Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~96


__ADS_3

"Mama mau kemana ?" Ariana terkejut ketika melihat nyonya Anggoro mengambil kopernya.


"Tentu saja menyusul Papamu, dia mana bisa hidup sendiri. Meski selama ini aku tak melayaninya dengan baik tapi ada pelayan yang selalu mengurusnya." sahut nyonya Anggoro sembari menyusun beberapa lembar pakaiannya ke dalam koper.


"Memang Mama tahu di mana Papa sekarang ?" tanya Ariana yang langsung membuat Nyonya Anggoro menatapnya.


"Seingat Mama beberapa tahun yang lalu saat Demian menolak memberikannya seorang cucu, Papamu memutuskan membeli sebuah perkebunan di kampung. Ia berencana akan menghabiskan hari tuanya di sana, sangat konyol memang tapi katanya itu lebih baik." sahut nyonya Anggoro.


"Mama tahu tempatnya ?"


"Hm, Mama pernah kesana sekali meski waktu itu dengan terpaksa tapi sekarang Mama kira tempat itu lebih baik untuk memulai hubungan kami kembali. Terima kasih Ariana, kamu mengajarkan banyak hal pada Mama."


"Jadi Mama memaafkan Papa ?"


"Mama sudah merenungkan banyak hal beberapa hari ini, Mama menyadari ternyata selama ini Mama banyak kekurangan, lagipula kami sudah sama-sama berumur perpisahan bukanlah keputusan yang tepat." sahut nyonya Anggoro yang nampak lebih tegar daripada sebelumnya.


"Ma maaf, lalu bagaimana dengan anak itu..."


"Hati Mama tak seluas itu untuk menerimanya Ariana, melihatnya hanya akan mengungkit luka saja. Biarlah dia berada di tempat semestinya, karena Mama yakin Demian juga pasti belum bisa menerimanya." sahut nyonya Anggoro berbesar hati.


"Ariana mengerti perasaan Mama, maaf sebelumnya kalau Ariana terlalu lancang ikut campur." Ariana nampak menyesal, karena sebelumnya ia hanya memikirkan bagaimana memposisikan dirinya sebagai seorang ibu dan bukan sebagai istri.


"Mama tahu hatimu lebih luas, sayang. Kalau tidak, mungkin kamu tidak akan bisa menerima Demian lagi yang sudah banyak memberikan mu luka." ucap nyonya Anggoro dengan senyum tipisnya.


Mendengar perkataan ibu mertuanya, Ariana nampak berkaca-kaca.


"Ariana sayang sama Mama." Ariana langsung berhambur ke pelukan ibu mertuanya tersebut.


"Mama juga sayang sama kamu, harusnya Mama melakukannya dari dulu." nyonya Anggoro nampak mengusap punggung Ariana, menantu yang sudah banyak ia sakiti hatinya namun masih dengan tulus menyayanginya.


Mereka nampak saling berpelukan berbagi kekuatan serta kasih sayang bagaikan seorang ibu dan putrinya.


Beberapa saat kemudian nyonya Anggoro nampak meninggalkan kediamannya tersebut bersama sopirnya.


"Terima kasih, Tuhan." Ariana tak henti-hentinya bersyukur atas perubahan ibu mertuanya tersebut.


"Lebih baik sekarang aku pergi ke kantor mas Demian saja sekalian membawakannya makan siang." gumam Ariana seraya menatap sebuah dokumen di tangannya.

__ADS_1


Sebuah dokumen yang berisi semua aset yang di miliki oleh tuan Anggoro kini di serahkan pada Demian beserta ibunya dan laki-laki tua itu pergi hanya membawa beberapa pakaiannya saja.


Sesampainya di kantor suaminya, Ariana melangkahkan kakinya masuk. Perutnya yang kini semakin membuncit membuatnya cepat kelelahan. Padahal kandungannya baru memasuki bukan ke enam, namun karena hamil anak kembar perutnya terlihat lebih membesar.


"Apa tuan ada di dalam, mbak ?" tanya Ariana pada sekretaris Demian.


"Maaf Bu, tuan Demian baru saja keluar makan siang." sahut wanita bergaya tomboi tersebut.


"Bersama Victor ?" tanya Ariana.


Ia melihat jam di pergelangan tangannya, baru pukul 11 siang dan belum masuk jam makan siang. Apa suaminya tadi melewatkan sarapan paginya? Ariana jadi menyesal kenapa tak membawakannya bekal saja.


"Tuan Victor sedang menggantikan tuan meeting di luar."


"Memang tuan sangat sibuk ya? apa tadi tuan sempat sarapan ?" tanya Ariana lagi.


"Beberapa hari ini beliau memesan sarapan di kantin, Bu."


"Syukurlah." Ariana nampak menghela napas lega, karena sesibuk-sibuknya suaminya tapi tak melewatkan jam makannya.


"Tapi ini baru pukul 11 tapi kenapa sudah pergi makan siang mbak, apa tuan juga sedang ada meeting di luar ?" lanjut Ariana lagi.


"Bu Dinda? apa karyawan di sini juga ?" Ariana nampak menaikkan sebelah alisnya penasaran.


"Bukan Bu, beliau dari perusahaan lain yang sedang bekerja sama dengan proyek tuan Demian saat ini. Tadi selepas meeting di sini, mereka memutuskan untuk makan siang bersama." sahut sekretaris tersebut menjelaskan.


"Tapi ini belum jam makan siang." gumam Ariana.


"Apa sebelumnya mereka sering makan siang bersama ?" tanya Ariana kemudian.


"Setahu saya baru kali ini Bu, tapi kalau bertemu saat meeting akhir-akhir ini sering karena perusahaan kami sedang melakukan kerja sama."


"Baiklah terima kasih, apa tuan memberitahukan makan siang dimana ?"


"Kalau tidak salah tadi katanya di The Palace restaurant, Bu."


"Terima kasih ya mbak, kalau begitu saya permisi." ucap Ariana kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.

__ADS_1


"Tenanglah Ariana, Mas Demian tidak akan macam-macam di luar sana."


Ariana mencoba untuk berpikir positif demi kedua janin didalam perutnya.


Kemudian ia segera masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukannya menuju sebuah restaurant di mana suaminya itu sedang makan siang bersama koleganya.


Sesampainya di restoran tersebut Ariana melihat mobil suaminya terparkir disana, itu berarti laki-laki itu sedang berada di dalam.


Dengan tenang Ariana melangkahkan kakinya masuk ke dalam restaurant tersebut yang terlihat agak sepi karena memang belum masuk jam makan siang.


Kemudian ia mengambil tempat duduk tak jauh dari meja suaminya dengan menjadikan buku menu sebagai penutup wajahnya.


Ia tak ingin gegabah melabrak suaminya tersebut tanpa bukti yang akurat. Itu sama aja dengan mempermalukan dirinya sendiri.


Dari balik buku menu Ariana mengawasi sang suami yang nampak duduk berhadapan dengan seorang wanita dewasa dan cantik. Sepertinya mereka sedang minum kopi bersama, terlihat dua cangkir kopi yang masih mengepul asapnya.


Mereka terlihat akrab dan sepertinya mereka sudah cukup lama kenal, karena nampak tak ada kecanggungan di antara keduanya.


Lalu Ariana memesan segelas air mineral dingin, semoga saja air es bisa mendinginkan suasana hatinya saat ini.


Meski tak ada yang mencurigakan dari mereka berdua, tapi berduaan dengan lawan jenis tetap saja membuka celah terjadinya awal perselingkuhan.


Apalagi akhir-akhir ini Demian sedang bermasalah dengan keluarganya dan laki-laki itu sama sekali tak mau berbagi keluh kesah dengannya dan lebih memilih menghindar.


Ariana takut kalau suaminya justru menjadikan orang lain sebagai tempatnya menumpahkan segala masalahnya.


Hampir 20 menit Ariana duduk disana, tapi tak ada hal yang mencurigakan. Mereka hanya membahas tentang pekerjaan yang nampak rumit dan itu membuat hatinya sedikit lega karena tak ada pembahasan yang mengarah pada masalah pribadi.


"Mbak Ariana ?" terdengar seseorang memanggil namanya dengan nyaring.


Ariana yang terkejut langsung menoleh mencari asal suara tersebut, di lihatnya Nina yang baru masuk dari arah belakang nampak tersenyum menatapnya, di lihat dari pakaiannya sepertinya gadis itu bekerja di restoran ini.


"Ah, sial nih anak." umpat Ariana dalam hati, kemudian ia segera bangkit dari duduknya, lalu bergegas keluar dari restoran tersebut dengan menutupi wajahnya dengan tasnya.


Semoga saja suaminya itu tidak melihatnya dan menuduhnya sedang menguntitnya diam-diam. Meskipun kenyataannya memang seperti itu.


Ariana tidak mau hanya karena cemburu buta ia akan menghancurkan proyek suaminya, karena laki-laki itu bekerja keras juga untuk dirinya dan anak-anaknya. Kecuali suaminya terbukti berselingkuh lain lagi ceritanya.

__ADS_1


Namun ketika ia baru keluar dari restoran tersebut, tiba-tiba tangannya di cekal oleh seseorang dari belakang.


"Mampus, aku."


__ADS_2