Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~85


__ADS_3

"Lama tidak kesini kenapa kantor ini bau banget sih." gerutu Ariana yang entah kenapa tiba-tiba perutnya terasa mual ketika mencium aroma parfum para karyawan di sana yang sedang berlalu lalang.


"Selamat siang nyonya muda." sapa para karyawan disana setiap berpapasan dengan istri pemilik perusahaan tersebut.


Nyonya satunya ini memang berbeda, daripada wanita yang pernah dekat dengan bossnya itu sebelumnya. Ariana yang hanya memakai sendal jepit sangat percaya diri melenggang ke kantor suaminya dengan menenteng kresek hitam berisi heelsnya.


Sungguh Ariana sangat polos, tak tahu kah dirinya atau memang sengaja padahal sepatu yang dia masukkan ke dalam kresek khas pasar itu berharga 20 juta.


Bahkan ia juga tak peduli dengan tatapan aneh para karyawan di sana, toh dia bukan seorang karyawan yang harus berpenampilan formal. Lagipula strinya bos mah bebas, meski penampilannya saat ini terlihat aneh.


Sebuah dress yang terlihat sangat mahal di padukan dengan sendal jepit sejuta umat 'swallow' yang harganya mungkin tak lebih dari lima belas ribu.


"Apa tuan ada ?" tanyanya pada seorang resepsionis.


"Beliau ada di ruanganannya, nyonya." sahut wanita cantik yang duduk di balik meja resepsionis tersebut.


"Baiklah, terima kasih." Ariana mengulas senyumnya.


Kemudian ia langsung naik ke ruangan suaminya yang berada di lantai teratas.


Matanya sedikit membulat ketika dari kejauhan ia melihat suaminya itu sedang berbicara dengan beberapa karyawan wanita di sana.


Meski laki-laki itu berbicara layaknya pimpinan, tapi Ariana tak suka dengan cara para wanita itu memandang suaminya. Pandangan kagum dan terkesan menggoda.


"Gini amat ya punya suami kaya dan tampan, bikin hati sesak saja." gumam Ariana, ia menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan suaminya dari kejauhan.


Hampir 10 menit Ariana berdiri sampai kakinya terasa kebas dan panas, namun ia sedikit lega ketika suaminya itu bersikap profesional. Bahkan laki-laki itu tak segan menegur karyawan wanita yang memakai pakaian terlalu seksi.


Ketika keberadaan Ariana di sadari oleh Demian, wanita itu langsung tersenyum nyengir menatapnya. Semoga saja laki-laki itu tak menuduhnya sedang menguping, meski itu memang kenyataannya.


"Oh astaga sayang, kamu di sini? sejak kapan ?" Demian menoleh lalu menghampiri Ariana yang masih berdiri tak jauh darinya.


Sepertinya para karyawan di sana juga baru menyadari kedatangan Ariana ketika Demian menoleh ke arahnya.


Bahkan kalau saja gedung itu kebakaran mereka mungkin tidak menyadarinya, karena fokusnya hanya pada suaminya seorang. Laki-laki kaya, tampan dan sangat mempesona itu meski sudah dua kali menikah tetap saja di gilai banyak wanita.


"Mungkin sepuluh menit yang lalu." sahut Ariana.


"Kenapa diam di sini ?"


"Aku tidak mau mengganggu kamu saja." sahut Ariana.

__ADS_1


Demian yang melihat istrinya hanya memakai sendal jepit merk sejuta umat itu nampak terkekeh, mungkin kalau para karyawannya yang memakainya dia pasti akan langsung marah besar. Karena karyawan wanita di sana wajib memakai sepatu heels di atas 5 cm.


Demian nampak memicingkan matanya ketika melihat kaki istrinya itu yang nampak memerah dan tanpa aba-aba dengan sekali hentakan wanita itu sudah berada didalam gendongannya.


"Mas, apa yang kamu lakukan." pekik Ariana terkejut ketika merasa badannya tiba-tiba saja melayang.


"Diamlah sayang, kalau tidak aku akan menciummu di sini." sahut Demian nyaring yang langsung membuat Ariana malu karena menjadi tontonan karyawan disana, lalu ia segera menyembunyikan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.


Lantas Demian bergegas membawa sang istri masuk ke dalam ruangannya, tak peduli dengan tatapan iri para karyawannya di sana.


"Coba aku saja yang di gendong."


"Bagaimana ya rasanya di gendong sama boss ?"


"Mungkin aku langsung pingsan."


"Kalau aku mah nggak nolak kalau di cium di depan umum."


"Beruntung sekali nyonya boss bisa bersembunyi di dada bidangnya pak boss, pasti sangat liat."


"Husss, ayo kembali kerja. Kalian sedang ngomongin apaan sih, wajar si boss sangat mencintai nyonya Ariana. Karena beliau wanita yang sangat tangguh dan kalian belum tentu bisa seperti beliau. Jadi lupakan mimpi kalian." ujar salah satu karyawan di sana yang sedikit berpikir waras, ketika mendengar karyawan lainnya nampak membicarakan istri atasannya tersebut.


Cerita hidup Ariana memang sudah menjadi konsumsi publik sejak wanita itu menikah dengan Demian. Banyak yang kagum padanya karena mampu menjadi single parent, tapi banyak juga yang iri padanya.


Demian mendudukkan istrinya di atas sofa, lalu ia duduk berjongkok di lantai untuk memeriksa kaki wanita itu.


"Kenapa bisa memerah begini, sayang ?" tanya Demian.


"Mungkin gara-gara ini ?" Ariana menunjuk sebuah kresek plastik hitam di tangannya yang berisi heels 9 cm nya.


"Pasti Mama menyiksamu lagi." gerutu Demian kesal, ia langsung mengambil obat lalu mengolesnya pada kaki Ariana yang terlihat bengkak.


"Itu bukan menyiksa mas, mama hanya membuatku agar terbiasa saja." sanggah Ariana, meski makin hari ia semakin jengkel pada ibu mertuanya tapi sebisa mungkin ia tak mau membuat suaminya itu memusuhi ibunya sendiri.


"Kamu selalu aja membela Mama, meski sikap Mama tidak pernah baik sama kamu." gerutu Demian.


"Mama sebenarnya sayang kok Mas sama aku, mungkin caranya saja yang berbeda." sanggah Ariana lagi.


"Kenapa sih kamu baik banget, sayang." Demian akan membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, tapi Ariana langsung mendorongnya jauh.


"Kamu bau, Mas." protes Ariana yang entah kenapa dia tidak menyukai parfum yang di pakai sang suami padahal sebelumnya itu parfum favoritnya.

__ADS_1


Demian langsung mengendus tubuhnya sendiri. "Aku harum kok, sayang." ucapnya kemudian.


"Beneran kamu itu bau, kamu ganti parfum punyaku ini ya." Ariana mengambil parfum miliknya di dalam tas lalu menyemprotkannya pada kemeja suaminya.


"Ini kan parfum perempuan sayang, mana cocok." protes Demian meski begitu ia hanya pasrah ketika sang istri menyemprotkannya ke seluruh pakaiannya termasuk leher serta rambutnya.


"Hm, ini baru harum." ucap Ariana ketika mengendusnya.


"Jangan menggodaku, sayang." Demian mendadak meremang ketika bibir istrinya itu tak sengaja menyentuh lehernya.


"Apaan sih Mas, aku hanya mencium baunya saja." sahut Ariana tanpa ia tahu suaminya itu menahan hasratnya yang tiba-tiba hadir.


"Tapi kamu harus bertanggung jawab, sayang." Demian langsung saja mencium bibir sang istri yang sedari tadi ingin ia cipipi manisnya.


Ciuman yang awalnya lembut, kini menjadi sedikit kasar dan menuntut.


"Ini hukuman buatmu sayang, karena sudah berani membangunkan singa kelaparan." ucap Demian ketika tangannya dengan lihai melucuti pakaian istrinya itu satu persatu hingga kini wanita yang berada di bawahnya itu nampak polos.


Sepertinya ini adalah kesalahan terbesar Ariana, niatnya hanya ingin mengendus aroma suaminya itu tapi bibirnya tak sengaja mencium lehernya dan kini ia hanya bisa pasrah ketika laki-laki itu memasukinya, memenuhi miliknya dengan milik suaminya yang sudah menegang.


"Pelan-pelan, Mas." mohon Ariana ketika Demian menghujam miliknya dengan sedikit kasar, padahal biasanya Ariana sangat menyukai itu tapi entah kenapa kali ini ia merasakan perutnya sedikit kram.


"Maaf sayang sakit ya, habisnya kamu selalu membuatku tak tahan." sahut Demian yang kini memperlahanan hujamannya.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu ?" Ariana nampak tersipu ketika Demian menatapnya lekat di tengah hentakannya.


"Kamu cantik sayang dan aku sangat gemas kalau pipimu memerah begini." sahut Demian tanpa menghentikan pergerakan tubuhnya.


"Oh astaga, kamu nikmat sekali sayang." racaunya kemudian, ia terus menerus menghentakkan miliknya semakin dalam hingga membuat istrinya itu mendesah tak karuan.


"Mas, aku mau sampai." Ariana nampak menggelinjang ketika merasakan gelombang kenikmatan menghantam tubuhnya.


"Kita sama-sama, sayang." Demian menghujam istrinya dengan kasar seakan lupa peringatan dari istrinya sebelumnya.


Hingga kini mereka nampak kelelahan setelah melakukan pelepasannya secara bersama-sama. Biasanya Demian tidak akan pernah puas jika hanya melakukannya sekali, ia akan melakukannya lagi dan lagi tak peduli itu di kantor sekalipun.


Namun ia langsung melepaskan miliknya, ketika tiba-tiba melihat istrinya itu meringis kesakitan.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Demian langsung panik.


"Perutku rasanya kram, Mas." keluh Ariana.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, sabar ya kita akan segera ke dokter." Demian segera memakai pakaiannya kembali, lalu membantu istrinya itu memakai pakaiannya dan setelah itu ia bergegas membawa wanita itu ke rumah sakit.


__ADS_2