
Sebulan berlalu sejak kedatangan CEO baru di kantornya, Dena tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki itu karena mereka berada di lantai yang berbeda. Semoga saja selamanya tidak pernah bertemu, pikirnya.
Laki-laki tampan seperti Edgar dan Arhan mantan suaminya hanya tipe-tipe pria pemberi harapan palsu pada perempuan dan ia membenci mereka.
"Eh guys, kalian tahu nggak gue baru melihat siapa ?" Anggi teman kerja Dena yang baru masuk ke dalam ruangannya nampak sangat senang macam dapat kocokan arisan saja.
"Siapa? palingan juga pak Rian." tebak Nay.
Pak Rian adalah atasannya, kepala bagian departemen keuangan yang selalu rajin masuk kerja meski hari sabtu seperti saat ini.
"Idih, kalau dia melihat pak Rian yang ada seluruh wajahnya akan tertera seluruh nominal kas bonnya." cibir Dena, ia memang selalu nyablak kalau menyangkut ledek meledek teman.
"Kalau itu mah nggak usah di bahas, Mali." kesal Anggi, dirinya memang satu-satunya karyawan yang sering sekali ngebon di kantor akibat mengikuti gaya hidupnya yang hedon.
"Eh yang ngatain loe si Dena, ngapain bawa-bawa nama gue." Kali ini Marlina asistennya pak Rian yang menimpali.
Sedangkan Dena, Nay dan Anggi nampak terkekeh, sungguh wanita kaku itu susah sekali di ajak becanda.
"Ngomong-ngomong loe tadi memang habis melihat siapa ?" Nay yang masih penasaran akhirnya bertanya juga.
"Iblis tampan." sahut Anggi.
"Hah, loe nggak lagi demam kan ?" celetuk Dena, memang ada iblis di siang bolong begini.
"Cewek macam loe, mana ngerti iblis tampan." cibir Anggi.
"Loe yakin Nggi? sumpah demi apa? ini hari sabtu loh." Nay nampak terkejut, tumben sekali CEO barunya itu masuk kerja di hari sabtu.
"Sumpah demi kas bonku bertambah lagi. Kamu tahu, beliau cuma mengenakan kaos olahraga yang sudah setengah basah. Duh rahimku mendadak hangat nih." sahut Anggi antusias.
Nay yang penasaran ia segera beranjak dari kursi kerjanya lantas melangkahkan kakinya keluar, namun Dena langsung menarik bajunya hingga wanita itu mundur kembali. Bahkan kini terduduk lagi di kursinya.
"Mau kemana loe ?" tanya Dena yang masih bingung dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
"Tentu saja lihat iblis tampan itu, Dena." sahut Nay kesal.
"Sebentar deh dari tadi kalian ngomongin iblis tampan, memang dia siapa ?" tanya Dena penasaran.
"CEO baru kita lah, masak loe nggak tahu." Kali ini Marlina yang menimpali.
"Nah itu sih Mali aja tahu, makanya jadi janda itu yang update dikit tentang cowok-cowok cakep Dena. Memang loe tidak ingin nyarikan anak loe bapak baru." cibir Nay.
"Eh sorry ya, meski janda. Gue janda terhormat ya, memang kalian perawan tapi lihat cowok cakep dikit langsung banting harga." cibir Dena tak kalah pedas.
__ADS_1
Mungkin bagi orang yang tak mengenal mereka bertiga, di kira sedang berantem. Tapi begitulah mereka sama-sama punya mulut nyablak dan becandanya suka di luar batas.
Hanya Marlina satu-satunya karyawan wanita pendiam di ruangan itu.
"Aku juga rela banting harga kalau dapatnya pak Edgar, kapan lagi punya cowok setampan dia tajir melintir lagi." ujar Anggi.
"Memang tuh laki mau sama kalian ?" ledek Dena.
"Ck, kamu merusak hayalanku saja." sewot Anggi.
"Lagipula tuan Edgar memang pantas kok di hayalin, selain tampan beliau juga mempunyai bentuk tubuh yang proposional. Gimana ya rasanya bersandar di dada bidangnya itu ?" timpal Nay membayangkan.
"Keras." celetuk Dena yang langsung membuat Anggi, Nay dan Marlina menatap ke arahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu, tentu saja keraskan kalau empuk itu kasur namanya." ucap Dena beralasan.
Padahal ia tadi teringat peristiwa dua tahun yang lalu, bagaimana ia dan Edgar pernah menghabiskan malam bersama.
Tentu saja Dena tahu dada bidang Edgar sangat keras, karena dia pernah merasakannya.
"Oh ya benar, pasti keras dan liat." sahut Anggi membenarkan.
"Kalau gue membayangkan bibir seksinya, pasti beliau sangat ahli berciuman. Duh, bagaimana rasanya ya ?" ucap Anggi lagi.
"Engap? apanya yang engap ?" tanya Nay tak mengerti.
"Maksudku hawa di sini tiba-tiba engap." sahut Dena sembari terkekeh.
Padahal ia tadi sedang mengingat bagaimana waktu itu Edgar sudah menciumnya dengan rakus hingga membuatnya engap bahkan hampir kehabisan napas.
Meski malam itu Dena sedang mabuk tapi ia masih mengingat bagaimana panasnya percintaan mereka malam itu, bahkan saat dirinya terbangun keesokan paginya laki-laki itu masih memeluknya dengan posesif.
"Stop Dena, berhenti memikirkan laki-laki itu. Dia bukan hanya iblis tampan tapi juga pasti bajingan." gumam Dena mengingatkan dirinya sendiri agar tidak semakin jatuh pada pesona bos barunya itu.
"Marlina ayo ikut saya kita ada meeting di ruangan pak Edgar." perintah pak Rian saat baru masuk ke dalam ruangan para karyawannya tersebut.
"Dan buat kalian bertiga jangan pulang dulu." ucapnya lagi seraya menatap Dena, Nay dan Anggi bergantian.
"Tapi pak, bukannya hari ini kita lembur setengah hari saja." protes Dena, padahal hari ini ia mau pulang cepat karena dari pagi putranya sangat rewel di rumah.
"Tidak bisa Dena, karena jika ada berkas yang salah kalian harus segera memperbaikinya. Kalian tahu sendirikan kalau pak Edgar tidak menerima kesalahan sekecil apapun apalagi menunda-nunda pekerjaan." tegas pak Rian, setelah itu beliau segera meninggalkan ruangan tersebut yang di ikuti oleh Marlina di belakangnya.
"Ck, benar-benar iblis memang. Mengerjakan karyawan di hari sabtu itu sungguh melanggar HAM tau nggak." sungut Dena seraya menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya kembali.
__ADS_1
"HAM? kayak loe di perkosa saja." ledek Nay.
"Hak asasi mager maksud gue, harusnya hari ini gue bisa rebahan seharian bareng Elkan." sahut Dena, ia jadi merindukan Elkan buah hatinya itu.
Belum sampai 30 menit Marlina nampak masuk kembali ke dalam ruangannya tersebut dengan tergesa-gesa.
"Eh guys...." Marlina nampak ngos-ngosan.
"Cepat amat balik, ada yang salah dengan laporannya ?" tanya Anggi.
"Bukan, tapi ini ada berita sangat penting." ucap Marlina.
"Naik gaji ?" celetuk Dena.
Kali aja naik gaji, karena akhir-akhir ini asinya tidak terlalu banyak keluar. Jadi ia harus membeli susu formula tambahan untuk bayinya tersebut.
"Bukan." sahut Marlina sembari mengatur napasnya, lalu Anggi menyodorkan kursi untuknya.
"Minum gih kali aja pikiranmu masih tertinggal di ruangan pak Edgar." Nay nampak menyodorkan segelas air putih pada Marlina yang langsung di sambutnya.
Setelah minum hingga tandas Marlina mulai membuka suaranya. "Berita buruk." ucapnya kemudian.
"What ?" ucap Dena, Nay dan Anggi bersamaan.
"Perusahaan tidak sedang bangkrut kan? benar-benar deh itu CEO abal-abal, muka aja yang ganteng tapi nggak becus kerja." maki Dena kesal.
Karena jika perusahaan ini bangkrut, entah ia harus mencari kerja di mana lagi. Mana mungkin ia kembali pada perusahaan keluarganya, bahkan mungkin ayahnya itu sudah lupa kalau mempunyai anak dirinya.
"Ngawur, loe nggak lihat apa laporan yang kita kerjakan tadi? Sejak di pimpin oleh pak Edgar dalam sebulan ini income naik pesat." protes Anggi yang rasanya gatal ingin menjitak Dena yang otaknya tiba-tiba eror.
"Sebaiknya kalian siap-siap menjadi sad girl deh, karena tadi ada wanita cantik dan glowing menemui pak Edgar di dalam kantornya." ucap Marlina yang langsung membuat Anggi dan Nay melotot menatapnya, semoga saja mereka berdua tidak pingsan mendadak pikir Marlina.
Sedangkan Dena jangan di tanya bagaimana reaksinya, wanita itu seakan tidak mempunyai hati. Bukannya berkabung karena kedua temannya sedang patah hati ia justru tertawa sumbang.
"Glowing? loe pikir ubin lantai." ejeknya, benarkan dia memang tak punya hati.
"Kalau tidak percaya lihat aja sendiri mungkin mereka sudah sampai lobby sekarang, sepertinya sih mereka mau menghabiskan weekend bersama." Marlina semakin memanas-manasi keadaan.
Nay dan Anggi yang dari awal sudah terpikat pada CEOnya itu, mereka segera berlari meninggalkan ruangannya tersebut.
"Loe nggak ikutan juga ?" Marlina yang ingin mengejar kedua sahabatnya itu langsung mengurungkan niatnya saat melihat Dena masih duduk di kursi kerjanya.
"Sorry ya gue janda terhormat, gue lebih senang di kejar daripada banting harga." sahut Dena yang langsung membuat Marlina menelan ludahnya lalu kembali duduk di kubikelnya.
__ADS_1