
"Pa, ini Ariana ibu dari putraku."
Demian yang baru bergabung di meja makan langsung mengenalkan Ariana pada Ayahnya tersebut.
Tuan Anggoro yang sedang membaca koran langsung mengalihkan pandangannya pada Ariana, ia nampak terpaku dengan senyum wanita itu yang sangat meneduhkan.
Pantas saja Demian tergila-gila padanya, selain cantik menurut tuan Anggoro wanita itu juga nampak keibuan.
Ariana tersenyum simpul, kemudian ia mengulurkan tangannya. "Ariana Om, senang bertemu dengan anda." ucapnya dengan sopan.
Sedangkan tuan Anggoro yang sedari tadi memindainya langsung menjabat tangan calon menantunya tersebut.
"Panggil saja Papa." ucapnya.
"Baik, pa." sahut Ariana.
"Baiklah ayo mulai sarapan." ajak Demian.
Ariana mulai menyiapkan sarapan untuk semuanya, ia juga tak segan melayani Demian maupun tuan Anggoro dan begitu juga dengan Ricko.
"Kalau seperti ini terus badan papa bisa bengkak." seloroh tuan Anggoro setelah mereka baru selesai sarapan.
"Semua Ariana yang memasak pa, dia lebih suka melakukannya sendiri." ujar Demian.
Meski sudah tidak berjualan lagi dan tinggal di rumah mewah bukan berarti Ariana bisa ongkang-ongkang kaki.
Wanita itu selalu memasak makanan sehat untuk Demian dan Ricko, ia selalu memastikan dua orang kesayangannya itu harus selalu sehat.
Walaupun Demian sering melarangnya, tapi bukan Ariana kalau hanya menurut saja.
"Andai saja Mama kamu seperti itu, Papa pasti akan betah di rumah." gerutu tuan Anggoro mengingat sepanjang ia menikah istrinya itu tidak pernah memasak, semuanya ARTnya yang mengerjakan.
"Mungkin tante sibuk pa, tidak semua wanita bisa memasak tapi saya yakin mereka mempunyai kelebihan lain." timpal Ariana yang mulai akrab dengan calon ayah mertuanya tersebut.
"Selain cantik, kelebihannya hanya satu yaitu habisin duit." ucap tuan Anggoro yang langsung membuat Demian terkekeh.
Sedangkan Ariana langsung mencubit pinggang laki-laki itu. "Auhh, sakit sayang." keluh Demian seraya mengusap pinggangnya yang panas.
"Makanya jangan seperti itu, bagaimana pun juga beliau itu seorang ibu yang sudah melahirkan kamu." tegur Ariana.
"Iya-iya maaf, habisnya mama dari dulu memang kerjanya sibuk foya-foya melulu. Bahkan masakin aku aja tidak pernah." keluh Demian.
Melihat interaksi Demian dan Ariana yang begitu hangat, tuan Demian nampak terkekeh. Tidak salah putranya itu tergila-gila pada wanita itu, selain cantik Ariana juga mampu membuat Demian banyak berubah ke arah yang positif.
"Ibuk, Ricko sudah selesai." ucap Ricko setelah menghabiskan makanannya.
"Baiklah anak hebat, sekarang bersiap-siap ke sekolah ya." ujar Ariana sembari membereskan piring kotor di meja makan.
"Biar Papa saja yang mengantarnya ke sekolah." tawar tuan Anggoro yang langsung membuat Ariana menghentikan berberesnya.
"Tenang saja Papa tidak akan menculiknya." seloroh tuan Anggoro ketika melihat wajah Ariana yang berubah cemas.
"Bukan seperti itu, Pa..." sahut Ariana tak enak, karena calon ayah mertuanya itu langsung bisa membaca pikirannya.
"Hanya kamu yang mampu mendidik Ricko Nak, Papa yakin suatu saat Ricko akan jadi anak hebat berkat didikan kamu." sela tuan Anggoro.
__ADS_1
"Terima kasih, pa." sahut Ariana.
"Papa yang harus berterima kasih padamu karena sudah memberikan cucu dengan budi pekerti yang baik." tegas tuan Anggoro dengan mengulas senyumnya.
"Jadi terharu saya." ucap Demian.
"Mas."tegur Ariana.
"Iya sayang, maaf."
"Ke kantor sana gih."
"Sepertinya aku mau ngantor di rumah saja, sayang." sahut Demian sembari menatap Ariana penuh maksud.
"Mas." tegur Ariana lagi.
"Becanda sayang, hari ini aku ada meeting." sahut Demian seraya menggandeng Ariana lalu mengajaknya ke depan.
Nampak Victor sudah menunggu di sana dan setelah itu mereka mulai meninggalkan kediaman tersebut.
Beranjak siang, Ariana segera menjemput Ricko bersama sopirnya. Sekarang dia sudah mempunyai ponsel yang sama seperti milik Demian, jadi dia tidak akan khawatir lagi jika Ricko pulang lebih cepat.
Sungguh Ariana sangat bersyukur dengan kehidupannya sekarang, meski dalam lubuk hatinya ia masih bersalah pada Monica.
Ariana nampak menunggu putranya itu di dalam mobil, ia sengaja datang lebih cepat agar Ricko tak menunggunya lagi seperti biasa.
Ketika dia sedang menunggu, pandangannya tak sengaja melihat ke arah mobil sebelahnya. Meski nampak samar-samar tapi ia yakin pemilik mobil tersebut sedang berbuat tidak senonoh.
"Astaga, ini area sekolah loh. Kenapa mereka tega berbuat seperti itu, bagaimana kalau anak-anak melihatnya."
Gerutu Ariana seraya menatap pasangan yang sedang bercumbu mesra, mereka nampak saling berciuman dan saling memeluk.
Seketika Ariana terkejut, ketika wanita di dalam mobil itu keluar dengan anggun.
"Monica ?"
"Apa di dalam sana, mas Demian ?" batinnya lagi seraya memperhatikan laki-laki di balik kemudi itu.
Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak pada Ariana, lelaki tersebut nampak membuka kaca jendelanya karena sedang merokok.
"Bukan." gumam Ariana, ia bersyukur laki-laki itu bukan Demian tapi ia juga terkejut ternyata Monica diam-diam mempunyai hubungan dengan laki-laki lain.
Setelah Monica membawa Olive masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi dari sana, Ariana segera mencari Ricko.
"Hari ini Ricko dapat 100 loh, buk." ucap Ricko antusias.
"Benarkah, hebat anaknya ibuk." puji Ariana bangga.
Ketika Ricko asyik bercerita, tiba-tiba ada seseorang menghampiri mereka.
"Hai anak hebat." sapa laki-laki itu yang langsung membuat Ricko terkejut sekaligus senang.
"Om Ed." teriak Ricko dengan antusias.
"Om merindukan mu, Nak." ucap Edgar.
__ADS_1
"Kamu di sini Ed ?" tanya Ariana.
"Aku sedang menjemput ponakan ku." sahut Edgar.
"Dan juga sedang mencari kalian." ucapnya lagi dengan jujur.
"Mencari kami ?" Ariana menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja kalian pindah tidak bilang-bilang." sahut Edgar.
"Maaf waktu itu mendadak."
"Kalian tinggal bersama ?" tanya Edgar.
"Kamu tahu ?" lagi-lagi Ariana menaikkan sebelah alisnya.
"Mbak Widya yang bilang." sahut Edgar.
"Hmm, begitulah."
"Tapi Rin, statusnya dia masih suami Monica." ucap Edgar khawatir seraya menatap Ricko yang sedang bermain bersama Bryan anak lelaki Gilang dan Kristal.
"Mau bagaimana lagi dia memaksa ku, kalau tidak dia akan mengambil Ricko. Kamu tahu sendirikan Demian seperti apa, dia bisa berbuat apapun itu dengan hartanya." sahut Ariana.
"Dan aku juga...." Ariana menjeda perkataannya.
"Mencintainya kan ?" sela Edgar.
Ariana nampak menghela napasnya pelan, ada nada getir di sana. Karena dengan sadar dia sudah mencintai suami orang.
"Berikan ponselmu." Edgar mengulurkan tangannya.
"A-apa...."
"Ponselmu Rin, Demian tidak mungkin kan tidak memberikanmu ponsel ?"
"Iya maksudku untuk apa ?"
"Berikan saja." pinta Edgar.
Ariana langsung mengambil ponsel di dalam tasnya lalu memberikannya pada Edgar.
Edgar nampak mengetik sesuatu dan setelah itu memberikan ponselnya kembali pada Ariana.
"Itu nomorku, jika ada apa-apa segera hubungi aku." ucapnya.
"Aku akan baik-baik saja, Ed."
"Kamu tidak tahu Monica seperti apa Rin, aku takut dia berbuat jahat padamu." ujar Edgar khawatir.
"Terima kasih Ed sudah mengkhawatirkan aku, tapi aku tahu kok bagaimana cara menghadapi wanita itu." sahut Ariana dengan tersenyum penuh arti.
"Baiklah, ku harap kalian baik-baik saja." ucap Edgar.
Ehmm....
__ADS_1
Terdengar sebuah deheman nyaring tak jauh dari mereka, seketika membuat Ariana dan Edgar menoleh bersamaan.
"Victor ?" gumam Ariana.