Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~56


__ADS_3

Nyonya Anggoro nampak tersenyum puas ketika berhasil membuat suaminya itu menghentikan pekerjaannya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar mereka.


Ia akui meski suaminya tak muda lagi dan sama-sama usianya menginjak kepala 5, tapi laki-laki paruh baya itu masih sangat berstamina.


Bahkan dia suka di buat kewalahan jika berada di atas ranjang, beruntung nyonya Anggoro selalu rajin berolahraga hingga ia selalu mampu memuaskan suaminya tersebut.


Nyonya Anggoro yang masih berada di dalam pelukan suaminya, nampak memainkan bulu-bulu halus di dada bidang laki-laki itu.


"Pa." ucapnya dengan manja.


"Hmm." Tuan Anggoro nampak terpejam, sepertinya ia sangat kelelahan setelah bercinta gila-gilaan dengan sang istri.


Entah kenapa malam ini istrinya itu begitu menggairahkan hingga ia menginginkannya lagi dan lagi.


"Sayang Mama, nggak ?" ucap nyonya Anggoro lagi.


"Kenapa bertanya lagi Ma, tentu saja Papa sayang sama Mama." sahut tuan Anggoro.


Meski mereka sering tidak akur tentu saja tuan Anggoro sangat mencintai istrinya itu, wanita yang dia nikahi di usianya yang sama-sama belia akibat perjodohan dari orang tuanya.


Meski keduanya lahir dari keluarga ningrat, tuan Anggoro selalu bekerja keras dan berkat dukungan dari istrinya tersebut membuatnya hingga sukses sampai sekarang.


Meski sang istri sangat manja dan arogan, tapi ia tahu wanita itu selalu setia padanya dan dia bersyukur akan hal itu.


Tuan Anggoro nampak mengecup puncak kepala istrinya tersebut dengan sayang, wajahnya nampak pias ketika mengingat sebuah kesalahan yang pernah dia lakukan pada istrinya tersebut.


Kesalahan besar yang jika wanita itu tahu mungkin tidak akan pernah memaafkannya.


"Maafkan aku."


"Pa, Mama boleh minta sesuatu nggak ?" ucap nyonya Anggoro seraya mendongakkan kepalanya menatap suaminya tersebut.


"Katakan, kamu mau apa? jalan-jalan keluar negeri atau membeli tas branded lagi ?" tuan Anggoro nampak mengusap lembut pipi istrinya tersebut.


"Tapi Papa jangan marah ya, ini semua Mama lakukan demi keluarga kita." ucap nyonya Anggoro.


"Katakan Mama mau apa, hmm ?"


Nyonya Anggoro langsung mengurai pelukannya, lalu duduk bersandar di headboard ranjangnya yang juga di ikuti oleh suaminya tersebut.


"Pa, bisa tidak Demian dan wanita itu tidak usah bersama. Maksudku Papa tahu sendirikan wanita itu tak sebanding dengan kita, apa kata orang nanti jika kita mempunyai menantu wanita macam dia."


Nyonya Anggoro sangat berhati-hati dalam berbicara agar suaminya tersebut memahaminya tanpa membuatnya tersinggung.

__ADS_1


Tuan Anggoro nampak memejamkan matanya, sebenarnya ia sangat lelah harus berdebat dengan sang istri. Namun ia juga tak bisa membiarkan wanita itu bersikap arogan terus-menerus.


"Ma, apa kamu tidak kasihan sama Demian. Selama ini bahkan untuk tersenyum saja dia tidak ingin, tapi sejak kedatangan Ariana dan cucu kita putra kita sekarang sangat bahagia." ujar Tuan Anggoro.


"Tapi pa..."


"Sudah lebih dari setengah abad kita menikmati hidup ini tanpa kekurangan Ma, bisa tidak di hari tua kita ini kita nikmati saja hidup ini dengan menanggalkan segala bentuk kehormatan yang kita punya." sela tuan Anggoro dengan nada memohon.


"Papa mempunyai mimpi mengelilingi dunia hanya kita berdua saja, ayo kita nikmati hari tua kita untuk berpetualang sekaligus honeymoon. Biarlah Demian bahagia dengan pilihannya, dia sudah dewasa dan bisa menentukan kebahagiaannya sendiri." lanjut tuan Anggoro seraya menggenggam jemari istrinya tersebut.


"Entahlah Pa, Mama mengantuk."


Nyonya Anggoro langsung merebahkan tubuhnya lagi dan menarik selimut hingga lehernya, kemudian ia langsung memunggungi suaminya itu.


Melihat sikap istrinya tersebut, tuan Anggoro nampak menghela napasnya. Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya, lalu tak berapa lama ia terlelap.


"Menyebalkan, sudah ku buat puas juga masih tetap tak memihakku. Rasanya percuma jika harus menentang Papa dan Demian, mungkin lebih baik aku harus berbicara sendiri dengan wanita rendahan itu agar menjauhi Demian." gerutu nyonya Anggoro dalam hati.


Keesokan harinya.....


Ariana mengerjapkan matanya ketika merasakan bibirnya di kecup oleh seseorang.


"Bangun, sayang." ujar Demian nampak duduk di tepi ranjang di samping Ariana tidur.


"Sudah mau berangkat, Mas ?" Ariana melihat Demian sudah rapi dengan setelan kerjanya padahal hari masih sangat pagi.


Ariana langsung bangun dan menyandarkan tubuhnya di headboard ranjangnya.


"Kenapa mendadak sekali ?" Ariana nampak sedih.


"Nggak mendadak sayang, kemarin aku sengaja libur untuk menghabiskan waktu bersamamu. Karena hari ini aku harus berangkat." sahut Demian.


"Maksud ku kamu mengatakannya sangat mendadak." protes Ariana.


"Maaf, sebenarnya aku mau mengajakmu tapi ternyata aku juga membutuhkan Victor di sana. Jadi aku tidak mungkin mengajakmu dan meninggalkan Ricko tanpa Victor di sisinya. Lagipula aku juga tidak mungkin menitipkan Ricko pada Ayah, beliau sedang menangani proyek barunya." bujuk Demian.


"Baiklah, nggak apa-apa pergilah." ucap Ariana kemudian.


"Senyum dong sayang, bagaimana aku bisa pergi kalau kamu sedih seperti itu. Hanya 4 hari sayang dan setelah itu kita akan mengurus persiapan pernikahan kita." bujuk Demian lagi.


"Iya, aku baik-baik saja kok. 4 hari mah kecil, belum juga 8 tahun." sahut Ariana bernada sindiran.


"Maafkan aku." Demian menarik tubuh Ariana ke dalam pelukannya, ia selalu merasa bersalah jika mengingat sudah menelantarkan wanita itu dan putranya selama ini.

__ADS_1


"Baiklah, pergilah nanti telat loh." Ariana mengurai pelukannya.


"Selama aku tidak ada jangan nakal ya, sayang." Demian mencubit hidung mancung Ariana dengan gemas.


"Memangnya aku Ricko." cebik Ariana seraya mengusap hidungnya yang sedikit sakit.


"Maksudku jangan dekat-dekat dengan laki-laki sialan itu."


"Mas, dia adik dari sahabatmu loh." tegur Ariana.


"Siapa pun itu kalau mengganggu milikku itu berarti akan menjadi musuhku." tegas Demian.


"Baiklah sepertinya aku akan mengurung diri di kamar ini sampai kamu datang." cebik Ariana yang langsung membuat Demian terkekeh.


"Ide bagus, sayang." ucap Demian dengan kekehannya.


Kemudian ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Sayang, sepertinya aku harus segera berangkat." ucapnya kemudian.


"Baiklah, ayo aku akan mengantarmu sampai depan." ajak Ariana, ia nampak turun dari ranjangnya. Namun Demian langsung menarik pinggangnya lalu memeluknya dengan erat.


Setelah itu Demian mendekatkan wajahnya lalu melum😘t bibir Ariana dengan lembut. Bibir tipis nan ranum yang selalu membuatnya candu untuk mencicipi manisnya lagi dan lagi.


tokk


tokk


Terdengar ketukan pintu dari luar, hingga membuat mereka segera melepaskan panggutannya.


"Mas, kemejamu berantakan. Kamu ganti kemeja baru gih, aku akan melihat siapa yang datang." Ariana nampak merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


Kemudian dia segera membuka pintu dan nampak Victor sudah berdiri di sana. Laki-laki itu mengangguk hormat ketika melihat dirinya.


"Mas Demian sedang bersiap-siap." ucap Ariana yang langsung mendapatkan anggukan dari Victor.


Setelah Demian kembali rapi mereka segera berangkat, karena pesawatnya sebentar lagi akan take off.


Siang harinya seperti biasanya Ariana menjemput Ricko di sekolahnya bersama sopirnya, sambil menunggu ia nampak membeli sebuah jajanan yang kebetulan lewat di depan sekolah tersebut.


Ehmmm


Terdengar sebuah deheman tak jauh dari Ariana berdiri saat ini, Ariana yang penasaran langsung menoleh ke belakangnya.


Deg!!

__ADS_1


"Tan-tante ?"


Ariana terperanjat ketika melihat nyonya Anggoro sudah berdiri tak jauh darinya, wanita itu nampak mengulas senyumnya saat menatapnya.


__ADS_2