
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, akhirnya tepat pukul 9 malam Victor sudah sampai di unit Apartemennya.
Sungguh ia sangat merindukan istrinya itu, karena hampir 24 jam ia meninggalkannya.
Setelah menekan beberapa digit password Apartemennya dan pintu terbuka ia segera masuk ke dalam.
Ia sedikit tercengang saat menatap unitnya yang terlihat sangat rapi dan juga bersih, pasti istri tercintanya itu yang merapikannya.
Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju dapur di mana wanita itu sedang berada.
"Sayang." panggilnya saat melihat Nina sedang duduk di meja makan.
Nina yang melihat kedatangan suaminya langsung bangkit dari duduknya lalu mendatanginya.
"Kenapa datang tidak bilang-bilang, Mas ?" ucap Nina seraya mengambil tas suaminya, lalu ia mengulurkan segelas teh hangat miliknya.
"Minumlah, ini masih baru." ucapnya lagi.
Victor segera meminumnya, sungguh istrinya itu sangat pengertian.
"Kamu makan apa, sayang ?" tanya Victor saat melihat makanan di atas meja.
"Aku tidak tahu kalau kamu akan datang, jadi aku hanya memasak sepiring." sahut Nina seraya menatap sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya.
"Kenapa hanya makan nasi goreng? ini kurang sehat sayang, kenapa kamu tidak memesan saja di resto bawah ?" ujar Victor.
"Paling tidak aku harus berhemat, Mas. Kamu kan habis mengeluarkan duit banyak hanya untuk sebuah tas jadi kalau aku ikutan boros tabunganmu bisa ludes." sahut Nina bernada sindiran.
Mendengar ucapan sang istri Victor nampak tercengang, ia tahu istrinya pasti sedang marah saat ini.
"Maaf." ucapnya kemudian.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Mas. Itukan uang kamu sendiri, terserah kamu mau menggunakannya untuk apa. Lagipula aku juga tidak tahu hubungan spesial apa yang kamu miliki dengan wanita itu, tapi sekarang aku adalah istrimu jadi tolong hargai aku juga." tegas Nina.
Setelah itu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan air hangat buat suaminya itu.
Sedangkan Victor nampak mengusap wajahnya dengan kasar, bayangan akan melakukan malam pertamanya dengan sang istri sepertinya hanya akan menjadi angan semata karena kemarahan wanita itu.
Tidak, ia tidak akan membiarkan ini terjadi. Kesalahpahaman jika di biarkan berlarut-larut hanya akan menghancurkan hubungannya yang bahkan baru ia mulai.
Lalu ia segera mengejar sang istri masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang." panggilnya saat melihat wanita itu baru keluar dari kamar mandi.
"Aku sudah siapkan air hangat Mas, mandilah kamu pasti sangat lelah kan ?" ucap Nina, ia melihat kemeja Victor yang nampak berbeda dari kemarin.
Entah sejak kapan dan di mana laki-laki itu berganti pakaian, Nina mencoba untuk tidak peduli. Karena ia sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan suaminya sebelumnya.
Jadi ia mencoba untuk mengenyahkan pikiran-pikiran negatif yang hinggap di kepalanya, ia tidak ingin hanya karena kecemburuannya akan menghancurkan sebuah hubungan yang baru saja terjalin.
__ADS_1
Karena prinsipnya ia menikah hanya sekali seumur hidup, bagaimana pun caranya ia harus bertahan menjaga pernikahannya.
"Maaf." Victor langsung merengkuh sang istri saat hendak melewatinya, kemudian memeluknya dengan erat.
Nina terdiam, namun ia bersyukur tak ada aroma parfum perempuan lain di kemeja suaminya yang nampak sedikit kusut itu.
"Cepat mandi, Mas. Kalau kamu belum makan, aku akan pesankan makanan di bawah." bujuk Nina.
"Tolong biarkan seperti ini sebentar." mohon Victor.
Mencium aroma tubuh sang istri dan sebuah pelukan hangat dari wanita itu membuat lelahnya seakan menguap begitu saja.
"Sayang, aku tidak mempunyai hubungan spesial apapun itu dengan Sisil. Om Sandy ayahnya Sisil dan mendiang Papaku adalah sahabat karib, saat Papa meninggal beliaulah yang menggantikan peran Papa dan aku hanya menganggap Sisil tak lebih seperti adik sendiri. Jadi ku mohon jangan salah paham ya, mengenai tas itu aku janji itu pemberian terakhir ku padanya. Karena setelah ini apapun yang ku lakukan itu atas persetujuan kamu." ujar Victor menjelaskan.
"Dia mengadu padamu ?" Nina mengurai pelukannya lalu menatap lekat suaminya.
"Tadi sore saat aku baru kembali dari rumah sakit, ia menemuiku di kantor." sahut Victor jujur.
"Maaf aku sudah melukai adik angkat kesayangan mu itu, bahkan aku hampir mematahkan tangannya." ucap Nina, meski meminta maaf namun tak ada penyesalan di wajahnya.
Victor langsung mengulas senyumnya. "Aku senang kamu mempunyai refleks yang bagus untuk melindungi dirimu, sayang. Karena ke depannya akan banyak sekali bahaya di sekitar kita, tapi aku janji aku akan selalu menjagamu." ucapnya kemudian.
Namun sepertinya Nina kurang memahami bahaya apa yang di maksud suaminya itu.
"Jadi kamu tidak marah ?" tanya Nina.
Victor semakin mengulas senyumnya, lalu di rengkuhnya pinggang sang istri hingga tubuh mereka saling merapat kembali.
Sedangkan Nina hanya membalas tatapan suaminya itu tanpa berniat menanggapinya, tapi yang pasti ia akan mencoba mempercayainya.
"Aku mandi dulu ya." ucap Victor kemudian.
"Kamu nggak makan dulu, Mas ?"
"Aku sudah makan di kantor, sayang." sahut Victor seraya masuk ke dalam kamar mandinya.
Nina yang merasa lapar, ia segera memakan nasi gorengnya kembali. Bagaimana pun juga ia membutuhkan tenaga lebih untuk melewati malam pertama dengan sang suami.
Ini adalah malam kedua pernikahannya dan suaminya itu pasti akan menagih malam pertamanya yang sudah terlewat. Maka dari itu ia sengaja memakai pakaian kurang bahan yang ia beli tadi siang melalui online shop.
Agar tidak terlalu malu, ia menutupinya dengan kimono tidurnya. Meski merasa gugup karena pertama kali buatnya tapi ia akan memberikan yang terbaik buat sang suami.
Mengingat bagaimana banyaknya wanita penggoda di luar sana, ia harus bisa memuaskan laki-laki tersebut.
Sembari menunggu suaminya selesai mandi, Nina nampak menunggunya sembari bermain ponsel di atas ranjangnya.
Namun matanya langsung melotot saat melihat laki-laki itu keluar dari walk in clossed dengan mengenakan celana boxernya dan atasan kemeja.
"Kamu mau pergi lagi ?" tanya Nina memicing.
__ADS_1
Victor yang baru mengeringkan rambutnya, langsung menaruh handuknya di atas sofa lalu berjalan mendekati sang istri.
"Sebenarnya malam ini aku ada meeting di luar, sayang. Tapi meetingnya aku ganti melalui sambungan telepon saja. Hanya 30 menit, kamu jangan tidur ya." sahut Victor seraya mengusap lembut pipi sang istri.
"Baiklah." sahut Nina, sibuk sekali suaminya itu.
"Beneran jangan tidur ya, sayang ?" mohon Victor.
"Hm, aku akan menunggumu." sahut Nina dengan mengulas senyumnya.
Setelah itu Victor segera memulai meetingnya di meja kerjanya yang berada di sudut kamarnya.
Nina nampak beberapa kali menguap saat menunggu sang suami, sudah hampir satu jam laki-laki itu meeting tapi belum selesai juga.
"Akhirnya."
Victor langsung bangkit dari duduknya, meregangkan kedua tangannya yang terasa lelah. Setelah itu ia melepaskan kemejanya dan hanya menyisakan celana boxernya.
"Sayang ?" panggilnya seraya mendekati sang istri.
"Astaga, sudah tidur." gumamnya saat melihat wanita itu sangat nyenyak.
"Gagal lagi deh." gumam Victor lemas.
Keesokan harinya....
"Aaaarrgghh." teriak Nina saat melihat seorang laki-laki dengan bertelanjang dada sedang memeluknya.
Bukkkk
Dengan refleks ia langsung menendang laki-laki itu hingga jatuh ke lantai.
"Astaga sayang, sepertinya kamu ingin cepat-cepat jadi janda ya. Tega benar menendang suamimu ini." Victor nampak mengadu kesakitan.
"Maaf, aku kira orang lain." Nina langsung turun dari kasurnya untuk melihat keadaan sang suami, wajahnya nampak sangat bersalah saat menatap laki-laki itu meringis kesakitan.
"Sakit, sayang. Sepertinya aku tidak akan bisa berdiri lagi." ujar Victor yang masih terduduk di lantai.
"Jangan becanda deh Mas, mana ada ceritanya jatuh dari kasur langsung lumpuh." protes Nina.
"Beneran, sayang." Victor semakin meringis hingga membuat Nina langsung khawatir.
"Sakit ya, Mas." Nina berusaha untuk membantu suaminya berdiri, namun tanpa ia sadari ikatan kimononya terlepas hingga memperlihatkan lingeri yang masih menempel di tubuhnya.
Victor yang melihat itu nampak menelan ludahnya, tanpa berpikir panjang ia langsung membawa istrinya itu ke atas ranjangnya.
"Mas, katanya sakit." protes Nina.
"Melihatmu seperti ini langsung sembuh, sayang." sahut Victor dengan tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Menyebalkan." cebik Nina.