
"Mas Demian." Monica nampak meringis kesakitan ketika merasakan pergelangan tangannya di cekal oleh Demian dengan kuat.
"Apa yang sedang kamu lakukan pada Ariana ?" hardik Demian setelah menghempaskan tangan Monica.
"Mas aku hanya ingin menyelamatkan rumah tangga kita dari pelakor ini." ujar Monica seraya menunjuk Ariana dengan tatapan kebencian.
"Rumah tangga kita dari awal memang sudah hancur Mon dan ku peringatkan jangan berani kamu menyentuh wanitaku lagi." ancam Demian.
Monica nampak menggeram, perkataan Demian sungguh menyakiti perasaannya. Suaminya itu seakan menegaskan kalau wanita di depannya itu adalah miliknya.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja." Demian memeriksa Ariana, nampak kecemasan di wajah tampannya.
"Aku baik-baik saja, Mas." sahut Ariana dengan mengulas senyumnya.
"Daddy." Olive yang baru datang bersama pengasuhnya langsung memeluk Demian.
"Olive kangen sama Daddy." ucapnya lagi.
"Hai sayang, Daddy juga kangen sama kamu." Demian membalas pelukan Olive.
Sedangkan Ricko yang akan melangkahkan kakinya ke arah ibunya langsung berhenti mendadak.
Bocah kecil itu nampak bersembunyi di belakang tiang sembari melihat Olive yang sedang bergelayut manja pada Ayahnya.
"Kenapa berdiri di sini ?" tanya Victor pada Ricko.
Ricko terperanjat karena laki-laki itu tiba-tiba berada di belakangnya.
"Nggak apa-apa, Om." sahut Ricko seraya mengulas senyumnya yang di paksakan.
"Daddy kemana saja tidak pernah pulang ?" tanya Olive setelah mengurai pelukannya.
"Daddy kan sibuk kerja, sayang." sahut Demian.
"Daddy malam ini pulang ya, temani Olive bobo." rengek Olive dengan nada memohon, sepertinya bocah kecil itu sangat merindukan ayahnya. Karena biasanya Demian sering menemaninya hingga tidur.
"Daddy...." Demian menjeda perkataannya, ia nampak menatap Ariana.
Sedangkan Ariana balik menatapnya dengan pandangan datar, ia tidak mau egois. Bagaimana pun juga Demian sudah bersama dengan Olive hampir 8 tahun lamanya.
Meski mereka tidak mempunyai ikatan darah, tapi paling tidak mereka mempunyai ikatan batin.
"Pergilah Mas, dia juga membutuhkan mu." ucap Ariana.
"A-apa kamu tidak apa-apa ?" tanya Demian.
__ADS_1
Ariana nampak menghela napasnya. "Kami baik-baik saja, Mas." sahut Ariana meski ada nada getir disana, kemudian ia meraih tasnya.
"Aku harus segera pulang sekarang, Ricko banyak pekerjaan rumah." ucapnya lagi, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.
Namun Demian langsung mencekal tangannya. "Aku janji akan pulang secepatnya." ucapnya.
"Hm." angguk Ariana lalu dia melepaskan cekalan Demian di tangannya.
Kemudian Ariana berjalan menghampiri Ricko yang dia tahu sedari tadi bersembunyi di balik tiang.
"Ayo nak, kita pulang." ajaknya pada Ricko.
Ricko nampak menatap ayahnya sekilas, kemudian ia berlalu pergi bersama ibunya.
"Vic, pastikan mereka sampai rumah dengan aman." perintah Demian.
"Baik, tuan. Orang-orang saya akan mengikutinya." sahut Victor seraya menghubungi seseorang.
Sedangkan Monica nampak begitu geram sebegitu berharganya kah wanita itu bagi Demian hingga harus di awasi dengan ketat.
Namun ia sekarang juga senang karena akhirnya Demian lebih mementingkan Olive putrinya daripada putranya sendiri.
"Mas terima kasih, kamu lebih...." Monica menjeda perkataannya karena Demian sudah menyelanya.
"Aku hanya ingin menjaga mental Olive sebelum kita resmi bercerai." sela Demian dengan nada dingin.
"Mommy juga ikut ?" tanya Olive.
"Mommy kan bawa mobil sendiri, sayang." sahut Demian.
"Baiklah, dada Mommy. Olive jalan-jalan dulu bersama Daddy ya." pamit Olive pada Ibunya.
Kemudian mereka segera meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Monica yang nampak di landa kekecewaan.
Wanita itu langsung terduduk lemas dan tanpa bisa ia tahan airmatanya sudah mengalir deras.
Inikah akhir dari kisah cintanya, ia harus merelakan laki-laki yang dengan segala cara ia lakukan agar bisa bersamanya. Kini dengan berjalannya waktu ia harus rela melepaskan karena dia memang bukan di takdirkan untuknya.
Kemudian ia nampak mengambil ponselnya di dalam tasnya, lalu ia menghubungi seseorang.
"Halo pak pengacara, bisa kita bertemu." ucapnya.
Disisi lain Ariana yang baru membersihkan dirinya, nampak mencari Ricko. Sedari tadi ia tak melihat putranya tersebut.
"Sayang kamu di mana, Nak." teriak Ariana, ia mencari Ricko di segala penjuru rumahnya di bantu oleh ARTnya.
__ADS_1
Ketika ia melangkah ke taman belakang, sayup-sayup Ariana mendengar suara isakan. Karena khawatir ia segera mencari suara tersebut.
Ariana nampak terperanjat ketika melihat putranya itu sedang duduk di balik pohon dengan menenggelamkan kepalanya pada kedua lututnya.
"Nak, kamu kenapa di sini ?" Ariana duduk berjongkok di samping putranya tersebut.
Ricko mengangkat kepalanya, matanya nampak bengkak karena tangisnya.
"Buk, apa Ayah akan meninggalkan kita lagi dan memilih tinggal bersama Olive ?" tanya Ricko
"Nggak sayang, ayah pasti akan pulang. Olive kan juga saudaranya Ricko, dia juga butuh ayah." sahut Ariana menenangkan.
"Bagaimana jika Olive mengambil ayah lagi ?"
"Itu tidak akan terjadi, sayang. Ayahmu tahu jalan pulang, kalau ayah menyayangi kita pasti nanti akan pulang." bujuk Ariana.
Setelah itu Ariana segera membawa putranya itu masuk ke dalam karena hari mulai gelap.
Setelah membantu Ricko membuat tugas sekolahnya, Ariana nampak menemani putranya itu tidur.
"Maafkan ibuk Nak, meskipun kamu berhak atas ayahmu tapi ibuk tidak mau kamu menjadi serakah."
gumamnya seraya mengusap kepala Ricko yang baru saja terlelap, setelah itu Ariana segera meninggalkan kamar putranya tersebut.
Hingga pukul 10 malam, Demian belum juga kembali. Pikiran Ariana mulai berkecamuk, tapi lagi-lagi ia meyakinkan dirinya sendiri, kalau Demian mencintainya laki-laki itu pasti akan kembali padanya.
Di sisi lain, Demian baru saja menidurkan Olive. Seharian ini dia menemani bocah perempuan itu bermain, Demian mencoba memberikan pengertian pada putrinya tersebut bahwa dirinya dan ibunya akan berpisah.
Awalnya Olive menolaknya, namun sepertinya dia mulai bisa menerimanya dan yang membuat Olive terkejut ternyata Ricko adalah saudaranya.
Demian merasa tidak tega jika harus mengatakan kalau dirinya sebenarnya bukan ayah kandungnya dan dia biarkan rahasia ini tetap terjaga sampai putrinya itu mengetahuinya dengan sendirinya.
Pukul 10 malam Demian baru keluar dari kamar Olive setelah memastikan bocah kecil itu tidur.
"Mas." panggil Monica.
"Hmm." sahut Demian.
"Aku ingin bicara."
"Cepat katakan karena aku harus pergi." tegas Demian dengan nada dingin.
"Sebelum kita bercerai, mau kah kamu menemaniku tidur. Aku ingin mengenang saat terakhir menjadi istrimu." mohon Monica.
Wanita itu terlihat pucat, bukan lingeri atau dandanan tebal yang biasa dia gunakan untuk menggoda Demian tapi malam ini Monica hanya memakai pakaian tidur yang tertutup.
__ADS_1
Wajahnya nampak mengiba, berharap suaminya yang sebentar lagi akan berubah menjadi status mantan itu mengabulkan permohonannya.