
"Apa dia sudah berada di kamar ?" tanya Martin saat Mattew masuk ke dalam ruang kerjanya, ia nampak sibuk dengan berkas-berkas di tangannya.
"Sudah tuan, saya menyuruh beliau untuk beristirahat." sahut Mattew.
"Apa kamu sudah melakukan apa yang ku perintahkan tadi ?" tanya Martin lagi.
"Sudah tuan." sahut Mattew.
"Bagus." Martin nampak tersenyum puas dengan hasil kerja asistennya tersebut, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.
"Lalu bagaimana dengan nona Lusi, tuan ?" kali ini Mattew yang bertanya.
Martin yang sedang memainkan senjata api di tangannya langsung menatap asistennya tersebut.
"Memang ada apa dengannya ?" ucapnya kemudian.
"Bagaimana kalau nona Lusi mengetahui hubungan anda dengan nyonya Sera ?" tanya Mattew khawatir.
"Saya tidak peduli." sahut Martin, kemudian ia bangkit dari duduknya seraya menyelipkan senjata apinya tersebut ke dalam jasnya.
"Oh ya panggil Anne untuk membereskan meja ini." imbuhnya lagi, kemudian ia berlalu meninggalkan ruangannya. Anne adalah sekretarisnya.
Mattew yang menatap punggung bossnya itu, nampak mendesah pelan. Dari dulu pria itu tidak pernah berubah, tidak berperasaan batin Mattew.
Sore itu Martin mengendarai mobilnya menuju hotel tempatnya bertunangan nanti malam.
Saat di tengah perjalanan ia melihat sebuah mobil mengikutinya, awalnya Martin menganggap biasa tapi semakin lama mobil itu meresahkannya karena mulai memepetnya atau lebih tepatnya akan menabraknya.
"Sial, kamu mau bermain-main denganku ?" Martin nampak menyeringai seraya melihat mobil di belakangnya dari kaca spion depannya.
Setelah itu dengan cepat ia membanting stirnya ke arah tepi jalan hingga mobil yang mengikutinya tadi tak berhasil menabraknya.
Tapi mereka sepertinya belum menyerah, saat mereka hendak menghadangnya Martin langsung menembak roda mobil belakang mereka hingga mobil tersebut berhenti mendadak dan Martin langsung membanting stirnya ke arah lainnya.
Dan saat salah satu orang di dalam mobil tersebut mengarahkan senjata api padanya, dengan cepat Martin melesatkan pelurunya hingga membuat orang tersebut terpekik saat senjata yang dipegangnya terlempar jauh dan tangannya langsung berlumuran darah.
"You're $hit Man." teriak Martin ketika melewati mobil mereka, kemudian ia mulai melajukan mobilnya kembali.
__ADS_1
Martin terlihat biasa seakan tak terjadi apa-apa, hal seperti ini memang sering ia hadapi saat rival bisnisnya tak menyukainya. Namun ia takkan membuat masalah sebelum mereka melakukannya duluan.
Sesampainya di hotel, Martin segera berlalu ke kamarnya. Sebuah kamar yang sangat luas yang akhir-akhir ini sering ia tempati saat tak ada waktu untuk pulang.
Karena hotel ini terletak tak begitu jauh dari kantornya, lagipula ia juga mempunyai beberapa saham di hotel tersebut jadi mendapatkan fasilitas lebih itu sudah menjadi haknya.
Saat membuka pintu, ia di suguhkan pemandangan seorang wanita yang tengah tertidur pulas di atas ranjang empuknya.
Saking pulasnya hingga tak mendengar kedatangannya, tentu saja sangat pulas karena wanita itu sudah meminum minuman yang sudah Mattew berikan obat tidur dosis rendah dan di campur dengan obat lainnya yang tentunya akan membuat wanita itu bereaksi jika ia menyentuhnya.
Martin segera berlalu ke kamar mandi, seharian bekerja membuat tubuhnya terasa lengket.
Setelah membersihkan dirinya, ia segera keluar dengan handuk kecil melilit di pinggangnya. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, ia segera mendekati Sera lalu mengecup keningnya.
Mengusap pipinya dengan lembut, lalu mencuri kecupan di bibirnya hingga membuat wanita itu bereaksi dengan membalas ciumannya.
Martin nampak tersenyum puas, setelah itu ia sudah tak bisa mengendalikan dirinya dan berlanjut ke hal lainnya yang memang sudah ia rencanakan sebelumnya.
Menghadapi Sera yang keras kepala, ia terpaksa melakukan cara licik. Meniduri wanita itu lalu membuatnya hamil, dengan begitu mau tidak mau Sera akan menerimanya.
Setelah memuaskan dahaganya yang ia pendam selama bertahun-tahun, kini Martin nampak merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.
Mengecup kening Sera dengan sayang lalu mengusap lembut perutnya, berharap benih yang ia tinggalkan didalam rahim wanita itu akan segera membuahkan hasil.
Tak berapa lama kemudian ia ikut terlelap dengan raut wajah puasnya.
Dua jam kemudian, Sera nampak mengerjapkan matanya kembali. Namun saat akan beranjak bangun, ia terkejut ketika merasakan kulit tubuhnya bersentuhan dengan kulit seseorang.
"Aaaargghh, tuan Martin apa yang sedang anda lakukan di sini ?" pekik Sera saat melihat pria itu tidur di sampingnya dengan tubuh setengah polos.
"Tidurlah, aku masih mengantuk." Martin menarik tubuh Sera yang hendak menjauh kembali ke dalam pelukannya, kemudian ia terlelap lagi.
"Jadi ini bukan mimpi ?" Sera nampak memeriksa seluruh tubuhnya yang memang benar-benar polos, bahkan miliknya dibawah sana masih terasa berkedut.
Sekali lagi Sera mengingat-ingat bagaimana kejadian dalam mimpinya bahkan sebelum ia terlelap tidur tadi.
"Tidak, ini bukan mimpi." rutuk Sera.
__ADS_1
"Tuan Martin bangun, bisa-bisanya kamu tidur setelah memperkosaku." protes Sera seraya berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Martin.
"Diamlah sayang, apa kamu mau kita mengulangnya lagi. Sepertinya satu ronde belum membuatmu puas." ujar Martin yang masih bergeming di tempatnya, matanya terpejam seakan rasa mengantuk masih menggelayutinya.
"Apa? dasar mesum." gerutu Sera.
Kemudian ia berusaha lagi keluar dari dalam dekapan pria itu, ia harus membuat laki-laki itu bangun dan menjelaskan semuanya.
"Tuan Martin bangun, kamu harus menjelaskan semuanya. Berani-beraninya kamu memperkosaku." teriak Sera dengan emosi seraya memukuli dan mendorong pria itu agar menjauh.
"Sayang, kalau kamu mau lagi jangan bar-bar seperti ini. Cukup bilang saja dan dengan senang hati aku akan memberikannya." ucap Martin seraya memegang kedua tangan Sera yang sedari tadi memukulinya, ibu 6 anak ini benar-benar tenaganya sangat kuat.
Sembari memegangi kedua tangan Sera, Martin nampak mengumpulkan kesadarannya yang masih terasa sangat mengantuk.
"Apa? dia bilang apa tadi ?" Sera nampak melebarkan matanya saat mendengar perkataan gila Martin, siapa yang menginginkannya dasar laki-laki tak tahu malu pikirnya.
"Aku mengatakan jika kamu mau, bilang saja. Aku sudah siap." ucap Martin,kemudian ia membawa paksa sebelah tangan Sera ke arah miliknya yang kembali menegang setelah wanita itu bergerak tak karuan tadi.
"Kamu jangan gila." dengan tenaga ekstra Sera langsung menarik tangannya kembali, kemudian segera beranjak dari ranjangnya dengan membawa selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Sialan, dasar pria sinting." gerutu Sera seraya membayangkan bagaimana ia tadi di paksa menyentuh sesuatu yang keras di balik celana boxer pria itu.
Sedangkan Martin nampak tertawa puas saat melihat tingkah konyol Sera, apalagi melihat pipi kemerahan wanita itu hingga membuatnya ingin menariknya lagi ke atas ranjangnya dan mengungkungnya sampai besok pagi.
"Sekarang jelaskan, kenapa kamu melakukan ini semua padaku ?" tanya Sera setelah ia menutup seluruh tubuhnya hingga kepala dengan selimutnya.
"Menjelaskan apa ?" Martin nampak menaikkan sebelah alisnya, benar-benar membuat Sera naik pitam dengan tampang tak berdosanya.
"Kenapa kamu tega memperkosaku ?" hardik Sera lagi.
"Memperkosamu? apa aku tidak salah dengar ?" Martin nampak tersenyum meledek menatap wanitanya itu, benar-benar menyebalkan batin Sera.
"Tentu saja kamu memperkosaku, tadi sebelum tidur aku berpakaian lengkap dan sekarang...." Sera nampak tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Jika aku memang memperkosamu aku siap bertanggung jawab, kita bisa menikah sekarang juga tapi sebelum kamu menuduh lebih baik kamu lihat dulu video itu." Martin nampak menyalakan televisi dan memperlihatkan bagaimana mereka tadi bercinta.
"Apa? jadi kamu merekamnya? dasar sialan." Sera langsung mendekati Martin lalu memukulinya secara membabi buta tak peduli laki-laki itu hidup atau mati nantinya.
__ADS_1