Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~129


__ADS_3

"Ma, ampun. Sakit Ma." teriak seorang anak kecil berumur 10 tahun ketika sang ibu meletakkan sebuah setrika pakaian yang sangat panas itu di atas punggungnya.


"Berjanjilah kamu tidak akan mengulanginya lagi !!" perintah ibunya itu.


"Dena berjanji, Ma." rintih Dena kesakitan.


"Bagus, awas saja kamu merebut mainan Sera lagi."


"Tapi itu mainan milik Dena, Ma." ucap Dena terisak.


"Oh, jadi kamu mau melawan saya ?" bentak ibu tirinya Dena itu.


"Ampun, Ma. Ampun."


"Ma, Ampun." teriak Dena dalam tidurnya.


Dena langsung terbangun saat kejadian di masa kecilnya itu hadir dalam mimpinya, ia memang sering sekali memimpikan masa-masa kelamnya dulu di mana ibu tirinya itu sering sekali menyiksanya.


Dena terlihat ketakutan sembari terisak, kisah kelamnya itu sungguh membuatnya trauma berkepanjangan hingga ia dewasa.


Di lihatnya putranya tersebut nampak tertidur pulas di sisihnya seakan tidak terganggu dengan teriakannya tadi.


"Maafkan Mama Nak, Maafkan Mama." ucap Dena dengan tubuh gemetar.


Kemudian di ambilnya sebuah botol wine yang ia sembunyikan di dalam lemarinya, setelah itu ia segera berlalu keluar dari kamarnya.


Dena menuangkan botolnya tersebut ke dalam gelasnya lalu ia langsung meneguknya hingga tandas, kemudian ia menuangnya lagi lalu meneguknya kembali.


Setelah merasa lebih tenang, Dena mengambil sebungkus rokok yang tadi ia bawa lalu menyalakannya sebatang. Ia menghisap benda putih panjang yang mengandung nikotin berbahaya itu dengan penuh perasaan.


Dena sangat sadar perbuatannya itu sangat tidak baik, tapi ia terpaksa melakukannya hanya untuk membuatnya merasa lebih tenang dari segala mimpi buruknya itu.


"Bu, apa yang ibu lakukan ?" Bik Mina yang hendak ke kamar kecil nampak terkejut ketika melihat Dena sedang duduk di meja makan.


Melihat botol Alkohol serta sebungkus rokok berada di hadapan Dena, bik Mina buru-buru mendekat lalu mengambilnya.


"Ibu kenapa melakukan ini lagi ?" tegur bik Mina seraya menjauhkan barang-barang haram tersebut.


"Bik, saya mohon sedikit aja." mohon Dena dengan mengiba, ia meminta agar botol minumannya di kembalikan.


"Bu, tolong ingat Elkan bu. Elkan membutuhkan ibu, Elkan juga membutuhkan asi yang sehat dari ibu." bujuk bik Mina mengingatkan.


Dena yang mendengar itu nampak terisak, ia menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.


Bik Mina yang tidak tega melihat keadaan majikannya tersebut, ia langsung memeluknya.


"Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan ibu sebelumnya, tapi saya mohon sayangi diri ibu sendiri demi Elkan." ucap Bik Mina memohon, ia nampak melihat pergelangan tangan Dena yang terdapat banyak bekas sayatan di sana.

__ADS_1


Sepertinya majikannya itu dahulu pernah melukai dirinya sendiri, melihat itu bik Mina semakin iba.


Setelah Dena terlihat lebih tenang, Bik Mina segera mengajaknya masuk ke dalam kamarnya.


"Sebaiknya ibu tidur lagi, kasihan Elkan sendirian." mohon bik Mina, ia nampak melihat jam di atas nakas yang menunjukkan pukul dua dini hari.


"Saya mau mandi saja, Bik. Elkan pasti tidak menyukai bau saya." sahut Dena.


"Hanya mandi kan bu ?" bik Mina nampak khawatir.


"Hanya mandi Bik, jangan khawatir saya tidak akan bunuh diri kok." sahut Dena dengan mengulas senyumnya.


Melihat senyuman Dena, Bik Mina nampak lega. Akhirnya majikannya itu sudah mulai melupakan kesedihannya yang ia sendiri tidak pernah tahu penyebabnya.


Namun semenjak ia mulai bekerja dengan Dena, ia memang pernah beberapa kali melihat wanita itu melakukan hal yang sama. Menangis di malam hari lalu banyak sekali minum dan merokok.


Setelah memastikan Dena baik-baik saja, bik Mina segera meninggalkan kamar majikannya tersebut.


Di dalam kamar mandi, Dena menanggalkan seluruh pakaiannya hingga tak ada yang tersisa.


Ia berdiri tepat di depan cermin yang ada di kamar mandinya itu, matanya nampak menelisik setiap jengkal tubuhnya yang terdapat banyak sekali bekas luka di sana.


Kemudian ia berbalik badan lalu melangkah menuju bathup, dari pantulan cermin terlihat sebuah bekas luka bakar di punggungnya.


Setelah berendam dengan air hangat, Dena segera beranjak lalu mengambil kimono handuk dan segera memakainya.


Sejak pertemuannya terakhir dengan Edgar waktu itu, Dena tidak pernah lagi melihat laki-laki itu. Tempat kerja mereka memang berbeda, Dena bekerja di lantai 7 sedangkan Edgar berada di lantai 15.


Dena cukup lega dan berharap dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan bossnya itu untuk selamanya. Meski laki-laki itu sedang menjalin hubungan dengan saudara tirinya ia begitu tidak peduli.


Kehidupannya sekarang sudah sangat nyaman, baginya sekarang hanya Elkan satu-satunya keluarganya.


Meski ayahnya masih hidup tapi Dena tidak peduli, buatnya percuma mempunyai Ayah jika untuk melindungi putrinya saja tidak bisa.


Dari dulu Ayahnya itu lebih mempercayai perkataan ibu tirinya daripada dirinya, jadi untuk apalagi ia menganggapnya sebagai ayah.


Flashback on


"Jadi Arhan menceraikanmu gara-gara kamu hamil dengan laki-laki tidak jelas hah ?" hardik tuan Winata ayahnya Dena.


"Arhan selingkuh pa, dia selingkuh dengan Sera." teriak Dena.


Plakk


Sebuah tamparan yang begitu keras berhasil mendarat di pipi Dena hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.


"Jangan pernah menutupi kesalahanmu itu dengan menuduh Sera yang tidak-tidak, Sera gadis baik-baik bahkan membunuh nyamuk pun dia tidak tega." tegas tuan Winata, sedikitpun tak ada rasa penyesalan di wajahnya setelah menampar putrinya itu.

__ADS_1


Sera yang juga berada di sana nampak melangkah mendekat ke arah Dena.


"Jika aku ada salah, tolong maafkan aku kak. Tapi tolong jangan menuduhku sembarangan, aku tidak mungkin tega melakukan itu pada kakak. Aku sangat menyayangi kakak." ucap Sera dengan nada mengiba bahkan nampak airmata mengalir deras di pipinya.


Dena yang melihat akting saudara tirinya itu ingin sekali ia meremas wajahnya yang tanpa dosa itu. Namun Dena harus bisa menahan emosi, karena di rahimnya saat ini ada malaikat kecil yang harus ia lindungi.


Apalagi ia tidak mempunyai bukti untuk membongkar perselingkuhan Arhan dan Sera, sungguh mereka berdua sangat licik dalam menutupi hubungan gelapnya.


"Sekarang kamu angkat kaki dari rumah ini, jangan sampai perbuatan hinamu itu sampai di ketahui publik dan mencoreng nama baik keluarga Winata." usir tuan Winata pada Dena.


"Tolong jangan usir Dena Pa, Dena akan tinggal di mana nanti." mohon Dena bahkan ia kini bersujud di kaki ayahnya itu.


Tuan Winata yang terlanjur geram, ia langsung menarik tangan Dena lalu menyeretnya hingga keluar dari rumah mewahnya itu.


"Pergi dari sini." ucapnya seraya melemparkan koper Dena yang baru di ambil oleh pelayannya tersebut.


Setelah itu tuan Winata segera masuk ke dalam kediamannya dan menutup pintunya dengan rapat.


Flashback off


Dena nampak mendongakkan kepalanya ke atas agar airmatanya tidak terjatuh, ia selalu saja sedih jika mengingat ketidakadilan yang ia terima dari keluarganya.


Setelah merasa tenang, Dena segera keluar dari mobilnya. Ia nampak terburu-buru karena jam absensinya segera berakhir.


"Hampir saja." gumamnya sesaat setelah melakukan absensi dengan sidik jarinya itu.


Setelah itu Dena segera berlari kecil menuju lift, ia hampir lupa kalau pagi ini ia ada meeting penting dengan pejabat keuangan di kantor tersebut.


Saat sedang menunggu lift terbuka, nampak Edgar dan asistennya melangkah ke arahnya.


Dena yang melihat CEOnya itu langsung terkejut. "Sialan, kenapa harus bertemu dia sih." gerutunya dalam hati.


Dena tidak mungkin berpura-pura tidak melihatnya, akhirnya dengan terpaksa ia menyapa laki-laki itu.


"Selamat pagi, pak" sapa Dena menatap Edgar.


"Hm." sahut Edgar tanpa menatapnya.


"Selamat pagi pak Juno." sapa Dena pada asistennya Edgar.


"Pagi Dena, kamu baik-baik saja? sepertinya kurang tidur ?" sahut Juno menatap Dena.


"Saya baik-baik saja, pak. Terima kasih." sahut Dena dengan ramah.


Edgar yang mendengar perkataan Juno, nampak melirik ke arah Dena sekilas kemudian ia segera melangkahkan kakinya saat lift terbuka.


Dena tetap berdiri di tempatnya, mana mungkin ia ikut masuk ke dalam lift itu. Akan sangat tidak sopan satu lift bersama pemilik perusahaan.

__ADS_1


"Masuk !!" perintah Edgar kemudian.


__ADS_2