
"Apa dia putriku ?" ucap Martin yang langsung membuat Sera melotot menatapnya.
Namun setelah itu ia segera bersikap biasa saja agar pria itu tidak semakin curiga padanya.
"Saya tidak mengerti apa yang sedang anda bicarakan, tuan." sahut Sera.
"Apa Merry putriku ?" tegas Martin lagi seraya menatap Sera lekat, meski suasana di dalam mobil nampak temaram ia bisa melihat bagaimana wanita itu terlihat gusar.
Deg!!
"Apa dia sudah bertemu dengan Merry? tentu saja Mattew pasti sudah membawanya ke rumah kemarin karena sebelumnya aku menolak menjual lahan itu."
"Tentu saja Merry putri saya dengan mendiang suami saya, tuan." sahut Sera meyakinkan.
"Jadi kamu sudah menikah ?" Martin nampak terkejut, namun ia bisa mengerti wanita mana yang betah melajang hingga usia kepala tiga.
"Benar tuan dan saya benar-benar tidak mengenal anda sebelumnya. Delapan tahun yang lalu saya menikah dengan tuan Mauren kekasih saya dan setelah itu saya hamil dan melahirkan Merry. Jadi tolong jangan sangkut pautkan lagi saya dengan seseorang yang anda maksud itu dan untuk masalah lahan sampai kapanpun saya tidak akan menjualnya." sahut Sera beralibi panjang lebar, ia berusaha meyakinkan Martin agar mempercayainya ucapannya.
Lagipula sebagian besar yang di ucapkannya memang benar adanya, dulu setelah di bawa oleh tuan Mauren dari hutan, laki-laki itu langsung menikahinya.
Saat itu tuan Mauren merasa kasihan padanya dan Sera terpaksa menerima pernikahan itu demi mempermudah proses administrasi di negara tersebut.
Mereka saat itu hanya menikah di atas kertas, namun saat Merry lahir tak berapa lama kemudian tuan Mauren meninggal karena penyakit jantung yang sudah lama di deritanya.
Sampai sekarang Sera sangat bersyukur pernah bertemu dengan tuan Mauren, seandainya pria itu masih hidup ia pasti akan berusaha mencintainya.
Martin nampak mengeraskan rahangnya, ia sudah berharap Merry adalah putrinya tapi perkataan wanita yang bernama Mauren itu seketika mematahkan harapannya.
Setelah itu tak ada lagi perbincangan di antara mereka hingga sampai Mattew menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Sera.
"Terima kasih tuan, sudah mengantarkan saya sampai rumah." ucap Sera saat akan turun dari mobil tersebut.
"Hm." sahut Martin tanpa menatap Sera, ia terlihat fokus dengan ponselnya.
Sera yang melihat itu nampak menghela napasnya dengan pelan, setelah itu ia segera turun dari mobilnya.
Saat Sera melangkahkan kakinya menuju rumahnya, Martin nampak menatap lekat wanita itu.
"Matt, selidiki wanita itu sedetil mungkin." perintahnya kemudian.
"Baik tuan, lalu bagaimana dengan lahan ini tuan apa anda masih menginginkannya ?" balas Mattew.
__ADS_1
"Kita bicarakan nanti setelah tes DNA itu keluar." sahut Martin.
"Baik, tuan."
Setelah Sera hilang di balik pintu, Mattew segera melajukan mobilnya kembali.
Keesokan harinya....
"Bunda, apa bunda setuju kalau Merry mempunyai Daddy ?" tanya Merry pagi itu.
"Benar Bunda, sekarang kita semua sudah mempunyai Daddy." timpal Eric, bocah 9 tahun itu terlihat sangat senang saat mengingat bagaimana ia dan saudara lainnya bermain seharian dengan Martin kemarin.
"Daddy ?" Sera nampak mengernyit tak mengerti.
"Iya Bunda, Daddy Martin. Daddy sangat baik pada kita semua." sahut Eric.
"Apa ?" Sera nampak terkejut, ternyata perkiraannya benar. Martin sudah datang ke rumah ini kemarin, tiba-tiba ia langsung emosi.
"Sudah berapa kali Bunda bilang, kalian jangan pernah berbicara pada orang asing. Kenapa kalian tidak mendengarkan bunda ?" ucapnya lagi dengan sedikit menaikkan oktaf suaranya hingga membuat keenam anak-anaknya tersebut ketakutan karena ibunya tersebut jarang sekali marah.
"Bunda jangan marah, Merry takut." ucap Merry seraya memeluk pinggang ibunya.
"Alex minta maaf bun, Alex yang salah tidak bisa menjaga adik-adik." ucap Alex kemudian.
"Maafkan, bunda. Bukannya kalian sudah tahu jika Daddy kalian sudah tiada, jadi jangan pernah lagi dekat dengan orang asing. Karena kita tidak tahu mereka benar-benar baik atau hanya pura-pura baik. Sungguh Bunda tidak ingin kalian kenapa-kenapa, hanya kalian yang bunda miliki sekarang." ucap Sera sambil terisak, ia sangat menyesali telah membentak anak-anaknya tadi.
"Kami juga sangat menyayangi bunda." sahut Alex yang di ikuti oleh kelima adiknya, mereka nampak berhambur ke pelukan Sera.
"Maafkan bunda Nak, tak seharusnya kalian mengharap pada sesuatu yang memang bukan milik kalian." gumam Sera sembari memeluk anak-anaknya tersebut.
Beberapa hari kemudian, Sera merasa tenang karena tidak ada lagi yang datang ke rumahnya untuk menawar lahannya kembali.
Kini ia bisa fokus menyelesaikan gaun pernikahan Lusi dan Martin, ia berharap mereka segera menikah hingga Martin tak lagi mengusik hidupnya.
Sementara itu Martin yang sedang berada di ruang kerjanya, nampak tersenyum sinis saat mendapatkan informasi dari Mattew.
"Sera Mauren." ucapnya seraya memegang lembaran kertas di tangannya.
"Benar, tuan. Tapi selama ini beliau lebih sering di panggil nyonya Mauren. Delapan tahun yang lalu beliau menikah dengan tuan Mauren dan enam bulan kemudian melahirkan seorang putri." ucap Mattew menjelaskan.
"Jadi benar mereka telah menikah ?" Martin nampak mengeraskan rahangnya, selama delapan tahun ia seperti orang bodoh mencari Sera tapi wanita itu justru menikah dengan laki-laki lain.
__ADS_1
"Benar tuan, tapi tidak lama kemudian tuan Mauren meninggal karena sakit jantung yang sudah lama di deritanya. Sejak saat itu nyonya Sera Mauren bekerja keras menghidupi keenam anak-anaknya." sahut Mattew.
"Baiklah, siapkan mobil kita kesana sekarang." perintah Martin kemudian seraya bangkit dari duduknya.
Sesampainya di rumah Sera, Martin nampak keluar dari dalam mobilnya. Laki-laki itu terlihat tampan dengan setelah kemeja yang membalut pas tubuh kekarnya serta kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.
"Mau apa anda kesini ?" ucap Sera saat baru membuka pintu, hari masih pagi apa laki-laki itu tidak bekerja.
Ia tadi mandi dengan terburu-buru saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi beberapa kali, ia pikir itu adalah pelanggan yang akan mengambil pakaiannya.
Martin nampak melepaskan kacamatanya lalu memindai wanita di hadapannya itu yang sepertinya baru selesai mandi.
Sera nampak memakai kimono mandi selutut dan membungkus rambutnya dengan handuk, seketika ia langsung menelan ludahnya karena pikiran kotor mulai merasuk pikirannya.
"Sialan."
"Tidak baik membiarkan seorang tamu berdiri saja di luar." sindir Martin.
"Saya tidak pernah merasa mempunyai tamu, tuan. Jadi katakan ada kepentingan apa anda datang kemari ?" sahut Sera tak ramah.
"Tentu saja menemui putriku." sahut Martin.
"Sudah saya bilang saya tidak mengenal anda sebelumnya dan Merry adalah anak saya dengan mendiang suami saya." Sera terlihat geram karena ternyata Martin belum juga menyerah.
"Kita lihat saja setelah tes DNA itu keluar." sahut Martin dengan nada mengejek.
"A-apa ?" Sera langsung terkesiap, ia merasa kecolongan.
"Aku sangat lelah, sepertinya istirahat sebentar membuatku nyaman." Martin nampak memaksa masuk ke dalam rumah Sera saat wanita itu terlihat diam mencerna perkataannya tadi.
Saat merasa bahunya sedikit terdorong oleh tubuh Martin yang memaksa masuk, Sera baru tersadar dari lamunannya.
"Tuan, siapa yang mengijinkan anda masuk ke dalam rumah saya ?" teriaknya saat melihat Martin sudah duduk di ruang tamunya dengan santai.
"Aku sedang menunggu putriku pulang sekolah." sahut Martin dengan tersenyum mengejek menatap Sera.
"Ka-kamu ?" Sera nampak bersungut-sungut.
Dengan langkah pasti ia berjalan mendekati Martin, meraih tangan kekarnya itu lalu menariknya dengan kuat agar laki-laki itu segera pergi dari sana.
Sungguh ia sangat kesal saat ini dan jalan satu-satunya adalah mengusir pria itu dari rumahnya.
__ADS_1
Namun apadaya Sera yang berbadan kurus justru kini duduk di pangkuan laki-laki itu setelah sebelumnya Martin menariknya hingga wanita itu berbalik jatuh ke arahnya.