
"Ngomong-ngomong siapa orangtuanya anak ini bik, siapa tahu saya mengenalnya ?" tanya King penasaran.
"Maaf tuan, saya tidak boleh berbicara sembarangan dengan orang asing." sahut Bik Mina menghindar.
"Baiklah, tapi saya bolehkan bermain dengan...." King menjeda ucapannya saat tidak mengigat nama Elkan.
"Panggil saja El, tuan." sahut bik Mina.
"Oh ya saya lupa, ayo El mau bermain sama Opa ?" tanya King pada bocah kecil yang masih berada di dalam gendongannya tersebut.
"Pa-pa." sahut Elkan.
"Opa, sayang." ucap King gemas.
"Kenapa kamu bisa mirip sekali dengan Edgar." gumam King, ia tiba-tiba jadi penasaran dengan anaknya Dena yang di akui putranya itu sebagai anak kandungnya.
Sampai sekarang ia masih tidak percaya dengan ucapan putranya itu yang menurutnya hanya mengada-ada untuk membela istrinya.
Lagipula menurutnya Edgar pria baik-baik, putranya itu tidak mungkin meniduri seorang perempuan tanpa bertanggung jawab.
Rasanya mustahil itu terjadi, jika memang benar adanya mungkin anak putranya itu sudah seumuran El sekarang ini.
King berusaha mengelaknya, namun hati kecilnya diam-diam berharap jika yang di katakan oleh Edgar itu benar.
Betapa senangnya ia mempunyai cucu lagi, mengingat cucunya yang lain yaitu anak dari Kristal sudah besar sekarang.
"Apa perlu aku menyelidikinya sendiri? benarkah sebelum dekat dengan Sera, Edgar sudah lama berhubungan dengan Dena? apa selama ini aku sudah salah menuduh Dena macam-macam? aku tahu Edgar bukan pria bodoh yang sembarangan mengenal perempuan. Lebih baik aku segera menyelidikinya."
King nampak mengehela napasnya dengan berat, kemudian ia mengulas senyumnya saat Elkan menatapnya dengan serius. Seakan bocah kecil itu juga ikut berpikir seperti dirinya.
"Pa-pa." panggilnya yang langsung membuat King merasa gemas.
Sementara itu Dena yang berada di sebuah Cafe nampak sibuk dengan ponselnya, ia sedang melihat potongan-potongan rekaman cctv yang dia ambil di Jerman waktu itu.
Beberapa hari ini ia di buat kelelahan oleh suaminya hingga membuatnya tak sempat mengeceknya, sepertinya ia harus segera menyusun rencana agar video rekaman tersebut bisa tersebar ke publik dengan sempurna.
Namun ia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya saat Edgar berjalan ke arahnya.
"Kenapa belum makan ?" tanya Edgar saat melihat makanan yang berada di hadapan Dena masih belum tersentuh sama sekali.
"Aku menunggumu." sahut Dena dengan tersenyum manis.
"Maaf ya, aku terlalu lama menjawab telepon ya." ucap Edgar.
"Apa ada masalah ?" tanya Dena saat melihat wajah lelah suaminya.
__ADS_1
"Hm, ada sedikit masalah dengan proyek di Bali." sahut Edgar.
"Kalau kamu ingin mengeceknya kesana, nggak apa-apa kok." ucap Dena.
"Jadi kamu mengijinkan ku pergi kesana ?" Edgar nampak menaikkan sebelah alisnya menatap istrinya itu.
"Tentu saja sayang, aku bukan tipe istri yang suka mengekang suami. Jadi kamu jangan khawatir." jawab Dena beralasan.
Tentu saja ia mempunyai alasan tersendiri, jika suaminya itu pergi ke Bali maka ia bisa melancarkan aksi balas dendamnya dengan lancar.
Edgar nampak memandang lekat istrinya itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Sayang." ucapnya kemudian.
"Hm, apa ?" sahut Dena seraya menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
"Kamu baik-baik saja kan ?" tanya Edgar.
"Tentu saja, memang kenapa ?" sahut Dena menatap lekat suaminya itu.
"Nggak apa-apa, ayo makanlah lagi." Edgar nampak mengulas senyumnya tipis, ada perasaan mengganjal di hatinya namun sepertinya bukan waktunya yang tepat untuk mengatakannya.
"Sepertinya besok aku harus ke Bali, apa kamu mau ikut? kamu bisa jalan-jalan di sana bersama Elkan." tawar Edgar, alangkah senangnya ia bisa bekerja di temani sang istri dan anaknya karena ia pasti tidak akan kesepian.
"Maaf aku nggak bisa sayang, sepertinya Elkan masih jetlag. Kamu nggak lama kan di sana ?" tolak Dena dengan halus.
"Terima kasih." ucap Dena dengan mengulas senyumnya.
Keesokan harinya....
Setelah suaminya berangkat ke Bali, Dena langsung meninggalkan kediamanmya. Ia menuju sebuah butik khusus pakaian laki-laki yang ada di pusat perbelanjaan dekat rumahnya.
Ia melihat pakaian suaminya di lemari semuanya model lama, sepertinya ia akan mengganti isi lemari laki-laki itu dengan pakaian baru.
Mungkin suaminya itu akan senang setelah pulang dari Bali nanti, pikir Dena.
Beberapa waktu tinggal bersama Edgar, Dena mulai hafal selera pria itu. Mulai dari model pakaian, parfum bahkan makanan kesukaannya.
Dena nampak bersemangat memilih baju hingga tanpa sadar seseorang terlihat mengawasinya dengan senyum simpulnya.
"Ternyata kamu masih sama, selalu antusias ketika memilih pakaian untuk orang spesial." ucap Arhan yang langsung membuat Dena terkejut menatapnya.
Arhan masih mengingat bagaimana dulu Dena selalu antusias ketika mengurus segala sesuatu keperluannya, ia jadi merindukan masa-masa itu. Sungguh betapa bodohnya dirinya yang telah menyia-nyiakan wanita itu.
"Kamu...." ucap Dena terkejut.
__ADS_1
"Bukan urusanmu." lanjutnya kemudian dengan ketus.
"Tapi aku ragu kamu benar-benar mencintai suamimu itu, sepertinya kamu hanya menjadikan pria itu alat untuk membalas perbuatan Sera." cibir Arhan.
"Aku bilang bukan urusanmu, lagipula kalian bisa balikan lagi kan? sepertinya kalian berdua memang pasangan yang sangat cocok." sahut Dena dengan nada mengejek hingga membuat Arhan nampak geram, baginya Sera adalah kesalahan masa lalunya yang sudah ia kubur dalam-dalam.
Dena segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan mantan suaminya itu, namun ia langsung menghela napasnya kasar saat melihat ibu tiri serta ibu mertuanya itu nampak berjalan ke arahnya.
"Jadi seperti ini kelakuan kamu di belakang Edgar, diam-diam bertemu dengan mantan suami? sebenarnya mama sudah ikhlas kamu menikah dengan Edgar tapi kalau seperti ini sampai kapanpun Mama tidak akan rela membiarkan Sera mengalah darimu." ujar nyonya Sita dengan isak tangisnya, benar-benar dramaqueen pikir Dena.
"Sudah nggak apa-apa Jeng, cepat atau lambat putra saya pasti tahu mana yang benar-benar mencintainya atau tidak." timpal Putri seraya menatap Dena dengan tak ramah, kemudian pandangannya beralih ke tas belanjaan menantunya itu yang berisi beberapa stel pakaian pria.
Lalu ia menatap Arhan yang langsung di balas anggukan sopan oleh laki-laki itu.
"Terserah Mama mau berkata apa, saya tidak peduli." sahut Dena seraya menatap dingin ibu tirinya itu, setelah itu ia segera meninggalkan tempat tersebut.
Nyonya Sita ingin rasanya menjambak anak tirinya itu, namun ia harus menjaga sikap di depan Putri. Karena harapannya masih sangat besar untuk bisa menikahkan Sera dengan Edgar suatu saat nanti.
"Maafkan ketidaksopanan Dena,Jeng. Saya merasa sudah gagal menjadi seorang ibu baginya." ucapnya merendah.
"Sudah nggak apa-apa Jeng, semoga suatu saat Edgar menyadari kesalahannya." sahut Putri menenangkan.
"Semoga saja Jeng, Sera pasti akan sabar menunggu hari itu tiba." sahut nyonya Sita, setelah itu ia menatap Dena dengan pandangan mengejek.
"Tersenyumlah sepuasmu sekarang, karena besok ku pastikan kamu akan lupa bagaimana caranya tersenyum." gumam Dena dalam hati.
Setelah itu Dena segera membayar belanjaannya, kemudian ia bergegas masuk ke dalam mobilnya.
"Den, tunggu." panggil Arhan seraya mengetuk kaca mobilnya.
"Apa lagi ?" sungut Dena menatap Arhan.
"Berhati-hatilah, sepertinya Mama sita mempunyai maksud tidak baik sama kamu." ujar Arhan mengingatkan.
"Bukan urusanmu." ketus Dena, setelah itu ia segera melajukan mobilnya.
Sementara itu Edgar yang sedang meeting sore itu nampak mendapatkan beberapa pesan dari ibunya.
Putri nampak mengirim beberapa foto Dena dan Arhan di sebuah butik pakaian khusus laki-laki yang ia temui tadi pagi.
"Seperti inikah tingkah istri pilihanmu di belakangmu, Mama kecewa Nak." ujar Putri dalam pesannya tersebut.
Edgar nampak menghela napas panjangnya, kemudian ia membisikkan sesuatu pada Juno yang sedang berdiri di samping kursinya.
"Anda yakin, tuan ?" tanya Juno lirih karena di dalam ruangan tersebut terdapat banyak peserta meeting.
__ADS_1
"Hm." sahut Edgar, ia nampak mengepalkan tangannya.