mendapatkan keadilan untuk sang istri telah berhasil.

__ADS_1


Setelah itu Edgar segera berlalu pergi meninggalkan kantor ayah mertuanya itu.


"Kita langsung ke Bali, tuan? nyonya Dena pasti akan senang mendengar berita ini." ucap Juno setelah mereka berada di dalam mobilnya.


"Pulang ke Apartemen saya saja." sahut Edgar.


"Kenapa tidak pulang ke rumah saja, tuan ?" ucap Juno mengingat atasannya itu sudah lama meninggalkan rumahnya semenjak tinggal di Bali.


"Itu bukan rumah saya lagi Jun, itu milik Elkan dan Dena." sahut Edgar.


"Tuan, jangan bilang anda akan...."


"Hari itu sudah tiba, Jun. Saya tidak akan menahan Dena lagi, karena tujuannya menikahiku sudah tercapai. Jadi saya akan melepaskannya." potong Edgar dengan suara bergetar.


"Tuan..."


"Saya sangat lelah Jun, bisakah kamu antar saya ke Apartemen." sela Edgar kemudian.


"Baik, tuan." angguk Juno patuh, ia masih tidak menyangka atasannya itu membuat keputusan seperti itu.


Kalau memang cinta, kenapa tidak di kejar. Kenapa justru menyakiti diri sendiri? sungguh Juno sama sekali tidak mengerti dengan sikap bossnya itu.


Dari kaca spion Juno nampak memperhatikan Edgar yang terlihat murung, nampak kesedihan yang begitu mendalam dalam matanya.


"Tuan, lalu bagaimana dengan Elkan ?" ucap Juno membuka suara, semoga saja atasannya itu merubah keputusannya demi putranya tersebut.


"Dia tetap akan menjadi putra kesayanganku dan Dena, Jun. Meski kami tidak bersama lagi, tapi bukan berarti kami tidak bisa menjadi partner dalam membesarkan Elkan." sahut Edgar.


"Kami akan membesarkannya bersama-sama, meski jalan kami sudah berbeda." imbuhnya lagi.


Keesokan harinya....


Pagi itu Dena terlihat gelisah, semenjak kepergian suaminya kemarin laki-laki itu sama sekali tidak bisa di hubungi hingga sekarang.


"Sayang, kamu kemana sih. Juno juga tidak aktif." gerutunya.


Dena nampak beberapa kali menghubungi ponsel Edgar hingga Juno, namun keduanya tidak ada yang menjawab.


Hingga sore hari Dena sama sekali belum mendapatkan kabar, kemudian ia segera mengemasi pakaiannya. Ia takut terjadi sesuatu dengan suaminya itu.


Ia jadi menyesal kenapa sebelumnya tidak meminta nomor ponsel ibu mertuanya itu.


Beberapa saat kemudian, terdengar bel berbunyi. Dena yang mengira itu suaminya ia segera berlari menuruni tangga.


"Biar saya saja, Bik." ucapnya terengah-egah saat ARTnya itu akan membuka pintu.

__ADS_1


"Sayang." seru Dena saat baru membuka pintu, namun senyumnya langsung menyurut ketika ia tak melihat suaminya di sana.


"Ju-Juno, di mana suamiku ?" ucapnya kemudian saat ia hanya melihat Juno seorang diri.


__ADS_2