
"Bapak kan lagi jalan-jalan sama kekasihnya bapak, saya juga lagi jalan-jalan nih pak kali aja ada pria tampan yang cocok menjadi papanya Elkan." sahut Dena dengan tersenyum manis, namun itu justru membuat Edgar langsung menatapnya geram.
Mendengar perkataan Dena, Edgar mendadak emosi. Ia langsung mendorong wanita itu ke tembok lalu menghimpitnya.
"Bapak apa-apan sih, lepaskan saya." teriak Dena kesal, ingin sekali ia memukul laki-laki itu namun apa daya Edgar mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Hanya saya yang berhak menjadi ayahnya Elkan, mengerti ?" tegas Edgar.
"Belum tentu juga bapak itu Ayahnya Elkan, karena setiap saya mabuk saya tidak ingat sudah tidur dengan siapa." dusta Dena.
"Kamu...." Edgar yang tercengang langsung merenggangkan cengkeramannya hingga membuat Dena bisa terbebas darinya.
"Jadi lebih baik bapak fokus dengan pertunangan bapak daripada mengganggu anak saya terus menerus." sela Dena, kemudian ia segera meninggalkannya.
Edgar nampak mengeraskan rahangnya, kemudian ia menghubungi seseorang.
"Jun, percepat tes DNA itu bagaimana pun caranya." perintahnya saat menghubungi asistennya tersebut.
"Jangan pernah bermain-main dengan ku sayang." geram Edgar seraya melihat kepergian Dena.
Sesampainya di playground, Dena nampak terkejut saat tak melihat Elkan maupun Bik Mina di sana.
"Astaga di mana kamu, Nak."
Dena mencoba menghubungi bik Mina namun panggilannya tak kunjung di jawab, kemudian ia mencoba untuk menyisiri Mall tersebut.
Mungkin saja Bik Mina mengajak Elkan yang sudah bosan bermain untuk berjalan-jalan di sekitar sana.
Saat Dena melewati butik mewah yang di gunakan oleh Edgar dan Sera fitting baju tadi, ia melihat putra dan pengasuhnya berada di sana.
"Oh astaga, apa yang mereka lakukan di sana ?"
Dena langsung menyembunyikan dirinya di balik pilar agar keberadaannya tak di ketahui oleh keluarganya maupun keluarga Edgar. Namun ia masih bisa mencuri dengar obrolan mereka di dalam butik tersebut.
"Astaga anaknya siapa, Kris ?" tanya Putri saat Kristal putri sulungnya membawa seorang bayi lucu dan montok ke dalam butik tersebut.
"Ini loh Ma anak kecil yang ku ceritakan waktu itu yang wajahnya mirip banget dengan Edgar, kebetulan tadi aku ketemu di playground sana." sahut Kristal.
"Pa-pa." ucap Elkan saat melihat King yang sedang duduk di sofa bersama tuan Winata, Elkan nampak mengulurkan kedua tangannya pada King. Sepertinya bocah kecil itu minta di gendong.
"Astaga dia memanggilku Papa, sepertinya aku masih cocok memiliki bayi lagi sayang." seloroh King yang langsung mendapatkan cubitan di perutnya dari Putri istrinya.
"Sakit, sayang." teriak King mengaduh kesakitan.
"Makanya jangan sembarangan kalau bicara, tidak malu apa sama cucu." ketus Putri.
King nampak terkekeh kemudian ia membawa Elkan ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Pa-pa." ucap Elkan lagi seraya menatap King yang wajahnya mirip sekali dengan Edgar.
"Papa? panggil opa sayang bukan Papa." ucap King yang terlihat gemas, kemudian ia menciumi pipi gembul El hingga membuat bocah kecil itu nampak tertawa kegelian.
"Maaf tuan, El memang suka memanggil semua laki-laki dengan panggilan Papa." ucap Bik Mina.
"Memang dia anaknya siapa Kris ?" tanya Putri penasaran.
"Nggak tahu Ma, orang waktu itu kita ketemunya di supermarket." sahut Kristal.
"Loh kak Kristal di sini juga ?" ucap Edgar saat baru masuk ke dalam butik tersebut.
"Coba kamu lihat kakak bawa siapa." Kristal langsung menarik tangan Edgar lalu membawanya ke arah sang ayah.
Deg!!
"Elkan."
"Pa-pa." panggil Elkan saat melihat Edgar, bocah kecil itu langsung mengulurkan kedua tangannya minta gendong oleh Edgar.
"Astaga dia memanggilmu Papa juga." ucap Putri sembari terkekeh.
"Dia memang anakku, Ma." batin Edgar seraya membawa Elkan dalam gendongannya.
"Kenapa anakku bisa ada di sini ?" batinya lagi.
"Ku tebak nggak lama nih bocah pasti tidur." ucap Kristal saat melihat Elkan menguap dalam gendongan Edgar.
"Kenapa kalian bisa mirip banget sih, jadi penasaran siapa orangtuanya." kepo Putri seraya mengusap gemas pipi Elkan yang gembul.
"Nanti anak kami pasti juga tak kalah tampan dengan dia, tante." kali ini Sera yang menimpali, ia nampak tak suka melihat kedekatan Edgar dengan bayi tak di kenal itu.
"Tentu saja sayang, kalian kan pasangan serasi. Pasti anak-anak kalian nanti cantik dan juga tampan." ujar nyonya Sita ikut menimpali.
"Maaf ya Nak, Papa belum bisa jujur siapa kamu sebenarnya."
Edgar mengusap lembut punggung Elkan yang nampak tertidur pulas dalam gendongannya.
Ingin sekali ia memberitahu mereka semua jika bayi yang dia gendong itu adalah putra kandungnya.
Namun ia tidak bisa melakukannya karena demi keselamatan putranya juga, jika sampai Sera dan ibunya tahu pasti mereka tidak akan tinggal diam.
Sebenarnya bisa saja Edgar langsung menikahi Dena untuk melindungi wanita itu dan juga anaknya, namun Edgar belum tahu bagaimana perasaan wanita itu.
Apalagi jika orangtuanya yang sudah terlanjur berprasangka buruk terhadap Dena mengetahui hubungannya dengan wanita itu, mereka pasti tidak akan setuju karena saat ini hanya Sera wanita terbaik menurut mereka.
Untuk itu Edgar harus mencari bukti kesalahan Sera dan Ibunya, agar kedua orangtuanya tahu jika Dena tidak seperti yang mereka pikirkan.
__ADS_1
"Maaf tuan, majikan saya kirim pesan. Saya harus segera membawa El kesana." ujar bik Mina saat baru menerima pesan singkat dari Dena.
"Biar saya yang mengantarnya." sahut Edgar, rasanya tidak tega harus berpisah dengan putranya yang sedang tertidur itu.
"Sayang, kita belum selesai loh fitting bajunya." cegah Sera.
"Bukannya sudah selesai ?" tanya Edgar.
"Itu kan kamu sayang, sedangkan aku belum dan kamu harus lihat gaunnya cocok atau tidak." bujuk Sera dengan nada memohon.
"Iya Nak Edgar masa kamu lebih mentingin bayi yang nggak di kenal itu, daripada calon istrimu sendiri." bujuk nyonya Sita.
Edgar nampak menghela napas panjangnya, kemudian dengan berat hati ia meletakkan Elkan di dalam strollernya.
Setelah Elkan di bawa pergi oleh bik Mina menuju parkiran mobilnya, Dena nampak keluar dari persembunyiannya. Ia segera berlalu mengejar putranya tersebut.
Brukkk
Karena terburu-buru Dena nampak menabrak seseorang tepat di depan butik tersebut hingga membuat Edgar dan keluarganya menoleh ke arah mereka.
"Maaf saya tak sengaja." ucap Dena, namun ia terkejut saat melihat siapa yang di tabrakannya itu.
"Astaga Dena, kamu baik-baik saja ?" tanya Arhan khawatir seraya membantu Dena berdiri.
"Hm." sahut Dena dengan kesal, malas sekali ia bertemu mantan suaminya itu.
Saat dia akan pergi tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Dena, Arhan ?" panggil Pak Winata terkejut, sudah lama sekali ia tak melihat mantan menantunya itu.
"Papa." sahut Arhan.
"Kalian jalan berdua ?" tanya pak Winata lagi.
Dena menghela napasnya kasar, malas sekali ia bertemu dengan keluarganya. Namun saat melihat Sera bergelayut manja di lengan Edgar, ia jadi mendadak emosi.
"Iya, kami jalan berdua." sahut Dena seraya memegang lengan Arhan yang langsung membuat laki-laki itu terkejut, namun kemudian ia tersenyum senang.
Sedangkan tuan Winata nampak mengulas senyumnya. "Papa harap kalian bisa rujuk kembali." ucapnya saat melihat kedekatan mereka.
Sungguh Dena sangat merindukan senyum ayahnya, kapan terakhir pria itu tersenyum padanya ia sampai tidak ingat.
"Aku merindukanmu, Pa." batin Dena menatap sang ayah.
"Do'akan saja Pa, kami bisa segera rujuk." sahut Arhan seraya menatap Dena.
Sedangkan Edgar yang melihat itu nampak geram, sepertinya ia harus gerak cepat sebelum mereka beneran rujuk.
__ADS_1