
Ricko nampak memejamkan matanya, hatinya menghangat saat memeluk Olive. Parfum wanita itu begitu lembut menusuk indera penciumannya.
"Ada apa denganku." gumamnya saat merasakan jantungnya berdebar-debar dengan kencang.
"Pak, bisa lepaskan saya." Olive mencoba keluar dari pelukan Ricko saat dirinya merasa lebih baik.
Pandangan mereka bertemu, saling mengunci dan mencoba menyelami perasaan asing yang tiba-tiba saja hadir.
Entah dapat keberanian darimana, Ricko nampak mendekatkan wajahnya saat melihat bibir ranum yang sebelumnya pernah ia rasakan itu.
Namun teriakan Olive langsung membawanya pada kesadarannya kembali.
"Pak, tolong lepaskan saya." teriak Olive lagi.
Ricko yang menyadari itu segera menjauhkan tubuhnya, ia terlihat salah tingkah setelah itu.
"Jangan salah paham, saya hanya tidak mau terjadi apa-apa dengan karyawan saya." ucapnya dengan tegas.
Namun matanya tak sengaja menatap kancing kemeja Olive yang terlepas satu hingga memperlihatkan sedikit aset milik wanita itu yang nampak begitu menggoda.
"Sialan." umpatnya, saat merasakan miliknya di bawah sana mendadak sesak.
"Saya baik-baik saja pak, terima kasih." sahut Olive dengan sedikit membungkukkan badannya bermaksud untuk menghormati atasannya tersebut, namun itu justru memperlihatkan gundukan kenyal miliknya yang terlihat sangat menantang.
"Baiklah, kamu bisa kembali bekerja." tukas Ricko setelah itu ia segera kembali ke dalam ruangannya.
"Ahhh, sial."
Ricko terlihat kesal, ia mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Laki-laki itu nampak tak tenang di dalam ruangannya dan sesekali melihat Olive dari balik tirai jendelanya.
Sementara itu Olive yang sedang duduk di atas kursinya, nampak mengulas senyumnya saat mengingat bagaimana tadi Ricko memeluknya dengan erat.
Namun senyumnya langsung menyurut saat mengingat laki-laki itu sudah bertunangan dengan wanita lain.
Beberapa saat kemudian Olive sudah selesai dengan pekerjaannya, ia nampak merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Namun ia langsung terkejut saat melihat kancing kemejanya terlepas satu.
"Oh astaga, untung cepat ketahuan."
Olive segera merapikan pakaiannya kembali, kemudian ia segera mengemasi barang-barangnya. Setelah itu ia bergegas meninggalkan kantor tersebut.
Gadis itu nampak berdiri di pinggir jalan menunggu taksi, Ricko yang baru keluar dari kantornya hanya menatapnya datar kemudian ia melajukan mobilnya tanpa menyapa karyawannya tersebut.
"Dasar boss raja tega." gerutu Olive kesal.
Tak lama kemudian taksi pesanannya datang dan itu membuatnya langsung lega.
Sementara itu Ricko yang tengah melajukan mobilnya seorang diri, langsung memutar arah saat tiba-tiba merasa cemas pada Olive.
Namun saat sampai di depan kantornya, ia tak melihat gadis itu.
__ADS_1
"Kemana perginya? apa dia sudah pulang ?"
Ricko nampak berdecak kesal, kemudian ia segera melajukan mobilnya kembali menuju Apartemennya.
Keesokan paginya....
"Selamat pagi." sapa Olive dengan ramah pada setiap karyawan yang ia temui.
Pagi itu ia terlihat cantik dengan blouse lengan panjang dan rok span selutut, pakaiannya terlihat pas di tubuhnya namun sedikit menonjolkan dadanya yang bikin mata para lelaki tak bisa berpaling.
Tak ada yang salah dengan pakaian gadis itu dan masih terlihat sopan, hanya saja kedua aset miliknya berukuran lebih besar dari kebanyakan wanita.
"Selamat pagi." ucapnya lagi dengan ramah saat ia masuk ke dalam antrian karyawan yang sedang menunggu lift terbuka.
"Pagi juga." sahut para karyawan laki-laki yang menatapnya dengan pandangan kagum serta liar.
Sedangkan Ricko yang sedang berada di depan lift khusus petinggi perusahaan nampak tak suka saat melihat mata para lelaki memandang tubuh Olive. Ingin rasanya ia mencolok mata mereka satu persatu.
Kemudian ia berbisik pada seorang pria paruh baya yang selama ini menjadi kepercayaannya dan tak berapa lama pria itu menghampiri Olive.
"Nona Olive, ada sedikit kesalahan pada laporan yang kamu kerjakan kemarin. Kamu harus segera mengeceknya, karena tuan Ricko tidak mentolerin sedikit saja kesalahan. Mari ikut saya." ucap Pria bernama pak Jefri tersebut.
"Tapi pak...." Olive ingin membela diri namun tatapan dingin pria itu membuatnya tak bisa berkutik, kemudian ia mengikuti langkah pria itu yang membawanya masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Se-selamat pagi, Pak." sapa Olive, ia nampak terkejut saat melihat Ricko sudah berada di dalam lift tersebut.
"Hm." Ricko nampak berdehem tanpa menatap gadis itu.
"Bagaimana saham pagi ini, pak Jeff ?" tanya Ricko saat lift mulai berjalan menuju lantai 25, dimana ruangannya berada.
"Baik-baik saja tuan, ada sedikit kenaikan namun cenderung konsisten." sahut pak Jefri.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, kemudian Ricko yang sedang sibuk dengan ponselnya nampak memundurkan tubuhnya hingga kini sejajar dengan Olive.
Sesekali ia melirik gadis itu melalui ekor matanya, Ricko akui Olive gadis yang sangat cantik dengan tubuh proporsionalnya meski tubuhnya tak terlalu tinggi. Begitu juga dengan Sarah tunangannya, wanita itu juga tak kalah cantik dengan Olive bahkan lebih cantik dan lebih tinggi.
Namun ia mempunyai perasaan yang berbeda pada kedua gadis tersebut, Sarah yang sering memakai pakaian seksi di depannya tak membuatnya sedikit pun berminat.
Lain halnya dengan sekretaris kakaknya tersebut, setiap bagian tubuh wanita itu meski tertutup pakaiannya tapi sukses membangkitkan gairahnya sebagai seorang laki-laki.
Beberapa saat kemudian tiba-tiba lampu lift nampak berkedip-kedip dan tak lama kemudian lift langsung terguncang hingga membuat Olive tak sengaja menabrak tubuh Ricko.
Sedangkan Ricko langsung melebarkan matanya saat merasakan benda kenyal milik Olive mengenai lengannya.
"Maaf, pak." Olive langsung menjauh saat tak sengaja menabrak bossnya tersebut.
"Sialan." umpat Ricko dalam hati saat merasakan miliknya di bawah sana mulai sesak.
"Apa yang terjadi pak Jeff ?" tanyanya kemudian pada pak Jefri.
"Sepertinya ada kesalahan teknis tuan, maintenence kita sedang mengeceknya." sahut pak Jefri setelah menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Pastikan jangan sampai terulang kembali." tegas Ricko dan tak berapa lama kemudian pintu lift terbuka.
Ricko segera melangkahkan kakinya keluar tanpa menoleh sedikit pun ke arah Olive.
"Periksa kembali laporan itu lalu bawa masuk ke dalam ruangan saya." perintahnya kemudian pada Olive sebelum ia masuk ke dalam ruangannya.
"Tapi semalam saya sudah memeriksanya, pak." sanggah Olive.
"Saya tidak suka di bantah." tegas Ricko seraya menatap dingin gadis itu.
"Baik, pak." akhirnya Olive hanya bisa pasrah.
"Pras ke ruangan saya." perintah Ricko kemudian pada asistennya tersebut.
"Menyebalkan." gerutu Olive saat melihat kepergian bossnya tersebut.
Beberapa saat kemudian Pras nampak keluar dari ruangan Ricko.
"Di panggil boss tuh dan bawa semua berkas-berkasnya." ucapnya sembari menatap Olive.
"Baiklah." Olive segera membawa tumpukan berkas tersebut ke dalam ruangan Ricko.
"Permisi pak, anda memanggil saya ?" ucapnya saat baru masuk.
"Hm."
"Ini berkas-berkasnya pak, saya sudah selesai memeriksanya." Olive menyerahkan tumpukan berkas di tangannya itu.
"Periksa sekali lagi, jangan sampai saya menemukan sedikitpun kesalahan." perintah Ricko kemudian.
"Tapi saya sudah memeriksanya, pak." sanggah Olive sedikit kesal.
"Saya tidak suka di bantah." tegas Ricko dengan tatapan dinginnya.
"Baik, pak." Olive mengambil berkas-berkas tersebut lalu membawanya keluar dari ruangan bossnya itu lagi.
Namun baru beberapa langkah pria menyebalkan itu sudah memanggilnya kembali.
"Siapa yang menyuruhmu pergi ?" Ricko menatap tajam Olive.
"Bukannya bapak yang menyuruh saya memeriksa berkas-berkas ini ?" sanggah Olive.
"Periksa di sini." tegas Ricko.
"Apa ?" Olive membulatkan matanya.
"Apa telinga mu bermasalah ?" cibir Ricko.
"Ba-baik." Olive segera mendudukkan dirinya di kursi.
Sedangkan Ricko yang melihat itu nampak mengangkat sudut bibirnya, kemudian ia kembali fokus pada layar komputernya.
__ADS_1