
Sera terlihat begitu nyenyak, sudah satu jam berlalu namun ia masih terlihat sangat pulas. Semalaman ia terpaksa begadang hampir pagi untuk menyelesaikan pesanan pelanggannya.
Biasanya ia selalu menggunakan jasa kurir untuk mengantar pesanan di kota, namun kali ini salah satu pelanggannya memintanya untuk bertemu secara langsung.
Tentu saja Sera tidak menolaknya, karena pelanggannya tersebut sudah sering sekali memesan gaun buatannya. Bahkan hari ini ia secara khusus mengantar lima lembar gaun pesta untuk pelanggannya tersebut.
Pelanggannya itu pasti sangat kaya raya, karena gaun yang di pesannya pun terbuat dari bahan-bahan yang sangat berkualitas.
Beberapa saat kemudian Sera nampak mengerjapkan matanya, saat seorang petugas memberitahukan jika sebentar lagi kereta akan berhenti di stasiun berikutnya.
"Sepertinya aku terlalu lelah." gerutu Sera yang masih memejamkan matanya, tangannya nampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian turun mengusap sudut bibirnya kali saja ada air liurnya yang menetes saat ia tertidur tadi.
Martin yang sedari tadi tak berpaling menatapnya, nampak menaikkan sudut bibirnya saat melihat tingkah konyol wanita itu.
Kemudian Sera mulai membuka matanya, namun ia langsung terpaku saat matanya beradu pandang dengan mata gelap dan dalam milik Martin.
Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat, kemudian Sera memejamkan matanya lagi lalu pura-pura tidur kembali dengan mencari posisi yang nyaman.
"Astaga apa aku sedang bermimpi? tidak aku tidak sedang bermimpi, itu memang dia. Aku masih mengingat aroma parfum itu."
Sera nampak berpikir keras, sedangkan jantungnya berdegup dengan keras. Seketika kisah beberapa tahun silam menari-nari di kepalanya, bagaimana pria itu menyiksa dan berkali-kali menodainya.
"Tidak, Martin tidak boleh tahu siapa aku. Semoga dia tidak mengenaliku."
Saat petugas menginformasikan lagi jika beberapa menit lagi akan berhenti,Sera langsung membuka matanya. Kemudian ia menguap lebar, setelah itu ia juga merentangkan tangannya menghilangkan rasa letih di tubuhnya.
"Maaf." ucap Sera sembari tersenyum nyengir saat menatap Martin yang sedang mengawasinya, ia benar-benar bersikap seolah-olah tidak pernah mengenal pria itu sebelumnya.
Kemudian Sera mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, nampak lima laki-laki bertubuh besar dan tegap sama seperti Martin juga sedang mengawasinya.
"Sepertinya aku salah mengambil tempat duduk." gumam Sera dalam hati, bagaimana ia bisa di kelilingi oleh laki-laki menyeramkan seperti mereka, padahal tadi waktu ia baru datang tempat tersebut masih kosong.
"Aku harus segera turun dari sini."
Sera segera beranjak dari duduknya, lalu mengambil tas besarnya saat kereta mulai berhenti.
"Maaf, permisi." ucapnya dengan ramah saat meninggalkan kursinya lalu melewati beberapa pria tersebut.
Meski jantungnya sudah seperti Marathon, tapi ia harus bersikap tenang agar Martin tidak semakin curiga.
Padahal ia ingin menoleh sekali lagi menatap pria yang masih bercokol sepenuhnya di hatinya itu.
Meski menatapnya sekilas, tapi ia tahu Martin terlihat semakin matang. Pria berusia 34 tahun itu terlihat semakin tampan dan gagah. Pandangan laki-laki itu dingin dan dalam seolah akan menariknya ke dalam sebuah pusaran.
__ADS_1
Rahang kerasnya nampak di tumbuhi bulu-bulu halus yang sedikit agak tebal, hidungnya mancung dan bibir cokelatnya terlihat sexy.
"Astaga Sera-Sera, kamu sedang dalam bahaya malah memikirkan yang tidak-tidak." Sera nampak merutuki dirinya sendiri karena sempat-sempatnya mengagumi sosok Martin.
Kemudian ia segera melangkahkan kakinya meninggalkan stasiun tersebut.
"Tuan, apa anda tertarik dengan wanita tadi? kalau anda mau kami akan mendapatkannya untuk anda." ujar Mattew sang tangan kanan Martin, ia dari tadi melihat bagaimana bossnya itu sangat tertarik dengan Sera.
"Hm, cari tahu siapa dia." perintah Martin kemudian, meski wanita itu terlihat tidak mengenalnya tapi ia yakin itu Sera walaupun penampilan dan wajahnya sedikit berubah.
Wanita itu terlihat sangat keibuan dan sorot matanya sangat meneduhkan, berbeda dengan Sera yang ia kenal. Dulu Sera mempunyai sorot mata penuh dengan kedengkian dan kesombongan.
Beberapa anak buah Martin langsung bergegas mengejar Sera, Sera yang menyadari itu ia langsung mencari tempat persembunyian.
Setelah jejak mereka tidak ada, Sera langsung menyetop taxi lalu bergegas pergi sebelum mereka tahu.
"Tidak berguna, cari satu perempuan saja tidak becus." hardik Martin saat kelima anak buahnya itu kehilangan jejak Sera.
"Maaf tuan, kami sudah berusaha mengejarnya tapi tiba-tiba wanita itu masuk ke dalam kerumunan. Lalu setelah itu menghilang begitu saja." Mattew terlihat sangat bersalah.
Martin menghela napas kasarnya, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan stasiun tersebut yang di ikuti oleh anak buahnya.
Sementara itu, Sera saat ini sedang mencari sebuah alamat pelanggannya yang memintanya untuk datang ke rumahnya.
"Benar pak ini rumahnya ?" tanya Sera saat taxi tersebut berhenti di sebuah rumah mewah, lebih tepatnya sebuah Mansion yang sangat luas.
"Benar nona, sesuai alamat." sahut sopir tersebut.
Setelah membayar, Sera segera turun dari taxinya kemudian melangkahkan kakinya menuju rumah mewah dengan beberapa lantai tersebut.
"Gerbangnya sangat tinggi bagaimana aku bisa masuk." gumam Sera seraya melihat sebuah gerbang berdiri dengan angkuh di depannya tersebut.
"Nona kamu sedang mencari siapa ?" tiba-tiba seorang laki-laki berperawakan tinggi besar menegurnya dari celah gerbang.
"Saya Mauren, saya sudah membuat janji dengan nyonya Lusi untuk mengantar pakaiannya." sahut Sera, sejak tinggal di panti asuhan Sera mengganti nama belakangnya dengan pemilik panti sebelumnya yaitu tuan Mauren.
"Sebentar." penjaga tersebut nampak menghubungi seseorang dari telepon yang ada di sana.
"Baiklah, anda di suruh masuk." perintah penjaga tersebut, setelah itu ia membuka gerbangnya agar Sera segera masuk.
Sera nampak terperangah saat baru melangkah masuk. "Apa ini istana presiden ?" Sera nampak mengedarkan pandangannya menyisir setiap sudut Mansion tersebut yang banyak sekali pengawal yang berjaga di sana.
"Tidak, ini bukan seperti istana presiden tapi ini lebih mirip istana boss gangster yang sering ku lihat di film-film." seketika Sera bergidik ngeri, menatap bangunan mewah namun terkesan menyeramkan itu.
__ADS_1
"Nona, apa yang kamu tunggu. Nyonya Lusi sedang menunggumu di dalam." ucap seorang penjaga yang langsung membuyarkan lamunannya.
"Hmm." Sera langsung menganggukkan kepalanya lalu mengikuti penjaga tersebut.
Sesampainya di depan pintu Mansion, Sera semakin merinding apalagi saat masuk ke dalam sana.
"Ini benar-benar istana gangster." gumamnya saat melihat keadaan di dalam rumah tersebut, sangat mewah namun terkesan menyeramkan dengan warna hitam dan cokelat yang mendominasi.
"Duduklah, nyonya Lusi akan segera turun." perintah penjaga tersebut.
Beberapa saat kemudian nampak seorang wanita cantik menuruni anak tangga.
"Apa kamu nona Mauren ?" sapa Lusi saat berjalan mendekat, wanita cantik bak seorang artis itu nampak tersenyum tipis menatap Sera.
"Benar nyonya." sahut Sera sembari beranjak dari duduknya.
"Panggil saja Lusi sepertinya kita seumuran." ucap Lusi seraya menyuruh Sera untuk duduk kembali.
"Sepertinya saya lebih tua Lus, bahkan putriku sudah besar saat ini." sahut Sera.
Lusi nampak melebarkan matanya. "Benarkah, tapi kamu kelihatan masih sangat muda." ucapnya tak percaya.
Sera nampak mengulas senyum tipisnya, entahlah selama ini banyak orang tidak mempercayai jika usianya sekarang 30 tahun. Mungkin wajah baby facenya yang membuatnya terlihat awet muda.
"Oh ya ini pesananmu." Sera mengambil beberapa lembar gaun pesta milik Lusi.
"Thanks, Mauren. Aku selalu suka dengan rancanganmu." Lusi nampak antusias saat melihat gaun-gaun pesanannya.
"Aku sengaja mengundangmu kesini karena sebentar lagi aku mau menikah dan aku ingin kamu yang merancang gaun pernikahanku dan calon suamiku." imbuhnya yang langsung membuat Sera nampak senang.
"Benarkah, terima kasih sudah menyukai rancanganku." sahut Sera.
"Tunggu calon suamiku dulu ya, sebentar lagi dia pasti kembali dari kantornya." ucap Lusi.
Hampir dua jam Sera menunggu, namun pria yang Lusi katakan itu tak kunjung datang.
"Sepertinya calon suamiku masih sangat sibuk, kalau begitu nanti aku hubungi kamu lagi." ujar Lusi dengan wajah kecewanya.
"Tidak apa-apa Lus, kapan pun itu kamu hubungi saja aku." sahut Sera, setelah itu ia pamit undur diri.
Sera segera meninggalkan Mansion tersebut dengan berjalan kaki menuju jalan raya yang tidak jauh dari kompleks perumahan tersebut.
Beberapa jam kemudian Martin baru sampai di kediamannya, wajahnya nampak lelah, tatapannya dingin dan tak bersahabat.
__ADS_1
"Sayang kamu kok baru pulang, bukannya di telepon tadi aku sudah bilang ada desainer yang akan datang mengukur baju pernikahan kita." rajuk Lusi saat melihat Martin melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansionnya tersebut.