
"Maaf pak, Nona Sera memaksa masuk." ucap Anggi yang kini menyusul Sera ke dalam, ia langsung melotot saat melihat posisi boss dan istrinya itu yang tak biasa.
Bagaimana tidak, Dena yang duduk di atas meja nampak sedang berpelukan dengan suaminya itu. Sungguh bikin iri saja, pikir Anggi.
"Tidak apa-apa, kamu bisa kembali bekerja." sahut Edgar.
Setelah itu Anggi segera berlalu keluar, lalu menutup kembali pintunya.
"Katakan ada apa kamu kemari ?" ucap Edgar dingin seraya menatap Sera.
Sera yang geram langsung melangkahkan kakinya mendekat lalu menjambak rambut Dena, hingga membuat Dena terpekik kaget.
"Dasar j*l*ng sialan." teriak Sera geram.
"Sera lepaskan." hardik Edgar, ia langsung mendorong Sera hingga wanita itu terhuyung ke belakang.
"Sayang, kamu baik-baik saja ?" tanya Edgar pada istrinya itu.
Dena segera beranjak dari meja suaminya, rambutnya nampak acak-acakan.
"Aku baik-baik saja." sahutnya.
Sera geram saat melihat Edgar begitu perhatian pada Dena, apalagi saat melihat kancing pakaian wanita itu terlepas beberapa biji membuat Sera semakin murka.
"Sera tidak bisa kah kamu bersikap lebih sopan sedikit seperti biasanya atau memang ini sifat aslimu ?" cibir Dena seraya mengancingkan pakaiannya.
Ia sengaja mengancingkan pakaiannya dengan perlahan, agar Sera semakin geram saat melihat jejak-jejak percintaannya dengan Edgar.
"Dasar j*l*ng, apa kamu begitu iri padaku hah hingga rela merebut kekasihku ?" teriak Sera tak terima.
"Sera, lebih baik kamu segera pergi dari sini sebelum aku memanggil security untuk mengusirmu." tegas Edgar, namun sepertinya Sera enggan pergi dari sana.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku, Ed? Kita sudah fitting pakaian dan di saat hari pertunangan kita tiba, kenapa kamu justru menikahinya? aku hancur tahu nggak." protes Sera sambil terisak bahkan kini tubuhnya luruh ke lantai, berharap mantan kekasihnya itu akan iba padanya.
Edgar yang melihat itu nampak menghela napasnya berat, ini memang kesalahannya. Sebagai laki-laki sejati harusnya dia mengakhiri hubungannya dulu dengan Sera, lalu menikahi Dena.
Pernikahannya dengan Dena waktu itu sangatlah tiba-tiba, hingga membuatnya tak bisa mengambil keputusan.
"Maafkan aku, anggap saja kita memang tidak berjodoh." Edgar melangkah mendekati Sera, lalu membantunya untuk berdiri.
Dena yang melihat itu, tiba-tiba hatinya mencelos. Apa dirinya cemburu? entahlah Dena merasa tidak suka jika suaminya itu dekat dengan Sera.
__ADS_1
"Tapi aku mencintaimu, sayang. Aku tidak mau kehilangan kamu."
Sera yang baru berdiri langsung memeluk Edgar hingga membuat pria itu nampak terkejut, ia tahu Edgar yang berhati lembut pasti tidak akan tega padanya dan kini ia gunakan kesempatan itu untuk membuat Dena marah.
"Ku mohon ceraikan dia, lalu menikahlah denganku. Aku pasti akan memaafkanmu." mohon Sera semakin mengeratkan pelukannya meski Edgar berusaha untuk melepaskannya.
Dena yang melihat itu nampak tersenyum sinis, bukan tipenya untuk berebut laki-laki. Kemudian ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, jika Edgar mencintainya laki-laki itu pasti akan mengejarnya.
Dena langsung berjalan menuju lift. Karena jam istirahat, kantor tersebut nampak sepi.
Saat Dena sudah masuk ke dalam lift, tiba-tiba pintu lift yang hampir tertutup langsung terbuka kembali saat Edgar memaksa untuk masuk.
"Kenapa kamu pergi ?" geram Edgar yang langsung membuat Dena melotot menatapnya, kenapa dia yang marah? harusnya dirinya yang marah karena pria itu sudah memeluk wanita lain.
"Siapa tahu kalian mau bernostalgia." cibir Dena dengan tatapan mengejek pada suaminya itu.
Edgar yang nampak geram, langsung menekan tubuh Dena ke dinding lift.
"Apa kamu mencintaiku ?" ucapnya dengan menatap tajam Dena.
Dena yang terpojok bibirnya nampak kaku, namun sedetik kemudian Edgar langsung meraup bibirnya lalu melum😘tnya dengan rakus.
Sementara itu Sera yang masih berada di dalam kantor Edgar terlihat sangat menyedihkan, tubuhnya luruh ke lantai dan air matanya mengalir deras mengingat bagaimana perkataan menyakitkan yang keluar dari bibir mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak pernah mencintaimu Ser, kita bisa dekat karena desakan kedua orangtua kita dan aku bersyukur karena telah mengambil keputusan yang tepat dengan membatalkan pertunangan kita." tegas Edgar.
"Tapi sayang....."
"Kamu pikir aku tidak tahu bagaimana kelicikanmu dan keluargamu hah? kalian sengaja menjebakku menjadikan hari pertunangan itu menjadi hari pernikahan kita iya kan ?" lanjutnya lagi dengan nada geram.
"Aku minta maaf sayang, aku lakukan itu karena aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu." mohon Sera.
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu Ser, hanya Dena yang ku cintai." tegas Edgar.
"Kak Dena tidak pernah mencintaimu sayang, dia sengaja menjadikan mu sebagai alat hanya untuk menyakitiku. Kamu tahu kan dari dulu dia tidak pernah menyukaiku dan asal kamu tahu kak Dena tidak sebaik yang kamu pikirkan. Bahkan dia hamil dengan laki-laki tidak jelas dan melahirkan anak haram." ucap Sera dengan nada mengejek, namun tanpa ia tahu saat ini darah Edgar langsung mendidih mendengar perkataannya.
Edgar langsung mencengkeram rahang Sera dengan kuat.
"Kamu bilang Dena hamil dengan laki-laki tidak jelas dan anak yang di lahirkannya adalah anak haram kan ?" ucap Edgar yang langsung mendapatkan anggukan dari Sera.
"Asal kamu tahu, laki-laki tidak jelas itu adalah aku dan anak yang kamu bilang anak haram itu adalah anak kandungku." hardik Edgar yang langsung membuat Sera melotot tak percaya.
__ADS_1
"Ka-kamu bohong kan ?" ucapnya kemudian.
Edgar langsung menjauhkan tangannya. "Ini peringatan terakhir buatmu, sampai kamu mengganggu Dena lagi aku sendiri yang akan menghabisimu." tegas Edgar, kemudian ia segera melangkahkan kakinya pergi untuk mengejar sang istri.
Sera nampak syok, tubuhnya langsung luruh ke lantai. Ia tidak menyangka ayah dari anak Dena adalah Edgar.
"Tidak, kalian tidak boleh hidup bahagia. Akan ku buat Om King dan tante Putri memusuhi kalian." sumpah Sera dalam hati.
Sementara itu King yang sedang melajukan kendaraannya menuju rumahnya nampak geram mengingat bagaimana sikap Dena saat bertemu di kantornya tadi.
"Edgar, sebenarnya apa yang kamu lihat dari perempuan itu." gumamnya tak habis pikir, bagaimana bisa anak lelakinya itu menyukai wanita seperti Dena.
King langsung menepikan mobilnya saat tak sengaja melihat Elkan sedang bermain di sebuah taman bersama pengasuhnya.
"Bocah itu lagi."
King nampak mengulas senyumnya, ia langsung keluar dari mobilnya. Entah kenapa bocah kecil itu seperti magnet baginya.
"Pa-pa." teriak Elkan saat melihat laki-laki paruh baya yang masih terlihat muda itu berjalan mendekatinya.
Deg!!
"Duh, bagaimana ini itu bukannya papanya tuan Edgar. Nyonya Dena pasti akan marah jika Elkan bertemu dengan kakeknya."
Bik Mina buru-buru mengajak Elkan untuk ia bawa pulang, namun justru bocah kecil itu berlari ke arah King.
Bik Mina nampak kewalahan mengejar Elkan yang memang sedang aktif-aktifnya.
"Pa-pa." teriak Elkan yang langsung berlari ke gendongan kakeknya itu.
"Opa Nak, bukan Papa." ucap King dengan gemas.
"Kok di sini Bik, memang rumah majikan bibik di sini ?" tanya King.
"I-iya pak." sahut Bik Mina.
King nampak mengedarkan pandangannya ke arah kompleks perumahan yang ada di depan taman tersebut. Ia juga mendapatkan informasi kalau Edgar dan istrinya juga baru membeli rumah di kompleks itu.
Ia tahu kompleks tersebut bukan di huni oleh orang sembarangan, rata-rata yang tinggal di sana adalah pengusaha sukses seperti dirinya.
"Ngomong-ngomong siapa orangtuanya anak ini bik, siapa tahu saya mengenalnya ?" tanya King penasaran.
__ADS_1