
Siang itu Olive yang baru kembali dari makan siangnya, nampak mendudukkan dirinya di kursi kerjanya. Ternyata terlalu banyak makan membuatnya jadi mengantuk.
Ia memang harus banyak makan agar kuat menghadapi kelakuan Ricko yang semena-mena, pria itu sepertinya senang sekali membuatnya menderita dengan memberinya banyak sekali pekerjaan setiap hari.
"Hoaaaaam."
Olive menguap lebar dan tak berapa lama kemudian ia nampak terlelap di kursinya dengan kepala di atas meja.
"Liv, bangun." Pras mengguncang bahu Olive, namun gadis itu sama sekali tak berkutik.
"Liv, Olive bangun ada pak Ricko." ucap Pras lagi saat Ricko nampak berdiri tak jauh dari mejanya dengan tangan bersendekap menatap Olive
"Apaan sih Pras, biarkan aku tidur sebentar sebelum si brokokok itu kumat." sahut Olive yang nampak masih asyik memejamkan matanya.
"Apa dia bilang? brokokok? kumat? dia pikir aku gila apa." Ricko nampak memicing menatap Olive.
"Ayo bangun, Liv." Pras mengguncang lagi lengan Olive.
"Sebentar lagi Pras, sungguh aku sangat merindukan Dean saat ini. Kalau ada dia aku tidak akan secapek ini." sahut Olive setengah menggerutu, namun masih enggan untuk bangun.
Ricko yang mendengar nama Dean di sebut oleh gadis itu nampak tak suka, namun saat ia akan membangunkannya sendiri tiba-tiba Sarah datang.
"Sayang, apa kamu sibuk? kebetulan aku lewat sini jadi sekalian mau lihat keadaanmu. Apa kamu sudah makan siang ?" ucapnya seraya mendekati kekasihnya itu.
Ricko nampak terkejut saat melihat Sarah, kekasihnya itu terlihat cantik seperti biasanya dengan make up tebalnya serta pakaian seksinya.
"Sudah." sahut Ricko dengan mengulas senyumnya.
"Oh astaga apa dia sedang tidur? tidak profesional banget sih, sayang kenapa kamu tidak memecatnya saja. Masih banyak kok orang di luar sana yang ingin bekerja serius di sini." Sarah menatap tak suka ke arah Olive yang nampak masih terlelap tidur.
"Dia sekretarisnya kak Dean." sahut Ricko.
"Kak Dean bagaimana sih jauh-jauh bawa sekretaris dari Jerman tapi sama sekali tidak profesional, jangan-jangan mereka ada affair lagi ." gerutu Sarah namun itu justru membuat Ricko merasa tak suka.
"Liv, Oliv bangun." Pras mengguncang lagi bahu Olive hingga membuat wanita itu langsung terbangun.
"Apaan sih Pras." gerutunya seraya mengusap sudut bibirnya kali saja ada liurnya yang tak sengaja menetes saat ia tertidur tadi.
"Oh astaga, ondel-ondel pancoran." teriaknya terkejut saat menatap Sarah.
"Apa kamu bilang ?" Sarah langsung memicing.
Menyadari kesalahannya Olive segera beranjak dari duduknya. "Pak Ricko, nona Sarah." ucapnya dengan sedikit membungkukkan badannya, ia merutuki dirinya sendiri karena bisa seceroboh itu tidur saat jam kerja.
Sedangkan Ricko nampak mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman tipis bahkan hampir tak terlihat saat melihat Olive yang sedang salah tingkah.
"Lain kali bekerjalah dengan profesional." tegur Sarah.
"Maaf nona." Olive nampak menundukkan kepalanya.
"Ya sudah kembalilah bekerja." perintah Sarah kemudian, setelah itu ia segera mengajak Ricko masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Kalau sudah selesai segera bawa laporannya ke dalam ruangan saya." perintah Ricko sebelum menutup pintu ruangannya.
"Astaga Olive bisa-bisanya kamu tidur di saat jam kerja, memang semalam kamu tidak tidur ?" tegur Pras setelah itu.
"Setiap malam aku insomnia, sepertinya aku belum bisa beradaptasi di sini." sahut Olive.
"Terus ngapain kamu tadi ngatain nona Sarah ondel-ondel pancoran, untung dia tidak dengar." tegur Pras lagi.
"Habisnya dandanannya menor gitu, eh ngomong-ngomong itu onderdilnya asli bukan sih kok gede banget." tukas Olive.
"Nggak tahu Olive, sudah lanjut kerja sana. Segala onderdil kamu omongin, kayak punyamu nggak besar aja." tegur Pras yang langsung membuat Olive menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.
"Dasar mesum." umpat Olive dengan kesal.
Sementara itu Sarah yang sedang duduk di sofa ruangannya Ricko nampak duduk dengan pose seksi hingga memperlihatkan pahanya yang putih mulus karena rok pendeknya ternaik ke atas.
Kaosnya yang ketat menonjolkan gundukan kenyalnya yang nampak mengintip menggoda iman bagi siapa saja yang melihatnya.
"Apa kamu masih sibuk ?" ucapnya saat melihat Ricko sibuk dengan layar komputernya.
"Hm, lumayan." sahut Ricko tanpa menatapnya.
"Sayang, apa aku cantik ?" tanya Sarah yang langsung membuat Ricko menatapnya.
"Ya, kamu cantik." sahut Ricko, ia akui Sarah memang cantik.
Wanita itu selalu terlihat cantik dan modis dengan pakaian-pakaian seksinya, hanya saja entah kenapa ia belum tertarik padanya.
Ia memang menyayangi Sarah, tapi hanya sebatas sahabat. Namun ia akan berusaha untuk mencintainya karena baginya saat ini wanita itu yang terbaik, meski rasa itu belum juga hadir.
"Kalau aku cantik, kenapa sampai sekarang kamu belum menyukaiku ?" tanya Sarah sembari beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya mendekati Ricko.
Kemudian gadis itu langsung saja menghempaskan tubuhnya di pangkuan kekasihnya tersebut.
"Menjauhlah Sarah, aku sedang sibuk." Ricko akan menjauhkan tubuh Sarah, namun bersamaan dengan itu Olive nampak masuk ke dalam ruangannya setelah mengetuk pintu.
"Ma-maaf pak mengganggu." ucapnya dengan menundukkan kepalanya, meski ia sudah belajar mengikhlaskan Ricko buat Sarah tapi melihat mereka bermesraan seperti itu membuat dadanya mendadak sesak.
"Bawa sini laporannya." perintah Ricko dengan pandangan datarnya.
Olive segera melangkah mendekat, kemudian menyerahkan berkas yang dia bawa tadi.
"Kamu sakit ?" Sarah yang masih berada di pangkuan Ricko langsung menegur Olive saat melihat wanita itu terlihat pucat.
"Saya baik-baik saja." sahut Olive.
"Saya hanya cemburu." imbuhnya dalam hati.
"Tapi kamu sangat pucat."
"Saya baik-baik saja, Nona." tukas Olive.
__ADS_1
"Kalau sakit lebih baik istirahat di rumah, nanti yang ada kak Dean akan menganggap Ricko tak punya hati. Benarkan sayang ?" ucap Sarah lalu menatap Ricko.
"Tidak, saya baik-baik saja. Kalau begitu saya permisi." sela Olive, kemudian ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Sedangkan Ricko nampak menatap datar kepergian gadis itu.
"Sarah, menjauhlah aku sedang sibuk." ucapnya kemudian.
"Hm, baiklah. Kamu sama sekali tak romantis." sahut Sarah sembari beranjak dari pangkuan Ricko, kemudian ia mengambil tasnya.
"Mau kemana ?" tanya Ricko saat melihat tunangannya itu hendak pergi.
"Pulang." sahut Sarah.
"Tunggu dulu." Ricko langsung beranjak dari duduknya.
"Maafkan aku." ucapnya kemudian, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Aku mencintaimu Ricko, tolong buka hatimu untukku." mohon Sarah.
"Maafkan aku, aku akan berusaha." sahut Ricko dengan mengusap lembut puncak kepala Sarah.
"Aku akan sabar menunggumu." tukas Sarah, kemudian melepaskan pelukan Ricko.
Setelah itu ia berlalu pergi dengan perasaan kesal, ia sudah berpenampilan semenarik mungkin namun Ricko sedikitpun tak memandangnya.
Keesokan harinya....
"Nona Olive hari ini tuan Ricko sedang tidak enak badan, bisakah kamu datang ke Apartemennya. Beliau membutuhkan obat penurun demam." perintah pak Jeff saat Olive baru datang.
"Kenapa harus saya pak, kan ada Pras asistennya." protes Olive.
"Hari ini Pras ada meeting dengan saya." tukas pak Jeff.
"Benar Liv, aku ada meeting." sahut Pras kemudian.
"Ini perintah Olive dan kamu tidak bisa menolaknya." tegas pak Jeff.
"Baiklah, pak." dengan terpaksa Olive menyetujuinya.
"Menyebalkan sekali, selain menjadi babunya aku sekarang juga merangkap menjadi kurirnya dan apa dia akan menjadikanku sebagai baby sitternya? lihat saja nanti, jangan panggil namaku jika tidak bisa menindasmu balik."
Sepanjang jalan Olive nampak menggerutu kesal, setelah tiba di Apartemen bossnya tersebut ia langsung memencet bel beberapa kali.
"Selamat pagi pak, ini obat demamnya." Olive menyerahkan obat tersebut saat Ricko baru membuka pintu unitnya.
Pria itu nampak pucat dengan wajah kemerahannya, namun bukannya mengambil obatnya tersebut ia justru langsung memeluk Olive.
.
Guys Othor sudah di buatin Grup Chat sama Admin, yang ingin gabung sok atuh cek di profil Othor.
__ADS_1